
Banyak sekali yang mereka selama dua hari berada di penginapan. Jika siang, mereka akan pergi ke wisata-wisata terdekat dari penginapan. Jika malam, mereka berkumpul untuk membikin api unggun, atau membuat makanan; misalkan membakar jagung, membakar ikan, atau sate.
Anggaplah tempat ini milik mereka sendiri, sebab mereka memang memesan lima dari sekitar 20 kamar yang ada tersedia.
Bisa dibilang keluarga merekalah yang paling ramai setiap malam. Apalagi dengan adanya anak-anak dan dengan segala keriweuhannya.
Tiba di hari ke tiga, akhirnya Alif dan Dara menyerah. Dia meminta izin kepada keluarga untuk menginap ke tempat yang lebih bagus untuk melanjutkan bulan madu mereka, menghabiskan waktu libur yang tinggal tersisa tiga hari lagi karena Alif tak mungkin kembali mengajukan cuti. Akan ada banyak kesibukan yang tidak bisa ia lakukan selama sebulan ke depan. Sebab libur panjang sebentar lagi akan tiba. Dan sampai hari ini, sudah banyak sekali calon traveler yang mem-booking sebelum hari keberangkatan liburan; dalam mau pun luar negeri.
“Ya sudah kalau itu mau kalian,” kata Umi Ros begitu putra keduanya selesai bicara. Terang saja beliau sangat memahami keadaan ini. “Lagian Abangmu malah pesan tempat di sini. Sudah tahu tujuanmu berbeda. Harusnya pesan tempat yang sama-sama enak. Biar fair.”
Yudha hanya tersenyum tanpa merasa bersalah. Dia malah justru merasa senang karena sudah berhasil menjahili adiknya.
“Dasar kambing!” umpat Alif melihat wajah Yudha yang setengah mengejek.
“Kalau dia buaya buduk ya, Dar?” balas Yudha.
“Iya, buaya buduk. Bajak modusnya,” Dara menanggapi.
Yudha mengusirnya segera, rupanya lelaki itu tak tersinggung sama sekali. “Sudah sana siap-siap, katanya mau pergi.”
“Kalian masih betah di sini?” tanya Alif lagi.
Vita menyahuti, “Di usahakan betah. Soalnya Mas Yudha sudah booking seminggu.”
“Nikmatilah keinginan suamimu, Vit,” kali ini Alif tertawa. “Katanya mau mengajakmu ke lubang semut. Kabari aku kalau kamu butuh bantuan.”
Vita terkekeh, “Ya ampun, Alif ... lebih baik aku ke Lubang Buaya Jaktim daripada lubang semut.”
“Tapi nanti pulangnya tetap sama-sama ‘kan?” tanya Yudha.
“Tidak bisa janji. Nanti aku kabari lagi,” jawab Alif.
“Jangan melebihi hari libur yang sudah ditentukan. Kita banyak kerjaan, Lif.” Yudha mengingatkan.
“Tahu!”
Setelah kembali berpamitan, keduanya naik mobil taksi menuju ke Hotel tak jauh dari tempat sebelumnya. Mereka menuju ke bagian resepsionis untuk memesan kamar yang paling mewah.
__ADS_1
“Tidak perlu berlebihan begitu, Lif. Yang sederhana saja,” kata Dara setengah tak setuju.
“No why-why. Ini khusus untukmu. Kapan lagi bisa mengajakmu ke sini.”
‘Ini juga termasuk balas dendam kemarin karena Yudha memberikanku kamar minicamp seharga lima ratus ribu. Tanpa kamar mandi dalam, tanpa wastafel, tanpa pintu,’ batinnya.
Dara dan Alif sempat menunggu selama beberapa lama sambil menikmati welcome drink (minuman selamat datang). Sebelum akhirnya keduanya dipersilakan naik ke atas di temani seorang bellboys yang membantunya membawakan koper mereka di trolley khusus.
“Sini tasnya aku yang bawa,” kata Alif merebut hand bag istrinya, namun Dara menolak.
“Apaan sih ... malu tahu. Masa laki-laki bawa tas perempuan. Biar aku saja.”
“Cuma kamu saja, cewek yang menolak di sayang.”
“Bukan begitu, Lif, kesannya jadi kurang baik.”
