
“Secepat itukah?”
“Ya, nanti begitu kamu ketuk palu.”
“Memangnya bisa?” tanya Dara bingung. Dia tidak begitu paham mengenai hal ini. “Bukannya—aku harus menjalani masa iddah dulu?”
“Apa kalian ...?” Alif menekuk ketiga jarinya menyisakan jari tengah dan telunjuk, kemudian melengkung membentuk tanda kutip. “Tahu maksudku?” tanya Alif memastikan karena Dara diam saja.
“Iya, tahu!” jawab Dara. Tatkala dia berkata demikian, Dara membuang pandangannya ke arah lain. Tentu saja dia malu membahas hal semacam ini. Namun terus terang dia nyaman-nyaman saja karena Alif menggunakan kata istilah. Dia pikir kesannya malah akan bertambah buruk jika Alif mengatakannya secara eksplisit.
Lantas Alif menjelaskan, berdasarkan dari keyakinan yang dianutnya bahwa: masa iddah tidak berlaku bagi perempuan yang berpisah dari suaminya namun belum pernah melakukan hubungan badan. Aturan masa iddah hanya berlaku bagi yang telah melakukan hubungan suami istri. ©
Alif kembali menagih jawabannya, “Kamu belum menjawab.”
Karena tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Dara, akhirnya Alif beranggapan sendiri. “Seharusnya aku tidak perlu menanyakan hal itu.”
Dan entah kenapa Alif sakit hati dengan anggapannya sendiri. Seharusnya dari awal dia harus memaklumi dan dapat menerima segala sesuatu yang ada pada Dara karena status wanita itu sudah pernah menikah. Tidak perlu diperjelas lagi apa aktivitas yang mereka lakukan, yakni seperti suami istri pada umumnya di sepanjang hari-hari mereka.
Namun begitu, Alif tidak terlalu mempermasalahkan. Dia pikir, sekarang ini masih lebih baik daripada dia tidak mendapatkan Dara sama sekali.
Bayangkan bila mereka tetap bersama dan bahagia—entah jadi apa nasibnya kelak. Mungkin dia akan membutuhkan waktu yang lebih lama lagi untuk menambal-nambal hatinya yang sudah bolong sebagian. Atau diperkirakan dia akan menjadi bujang tua lapuk karenanya.
“Maaf, Lif ... kalau untuk itu, aku belum bisa menjawab,” kata Dara setelah beberapa saat kemudian.
“Tidak masalah,” jawabnya tak terlalu peduli.
“Kamu marah, ya?”
“Untuk apa marah?” pria itu kemudian beranjak berdiri dan berpamitan. “Sudah malam, aku harus pulang.”
“Kamu datangnya memang sudah malam, Lif.”
“....”
“Alif?” panggil Dara sekali lagi.
“....” Alif diam saja.
“Izh, iya fix kamu marah.”
Dara meraih tangan Alif untuk dia cium layaknya pasangan yang sesungguhnya. “Biar mirip seperti suami istri betulan, iya kan?”
Alif terdiam dengan mata memperhatikan. Namun pada saat tangan itu mendarat di bibirnya, Dara tak segan langsung menggigitnya kuat-kuat sehingga Alif sontak berjingkat.
“Astaga! Sakit, Nenek!?” aduhnya sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke sembarang arah. “Auww ... auwwh, sakit damn it!”
Dara sendiri tertawa puas melihatnya demikian. Dia malah menjulurkan lidahnya untuk meledek.
__ADS_1
“Sini tanganmu!” titah Alif meminta tangan Dara untuk di julurkan.
“Dilarang membalas. Dendam itu tidak baik. Nanti dosa.” dia menyembunyikan tangannya di balik badan.
“Kalau tahu dosa kenapa tadi menggigit tanganku?” menunjukkan tangannya yang membekas gigitan.
“Habisnya kamu marah, sih. Cemburu, ya?”
“Dara, sini tanganmu.”
“Katanya mau pulang?” tanya Dara, kemudian menunjuk ke arah pintu. “Itu pintunya kalau kamu lupa."
"Tidak mungkin aku melupakan pintu."
"Terus kenapa masih di sini? Atau mau di antar sampai ke bawah?”
Agak lama Alif berpikir, sebelum akhirnya dia menjawab, “Hmmm, boleh juga.”
“Ayo!” ajak Dara bersemangat karena Alif kembali tersenyum. Dia sama sekali tidak tahu bahwa pria itu mempunyai banyak akal untuk megelabuinya.
Keduanya lantas turun sambil bersenandung ria, “Mari pulang, mari—lah pulang, mari—lah pulang, ke kandang ayam~”
***
Seperti biasanya; setiap sore, Dara pasti akan bersiap ke rumah sakit untuk menggantikan ibunya yang sudah berjaga seharian di sana.
Namun dia menyadari bahwa pakaiannya tidak banyak, sampai-sampai tidak ada yang bisa ia bawa hari ini. Dara bukan tipe wanita yang gemar mengoleksi pakaian, oleh sebab itulah mungkin Dara tidak terlalu mempunyai banyak stok.
