Ternoda Di Malam Pengantin

Ternoda Di Malam Pengantin
Kenapa Bentuknya Begitu?


__ADS_3

Usai sarapan dan sebentar mengobrol dengan keluarga, Dara dan juga Alif langsung pindahan ke rumah mereka yang hanya berjarak beberapa meter saja dari rumah Abah dan Uminya.


“Lah, ini bukannya rumahnya Vita dulu?” tanya Dara ketika mobil berhenti. Dia memang pernah mengantarkan Vita ke sini—dan di sinilah mereka berkenalan. Waktu itu, Dara menemukan Vita pada saat sedang hancur-hancurnya karena suami yang baru menikahinya beberapa bulan itu memutuskan untuk menikah lagi.


Alif menjawab, “Ini rumahku. Mereka hanya meminjamnya sebentar.”


“Oh, ya ampun. Ternyata!” ujarnya agak menyentak. “Karena di poligami itu, ya?”


Alif mengangguk. Dia terlebih dahulu menurunkan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam rumah untuk kemudian mereka bereskan.


“Nasib aku ternyata tidak begitu jauh dari Vita. Tapi bedanya aku memilih untuk ganti suami daripada makan hati setiap hari,” kata Dara sangat jengkel.


“Segagah apa pun kamu, Lif. Aku tak sudi berbagi bird sama orang lain. Mual akuh.”


“Kenang terus mantanmu itu,” kata Alif terdengar sewot.


“Idih, ada yang cemburu sama masa lalu aku,” Dara mencibir. Dia ikut membantu Alif memasukkan barang-barangnya ke dalam. Tentunya mengambil barang yang paling ringan karena Alif mengalihkan tangannya dari benda-benda yang berat.


“Kamar kita yang mana, Alif?”


“Di bawah saja aku malas naik turun tangga.”


Dara melihat satu persatu ruangan yang ada di dalam sana. Mulai dari ruang tengah, kamar utama, kamar mandi, dapur, kemudian taman kecil yang terletak di belakang rumah yang bisa dipakai untuk menjemur pakaian.


“Di atas ada apa?” tanya Dara sangat penasaran. Dia memang suka menjelajah ke tempat-tempat baru. “Aku suka sama rumahnya, Lif. Enak, adem dilihatnya.”


Tak berselang lama, Alif menjawab pertanyaan istrinya barusan, “Ruang TV, tempat olahraga sama ada dua kamar. Ada satu kamar lagi kamar ART kalau memang kamu perlu nanti.”


Tiba-tiba Dara menghentikan langkahnya tatkala ia mendengar ucapan Alif barusan, “Jangan pakai ART, ah. Aku takut kamu tergoda terus lama-lama ternoda.”


“Sembarangan!” sungut Alif tak terima.


“Tapi banyak loh, di novel-novel majikan jatuh cinta sama pengasuh anak-anaknya, atau asisten rumah tangganya.”


“Kebanyakan menghalu kamu, Ra.”


“Alif ...” Dara memeluk Alif dari belakang dan menempekan wajahnya di sana. “Alif ....”


“Pasti begini karena ada maunya,” Alif menduga.


“Aku capek, Lif. Kamu harus tanggung jawab pokoknya.”

__ADS_1


“Aku sudah tanggung jawab, sudah aku nikahi, sudah aku kasih tempat tinggal yang enak. Masih kurang apalagi?”


“Antarkan aku tempat pijat, tubuhku pegal-pegal.”


“Siapa yang akan memijatmu? Laki-laki atau perempuan?” tanya Alif segera.


“Ya cari yang perempuanlah, yang benar saja! Masa aku cari tukang pijat laki-laki. Tahu begitu mah mending kamu saja. Apa kamu mau?”


“Nanti malam boleh.”


“Kenapa harus malam?” tanya Dara tidak mau. “Aku maunya sekarang apakah boleh?”


“Masih banyak orang. Nanti mereka bisa mengira kita sedang melakukan ...” namun ucapan itu terhenti karena tatkala mereka menoleh, mereka mendapati Umi Ros dan Vita masuk ke dalam rumah dengan membawakan perabotan yang memang belum tersedia di rumah ini. Mereka yang terkejut lantas segera menjauhkan tubuh mereka masing-masing.


Mengucapkan salam, Vita langsung berkata dengan sedikit mengejek, “Ya ampun, manten baru, mesra-mesraan terus! Takut lepas, ya, Dar? Alifnya di peyuk-peyuk teyus.”


“Masih panas-panasnya, Nak,” Umi menyahuti dan membuat muka Dara sontak memerah. Berbeda dengan Alif yang tampak biasa-biasa saja.


“Untuk apa kalian bawa-bawa ini? Seperti mau perang saja.” Alif melihat Vita meletakkan sutil, sorok, wajan yang agak besar, teflon, cobek beserta ulekannya. Pun dengan Umi yang juga membawakan kain lap, alat pel, sapu lidi dan juga sapu lantai. Belum lagi barang lain yang dibawakan oleh security rumah mereka.


“Kalian pasti membutuhkannya nanti, daripada beli-beli di luar,” Umi Ros menjawab. “Umi punya banyak jadi pakai saja yang ada.”


