
Sepulang Chandra mengantarkan Laras ke rumah, Chandra juga langsung pulang ke rumahnya sendiri. Terus terang, dia tidak bisa berlama-lama berjauhan dengan istrinya; Dara puspita.
Layaknya seperti pengantin baru lainnya, Chandra pun merasakan yang namanya kecanduan tiap kali bersentuhan dengan sang istri. Terlebih status mereka kini sudah halal, dan mereka sudah bebas melakukan apa pun yang mereka inginkan. Bahkan lebih itu. Sungguh, Dara adalah hadiah terindah dari Tuhan untuknya selama beberapa tahun belakangan ini.
Memang ada banyak wanita pilihan yang mendekatinya selepas putus cinta dari mantan pacarnya kurang lebih empat tahun silam. Namun entah kenapa hatinya telah terhenti pada Dara puspita. Seorang gadis sederhana yang pada awalnya mengabaikannya, kini perlahan-lahan sudah bisa ia raih hatinya.
Memang benar jika pepatah mengatakan, 'Cinta datang karena terbiasa'. Dan nyatanya memang demikian, kalau mereka tidak memustuskan untuk terlebih dahulu mencoba hubungan, mungkin pernikahan ini tidak akan pernah terjadi.
Memasukkan mobilnya ke garasi, Chandra masuk melalui pintu belakang yang langsung terhubung dengan dapur. Tepat di sana, dia langsung menemukan istrinya yang tengah memasak sesuatu.
“Assalamualaikum,” sapa Chandra yang dibalas langsung dengan senyuman manis.
“Waalaikumsalam.”
Setelah sah secara agama dan negara, Chandra sudah tak ragu lagi untuk melakukan kontak fisik, seperti yang terakhir kali dia lakukan saat pergi dari rumah. Namun kali ini, bukan kecupan di bibir, melainkan kecupan di kening untuk mengungkapkan besarnya rasa cinta yang ia miliki.
Tetapi semenjak menikah, ada sesuatu yang tidak bisa Chandra mengerti: Dara tampak seperti terkejut apabila dia melakukan hal ini kepadanya—padahal sebelumnya tidaklah demikian. Bukan orang yang munafik, selama tiga tahun lebih berpacaran, mereka tak mungkin tak melakukan apa pun. Meski masih dalam batasnya.
“Sudah sering kita seperti ini, tapi kamu masih saja gugup,” kata Chandra berusaha berpikir positif.
“A-aku tidak tahu,” jawabnya disertai dengan keringat dingin. Gejala lain selain terkejut dan ketakutan.
“Padahal aku ingin meminta hakku malam ini.”
Wajah Dara berubah pias, seakan malam pertama adalah sebuah momok paling menakutkan untuknya.
“Tidak bisa besok?” tanyanya kemudian setelah wanita itu mematikan kompor. Terlihat sayur capcay matang di atas wajan.
“Kenapa harus besok kalau hari ini saja kamu bisa?” kata Chandra tidak mau menunda lagi. “Kau harus terbiasa, Ra. Besok-besok mungkin aku juga akan memintanya setiap hari.”
Dara menunduk. Wajahnya terlihat sangat risau sekali dan membuat Chandra menjadi semakin gemas melihatnya. Setakut itukah istrinya dalam permasalahan yang cukup intim ini?
“Kenapa?” tanya Chandra mendekatinya dan mendongakkan dagunya. Memaksanya untuk saling menatap. “Sah-sah saja bukan? Aku suamimu. Justru semakin banyak kita melakukannya akan semakin bertambah banyak pahala yang akan kita dapatkan. Dara ... berhubungan intim pertama kali tidak semenakutkan yang kamu kira.”
“Iya itu bagi laki-laki, tapi tidak bagi perempuan,” sanggah Dara meski dia tak pernah melakukannya secara sadar. Namun dia bisa merasakan perih setelahnya.
__ADS_1
“Tapi aku tidak pernah mendengar wanita meninggal akibat malam pertama.” Mengecup bibirnya sekilas, Chandra kembali berujar, “Kita sudah lama menunggu masa-masa ini bukan?”
Tak memberi kesempatan menjawab, Chandra langsung mengangkat tubuh istrinya ke atas meja dapur.
“Jangan di sini, kamu itu sembarangan,” tolak Dara kurang setuju. Tempat ini terlalu terbuka.
“Tentu,” kata Chandra segera. “Aku pun tidak ingin membiarkanmu tersiksa di sini. Aku hanya ingin memberimu pemanasan terlebih dahulu.”
Tubuh Dara melemas bagaikan tak bertulang pada saat kecupan lagi-lagi mendarat di bibirnya. Hingga tanpa sadar, rintihan demi rintihan keluar dengan seperti orang yang tak tahu malu.
Dara terhanyut dalam balutan syahwat. Dia tidak dapat mengingat apa pun lagi selain sebuah kenikmatan yang Chandra berikan. Dalam keadaan demikian, Dara mendongakkan kepalanya agar Chandra lebih luas menginvasi bagian lehernya yang putih jenjang.
