Ternoda Di Malam Pengantin

Ternoda Di Malam Pengantin
Kamu Harus Membayarnya!


__ADS_3

Satu jam kemudian, Dara tiba-tiba terbangun karena merasakan lapar. Dia baru ingat, bahwa mereka memang belum sarapan pagi ini. Karena begitu keluar dari minicamp, mereka langsung menuju ke sini dan parahnya, langsung melaksanakan yang katanya olahraga.


“Alif ... Alif ... kalau ada maunya suka spontan. Tidak bisa menunggu nanti, apalagi besok. Tapi kasihan juga, sih. Gara-gara Mas Yudha salah merekomendasikan tempat, jadi puasa lama,” gumam Dara mencium pipi suaminya yang lembut. Heran kenapa ada kulit laki-laki semulus ini. “Memangnya buaya pakai skincare juga, ya?”


“Iyalah,” jawab Alif membuat Dara terkekeh.


“Pakai merek apa?”


“Hot and cream.”


“Oh, pantas mukamu glowing.” Wanita itu semakin terguncang mendengar jawaban Alif yang memang sedang melindur.


“Lif ... ada yang lapar, nih. Anakmu.” Dara mencoba membangunkan suaminya yang masih saja terpejam walau dia terus berisik di telinganya.


“Hmmm.” Alif hanya bergumam. “Besok saja makannya. Tunda dulu.”


“Mana bisa?” kata Dara segera. “Tolonglah, Lif. Aku butuh makan. Perutku bunyi-bunyi terus, nggak bisa diam. Nanti anakmu bisa kelaparan ini, kasihan ... Lif.”


“Hmmm.”


“Alif, kenapa kamu Cuma hmmm-hmmm dari tadi? Apa kamu sariawan?”


“Nanti, Sayang. Masih ngantuk.” Alif melingkarkan tangannya di atas tubuh Dara yang masih sama-sama polos seperti dirinya. Suami istri memang paling nyaman bersentuhan kulit seperti ini walau pun mereka sedang tak melakukan apa-apa.


Kruuk ... krukkk ....


Sontak kemudian Alif terkekeh mendengar suara itu.


“Baiklah, kalau kamu ingin membuatku lapar lebih lama lagi,” ucap Dara terdengar sedih. Dia benar-benar sangat lapar, tapi sayangnya dia malas bergerak untuk mandi terlebih dahulu. Sebab tubuhnya masih terasa lemas.


“Ya sudah-ya sudah, aku mau mandi wajib dulu, setelah itu aku cari makanan,” kata Alif akhirnya beranjak berdiri ke setelah memungut celananya yang tercecer. Lelaki itu berjalan sempoyongan ke kamar mandi dan hampir jatuh tersandung keset.


Usai mandi, pria itu keluar dan mengganti pakaiannya dengan yang baru saja dia ambil dari koper. Baju polo army yang di padu padankan dengan celana pendek santai, membuat pesonanya semakin keluar. Dara tersenyum pada saat Alif sedang menyisir rambutnya di depan cermin. ‘Kok kamu makin wah, sih? Sini-sini, tiom peyuk duyu.’ namun ia hanya menyuarakannya dalam hati. Terlalu gengsi untuk mencetuskan dari mulutnya.


“Mau titip apa?”


“Hah?” Dara agak tersentak ketika Alif bertanya karena dia sedang melamun barusan.


“Mau titip makanan apa, kok hah?”


“Aku mau makan bubur kacang hijau.”

__ADS_1


“Di mana mencarinya, Ra? Di sini mana ada bubur itu. Kalau bubur ayam sudah pasti ada di bawah.”


“Tapi aku mau itu ... tolong carikan keluar, ya?”


‘Iki ngidam opo kesempatan?’


Tidak ada pilihan lagi kalau untuk masalah ngidam yang satu itu lantaran tak ingin anaknya ileran, pikir Alif gerangan. “Ya sudah. Aku usahakan. Tapi kalau lama jangan protes juga kamu.”


Dara mengangguk, namun dia memberontak pada saat bibir Alif mendarat di bibirnya dan menciumnya dengan sangat rakus. “Jangan berlebihan, kamu gila!”


“Enak, kenyal. Seperti permen yupy.” Alif memasukkan dompetnya ke dalam saku.


“Sekalian kamu bawa ponselnya,” ucap Dara karena dia pikir, lebih mudah menghubunginya jika dia menginginkan sesuatu secara tiba-tiba. Seperti biasanya.


“Tidak perlu, hanya mencari bubur saja untuk apa membawa ponsel segala,” jawab Alif tanpa pikir panjang. “Aku pergi dulu, ya. Jangan bukakan pintu kalau ada tamu selain aku.”


“Iya ....”


Usai Alif pergi, Dara beranjak ke kamar mandi. Berendam sebentar untuk membantu memulihkan tenaganya.


