Ternoda Di Malam Pengantin

Ternoda Di Malam Pengantin
Perbincangan Suami Istri


__ADS_3

Setelah lama menunggu Alif, akhirnya terdengar deru mobil di depan rumah. Dara langsung melongok ke jendela, ternyata benar, Alif orangnya. Dengan segera ia membuka pintu dan menyambut pria itu dengan senyuman.


“Selamat sore, Ayang ...,” ucap Dara terdengar mendayu-dayu sehingga membuat Alif bergidik.


“Ihhh gelay.”


Dara tertawa melihatnya demikian, “Aku sengaja, biar kamu terhibur, biar kamu senang.”


“Lebay kamu panggil aku begitu.”


“Kita kan mau punya anak, Lif. Aku panggilnya Alif-Alif terus,” kata Dara sembari menggandeng tangan Alif masuk ke dalam rumah. “Selain kedengarannya kurang enak. Aku merasa kurang sopan sama kamu. Kamu suami aku. Gimana pun umur kita jauh beda. Suka malu sendiri di depan keluargamu. Ya—meskipun kelihatannya mereka tidak terlalu mempermasalahkannya.”


“Terserah kamu mau panggil apa,” jawab Alif tak terlalu memusingkan persoalan ini. Pria itu berjalan lurus ke area dapur, kemudian membuka kulkas untuk mengambil air dingin di sana.


“Kamu sukanya aku panggil apa? Barang kali kamu di luar pernah dengar pasangan, istri panggil suaminya misalnya Mas, Abang, Aa, Akang, Papi, Papa, Daddy, Bapak, Ayah, Paman, Kakek, Nenek, Abah, Oyot.”


Alif terkekeh hingga hampir tersedak. “Wah, parah kamu.”


“Ehee ... kan umpama.”


“Masak apa hari ini?” Alif membuka tudung saji yang telungkup di atas meja dapur.


Dara menjawab dengan senyum menyeringai, “Sayur bening.”


“Ya Allah ... sebening embun betulan,” Pria itu sangat kecewa karena sayur bayam melulu yang di masak istrinya. Bosan, tentu saja. “Tanpa makan bayam pun aku sudah perkasa, Ra. Tahan lama. Jadi kamu tidak perlu memberiku makanan ini setiap hari.”


“Memangnya kamu Popeye?”


“Makanan lainnya apa?”


“Tempe gundul,” jawab Dara. Tempe gundul yang dimaksud adalah tempe yang digoreng tanpa menggunakan tepung alias polos.


“Bisa tambah kaya kalau makananku begini setiap hari.”


“Nanti aku tanyakan dulu ke dokternya kalau kamu kontrol lagi, Lif. Apakah sudah boleh makan seperti biasa? Kalau nanti memang sudah boleh, aku bikinin kamu masakan lain.”


Terdengar helaan napas panjang dari pria itu, “Sengsara jadi orang sakit.”


“Makanya jangan sakit usus buntu.”


“No why-wy. Aku bisa putar balik.”


Dara geleng-geleng kepala sembari membatin, ‘Sebenarnya aku ini menikah sama Alif, atau Sule, sih? Perasaan bikin aku ketawa melulu.’


“Mandi dulu kali, Lif,” Dara mengatakan demikian karena saat ini Alif sedang mengambil piring dan membuka rice cooker-nya. “Masa terbalik, makan dulu baru mandi.”

__ADS_1


“Aku lapar.”


Walau pun Alif berkomentar, tetapi tetap saja dia memakannya sampai habis. Tanpa sisa. Laki-laki memang mempunyai kebiasaan seperti itu—jadi Dara pikir, para wanita tidak usah terlalu terbawa perasaan. Mungkin sudah kodratnya demikian.


Setelah membersihkan diri, Alif duduk bergabung dengan Dara yang sedang sibuk di depan laptopnya. Tampaknya dia sedang larut dalam mengerjakan sesuatu yang mungkin penting sehingga dia tak terlalu menyadari kedatangannya.


