
“Masih punya muka datang ke sini?” Razka mengulang dengan mata ditajamkan.
“Razka, Razka.” Ibu Ratna menyergah anak laki-lakinya agar tidak terlalu berlebihan menyikapi Chandra di sini. Ini di tempat umum. Banyak pasang mata yang tengah memperhatikan gerak-gerik mereka, pikirnya.
Razka kembali menegaskan, “Tidak tahu malu!”
“Kenapa bicaramu begitu?” Chandra menyayangkan sikap anak remaja ini yang tak senonoh dengannya. Sangat tidak pantas karena dia berbicara dengan mata yang melotot. “Tidak sopan. Aku ini kakak iparmu. Umur kita jauh berbeda.”
“Yang tidak sopan itu kamu! Menikahi Mbakku untuk diselingkuhi.” Dada Razka terlihat naik turun menahan luapan amarah.
Chandra langsung menyela, “Kalau tidak tahu apa-apa lebih baik diam. Anak kecil tahu apa?”
“Adek, Adek!” Dara menyeru. Kalau saja dia tidak menahan tubuhnya, niscaya Razka sudah merangsek ke depan memukul lelaki di depannya.
“Matilah orang-orang sepertimu!” Razka mengumpat.
“Begini hasilmu sekolah?”
“Sekolah mengajarkanku baik, contohnya untuk melindungi kakakku dari lelaki ja lang sepertimu!”
Chandra mengepalkan tangannya kuat-kuat. Berusaha menahan diri agar tidak terpancing oleh anak bau kencur seperti Razka. Sudah dia tekadkan dari jauh perjalanan, bahwa saat ini dia memang harus menebalkan muka. Ada sesuatu yang harus ia perjuangkan kembali.
Semburat merah begitu kentara di wajah Razka. Dia melintasi Chandra dengan sengaja menabrakkan bahunya kepada pria itu tanpa perlawanan. Razka pergi dengan diikuti oleh ibunya yang juga sangat muak melihat wajah menantunya.
‘Maafkan Ibu, Nak. Maafkan Ibu. Kami salah memilihkanmu jodoh. Sekali lagi maafkan Ibu,’ batin Ibu seraya menoleh kepada Dara yang dia tinggalkan.
Tinggallah mereka berdua dalam keadaan keheningan. Tanpa suara, tanpa menoleh, tanpa interaksi.
“Bagaimana keadaan ayahmu sekarang?” tanya Chandra setelah duduk di sebelahnya, beberapa menit kemudian.
“Tidak bisa bergerak,” jawab Dara tanpa berniat untuk menoleh. Jeda sesaat, Dara menambahkan, “Dan kamu tahu Ayah stroke seperti ini gara-gara siapa?”
“Maafkan aku, Dara ...,” Chandra berujar dengan lirih. Tangannya terulur untuk berusaha merangkul Dara agar posisi mereka lebih merapat, namun sontak ditepis.
Dara menoleh dan menajamkan matanya. “Dont touch me, ok?”
“Its ok, i’m sorry.” mungkin kamu belum nyaman, batinnya melanjutkan. Chandra mencoba untuk terbiasa dengan penolakan ini. “Maaf jika aku terkesan tidak tahu diri, datang ke sini tanpa memikirkan perasanmu.”
Kembali Chandra mengatakan, “Ada satu hal yang harus kamu tahu. Aku hanya sedang berusaha untuk jujur, sepahit apa pun itu. Karena menyembunyikan kebohongan terlalu lama juga tidak baik untuk kita bersama. Tapi ... aku benar-benar tidak tahu, kalau akibatnya akan menjadi sefatal ini. Dari lubuk hati yang paling dalam, aku minta maaf ....”
“Maaf saja tidak akan pernah bisa mengembalikan kondisi ayah seperti semula,” Dara menanggapi.
Terdengar helaan napas panjang dari Chandra sebelum ia berujar, “Aku janji akan membantu membiayai ayahmu sampai beliau sembuh.”
“Itu tidak perlu. Kami bisa membiayainya sendiri. Kamu tidak usah repot-repot.”
__ADS_1
Chandra berdecak, “Bicaramu ketus sekali. Ke mana Dara yang dulu, yang selalu lembut berbicara kepada suaminya?”
“Tapi sejak saat aku pergi dari rumah, aku sudah bukan istrimu lagi.”
“Dara, hei. Kita belum resmi bercerai.” Chandra berusaha memegang bahunya agar Dara mau menatapnya, namun lagi-lagi ditepis seketika.
“Aku akan menyewa pengacara untuk mempercepat perceraian kita.”
“Aku yakin kamu hanya mengancamku. Bukan aku bermaksud meremehkanmu, tapi aku tahu kamu belum bekerja. Menyewa pengacara itu mahal, Ra.” Chandra mengingatkannya seolah Dara awam tentang hal ini.
“Tak masalah berapa pun harganya, akan aku usahakan asalkan aku bisa secepatnya bercerai denganmu. Ah, sudahlah! Kalau hanya ke sini untuk mengajakku berdebat, silakan pergi,” ucap Dara pelan penuh penekanan.
“Aku ke sini untuk menjenguk ayahmu, Dara.”
“Ya Tuhan ..." Dara mendesis, sangat geram dengan manusia bebal ini. "Keadaan ayahku akan semakin memburuk jika beliau melihatmu. Jangan gila kamu, Mas. Aku yakin kamu datang bukan untuk itu. Tapi untuk yang lain.”
“Please, Dara please, buka hatimu sedikit untuk menerimaku kembali. Hanya dalam waktu hitungan beberapa bulan ke depan, setelah bayiku lahir, kita akan kembali bersama.”