“Iya, Lif. Dara itu suka masak sekarang. Jadi butuh ini semaunya,” ujar Vita sambil menunjukkan ulekkan yang berbentuk aneh sehingga membuat Alif sontak bertanya lagi.


“Hei, apa yang kamu pikirkan?” tanya Dara tak habis pikir. “Semua ulekkan bentuknya pasti seperti ini memangnya harus bagaimana?”


“Laki-laki kan tidak biasa masak, jadi kurang paham sama benda-benda perang perempuan,” Umi mengatakan sambil melintas ke dapur untuk menyimpannya di sana. “Apa Dara butuh bantuan untuk membereskan rumah? Nanti Umi minta bantu sama Bibi, ya.”


“Boleh, Umi. Kebetulan Dara masih capek pisan.”


Umi tersenyum penuh arti, entah apa yang sedang beliau pikirkan. “Apa butuh ART juga buat bantu-bantu Dara di rumah? Nanti Umi bisa bantu carikan.”


“Kalau untuk itu sepertinya belum deh, Mi. Dara masih bisa sendiri.”


“Ya sudah, perbanyak istirahat, kunci saja kamarnya biar tidak terganggu sama maling.”


Meskipun malu, tapi kepala Dara mengangguk seolah menyetujui bahwa perkataan Uminya adalah benar bahwa sekarang selalu ada maling besar yang mengganggunya setiap tidur.


Dan beberapa menit setelahnya, setelah Umi Ros kembali ke rumahnya sendiri. Bibi datang untuk membantu membereskan sejumlah barang-barangnya untuk disimpan di tempat semestinya.


Sementara Vita masih berada di sana untuk menemaninya membereskan pakaian.

__ADS_1


“Sudah, Ta. Aku bisa membereskannya sendiri. Aku ngeri melihat kamu banyak gerak. Nanti aku bisa dimarahi sama kakak ipar,” ujar Dara khawatir melihat Vita. Meskipun dia wanita yang tangguh, bukan berarti dia harus bergerak terus bukan? Wanita hamil pasti harus lebih banyak mempunyai waktu untuk istirahat, pikirnya.


“Mas Yudha? Memarahi orang?” ujar Vita menjeda sesaat, “no, Dara. Dia itu laki-laki yang lembek kalau sama perempuan.”


“Eh begitu, ya?” kata Dara menanggapi.


“Ya, buktinya dulu mau sampai di bunuh pun dia tidak marah. Sekarang mereka malah berteman baik. Aku juga.”


“Serius, kamu, Ta?” tanya Dara penasaran. “Kamu berteman baik sama perempuan yang menghancurkanmu? Aku mah say no! Malas sekali aku dengannya. Lihat mukanya saja ogah,” tegasnya terdengar sangat jengkel.


“Ya, mau bagaimana lagi? Marah terus-terusan lama-lama juga bisa capek. Lupakan saja toh Mas Yudha sudah sama aku seorang. Kami sudah punya banyak anak sekarang. Semua asetnya sudah jadi milikku. Dia tidak akan berani macam-macam.”


“Apa kamu tak cemburu?”


“Untuk apa cemburu? Toh dia juga sudah punya suami lagi.”


“Rahma sudah menikah lagi?”


“Sudah punya anak dua malah. Dia juga sempat kaget pas lihat aku anaknya sudah mau empat,” Vita tertawa usai berkata demikian.


“Eh, gimana suaminya apa lebih tampan dari Kakak ipar?”


“Emmm,” Vita menggerakkan bola matanya ke atas menandakan bahwa dia tengah berpikir sesaat. “Lumayan. Tapi menurutku lebih tampan Mas Yudha, sih.”


Dara memutar bola matanya malas, sejatinya—seburuk apa pun rupa seorang suami pasti akan tetap dicintai dan dipuja oleh istrinya sendiri. Namanya juga perempuan bucin. Pak Ro jikin saja bisa di sebut Park Jimin.


Namun beruntunglah mereka karena suami mereka memang bisa katakan lumayan. Tidak memalukan saat di ajak pergi ke kondangan.


Beberapa puluh menit setelahnya, usai mereka puas mengobrol, Vita berpamitan untuk pulang. Agaknya ponselnya juga terus berbunyi—sepertinya dia memang sedang diperlukan. Tinggallah Dara sendiri karena Alif juga sudah pergi entah ke mana.


Tetapi Dara lelah sehingga memutuskan untuk merebahkan diri di atas ranjang. Mumpung tidak ada manusia tengil yang mengganggunya, pikir Dara demikian.


Namun apa yang terjadi?


Dia justru terusik dengan harum parfum yang menempel di ranjang ini. Dia tak asing dengan baunya yang mirip sekali dengan harum maskulin yang menempel pada baju pengantinnya beberapa waktu lalu.


“Alif?” gumamnya dengan segala praduga. Dia benar-benar takut kalau seandainya dugaan itu benar. Bukan takut kepada suaminya—melainkan takut kepada diri sendiri; takut tidak bisa menyikapi ini dengan baik yang akhirnya ....


***


To be continued.

__ADS_1


 


__ADS_2