
“Kenapa hujannya malah tambah deras?” gumam Dara yang saat ini sedang menepi di salah satu kedai yang tutup dipinggir jalan. “Baterainya juga sudah mau habis.” Dia menyayangkan ponselnya yang tidak terlalu membantunya dalam kesusahan begini.
Tempat ini gelap. Serta merta tidak ada kursi yang bisa Dara duduki karena semua kursi sudah dibalik dan diikat dengan rantai di atas meja panjang. Mungkin karena si pemilik kedai ini tak ingin tempatnya dijadikan tongkrongan anak-anak muda ketika malam.
Matanya menoleh ke sana kemari sangat kebingungan. Sedangkan satu tangannya berulang kali mengusap air matanya yang terus saja berjatuhan karena begitu nelangsa. Seumur hidupnya, tak pernah sekali pun dia digampar oleh seseorang. Sekasar-kasarnya seorang ayah, beliau sangat menyayanginya, kendatipun kepala beliau bisa dibilang agak bergeser karena sering salah tangkap dan terlalu cepat mengambil kesimpulan.
Kedinginan, Dara membuka kopernya untuk mengambil hoodie. Secara fisik, dia memang kuat. Tapi tidak dengan air hujan. Dara berharap tubuhnya bisa di ajak kompromi sampai hujan mereda nanti.
“Aku ingin minta tolong. Tapi takut merepotkan orang malam-malam seperti ini,” gumamnya dengan bibir bergetar dan gigi menggeletuk.
Mengandalkan baterai yang tersisa, Dara mencoba memesan taksi atau ojek online. Tapi sayang, semua orderannya ditolak. Mungkin karena hujan lebat.
Dara masih menunggu di sana, hingga tak lama dia melihat ponsel berdering. Chandra berulang kali menghubunginya.
“Aku kecewa sama kamu, Mas. Sampai hati kamu menamparku. Hanya karena aku bertanya sesuatu yang belum tentu benar. Padahal bukan hal yang sulit untuk mengatakan iya atau tidak. Separah itu kelakuanmu sekarang hanya karena aku—ya, aku kotor," Dara menahan diri untuk tidak meledak di tempat itu.
"Kamu tidak tahu di luar sana bahkan banyak seorang alim ulama yang rela menikahi janda atau yang paling rendah, bekas wanita malam. Hanya karena mereka ingin menyelamatkan hidupnya, meninggikan derajatnya dari dunia yang selalu menganggapnya kecil. Sementara kamu—kamu bukan siapa-siapa yang bahkan tidak ada apa-apanya dengan keimanan mereka, tapi kelakuanmu, sungguh sangat picik.”
Tak berapa lama, Dara melihat mobil Chandra melintas. Dia menduga Chandra tengah mencarinya saat ini. Namun Dara segera menyembunyikan dirinya di balik spanduk kedai agar tak terlihat. “Aku berjanji tidak akan lagi menginjak rumahmu yang suci.”
Merasa situasi sedang terancam, Dara kembali melanjutkan perjalanan yang kiranya aman dari pencarian Chandra. Dia menuju ke warung pinggir jalan yang menyediakan minuman hangat.
“Malam-malam begini, sendirian, bawa koper pula Neng. Tidak takut ada begal apa?” tanya si penjual ketika Dara duduk di depan gerobaknya.
“Aku tidak punya apa-apa, Pak. Apa pula yang mau dibegal dariku. Kalau diculik pun bisanya hanya menghabiskan makanan. Percuma.”
“Tapi Neng kan cantik. Jaman sekarang rawan pelecehan seksual, Neng. Harus hati-hati.”
“Saya bisa jaga diri, Bang.”
Mamang penjual mengangguk. Kemudian menyerahkan minuman yang Dara pesan. Teh manis yang bisa sedikit membuat tubuhnya lebih hangat. Sekarang, tinggal memikirkan bagaimana caranya untuk mencari tempat singgah. Paling tidak—untuk malam ini. Tak mempunyai pilihan, Dara mencoba mengirim pesan kepada Alif.
__ADS_1
Dara : Lif ... apa aku bisa minta tolong?
Tanpa di duga, lima menit kemudian pesan bercentang biru. Itu artinya Alif belum tidur sekarang ini.
Alif : Apa?
“Ya ampun, apa kamu tidak bisa memanjangkan kalimatmu lagi?” gerutu Dara.
Alif : Aku mau tidur, besok saja.
Alif kembali mengirim pesan yang membuatnya kecewa.
Dara: Ya sudah, kalau begitu. Maaf mengganggu.