“Sepertinya aku harus segera pulang, karena kalau tidak ... aku bisa kepayahan di sini. Dia kan suka sekali menyiksaku,” gumamnya setelah mencukupkan diri.


Dan beberapa saat kemudian, terdengar bel berbunyi, membuatnya segera menuju ke arah pintu.


“Wah, cepat juga dia.” Dara sontak membukanya tanpa terlebih dahulu mengintip dari lubang intip pintu Hotel.


“Dara ....”


“Hah, Cha-Chandra?” Dara tergagap dan sontak membeliak manakala melihat lelaki itu di depan matanya. Ternyata orang itu adalah Chandra, bukan Alif seperti yang ia duga.


“Ngapain kamu ke sini?” Dara berusaha kuat menutup pintunya lagi. Namun sayang, tenaganya tidak kuat untuk menahan dorongan dari luar. “Lepas! Lepas!”


“Izinkan aku berbicara denganmu, Ra.”


“Bicara di luar bisa ‘kan?”


“Tidak, lebih baik memang berbicara di dalam.”


“Keluar aku bilang!” teriak Dara terhempas ke belakang karena besarnya dorongan dari luar. Beruntung dia masih bisa menguasai diri dengan baik sehingga tidak sampai terjatuh yang bisa mencelakai bayinya. “Mau apa kamu ke sini?”


Namun Chandra menerobos masuk ke dalam tanpa ia bisa menghindarinya. Lelaki itu lantas berdiri memalang di pintu tersebut.

__ADS_1


Dara panik. Dia segera mencari-cari ponselnya untuk mencari bantuan. Dan celakanya, Alif tak membawa satu pun ponselnya.


“Lepaskan ponsel itu,” titah Chandra. Pria itu mendekat untuk merebut ponsel yang ada di tangan mantan istrinya. Kemudian membantingnya keras di lantai.


“Brengsek! Sampah! Jangan macam-macam kamu!” Dara mundur. Dia berlari mendekati balkon, namun gerakan cepat Chandra tidak bisa ia dahului. Pria itu tersenyum menyeringai. Senyuman menjijikkan yang pernah ia lihat.


Chandra berdecak dan menggeleng pada saat pria itu melihat penampilan Dara dari atas sampai ke bawah. Dia begitu terpesona dengan penampakan yang ada di depannya, benar-benar sangat seksi dan menggoda.


“Aku baru sadar, ternyata kamu seseksi ini. Kenapa pada saat kamu menjadi istriku kamu tak pernah menunjukkannya?”


“Tutup mulutmu bajingan!” Dara menyelak. Mundur dengan perasaan yang sangat takut. Hingga tubuhnya gemetar dan berkeringat dingin. “Alif ... kamu di mana ....”


"Alif?" Chandra tertawa, "aku bisa pastikan kamu sudah aku gagahi sebelum dia kembali."


"Menjijikkan!"


“Kalau tahu kamu bisa berpenampilan menggoda seperti ini ... aku tidak akan berselingkuh.” Chandra semakin mendekatinya. Tak peduli walah perempuan itu meludahinya berkali-kali.


“TOLONG! TOLOOOONG!” Dara berteriak sekeras yang ia bisa.


“Berteriaklah sekerasmu, Dara. Tapi apakah kamu lupa?” Chandra terkekeh, “ruangan ini kedap suara. Jadi tidak ada yang bisa mendengar teriakanmu.”


“BERHENTI DI SITU!” kini Dara sudah merapat ke dinding. Dia bahkan sudah melempar barang-barang yang ada di dekatnya.


“Jangan harap, Ra. Kali ini kamu harus menebus kesalahanmu. Jangan kamu pikir aku tidak tahu. Kamu itu bukan di perkosa, tapi memang berselingkuh. Dan bodohnya aku sempat percaya.”


Dara memejamkan mata dan memalingkan muka pada saat Chandra mengunci tubuh dan mencondongkan wajahnya. “Bayar dengan tubuhmu, hal yang tidak pernah kamu berikan dulu denganku. Dengan begitu, maka kamu akan bebas kali ini.”


“Cuih!” Dara kembali meludah. “Kamu sendiri yang sok suci, tapi kenapa malah menyalahkan orang lain, brengsek! Jangan harap aku mau bercinta denganmu, gi golo!?”


“Sejak kapan mulutmu jadi kotor begini, Ra?” ucap Chandra.


“Lebih baik mulutku yang kotor, daripada kelakuanmu yang bejat!”


“Hei, dengar!” Chandra mencengkeram dagunya dengan keras. “Kamulah yang menyebabkannya! Jadi inilah pembalasanku!”


“AAAAAAHHHHHHHHH!” Dara berteriak sekuat mungkin pada saat Chandra membuka paksa pakaiannya. Kakinya berusaha menendang sekuat tenaga ke bagian vital Chandra. Meskipun ia tahu ini tak berpengaruh apa-apa baginya.


***


TO BE CONTINUED.

__ADS_1


__ADS_2