
Warning. Mature content. Harap dibaca malam saja.
“Haduh, pusing sekali aku dengan drama hari ini, Lif,” kata Dara begitu mereka sampai di rumah sewa Alif yang pernah dia tinggali selama sebulan. Keduanya tidur miring saling berimpitan di satu sofa yang jelas-jelas tak bisa mencukupi tubuh mereka berdua.
“Jangan dipikirkan,” Alif menanggapi. Satu tangannya kini melingkupi tubuh Dara menahan tubuh wanita itu agar tak terlepas darinya. Sedangkan matanya terpejam, hidungnya berulang kali ia gesek-gesekkan di kepala Dara yang lembut dan wangi menenangkan.
“Aku pikir Chandra memang tidak punya otak, Lif.”
“Syukurlah, berarti dia tidak akan terkena kanker atau gegar otak,” ujar Alif yang lagi-lagi hanya sekadar menanggapi. Dia tidak terlalu benar-benar memperhatikan karena dirinya sedang sibuk sendiri dengan khayalan liarnya.
“Eheee ... benar juga, ya?” Dara tertawa dan terus saja mengoceh tanpa henti. Dia memang wanita yang tidak terlalu peka dengan apa yang terjadi kepada pria yang ada di belakangnya. “Omong-omong, memangnya benar kamu menyimpan foto-foto lebamku waktu itu?”
“Tidak, aku hanya mengancamnya saja.”
“Oh, biar semakin panas, ya?”
“Hmmm, tidak juga,” jawab Alif.
“Ah, kamu memang tidak jelas, Lif,” ucap Dara amat sebal.
“Bagaimana biar jelas?”
“Kamu itu aneh.”
“Kamu juga, sangat aneh. Kenapa ada wanita yang tidak peka sepertimu?”
“Peka soal apa?” tanya Dara bingung.
“Tentang apa pun.”
“Tuh, kan? Kamu yang aneh. Giliran aku tanya serius, kamu malah tidak menganggapku sungguh-sungguh.” Namun kini Dara wara-wiri menatap jam dinding dengan sangat gelisah. “Ibu pasti mengkhawatirkanku karena aku belum juga pulang sesore ini. Terlebih ponselku tertinggal di rumah,” ujarnya.
“Kabari ibumu segera,” Alif menyodorkan ponselnya sendiri, “pakai ini.”
Dara menerimanya untuk kemudian ia gunakan untuk mengirim pesan pada Razka.
Dara: Dek, bilang sama Ibu, ya. Mbak sebentar lagi pulang. Ini Mbak pinjam HP milik teman. Soalnya HP Mbak tertinggal di atas meja kamar.
Pesan langsung terkirim ditandai dengan dua centang meski belum terlihat biru. Dara harap Razka segera membaca pesannya agar Ibunya tidak terlalu khawatir.
“Soal lamaran kerjamu, bagaimana?” tanya Alif karena dia belum dibicarakan soal ini.
“Sementara ini aku hanya mengirimkan lamaran. Aku akan ambil yang paling cepat menghubungiku.”
“Kalau aku tidak mengizinkanmu?”
“Aku akan tetap kerja.”
“Kita akan menikah secepatnya bukan?”
“Ya, aku tahu. Tapi menikah juga butuh biaya.”
__ADS_1
“Kamu tidak perlu memikirkan itu. Umi Ros sudah menyiapkan semuanya.”
“Jujur aku senang mendengarnya. Tapi aku benar-benar ingin kerja, Lif.”
“Kita akan pikirkan lagi, nanti,” kata Alif akhirnya. Terus terang dia agak tersinggung dengan ucapan Chandra barusan. Dia tidak mau dianggap remeh. Lebih remeh darinya yang bisa membantu Dara kuliah sampai lulus. Seenaknya saja, pikirnya. Apa Chandra pikir dia juga tidak bisa membuat Dara bahagia?
“Kamu jadi datang ke rumah?” tanya Dara tak lama berselang.
“Jadi. Aku akan pulang bersamamu. Tapi sebelum itu, aku mau menagih janjimu dulu.”
“Janji?” tanya Dara karena dia sempat melupakan ucapannya sendiri di Bistro beberapa jam yang lalu, sedangkan Alif tidak. Dia terus mengingatnya kalau untuk hal yang satu itu.
“See my eyes,” titah Alif. Suaranya berat yang justru terdengar begitu mesra. “Kiss me.”
Dara langsung mendongakkan wajahnya untuk menatap wajah lelaki yang kini berada di atas kepalanya. Sekarang, dia sudah mengingat janjinya sendiri. “Apa kamu serius?”
“Why not?” kata Alif sembari mengusap-usap lembut bibirnya dan membuat tubuh Dara sontak meremang. Ada gelenyar aneh yang merambat entah dari mana sehingga membuat tubuhnya terasa menggigil, namun bukan menggigil karena demam.