Pesan berakhir. Dara kembali meneteskan air mata. Kenapa semua orang seakan menolak keadaan dirinya?
‘Ya Tuhan, aku ingin menyumpahi dia yang memperkosaku. Semoga dia susah dapat jodoh!’
***
Penyesalan memang selalu berada di akhir. Baru sampai di atas dia merasakan kasihan yang luar biasa, apalagi tatkala melihat tubuh Dara yang lunglai di lantai sembari merintih kesakitan.
Chandra menatap telapak tangannya yang terasa memanas usai menampar istrinya. Dia tak terkendali yang mungkin disebabkan oleh kelelahan sehabis pulang bekerja, kemudian harus berpura-pura baik-baik saja di depan keluarga Dara mertua, belum lagi harus menghadapi pertanyaan istrinya yang seakan tengah menudingnya tersebut.
“Maafkan aku, Ra. Maafkan aku.”
Tak ingin terjadi sesuatu yang tak diinginkan, Chandra kembali berlari ke bawah untuk melihat bagaimana keadaan Dara saat ini. Namun celaka, saat ia sudah sampai di bawah; di tempat yang tadi, Dara sudah tidak ada di sana. Parahnya lagi, dia hilang bersama kopernya. Bisa dipastikan bahwa Dara mamang pergi dari rumah.
“Ya, Tuhan Dara ... kenapa kamu malah pergi?” Ini sangat gawat pikirnya. Jangan sampai Dara pulang ke rumahnya sendiri karena bisa fatal akibatnya. Bisa saja wanita itu mengadu macam-macam di sana. Apalagi tentang kejadian kekerasan yang dia lakukan barusan. Ini sangat memalukan!
Gegas mengambil kunci mobil, Chandra menyusuri jalanan, berharap Dara belum pergi terlalu jauh dan masih bisa membawanya pulang untuk meminta maaf dan membicarakan masalah ini baik-baik. Terlebih, besok mereka akan berangkat. Tiket sudah dipesan dan segala sesuatunya sudah ia persiapkan secara matang.
__ADS_1
“Ayo angkat teleponku, Ra,” gerutu Chandra karena sudah berulang kali dia menghubunginya. Sampai ke sebelasan kali, dan akhirnya tidak aktif lagi.
***
“Di mana kamu menemukannya?” tanya Alif ketika Jack pulang membawa oleh-oleh. Seorang wanita yang pingsan di samping kemudi.
“Di jalan!” setengah kesal Jack menjawab pertanyaan Alif. Sebab dia batal keluyuran karena wanita ini.
Alif kembali bertanya karena penjelasan Jack masih belum terlalu jelas. “Kenapa bisa?”
“Ya, tadi dia pingsan dikerubungi sama banyak orang. Tepatnya di warung dekat jembatan. Aku yang penasaran lantas turun. Eh ternyata si cerewet banyak tingkah ini,” terang Jack menjelaskan. Dia juga bertambah kesal karena jok mobilnya basah kuyup oleh karena perempuan ini. “Sudah, cepat kamu bawa masuk ke dalam!”
Alif membawanya masuk ke dalam, namun dia berpikir. Jika dia di rebahkan ke atas ranjang, pasti tempat tidurnya akan basah. Satu-satunya jalan, Alif harus membuka pakaiannya.
Tak ingin kembali khilaf, Alif mematikan lampu dan memilih untuk mengganti pakaiannya dalam keadaan gelap. Sebelum itu, dia sudah mengambil salah satu kemejanya dan celana bawahan miliknya sebagai ganti. Alif tak mengetahui bahwa Dara membawa koper. Dia tahu setelah Jack mengatakannya, namun itu pun saat hari mulai siang.
Kembali dia menyalakan lampu. Takut demamnya semakin parah, Alif membawakan minum dan meminta Dara untuk menenggak kaplet parasetamol. Kemudian menggulung tubuhnya dengan selimut tebal.
Untuk sesaat dia menyesal karena telah mengabaikan pesan Dara beberapa puluh menit yang lalu, seakan permintaan tolongnya tidak terlalu penting. Andaikan Dara menyampaikan saja langsung tadi, pasti akibatnya tak sampai seperti ini. Dia juga tidak dapat membayangkan apabila bukan Jack yang menemukannya.
“Sakit ...,” desis Dara mengigau.
“Apa yang sakit, Ra?” Alif mendekatkan wajahnya untuk dapat mendengar lebih jelas. Di saat itulah dia menyadari ada lebam di pipi kirinya serta mendapati darah yang keluar dari sudut bibirnya.
“Shiitt ...,” Alif mengumpat.
***
To be continued.
__ADS_1