
“Apa pun yang terjadi tolong jangan tinggalkan aku,” ucap Dara lirih dan penuh harap. “Jangan abaikan aku lagi. Aku butuh kamu sekarang ....”
Apakah Chandra peka?
Dara ingin Chandra memeluknya, memberikan penenangan di saat dunia sedang tak berpihak padanya. Dara juga sama-sama kecewa, Dara juga takut. Sangat takut sampai tubuhnya gemetaran.
Hanya kepada Chandralah Dara bergantung. Dara ingin Chandra membantu mencari pelakunya agar dia dapat membuktikan semua kebenaran ini.
Dara sedang diberikan pilihan yang sulit. Apa pun yang dilakukannya akan tetap berujung pada kesalahan. Speak up akan membuat namanya tercemar, tetapi diam juga seperti meminum racun mematikan.
“Berikan aku kepercayaan, bahwa apa yang kamu katakan itu memang benar adanya,” kata Chandra mengajukan sebuah kesepakatan.
“Jadi artinya Mas Chandra mengira aku selingkuh?” tanya Dara menahan napas. “Betapa teganya kau menuduhku serendah itu. Memangnya kita baru kenalan kemarin sore?”
“Maka dari itu tolong buktikan,” kata Chandra lagi.
“Coba Mas Chandra pikir secara nalar, mana mungkin aku sengaja berselingkuh di malam pertama kita. Mau bunuh diri? Kalau pun iya pasti aku akan mencari waktu yang tepat.”
“Tidak ada saksi yang melihatmu. Bisa saja dia menculikmu karena kekasihmu mungkin marah karena kau menikah denganku. Itu bisa saja terjadi.”
“Kau menyudutkanku.” Dara menunduk merasakan hati yang begitu pilu. “Aku bukan wanita murahan seperti yang kamu tuduhkan.”
“Terserah.”
Dara menegakkan kepalanya terkejut pada saat Chandra mengucapkan kata ‘terserah’. Itu artinya dia sudah tidak peduli lagi dengan dirinya apalagi pernikahan ini.
Akan tetapi Dara sudah tidak mempunyai pilihan, dia tetap bertekad mempertahankan Chandra. Bukan soal cinta, tetapi lebih kepada kehormatannya yang belum ia buktikan.
Karena jika ia pasrah dan membiarkannya berpikiran seperti itu sama saja mengakui bahwa tuduhannya adalah benar. Dia harus bisa membuat Chandra menyesal karena telah menuduhnya demikian.
“Aku hanya memintamu untuk membuktikan.”
“Baiklah, aku akan membuktikannya dan akan membawa pelaku itu ke hadapanmu. Asalkan Mas Chandra tidak menceraikanku dan menjaga aib ini agar tak sampai terdengung di telinga keluarga.” Ada jeda sebentar sebelum ia mengajukan permintaan selanjutnya, “Tapi tolong tetap perlakukan aku sebagaimana seorang istri. Seperti apa pun aku sekarang, aku tetap istrimu yang kau nikahi secara sah.”
__ADS_1
Anggukkan Chandra seperti sebuah angin segar untuknya. Namun di saat yang bersamaan, Chandra juga membuat tubuhnya penuh luka pada saat dia mengatakan, “Tapi tidak untuk berhubungan layaknya suami istri.”
Deg!
“Kenapa?” tanya Dara agak menyentak. Serat merta dia mengajukan pertanyaan paling menusuk. “Jijik denganku?”
Kembali Chandra mengucapkan sesuatu hal yang tak terduga, “Aku takut benihku tercampur dengan lelaki lain. Bukan hanya itu saja, bahkan saat ini pun, aku sudah lebih dulu khawatir benih dari lelaki itu sudah tumbuh di rahimmu.”
DEG!
“Itulah alasan terbesarku kecewa, jadi mengertilah. Aku butuh waktu. Tolong hargai keputusanku yang sudah benar-benar aku pikirkan secara matang. Pastikanlah setelah satu bulan ke depan, kalau memang apa yang aku katakan tadi adalah benar, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kita pisah. Silakan cari ayahnya dan jangan meminta pertanggungjawabanku. Karena melihatmu demikian membuat hatiku bertambah sakit.”
Air mata Dara semakin deras mengalir tatkala ia mendengar perpisahan.
Tak pernah terbayangkan dalam benaknya kata perpisahan itu dapat tercetus dari mulut lelaki yang baru menikahinya dua hari.