“Mengerjakan apa?” tanya Alif. “Jangan kerjakan apa-apa dulu, nanti kamu jadi banyak pikiran. Bisa stres,” paparnya merasa khawatir.


“Aku Cuma balas email panggilan kerja.”


“Kerja apa?” raut wajah Alif seketika berubah menjadi tegas. Dia paling tidak suka Dara membahas hal ini.


“Aku di terima jadi ahli gizi di rumah sakit A. Di sekolah juga. Tapi sayang, aku sudah di sini,” jawab Dara masih serta menggerutu, “aduh, kebiasaan nih aku. Jarang mengecek email. Jadi kalau ada apa-apa, tahunya selalu telat.” Matanya menajam, tangannya terus menscrol tampilan layar sembari meneliti satu persatu email yang masuk. Ternyata banyak sekali email yang tertumpuk sehingga ia tidak menyadari bahwa email panggilan kerja ini sudah di terimanya semenjak satu bulan yang lalu.


“Misalnya kamu di sana pun aku tidak akan pernah mengizinkanmu bekerja. Kamu harus fokus sama baby Cil,” kata Alif tak mau di bantah.


“Tapi kalau baby Cil lahir sudah boleh, ya?” pinta Dara tersenyum. “Aku sudah terbiasa bekerja, jadi kalau aku hanya mengurus rumah, aku merasa seperti ada yang kurang. Rasanya lebih puas kalau beli apa-apa pakai uang sendiri.”


“Nanti kalau anak kita sudah agak besar. Momen mendidik anak itu tidak bisa di ulang. Banyak orang tua yang menyesal karena hal ini, maka jangan sampai kamu menjadi salah satunya. Seharusnya kamu lebih tahu itu, sebab kamu perempuan,” jelas Alif dengan bahasa yang ringan agar Dara bisa lebih mudah memahami.


Dara melengkungkan bibir bawahnya ke atas, agak kurang setuju dengan ucapan suaminya barusan. “Kalau aku bisa melakukan dua-duanya, kenapa tidak?”


“Aku bukan tipe laki-laki yang suka istrinya jungkir balik.”


“Kesibukan yang dilakukan oleh perempuan itu bisa berimbas pada keluarganya, terutama anak-anak. Maka jangan heran kalau banyak istri-istri lembut di dunia ini berubah menjadi ... maaf, ‘kasar’ setelah menikah.”


“Iya, kamu benar, Lif, aku sering melihatnya. Ada kok, temanku jadi bar-bar setelah menikah. Capek katanya.”


Lantas Alif pun menjelaskan bahwa hal ini biasa terjadi karena rata-rata suami mereka kurang mencukupinya hingga si istri terpaksa bekerja—namun dia menjalaninya dengan banyak tekanan, karena dia di tuntut untuk sempurna dari berbagai sisi. Antara keluarga dan pekerjaan yang harus imbang.


“Itu sebabnya aku melarangmu. Mengerti?”


Dara menatap kagum suaminya yang ternyata mempunyai sisi lain. Memang benar kata Vita, Alif ini sebenarnya laki-laki yang baik, perhatian dan mempunyai wawasan mau pun pemahaman agama yang luas. Terlepas dari kejadian kemarin yang menimpanya, mungkin Alif hanya sedang khilaf dan salah pergaulan saja. Namun begitu, Dara tidak berharap Alif menjauhi sahabatnya; Jack. Karena Jack sudah banyak berkorban untuk Alif. Ya, ia berharap suatu saat nanti Jack bisa menjadi orang yang lebih baik lagi.


“Kenapa? Kagum? Semakin cinta sama aku?” tanya Alif kembali menyebalkan. Sehingga membuat Dara lagi-lagi mencebikkan bibir. “Katanya mau keluar hari ini? Jadi?”


“Aku mau ganti baju dulu,” kata Dara kemudian menutup laptopnya. Namun sebelum ia beranjak berdiri, Dara menatap Alif selama beberapa saat.