“Bukannya malah justru senang?” tanya Alif lagi. “Perempuan lain senang kalau suami mereka perhatian dengan membawakan tasnya.”
“Sudahlah, toh tas ini enteng.”
“Baby Cil baik, hari ini mualnya juga sudah lebih berkurang.”
“Syukurlah. Anak ayah kan cantik, bodynya bagus.”
"Ih gelay tahu!" Dara mendorong tubuh Alif yang pandai sekali meledek dirinya.
Kini mereka sudah sampai di lantai lima. Ketiganya keluar dari lift dan melewati koridor menuju ke kamar yang mereka pesan.
“Shift pagi, Pak?” tanya Alif basa-basi kepada lelaki tua yang berjalan di depannya. Mengarahkan ke kamar yang mereka tuju.
“Iya, shift pagi,” jawab beliau dengan ramah.
“Berapa jam biasanya?”
“Hanya delapan jam, kalau tidak lembur.”
Alif menganggukkan kepala.
__ADS_1
“Terima kasih, Pak. Sudah dibantu membawakan koper,” ucap Dara beberapa saat kemudian, begitu ketiganya sampai di depan pintu.
“Sama-sama, Bu. Ini memang sudah menjadi tugas saya.” Pria itu meninggalkannya sebelum akhirnya Dara menutup pintu. Hal pertama yang ia lakukan adalah merebahkan diri ke atas ranjang untuk meluruskan pinggang dan kaki karena pegal selama di perjalanan.
“Aku baru bisa merasakan nyaman, Lif,” ujarnya dengan menutup mata. Sebab selama tiga hari berada di tempat sebelumnya dia tidak bisa beristirahat dengan nyaman. Ada saja suara berisik yang mengganggunya. Dia juga tak mungkin tidak mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh keluarga suaminya, misalkan berkeliling di tempat wisata atau keluar menemani anak-anak Vita bermain. Ya—tentu saja dia merasa tidak enak jika hanya tidur-tiduran di kamar. Kesannya seperti tidak umum dengan yang lain. Meskipun mereka tahu dirinya gampang lelah dan butuh lebih banyak berbaring untuk sekarang ini.
“Untung aku cepat membawamu ke sini,” kata Alif. Pria itu langsung mengungkungnya dan mulai menggerayangi tubuh Dara yang padat dan berisi. Ke mana lagi kalau bukan ke area dada, perut, dan bawahnya.
“Apa kamu butuh refleksi? Nanti siang kamu bisa melakukannya di sini, karena memang disediakan.”
“Bo--leh ...,” jawab Dara terbata-bata. Karena tubuhnya sedang melayang merasakan nikmatnya sensasi di pi lin dengan gerakan liar.
“Kita itu baru sampai, Lif ... biarkan aku tidur dulu sebentar, masih capek,” ucapnya berusaha menjauhkan kepala Alif dari lehernya.
“Kamu tinggal terima beres.”
Dara memasrahkan diri. Membiarkan pria itu melucuti pakaiannya hingga tak menyisakan sehelai benang pun.
***
Kegiatan itu selesai tiga puluh menit kemudian. Alif mempersingkat waktunya lantaran mengerti seberapa payah istrinya sekarang ini.
“Lega ...,” ujar Alif sembari merebahkan dirinya juga ke ranjang. Otot-ototnya perlahan mengendur. Apa yang menjadi begitu sesak, sudah meledak dan tersalurkan.
“Aku sudah boleh istirahat, ya.”
“Tidurlah.” Alif menarik kepala Dara untuk direbahkan ke bahunya. Ia sangat paham, wanita itu senang tidur di sana.
Sementara di bawah, ada seorang lelaki yang baru saja melakukan rapat dalam acara family gatering. Dia berada di sini dengan para karyawan CV PB terpilih lainnya. Tadinya dia akan pulang hari ini, namun matanya yang tak sengaja menangkap sosok Dara, hingga membuatnya mengurungkan niat.
"Jadi kalian di sini juga. Baiklah aku akan menginap satu hari lagi," gumamnya. Entah apa yang akan dia lakukan ketika nanti bertemu.
"Aku merindukanmu, Ra. Apakah kamu juga? Apa masih ada sisa cinta untukku? Kenapa tidak semudah itu untuk melupakanmu?"
***
Bersambung.
__ADS_1