***
“Sudah kusiapkan semuanya sendiri,” jawab Chandra berusaha menahan diri. Melihat wajah istrinya selalu terbayang bagaimana pria lain menodainya. Benar-benar sangat menyakitkan sehingga membuatnya tidak bisa tidur sepanjang malam.
“Lain kali tolong jangan siapkan semuanya sendiri. Biar aku saja yang melakukannya, ya?”
Dara mendekatinya dan menatapnya lekat-lekat. “Plis jawab aku ....”
Chandra menelan ludah dan memejamkan matanya sejenak. Tenggorokannya tercekat tatkala melihat mata bulat bening itu menatapnya dengan pancaran ketulusan sekaligus kesedihan. Tidak bisa dibohongi, rasa sayangnya begitu besar terhadap wanita ini.
Tak lama kemudian Chandra mengangguk. Matanya mengembun dan segera mendekap tubuh Dara ke dalam pelukannya. Keduanya saling berpeluk-pelukan dan bertangis-tangisan selama beberapa lama. Sebelum akhirnya Chandra pergi meninggalkan rumah.
Dia tidak sedang berusaha menghindar. Posisinya yang menjadi kemendur (kontrolir) di sebuah pabrik plywood, membuatnya harus selalu datang lebih pagi. Ada dua shift yang berakhir pada pukul 06:30, dan dia harus tepat tiba di waktu itu.
Daerah ini masih berada di Jawa Tengah. Meskipun masih banyak pedesaan yang asri. Tetapi Chandra memilih untuk membangun rumah di daerah perkotaan agar lebih dekat dari lokasi pabrik. Masih agak jauh dengan tempat tinggal ayah dan ibu mertuanya.
***
__ADS_1
Setelah Chandra pergi dan urusan rumah selesai, Dara segera pergi mencari informasi ke gedung resepsi pernikahannya kemarin. Sebuah gedung cukup besar yang memang sering disewakan untuk melakukan pesta.
Masuk ke dalam, dia sengaja menghentikan salah satu pramusaji yang sedang berseliweran melayani tamu di restoran.
“Ya, Kak? Ada yang bisa dibantu, mau pesan apa?” tanya waiters tersebut mengeluarkan kertas catatan dan pena.
“Maaf, saya bukan ingin memesan makanan, tapi mau bertemu dengan—” Dara melihat sekeliling. Memperhatikan satu-persatu pramusaji yang sedang bekerja di restoran ini. Namun tampaknya tidak ada satu pun yang dia kenal. “.... Teman-temanmu hanya ini? Kemarin saya lihat banyak yang laki-laki.”
“Iya, memang ada dua shift, pagi dan sore. Kami dari jam sembilan sampai jam lima, sedangkan shift kedua dari jam lima sampai jam dua belas malam. Setelah itu, barulah restoran ini tutup. Kalau memang tidak ada lembur acara pesta,” jelas wanita tersebut.
“Kalau boleh tahu, ada kepentingan apa ya, Kak? Biar nanti saya bisa bantu kendalanya,” kata wanita itu lagi.
“Saya ingin menemui mereka langsung, karena ada hal yang ingin saya tanyakan mengenai resepsi saya kemarin.”
“Oh kalau begitu Kakak datang nanti sore saja, Kak. Karena jam segini biasanya masih istirahat, sebab mereka pulang malam.”
“Di mana mereka tinggal?”
“Ada yang mesh ada yang indekost. Masing-masing, Kak.”
Dara sempat kecewa karena tidak bisa menemui salah satunya, tetapi dia tidak menyerah. Dia akan tetap datang sore hari nanti.
“Baik, terima kasih, Mbak.”
Menuju ke tempat parkir, Dara memacukan motornya ke kembali ke rumah. Namun baru beberapa puluh meter, Dara mengalami sebuah kecelakaan. Pikirannya yang kacau dan dipenuhi dengan berbagai macam permasalahan, menjadikannya tidak fokus saat menyetir, hingga menyebabkan dirinya masuk ke dalam selokan. Dara sempat pingsan dan membuat kehebohan para pengguna jalan.
Dara tidak tahu siapa yang menolongnya, karena tahu-tahu dia sudah berada dalam klinik dengan luka ringan di bagian kakinya dan lengan siku.
Tetapi menurut laporan dari salah seorang perawat, seorang laki-laki tak dikenal, telah membayarkan tagihannya. Siapa dia?
***
To be continued.
__ADS_1