“Aku mau pipis,” ucap Dara saat Chandra hampir merampungkan apa yang dilakukannya.
“Itu bukan perasaan sebenarnya. Jangan ditahan.”
Mungkin itulah yang dinamakan pelepasan dan Dara baru mengetahui itu.
“Sepertinya kamu sudah siap, bisa melakukannya sekarang!” kata Chandra yang malah justru memasukkannya ke dalam kamar bawah. Kamar yang sebenarnya masih dalam penataan. Karena sadar, dia tidak bisa menahan lebih lama sesuatu yang mendobrak paksa dalam dirinya.
“Mas Chandra,” ujar Dara ketika sudah terbaring sempurna. Wajahnya berubah-ubah, kadang panik, kadang takut, tapi juga menikmati pengalaman pertama ini.
“Tapi matikan lampunya,” kata Dara tidak percaya diri juga takut dengan tubuhnya yang tanpa Chandra ketahui, penuh dengan tanda merah. Dia berharap temaram lampu dapat menyembunyikannya.
“Jangan ... biarkan aku melihatmu,” katanya lagi membuat Dara bertambah panik dan hampir menangis.
Terang saja, saat dress rumahnya terbuka, tatapan Chandra fokus pada beberapa titik yang ada di tubuhnya. Terutama bagian dada.
“Bekas apa ini?” tanyanya dengan roman wajah tak biasa. Mengusap bagian itu dengan jarinya, lalu beralih melihat ke bagian lain sampai ke daerah kaki. “Jangan bilang kalau ini digigit oleh binatang,” ucapnya dingin dan lantas segera menyudahi kegiatannya.
“I-ini digigit binatang. Kamu jangan curiga.” Dara menjawab demikian karena tidak bisa menjawab dengan kata lain. Bibirnya terlalu kelu dan tubuhnya mendadak gemetaran. Jangan tanya lagi dengan keadaan jantungnya. Sudah pasti seperti hampir meledak. Dengan segera, dia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
“Binatang berkepala hitam maksudmu?” perkataan Chandra yang biasanya hangat menjadi dingin dan tegas. “Sangat tidak mungkin itu perbuatan binatang. Terkecuali manusia yang memang sifatnya menyerupai binatang. Jangan coba-coba mengelabuiku karena aku bukan orang bodoh.”
“Aku akan menjelaskan semuanya supaya kau tidak salah paham. Kita bisa bicara lagi saat Mas Chandra sudah dalam keadaan tenang.”
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa tenang?! Aku ini suamimu! Aku marah karena aku mencintaimu, aku peduli denganmu!" Chandra mendekatkan wajahnya dan menatapnya dengan tajam. Hasratnya menguap seketika berganti dengan kekesalan.
“Katakan bahwa kamu masih suci.”
Dara tak menjawab dan malah justru terisak.
“Jawab Dara ...,” kata Chandra lagi dengan nada pelan namun penuh kekecewaan, sehingga membuat isakan Dara terdengar semakin keras.
“Tolong percaya denganku setelah aku menceritakannya nanti. Cinta adalah saling percaya. Jangan sampai kamu menyesal.”
“Berarti benar, kamu tidak suci lagi?” tanya Chandra menuntut. "Jawab jujur ...."
Beberapa saat kemudian, Chandra melihat anggukkan kepala yang lantas membuat dunianya lebur seketika.
“Siapa yang melalukannya?”
Dara menggeleng. “Aku tidak tahu. Aku di per kosa.”
Chandra memejamkan matanya. Kecewa yang terlalu dalam membuat air mata kelemahannya mengalir. “Kau membohongiku,” ucapnya pelan dan menusuk.
“Aku tidak membohongimu, Mas. Memang begitu kejadiannya. Kemarin aku hilang karena aku diculik oleh orang tak dikenal.”
“Siapa orangnya, Dara?! JAWAB?!” bentak Chandra membuat Dara terlonjak. Chandra yang selama ini dikenalnya santun, lembut dan berwibawa kini menjadi sosok yang mengerikan. Matanya menyorot tajam dan wajahnya memerah.
“Aku tidak tahu ...,” jawab Dara disela isak.
“Jangan berbohong untuk melindungi laki-laki bajingan itu!”
“Aku berani bersumpah aku benar-benar tidak tahu. Kita perlu bicara nanti, Mas. Kita akan bicara.”
Chandra mengusap rambutnya kasar. Berbalik badan, pria itu meninggalkannya keluar dengan sejuta kekecewaan. Entah bagaimana nasib rumah tangga yang baru berumur hitungan hari tersebut. Padahal perjalanan masih sangat panjang, tapi kabut tebal dan awan gelap sudah terlebih dahulu datang menghadang.
***
To be continued.
__ADS_1
Masih ada flashback kenapa Alif nekat melakukan itu ya, jadi jangan skip. Orang jahat itu terlahir dari orang baik yang tersakiti.
Mohon maaf kalau typo aku ngetik di jalan soalnya.