Ternoda Di Malam Pengantin

Ternoda Di Malam Pengantin
Menghunjamnya Tanpa Ampun


__ADS_3

“Kamu masih agak demam,” kata Alif pagi hari pada saat mereka sedang bersiap-siap mempacking barang. Sudah berapa kali itu juga dia menyentuh kening Dara untuk memastikan suhu tubuhnya.


“Sudah tidak terlalu Alif. Lagi pula hanya demam biasa.”


Namun Alif tetap mengkhawatirkannya dan tetap menyuruhnya untuk menelan kaplet parasetamol. “Kamu sering sekali demam.”


Dara menangguk. “Aku juga tidak tahu kenapa bisa begitu. Tapi aku jadi ingat waktu aku habis di ...” Dara membiarkan Alif menebaknya sendiri. “Ini sama kejadiannya. Hanya saja tak separah waktu itu.”


Alif diam memahami. Dan bukankah memang dialah pelakunya?


“Apa perlu kita ke dokter dulu?”


Dara menolak dengan lembut, “No. Tidak usah, aku hanya butuh istirahat.”


“Baiklah nanti sore saja kita jalan, sekarang kamu istirahat,” kata Alif akhirnya memutuskan.


Siang itu, Dara tidak melakukan apa pun kecuali terbaring di atas ranjang. Bahkan makan pun Alif yang mengambilkan dan menyuapinya. Bukan hanya itu saja, lagaknya sangat protektif karena dia juga membelikannya buah-buahan, membelikannya air kelapa muda dan selalu mengingatkannya supaya rutin meminum obat.


Perlakuan ini sungguh berbeda pada saat dia masih bersama dengan Chandra dulu yang malah justru mengabaikannya saat sakit. Atau mungkin semua laki-laki memang pada awalnya demikian? Lantas, berubah ketika mereka bosan.


Ah, tidak, tidak. Sepertinya ia terlalu buruk menilai Alif. Dara rasa suaminya tidak seperti 'dia'. Gaya bicaranya memang tegas dan terkesan galak. Tetapi aslinya memang perhatian walau pun cara dia menunjukkannya berbeda.


“Buaya, baik sekali buaya,” Dara menyindir pada saat Alif lagi-lagi mengecek suhu tubuhnya dengan termometer yang sengaja dibelinya beberapa saat yang lalu.


“Karena kalau buaya jahat tidak dapat jatahnya.”


“Ya Tuhan ... ternyata itu alasanya,” de sah Dara seraya tersenyum geli mendengar kejujuran buaya buduk perkasa ini.


"Tapi alasan utamanya bukan itu. Aku memang mengkhawatirkanmu."


Setelah Ashar, Alif mulai memanaskan mobil sembari memasukkan barang-barang yang sudah di packingnya tadi pagi. Dia juga mengecek kelayakan mobilnya terlebih dahulu ke bengkel mobil terdekat agar aman selama di perjalanan. Serta-merta dia mengisi bensin full supaya tidak wara-wiri berhenti di pengisian bahan bakar.


Terlebih dahulu mereka berpamitan ke rumah orang tuanya, sebelum akhirnya gas pol menuju ke Mama Kota, yakni Jakarta.


“Berapa tahun aku tidak ke sana ya, Lif?” tanya Dara ketika mereka suda memasuki jalan tol. “Aku lupa-lupa ingat. Tapi pasti sekarang sudah banyak berubah.”


“Ya, begitulah,” jawab Alif singkat.


“Bangunkan aku kalau kiranya kamu capek ya, Lif. Aku bisa bantu merampungkan sisanya.”


“Gampang,” Alif menjawab.


Selain anak seorang sopir, Dara sebelumnya juga pernah merayap menjadi seorang driver di Jakarta demi menyambung sekolahnya—karena pada saat itu, Ayahnya belum bisa membiayai dirinya sepenuhnya. Sebab beliau baru mempunyai mobil pick up selama beberapa tahun belakangan ini. Meski pada akhirnya beliau tumbang lagi.


