Ternoda Di Malam Pengantin

Ternoda Di Malam Pengantin
Kita Mulai Lagi Dari Awal


__ADS_3

Terlalu bingung menyikapi perlakuan ini membuat Dara memilih untuk tidak membahas apa pun, seolah sebuah kecupan itu tidak pernah terjadi. Begitu juga dengan Alif yang juga melakukan hal sama. Oleh karenanya, mereka tampak lebih canggung daripada semula yang banyak bicara.


“Mau ke mana lagi setelah ini?” tanya Alif ketika mereka sudah berjalan agak jauh dari bioskop. Dia mencoba mencairkan kekakuan ini, lagi pula mereka memang belum membahas tujuan selanjutnya. “Mau pulang?”


“Sebenarnya aku malas pulang ke rumah,” jawab Dara. Wajahnya mendadak berubah saat mengingat kata ‘pulang’. Karena pulang sama saja kembali ke neraka yang diciptakan oleh suaminya.


Alif kembali melayangkan pertanyaan. “Lalu kamu mau ke mana?”


“Aku mau duduk di sini dulu, Lif. Aku capek ...,” Dara menjawab. Kemudian duduk di kursi tunggu yang juga disusul oleh Alif di sebelahnya. Capek yang Dara ucapkan bukanlah arti capek yang sebenarnya. Bukan capek karena kakinya yang berjalan panjang menjauhi bioskop. Tetapi capek menghadapi segudang masalahnya yang disebabkan oleh kesalahan yang tidak Dara ketahui dan Dara lakukan.


“Kenapa ada orang setega itu memperk*sa aku ya, Lif?” tanya Dara setelah beberapa saat kemudian. “Sekarang pernikahanku hancur. Dicerai tidak, tapi dibilang istri juga bukan. Statusku ini cukup membingungkan. Tapi di sisi lain, aku juga memikirkan orang tuaku, bagaimana perasaan mereka kalau tahu apa yang menimpaku saat ini? Belum tentu juga mereka percaya kalau aku berterus terang. Bisa jadi mereka lebih mempercayai Chandra karena dia menantu kesayangannya.”


‘Orang yang kamu maksud ada di sampingmu sekarang.’


Terdengar helaan napas dari Dara. “Aku harus gimana?” Kemudian dengan mata menggenang dia menatap lelaki di sebelahnya. “Coba kamu lihat aku.”


Alif mengerutkan dahi. “Apa yang harus dilihat?”


“Ya ini—semuanya.” Dara menggerakkan tangannya dari atas ke bawah. Meminta Alif untuk menilai dirinya. “Menurutmu sebagai laki-laki, perempuan seperti aku ini, menarik atau tidak?”


“Hmmm ...” Alif tampak berpikir sejenak. “Jujur atau bohong?”


Dara berdecak sebal. “Ck. Malah main-main. Ayo jawab!”


“Kamu itu memang tidak menarik.”


“Oh, ya Tuhan, sakitnya tuh di tenggorokan,” kata Dara amat kecewa dengan jawaban sangat jujur tersebut.


“Aku berbicara apa adanya. Kamu memang tidak menarik. Dadamu rata, bagian belakangmu apalagi, penampilanmu juga biasa-biasa saja.”


Dara semakin menggerutu mendengar penilaian menyakitkan tersebut.


“Kenapa?” tanya Alif melihat wajah Dara yang amat sinis.


“Jahat sekali.”


“Aku berbicara jujur.” Jeda sejenak, Alif kembali melanjutkan, “Aku pikir untuk ukuran laki-laki seperti Chandra, mungkin dia butuh istri yang lebih ...” Alif mendekatkan wajahnya ke telinga Dara, “seksi.”


“Kamu sama Vita itu sama saja!” cebik Dara sangat kesal.


Alif tergelak. Tak menyangka ternyata pendapat mereka sama. “Berarti kamu memang harus mengubah penampilanmu yang membosankan itu supaya Chandra lebih ber ....”


Dara sontak menyela, “Aissttt ... aku sudah tahu lanjutannya. Jangan diteruskan karena pasti ucapanmu akan sama seperti Vita. Aku sudah tahu sekarang harus apa.” Dara beranjak berdiri dari tempat duduknya. “Aku mau mampir ke sebuah tempat, kamu mau ikut?”

__ADS_1


“Kalau aku tidak mengikutimu. Lantas dengan siapa kamu pulang?”


“Aku bisa pulang sendiri.”


“Jalan!” titah Alif kemudian. Dia mengamati ke mana Dara pergi yang ternyata memasuki toko pakaian dalam perempuan.


“Mau ikut masuk ke dalam?” Dara menawarkan sambil tersenyum. Tentu saja Alif tidak akan mungkin ikut, pikirnya. Ini area perempuan. Sudah pasti dia akan sangat malu.


Alif menggeleng.


“Ya sudah, aku tinggal, ya?”


Usai Dara pergi, Alif tersenyum getir. Hatinya seperti dipelintir. Membayangkan betapa Dara mengejar laki-laki itu tanpa melihat dia yang begitu tulus mencintainya. Tetapi bila dipikir-pikir, memang tidak ada yang lebih berhak daripada pasangan yang sudah terikat.