Dara tersenyum geli, “Lalu siapa yang akan mengurus bayimu nanti? Aku? Mohon maaf, Mas Chandra yang terhormat. Bodoh sekali kalau aku harus repot-repot mengurus hasil persetubuhan kalian berdua. Aku juga punya masa depan sendiri."
"Bayi itu tidak bersalah."
"Tapi karena kalianlah bayi itu terlahir ke dunia. Jadi kamu harus bertanggung jawab."
Sekian lama Chandra terdiam, Dara kembali melayangkan pertanyaan, "Kenapa? Bukannya kamu sudah mendapatkan yang kamu mau?”
“Tidak ada yang lebih baik darimu, Ra.” Niat ingin memuji justru ditolak mentah-mentah.
“Omong kosong!”
“Aku sungguh-sungguh.”
“Bukankah kamu jijik denganku?” ucapan Dara barusan membuat Chandra tertohok.
“Dara ... mengertilah. Cobalah untuk berada di posisiku pada saat itu. Wajar kalau aku kecewa. Aku suamimu, bagaimana hati aku tak patah mendapati kenyataan bahwa istrinya telah di nodai lelaki lain di malam pertamanya? Itu sangat menyakitkan.”
“Kamu yang terlalu berlebihan menyikapinya. Buktinya hanya dalam waktu kurang lebih tiga bulan saja kamu sudah menyeleweng. Kamu adalah tipe laki-laki yang mudah tergoda. Tidak ada bedanya kamu dengan hidung belang di luar sana,” kata Dara menjeda sesaat.
“Sekarang, aku balikkan posisi supaya kamu sadar. Supaya kamu buka mata. Kalau aku sudah menikah dengan orang lain, tidur bersama dan sampai punya anak, apa kamu masih tetap menerimaku kembali?” Dara menyertakan gerakkan tangan dan anggota tubuhnya yang lain, agar penjelasan ini lebih jelas dan masuk di rongga kepalanya. “Tentu tidak ‘kan? Kalau kamu juga jijik, apa lagi aku. Aku tidak perlu menjadi sebodoh itu untuk mencintai seseorang.”
“Astaga ... Dara,” Chandra menggeram kesal dan hampir kehabisan kata-kata.
“Aku sama sekali tidak pernah menyangka bisa menikah dengan laki-laki picik sepertimu, Mas,” ucap Dara tersenyum miris. “Kamu buang aku tanpa perasaan, sekarang kamu pungut aku lagi setelah kamu menyesal. Kasihan sekali Indira, hanya untuk dijajal, lalu dibuang ketika bosan. Semoga Indira kuat sama kamu, ya.”
“Jaga bicaramu, Dara! Mulutmu itu kasar sekali.”
__ADS_1
“Aku lebih baik dari sampah sepertimu,” kata Dara tak mau kalah. “Lebih baik Mas Chandra pergi sekarang, kalau tidak ingin aku teriak,” ucapnya lagi serupa orang yang sedang mengancam.
“Kamu mengusirku?” tanya Chandra kian kesal. “Jangan macam-macam kamu, Ra.”
“Aku yakin Mas Chandra sangat mengenalku, aku bisa nekat.”
Tak ingin terjadi keributan besar, akhirnya Chandra terpaksa mengalah. “Baik, oke, oke. Aku yakin kamu sedang emosi. Tenangkan dirimu dulu, Ra."
"Ya, aku akan tenang kalau kamu pergi."
"Hubungi aku kalau ada apa-apa. Aku siap membantu. Semoga ayahmu cepat sembuh,” ujarnya langsung beranjak berdiri dan meninggalkannya pergi.
Tidak dapat digambarkan betapa remuknya hati Chandra pada saat itu. Dia kembali pulang dengan penuh kekecewaan.
Dara yang geram lantas membatin, ‘Ck! Percaya dirimu kelewatan. Salah besar kalau kamu mengira aku tidak bisa hidup tanpa kamu.’
***
Mendengar Chandra menikah lagi membuat Mama Dwi cepat-cepat datang ke rumah Chandra. Beliau juga baru tahu ternyata dia juga yang menyebabkan Hilman masuk ke rumah sakit. Sontak saja beliau langsung menyembur amarah. Tidak di sangka. Putranya yang dia didik baik-baik ternyata berani berbuat sedemikian buruk yang sangat mencoreng namanya.
“Jadi benar, kamu sudah menikah lagi dan ini istri keduamu?” tanya Mama Dwi menatap tajam keduanya ketika beliau baru saja tiba.
“Maafkan Chandra, Ma. Ada kesalahan besar yang harus Chandra tanggung jawabi.” Chandra menunduk. Merasa sangat malu karena perbuatannya sudah diketahui oleh mamanya sendiri.
"Mama kecewa sama kamu. Bagaimana kalau Papa tahu masalah ini Chandra?"
Chandra tidak bisa menjawab.
“Masih lebih cantikkan Dara ke mana-mana.” Mama Dwi berkata terang-terangan di depan Indira. Membuat Indira sakit hati.
“Ceraikan dia, Chan. Mama tidak suka!”
Chandra langsung menegakkan kepala, “Maaf, Ma. Chandra tidak bisa melakukannya ...."
"Kenapa?" Mama Dwi segera menyela.
"Indira sedang mengandung cucu Mama.”
Deg.
Mama Dwi langsung memegang dadanya yang terasa begitu sesak. Kemudian matanya berangsur-angsur terpejam, dan akhirnya tumbang saat itu juga.
***
Bersambung.
__ADS_1