Ternoda Di Malam Pengantin

Ternoda Di Malam Pengantin
Sampai Kapan Aku Harus Sabar?


__ADS_3

“Ma!” Chandra panik mendapati tubuh mamanya terbanting ke lantai. Ia segera mendekat dan mengangkat tubuhnya ke sofa.


“Ma, bangun, Ma!” dia mencoba membangunkan mamanya dengan menepuk-nepuk pipinya. “Ma, bangun!” Chandra menoleh kepada istrinya yang sedari tadi diam saja seperti patung. “Kenapa kamu malah diam saja, ayo bantu aku!”


“Paling Cuma pingsan biasa,” jawab Indira tak terlalu peduli.


“Indira!” bentak Chandra.


“Mas, Mamamu itu tidak mengharapkanku sama sekali. Untuk apa aku memedulikannya? Yang ada aku malah disemprot. Gimana, sih.”


“Ya Tuhan, Ira ... kenapa kamu tidak punya perasaan sama sekali. Mama Dwi orang tua kamu juga,” Chandra menggeram kesal. Karena tidak tahu apa yang harus dilakukan, Chandra mengambil ponsel dan menghubungi semua keluarganya tak terkecuali.


“Ck. Punya suami kok, bodoh banget. Mamamu itu Cuma shock. Angkat kakinya, turunkan kepalanya biar ada suplai darah ke otak. Lain kali pakai ini,” kata Indira sambil menunjuk kepalanya. Dia jengkel sendiri melihat suaminya yang berjalan mondar-mandir seperti ayam betina yang hendak bertelur.


“Ya, terus kalau kamu bisa kenapa tidak kamu lakukan?”


“Its, ok, aku akan melakukannya. Tapi setelah itu aku tinggal ke kamar. Aku tidak mau mendengar Mamamu kembali memaki aku. Seenaknya saja. Begini-begini aku juga punya perasaan.” Meskipun mulutnya menggerutu, namun Indira tetap membantu mertuanya agar bisa segera sadar dari pingsan. Mengangkat kaki beliau ke atas bantal, kemudian mencondongkan kayu putih ke hidungnya.


Tatkala Mama Dwi mulai mengerjap, Indira segera pergi dan menutup diri ke kamar. Di balik sana ia merasa lebih baik meski tangis tak bisa ia hindari.


“Syukurlah, Mama sudah sadar,” ujar Chandra ketika perempuan yang paling disayanginya itu terbangun. “Apa yang sakit, Ma?”


“Sakit hati Mama, Nak. Sakit.”


“Maafkan Chandra, Ma. Maaf ...,” ujar Chandra memeluk mamanya dengan penuh penyesalan. “Chandra janji akan memperbaikinya.”


Tak lama kemudian datang Papa dan juga Laras yang kedatangannya hanya untuk menyidang Chandra habis-habisan.


Dan semenjak saat itu pula hubungan mereka merenggang. Tak lagi sama seperti dulu.


***


Sudah selama satu minggu Dara dan Ibunya bolak-balik dari rumah ke rumah sakit untuk menjaga ayahnya. Apabila Dara berjaga malam, maka Ibu Ratna berjaga siang harinya, begitu terus-menerus. Sesekali Razka datang membantu menggantikan, namun tak lama karena dia mempunyai kewajiban sendiri, yakni sekolah dan belajar.


“Dek,” panggil Dara kepada Razka yang sedang duduk di sampingnya sambil bermain game. “Kok masih di sini? Pulang gih! Sudah mau maghrib, besok kan Adek harus sekolah.”


“Apa kabar sama Mbak yang dari pagi belum istirahat?” Razka mengkhawatirkan Mbaknya yang terlihat begitu lelah. Kantung matanya kian kentara karena kurang tidur dan lebih banyak menangis akhir-akhir ini. Memang tidak ditunjukkan, tapi Razka sangat paham keadaan itu.


“Tidak masalah yang penting perut tetap kenyang,” jawab Dara sembari mengunyah kentang goreng. Wajahnya tetap tegar dengan senyum yang selalu menghiasi.


“Kapan Ayah bisa pulang sih, Mbak?” Ini sudah yang ke sekian kalinya Razka bertanya walaupun jawabannya tetap sama: “Paling beberapa hari lagi.”


“Tapi kalau pun dibawa pulang, Ayah sudah tidak bisa bergerak lagi seperti dulu ya, Mbak?”


Dara langsung menghentikan makannya dan menoleh, di situlah ia mendapati raut wajah Razka yang begitu pedih.


“Tidak apa-apa, Dek. Ayah masih ada saja kita harus bersyukur. Doakan ayah semoga berumur panjang, ya. Kita akan urus Ayah sama-sama sampai ayah bisa bergerak lagi. Bisa naik mobil lagi, mengirim barang.”


“Razka janji kalau sudah lulus SMA, Razka langsung kerja saja Mbak.”


Dara menggeleng, “Jangan sekarang, kamu harus kuliah dulu. Baru nanti kerja.”


“Kita semua sudah tidak bisa berharap banyak dari Ayah, Mbak. Bagaimana kita mendapatkan biayanya?”


Dara tetap membujuknya dengan sabar, “Nanti akan Mbak pikirkan, yang penting kamu fokus sekolah, ya.”

__ADS_1


Razka tetap menggeleng, “No, Mbak. Razka mau tetap mau kerja supaya bisa ban—”


“Stop,” Dara sontak memotong, “begini, Adek mau bantu Mbak ‘kan?”


Razka mengangguk.


“Nah, kalau kamu mau bantu, Mbak. Tolong buat keluarga bangga sama prestasimu.”


“Mbak ...” Razka menatap kakaknya penuh harap.


“Please jangan putus di tengah jalan, Dek. Ya?” Dara menatap mata Razka tanpa kedip, menanti jawaban.