Dia menyadari bahwa apa yang dilakukannya ini adalah sebuah kesalahan. Namun Alif berusaha untuk tidak melebihi batas lagi selain membuat Dara bisa sedikit menyimpan perasaan kepadanya. Karena untuk mengungkapkan kejujuran itu sangat sulit. Terlebih—ini bukan perkara yang main-main. Ini adalah sebuah kesalahan paling besar yang sudah pernah dilakukannya. Alif pikir, dengan Dara mencintainya, itu akan membuatnya sedikit terampuni.


Tiga puluh menit berlalu. Setelah lama menunggu, akhirnya Dara keluar dengan membawa hasil belanjaannya. “Sudah, Lif.”


Alif mengangguk, “Kamu tunggu di lobby, aku ke basemen.”


“Apa tidak sebaiknya aku ikut denganmu.”


“Mobilku jauh. Kamu tunggu saja di sana. Aku jemput.”


‘Kenapa kamu baik sekali? Apa kamu menyukaiku? Apa arti ciuman itu tadi? Kenapa tidak ada kata-kata apa pun dari bibirmu? Apa semua perempuan kamu perlakukan begitu?’


Berbagai pertanyaan berputar di kepalanya. Namun ia tak kunjung mendapat jawaban, maksud dari si Alif ini dan semua jenis perlakuan ganjilnya.


‘Kenapa juga aku tidak menolaknya tadi? Sudah tahu Alif playboy, tapi dibiarkan. Jangan sampai aku terbawa perasaan. Dasar playboy cap kampak.’


Namun walaupun begitu, Dara tidak berniat menjauhinya. Alif adalah sahabat terbaik kedua setelah Vita.


***


Kali ini, Dara pulang lebih cepat daripada kemarin. Terlebih dahulu Dara berbenah rumah sebelum akhirnya ia membersihkan diri dan berpenampilan seperti anjuran Vita kemarin.


“Aku mau jadi perempuan yang sebenarnya. Mungkin dengan begini, Mas Chandra mau melihatku,” gumamnya sembari menyisir rambut di depan cermin. Kini Dara sudah memakai dress koral selutut berwarna putih tulang yang sangat menyatu dengan kulitnya. Dia juga memakai make up tipis-tipis agar wajahnya terlihat lebih segar.


Detik demi detik Dara tunggu di ruang tamu. Mulai dari duduk santai, menonton televisi, makan, hingga rebahan. Namun Chandra tak juga sampai dan membuatnya menjadi jenuh dan kesal.


Kembali melihat jam dinding, Dara bergumam, “Biasanya juga sudah pulang. Ini sudah lewat dua jam.”


Dara sempat terpejam selama beberapa saat sampai akhirnya dia mendengar deru mobil sampai di depan rumah. Cepat-cepat ia membenahi rambutnya sebelum membuka pintu.

__ADS_1


“Tumben pulangnya telat, Mas?”


“Iya, aku tadi ke rumah Mama dulu,” jawab Chandra melepas sepatunya dan menyimpannya lagi ke dalam rak sepatu yang tersedia.


“Lagi sehat semua ‘kan Mama, Papa, sama adik?”


“Sehat,” jawab Chandra singkat. Dia terlebih dulu menuju ke wastafel untuk mencuci tangan. Chandra menyadari ada yang berbeda dengan Dara, oleh karenanya dia segera bertanya, “Apa ada tamu?”


Dara menggeleng, “Tidak ada. Memangnya kenapa?”


“Kamu beda hari ini,” ujarnya.


“Aku ingin selalu seperti ini di depanmu,” jawab Dara. Kemudian menghamburkan diri ke dekapan suaminya.


Sembari menahan isak dia kembali berkata, “Aku mohon, Mas. Jangan jauhi aku terus-terusan. Aku tersiksa ... mau sampai kapan hubungan kita seperti ini? Kasih aku kejelasan. Kasih aku titik terang supaya aku bisa cepat mengambil langkah selanjutnya. Coba kamu pikirkan perasaanku juga.”


“Dara ...,” ucap Chandra merenggangkan pelukannya.


“Sudah berapa lama kita begini?” Dara mengulang kemudian menunjuk dada suaminya. “Apa sudah tidak ada aku lagi di sini?”


Tanpa di duga, Chandra langsung mengecup bibirnya. Cukup lama, dalam dan penuh perasaan.


“Baiklah, kita mulai lagi dari awal,” kata Chandra setelah beberapa saat kemudian. “Tapi tidak bisa secara signifikan. Kita mulai pelan-pelan, ya.”


“Maksudmu?” tanya Dara agar Chandra memperjelas.


“Kita jalani saja seperti biasa. Dan untuk ‘itu’ akan ada waktunya nanti. Kita akan berangkat ke Singapura.”


Dara menangis terharu. “Benarkah?”


“Ya benar,” jawab Chandra disertai anggukan. “Kamu cantik sekali malam ini,” ujarnya begitu manis dan kembali menyentuh bibirnya seperti tadi. “I love you, Dara.”


“I love you to.”


'Thank you, Vita, Alif. Saranmu berhasil.'


***


To be continued.


Silakan muntah berjamaah eheee ....


Tebak, Kira-kira berhasil nyampe ke negeri jiran nggak ya?

__ADS_1


__ADS_2