Mengerti maksud istrinya, Alif pun bersuara. “Apa, Dower? Ada yang ingin ditanyakan?”


Dara mengangguk sebelum akhirnya dia bertanya, “Lif, apa kamu malu punya istri sepertiku?”


“Apa yang kamu pikirkan?” suara Alif terdengar sangat heran. Ampun, ya. Orang hamil ini aneh-aneh saja pikirannya.


“Aku bukan orang yang tertutup masalahnya, tidak seperti keluargamu.”

__ADS_1


“Apa mereka mempermasalahkannya?”


Wanita itu menggeleng, “Sepertinya tidak, tapi aku merasa malu sendiri. Merasa tidak pantas.”


“Aku dulu pernah memaksakan perempuan untuk sama seperti keluargaku. Seperti Umi dan Abah. Tapi baru aku sadari belakangan ini ... ternyata perbuatanku salah. Karena mereka justru malah pergi dariku,” kata Alif terdengar pelan, penuh arti.


“Berhijab itu wajib, tapi aku rasa bukanlah paksaan.” Alif menggenggam lembut tangannya, “Jangan merasa terbebani. Yang berhijab pun belum tentu baik,” Alif menjeda sejenak, “ada banyak jalan menuju ke surga, tapi ... kalau kamu ingin aku ke sana juga, seharusnya kamu melakukan kewajiban itu.”


“Plis, jangan bilang begitu, aku sayang kamu. Aku ingin kita ke sana sama-sama.”


“Sekarang?”


“Heh!” Dara melebarkan matanya. “Jangan sekaranglah. Baru juga menikah.”


Keduanya saling memeluk. Dan dalam pelukannya, Alif kembali berujar dengan penuh penyesalan, “Maafkan aku ya, Ra. Aku mendapatkanmu dengan cara yang kotor.”


“Mungkin sudah jadi jalanku begini,” jawab Dara merenggangkan pelukan.


“Aku sering membayangkan sendiri kalau itu terjadi pada—”


Dara sontak menyela, “Sudahlah, disesali pun percuma. Yang penting kita perbaiki diri kita ke depan. Supaya bisa jadi contoh yang baik untuk anak-anak kita,” kata Dara tersenyum. Dia sudah sepenuhnya menerima keadaan ini dengan ikhlas. Apalagi yang akan ia cari? Toh ia sudah mendapatkan semuanya sekarang. Suami, mertua dan saudara yang semuanya baik. Bukan hanya itu saja, bahkan sebentar lagi akan hadir seorang anak di dalam rumah tangga mereka.


“Kok malah nangis?”


“Maaf ya, aku belum bisa jadi istri yang baik.”


“Kamu itu omong apa?”


“Aku masih suka gampang marah, suka bawal sama suami ....”


“Bawel ...,” Alif meralat. “Sudah, Ra. Kenapa kamu gampang sekali ke pikir sama hal-hal sepele. Aku sama sekali tidak pernah mempermasalahkannya. Justru aku senang karena kamu cerewet. Kalau kamu pendiam, rumah ini bisa jadi es,” jeda beberapa detik, Alif menambahkan, “dingin.”


“Peluk lagi,” ucap Dara meminta untuk kembali di rengkuh.


“Bumil ...,” manja banget sih, lanjut Alif tanpa suara. Takut menyinggung dia yang sensitif. Sepertinya ia harus mempunyai stok kesabaran ekstra selama beberapa bulan ke depan menghadapi perempuan wadas ini.


“Jadi keluar?” tanya Alif setelah beberapa saat kemudian. “Katanya mau beli martabak telur.”


“Jadi. Tapi keluar di dalam,” jawab Dara singkat.


“Ok.” saat itu juga Alif beranjak dengan menggendong Dara seperti anak koala. Pria itu membawanya masuk ke dalam kamar dan langsung mengunci pintu.


***


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2