Tanpa sadar, Dara menggigit bibir bawahnya yang malah justru membuat Alif semakin tertantang. “Biar aku yang melakukannya,” ujar pria itu menawarkan diri.
Dara memejamkan matanya, membiarkan Alif yang melakukan hal itu. Karena dia pun sama-sama menginginkan lebih.
Kali ini Alif tidak bisa lagi menyembunyikan senyum. Perlahan Alif mencondongkan wajahnya lebih dekat lagi untuk menyapukan bibirnya ke bibir Dara.
***
Hari sudah hampir petang pada saat Dara sampai di rumah. Di depan pintu, ibunya telah menunggu dan mengharapkannya dengan cemas. Beliau sempat kaget dengan pemuda yang mengantarkan putrinya pulang. Namun beliau berusaha untuk tidak menunjukkannya meski terlihat sedikit kentara.
“Sama-sama, Bu,” jawab Alif sementara Dara sudah mendahuluinya masuk.
“Yuk, masuk, yuk. Kita makan dulu di dalam. Lagi pula ini sebentar lagi mau azan.”
Alif mengangguk. “Sekalian saya juga mau bicara.”
“Oh, begitu? Ya, ya, silakan.” Ibu Ratna mempersilakan dengan ramah.
Begitu masuk, Alif langsung mendapati Razka yang sedang bermain game dan tersenyum menyapanya.
“Ajak ngobrol Masnya, Dek. Ini temannya Mbakmu. Masih ingat 'kan?"
Razka mengangguk.
"Ibu mau buatkan minum dulu,” kata Ibu dan Razka kembali mengiyakan.
“Sepertinya sekarang lagi sering di sini ya, Mas?” tanya Razka berbasa-basi, “apa sedang ada pekerjaan di daerah sini?”
“Ya, salah satunya itu,” Alif menjawab.
“Berarti ada yang lain?”
“Yaa, of course.”
__ADS_1
“What it is?”
Alif berterus-terang. “Aku menyukai kakakmu dan sedang mengincarnya.”
Detik itu juga Razka langsung tergelak tawa dengan pernyataan Alif barusan. “Whaaa! Gercep amat. Mbak sudah punya pacar baru rupanya, hahaaaaa ....”
“Apa kamu setuju?” tanya Alif.
“Kenapa tidak?” jawab Razka, namun disertai ancaman. “Tapi kalau akhirnya kamu akan menyakitinya juga, sama seperti banci kemarin—maka bersiap-siaplah berhadapan denganku.” Sembari mengepalkan tangannya. “Kita duel.”
“Ok, aku terima.”
“Aku pegang janjimu.”
Alif tersenyum melihat kesiagaan calon adik iparnya. Dia begitu posesif menjaga kakaknya dari pria hidung belang (dibaca mancung) sepertinya.
“Ayah di kamar?” tanya Alif.
“Iya, baru saja tidur tadi setelah minum obat.”
“Tapi sudah sehat?”
Razia mengangguk. “Jauh lebih baik. Tapi sayangnya sudah sering lupa sama aku. Kebanyakan menelan obat sepertinya.”
“Lagi pada ngomong apa, sih? Sampai ketawa-ketawa keras,” ucap Dara sampai di depan mereka dengan membawa dua gelas berisi teh. Kemudian disusul oleh Ibu Ratna di belakangnya membawa nampan makanan.
“Nah, ini camilannya,” ujar beliau yang lantas duduk di sebelah Razka.
“Mbak kepo ya, Mas?” kata Razka yang membuat bibir Dara langsung monyong ke depan.
Alif tersenyum melihat interaksi mereka berdua, namun kemudian dia meminta izin. “Ehm, saya mau izin ke toilet sebentar ya, Bu.”
“Oh iya, silakan. Nduk, tolong antar Nak Alif ke belakang.”
“Iya.”
Keduanya menuju ke belakang, dengan Dara yang menjadi penunjuk arah. Namun pada saat di depan toilet, Dara bingung karena pria itu tak kunjung masuk ke sana.
“Itu toiletnya sudah di depanmu, apa perlu kuantar sampai ke dalam?” ucap Dara membercandai.
“Sebenarnya aku ke sini untuk mengatakan sesuatu padamu,” kata Alif agak berbisik.
“Apa? Jangan buatku penasaran.”
Tangan Alif kini menunjuk ke salah satu kancing baju Dara yang terlepas tepat di belahan dada. “Ini di kancing dulu. Terus ini kalau bisa bekasnya ditutup pakai foundation.” Dia kembali menunjuk satu tanda merah samar di leher.
“Oh, ya ampun!” Wajah Dara terlihat panik. Dia langsung menutup dadanya sendiri dengan kedua telapak tangannya. Namun dia juga teringat kejadian manis tadi di sana yang akhirnya membuatnya kembali terkenang. Dia berharap ibu menyetujui keputusannya untuk menikah cepat, pikir Dara pada saat itu.
***
Bersambung.
__ADS_1