Namun bukannya mengiyakan, Razka justru mengungkapkan rasa sayangnya. “Aku sayang sama Mbak,” ujarnya terdengar begitu tulus.


Dara mengangguk. Matanya menggenang. “Mbak juga sayang sama Razka. Tapi kamu janji, kamu harus kuliah.”


“Ya, Razka janji akan buat kalian bangga,” kata Razka akhirnya.


“Nah, itu baru benar.” Dara mengusek-usek kepala adiknya. “Setelah ini kamu pulang, ya. Bilang sama Ibu, datang besok pagi saja. Malam ini biar Mbak yang jaga.”


Razka mengangguk menyetujui.


Obrolan itu menjadi obrolan terakhir mereka karena Razka langsung pergi meninggalkan lokasi.


***


Entah sudah berapa lama Dara tertidur, dia terbangun pada saat tengah malam ketika merasa ada yang masuk ke dalam ruang rawat. Yakni seorang suster yang sedang melakukan tugasnya, mengecek kondisi pasien.


“Maaf mengganggu sebentar ya, Kak,” ujarnya tidak enak karena kedatangannya mengusik tidur Dara.


“Keadaan Bapak sudah semakin membaik. Tensinya sudah tidak terlalu tinggi lagi kok, Kak. Aman,” jawab Suster mengangkat jempolnya.


“Apa tahapan setelah ini, Sus? Supaya Ayah saya sedikit-sedikit bisa bergerak lagi seperti biasa? Minimal bisa bicara.”


“Biasanya kalau yang sudah-sudah, seperti yang Bapak Hilman alami sekarang ini, jalan satu-satunya adalah terapi. Nanti akan di arahkan sama dokter ya, Kak.”


“Lama ya, Sus?”


“Tergantung kondisi Bapak,” jawab suster kemudian. “Saya juga tidak terlalu paham. Besok dijelaskan sama dokternya.”


Dara mengangguk.


“Ini obat malamnya ada yang belum diminum, nanti dibantu ya, Kak.”


“Baik, Sus.” Dara langsung gegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh muka dan mencuci tangannya. Kemudian mendekati Ayahnya yang entah dari kapan sudah membuka mata.


“Ayah makan dulu sedikit, ya. Supaya bisa minum obat.”


Ayah mengangguk samar dan bergumam mengiyakan meski terdengar tidak terlalu jelas. Terlihat bola matanya juga berkilauan seperti sedang menahan tangis. Dara berusaha menguatkan diri agar tidak meledak di sana karena dapat membuat Ayah menjadi semakin sedih.


“Ayah cepat sembuh, supaya kita bisa pulang.”


Ayah kembali mengangguk samar.


Usai melakukan tugasnya, Dara keluar untuk menenangkan diri. Kepalanya juga terasa sedikit pusing karena dia bangun dengan cara agak tersentak. Dia bersandar di dinding koridor seraya memejamkan mata sejenak dan mengembuskan napasnya dalam-dalam agar merasa lebih lega.

__ADS_1


‘Kenapa masalah hidupku sangat horor? Lebih horor daripada melihat hantu.’


Klik.


Terdengar nada dering pesan masuk.


‘Alif? Tumben tengah malam kirim pesan.’


Alif : Tengok ke kiri.


Dara segera menoleh ke kiri dan langsung mendapati pria itu yang tengah berjalan mendekat.


“Alif ...,” ujarnya lirih. Dara semakin tersenyum lebar, apalagi saat Alif menyodorkan bantal bulu lucu berbentuk hati untuknya.


“Thank you, Lif. Kamu tahu aku butuh ini di sini. Tapi kenapa harus bertamu malam-malam begini sih, Lif? Kayak hantu.”


'Aku curiga jangan-jangan dia hantu betulan. Tapi ... dia napak di lantai, ding. Berarti bukan.'


“Kalau siang banyak orang. Aku sukanya yang sepi-sepi supaya bisa ... cup!” kecupan singkat langsung mendarat di pipi Dara tanpa dia berusaha menghindar, “ ... seperti ini,” imbuhnya.


“Seharusnya kamu kapok sudah dimarahi Abah kemarin.”


“Itu kemarin, bukan sekarang.”


“Kamu itu badboy, ya? Atau jangan-jangan, semua perempuan memang biasa kamu perlakukan sama, seperti ini?”


“Hanya denganmu,” jawab Alif singkat.


“Itu hanya kalimat penenang. Aku sudah sering mendengarnya dari buaya.”


“Aku buaya yang beda,” katanya lagi seraya tersenyum menyebalkan.


“Semua buaya di mana-mana sama, buduk! Gatal-gatal.”


“Dih, tidak percaya.” Alif berusaha menahan tawa. “Perkembangan surat pengajuanmu sudah sampai mana?” tanyanya kemudian.


“Kamu menanyakan itu sehari tiga kali, sudah seperti minum obat saja. Sabar, atuh, Akang! Namanya juga lagi proses. Sudah tahu jaman sekarang kalau mengurus apa-apa itu susah.”


“Sampai kapan aku harus sabarrrrrrrrrrr?” protes Alif sangat panjang.


“Coba kamu cari kesibukan, biar tidak terlalu terasa menunggunya.”


Salah sendiri menunggu istri orang. Kalau menikah sama janda nenek-nenek kan pasti lebih cepat, batinnya menambahkan.


Alif kembali berujar, “Lebih baik kita menikah siri dulu.”


“Hah?” Dara terkejut hingga tak sadar membuka bibirnya.


“Masih kurang jelas?” Alif mendekatkan wajahnya ke telinga Dara. “Kita menikah siri du—lu!”


***


Bersambung.


Akang, sabar atuh Akang!

__ADS_1


 


__ADS_2