“Sebagian masih kotor aku belum sempat mencuci, sebagian lagi masih berada di rumah Chandra. Hhhh, tapi malas sekali kalau aku harus kembali ke sana and bertemu dengan manusia buntelan,” gumamnya menyayangkan. Tetapi sepertinya ia harus tetap kembali karena banyak sekali barang yang harus diambil, termasuk sejumlah perhiasan.
“Sepertinya aku harus tetap ke sana, sayang emasnya. Lumayan, bisa dijual buat tambah-tambah beli minyak. Minyak ‘kan lagi mahal heheheh.”
“Mau Razka antar, Mbak?” tanya Razka ketika Dara baru saja keluar dari kamarnya.
“Boleh juga, Dek,” Dara mengangguk setuju. “Tapi mampir dulu, ya.”
“Ke mana?”
“Ke Rumahnya Mas Chandra.”
“Untuk apa, Mbak ke sana lagi?” suara Razka langsung terdengar emosi.
“Sabar, Dek. Mbak Cuma mau mengambil barang-barang Mbak yang masih ada di sana.”
Razka berdecak. “Seharusnya Mbak ikhlaskan saja barang-barang itu.”
“Sayang atuh, Dek. Masih ada barang berharganya.”
__ADS_1
“Ya sudah, kalau Mbak maunya begitu. Razka antar ke sana.”
Hanya membutuhkan waktu sekitar empat puluh menit, Dara sudah sampai di rumah Chandra. Mobil pria itu sudah berada di depan rumah, berarti tandanya dia sudah pulang dari pabrik. Mungkin beberapa menit yang lalu jika Dara perkirakan seperti biasanya.
“Razka tunggu di depan sini ya Mbak. Jangan lama-lama,” Razka memberi pesan ketika Dara turun dari boncengan.
“Siap!” Dara menjawab. Tidak ada lagi getar-getar atau pun rasa tak biasa seperti dulu ketika Dara melangkahkan kaki untuk bertemu dengan Chandra. Ternyata kebencian bisa menghapus rasa sayang yang pernah ada.
Ting tong!
Tak berapa lama sang pemilik rumah keluar, yakni Chandra itu sendiri. “Dara?” ucapnya begitu senang. “Aku senang kamu datang ke sini. Atau kamu mau bicara denganku? Seharusnya kamu mengabariku dulu tadi supaya aku bisa ketemu di luar. Atau memang kamu berubah pikiran?” dia bertanya dengan memberondong.
“Sepertinya sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan di antara kita. Aku ke sini Cuma mau ambil pakaianku sama barang-barang yang masih tertinggal.”
Terlihat raut wajah Chandra langsung berubah. Namun Dara tidak peduli. “Apa aku sudah boleh masuk?”
Chandra mengangguk. “Semua barang-barangmu masih ada di atas,” jawabnya lemah.
Tatkala Dara masuk, Dara menemui Indira yang sedang menyapu rumah dengan sarung tangan dan masker.
Entah bagaimana raut wajahnya, namun sangat jelas sekali bahwa perempuan itu menghindarinya. Tanpa benar-benar ingin menatapnya sama sekali layaknya manusia yang tengah lewat ini adalah makhluk halus yang tidak terlihat.
‘Inilah jenis-jenis wanita yang dinamakan iblis. Merebut suami orang tanpa perasaan dan tanpa rasa bersalah.’
Menuju ke atas, Dara membuka pintu kamar dan langsung memasukkan barang-barangnya ke dalam koper besar. Keadaan kamar ini masih sama seperti saat ia tinggalkan. Bahkan seperti tak tersentuh karena keadaannya sudah sedikit berdebu.
“Kamar ini kotor karena aku tidak pernah mengutak-atiknya.” Tiba-tiba terdengar suara Chandra di belakang tubuhnya. Entah sejak kapan dia mengikutinya masuk. “Selama ini aku selalu tidur di ruang kerja.”
Dara tersenyum penuh arti, ada dua perkiraan: mungkin Chandra memancingnya agar ia bertanya kenapa mereka tidak tidur bersama. Atau mungkin dia memang sedang mengisyaratkan bahwa dia tidak pernah tidur bersama dengan Indira agar Dara berbangga hati dan mau menerimanya kembali, karena dirinya masih suci.
“Bukan urusanku,” balas Dara singkat.
“Dara ...,” ucap Chandra menatapnya penuh harap. “Apa tidak ada lagi sedikit pun rasa yang tertinggal untukku?”
“Sudah tidak ada lagi semenjak orang yang aku cintai tidak tahu diri," jawab Dara tegas. "Oh, iya. Aku sudah selesai. Aku pamit, ya. Sampai jumpa di pengadilan minggu depan.”
Dara kembali menekankan, “Jangan lupa siapkan mental.”
***
©Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS al-Ahzab ayat 49, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan- perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-sekali tidak wajib atas mereka iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya.” (Dilansir dari REPUBLIKA.co.id.)
Bersambung.
Maaf kalau typo, soalnya begitu tulis langsung aku terbitkan demi kalian yang sudah menunggu couple kesayangan😄
Maaf juga telat. Biasa, ada kerjaan di real life.
__ADS_1