Jadi tak ayal, Dara pandai menyetir sendiri dan sangat bisa di andalkan. Perihal ini terkadang membuat Alif sangat bangga kepada istrinya yang begitu mandiri, dan bisa melakukan apa pun, termasuk ... memuaskannya?!

__ADS_1


Beberapa jam berlalu.


Dara terbangun dari mimpi karena merasa ada yang berbisik seraya menepuk pipinya, “Sudah sampai.”


Sontak saja Dara langsung terkejut pada saat Alif berujar demikian. Dia menatap ke sekeliling dan mendapati dirinya ternyata sudah berada di kediaman keluarga mertuanya.


“Ya ampun, aku sudah bilang ke kamu tadi. Kalau kamu capek, kamu bisa bangunkan aku. Kita bisa bergantian menyetir,” ucap Dara sangat tidak enak.


“Berhenti jadi laki-laki, Dara. Kamu sudah punya suami sekarang. Mulai sekarang aku yang akan mengantarkanmu ke mana pun kamu pergi kecuali kalau kamu sedang dalam keadaan terdesak.”


“Hehee .... mungkin karena sudah terbiasa apa-apa sendiri,” kata Dara terkekeh. “Jam berapa sekarang?”


“Jam dua pagi.”


“Kamu ngebut, ya?” tanya Dara lagi yang hanya ditanggapi dengan deheman. “Omong-omong kenapa tidurku sangat pulas? Tahu-tahu sudah sampai di sini. Apa karena pengaruh obat?”


“Bisa jadi,” Alif menjawab.


“Katanya rumah kita dekat, terus yang sebelah mana?”


“Ada di sana,” Alif menunjukkan tangannya ke sebelah kiri. “Jeda dua rumah dari rumah ini. Memang tidak terlalu besar. Tapi aku pikir lebih nyaman dan lebih gampang dibersihkan. Besok aku tunjukkan tempatnya. Umi bilang sudah dibersihkan dan sudah siap pakai. Tapi untuk sementara kita tidur di sini dulu supaya bisa menemui mereka pagi nanti.”


Dara menganggukkan kepalanya setelah mendengarkan penjelasan Alif barusan. Keduanya turun dan langsung disambut oleh seorang security yang tampaknya sedang berusaha mati-matian menahan rasa kantuk.


“Selamat datang, Mas Alif, Mbak Dara,” sapanya ramah.


“Ada yang bisa dibantu, Mas? Atau barangkali mau saya bangunkan Umi dan Abah?”


“Jangan, Pak,” sergah Alif. “Jangan bangunkan siapa pun. Takut mengganggu.”


“Baik, Mas. Ada barang yang mau diturunkan?”


“Sepertinya tidak ada juga, Pak. Sebab nanti siang kami mau langsung pindah ke rumah sebelah.”


“Baik, Mas,” jawab security yang diperkirakan berusia lima puluh tahunan itu.


“Ayo masuk.” Alif mengajak Dara masuk ke dalam. Menuju ke kamar Alif, yang entah sudah berapa lama tidak di tempati namun masih terlihat terawat.


“Kamarmu seram amat sih, Lif. Pakai cat hitam segala, lagi. Jadi suram,” ucap Dara ketika merea sudah sampai di dalam. Meletakkan tas kecilnya dan merebahkan dirinya sejenak ke atas ranjang.


“Namanya juga kamar laki-laki. Kalau warnanya pink aku bisa di duga mempunyai kelainan.”


“Bukannya masih banyak warna lain?”


“Aku suka warna hitam.” Alif menjawab seraya melepaskan baju atasnya. Lantas masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci kaki. Pun sama dengan apa yang Dara lakukan. Mereka juga sempat terlibat permainan panas di sana karena Alif memaksa Dara untuk menerima hasratnya yang tertunda selama mereka berada di perjalanan. Dan menghunjamnya tanpa ampun!

__ADS_1


“Kamu ini benar-benar!” sungut Dara namun tak kuasa untuk menolak segala jenis perlakuannya yang sangat menantang dan mengesankan itu. “Kita baru saja sampai tapi kamu sudah menyerangku begini.”


“Kita libur sehari kemarin karena kamu sakit,” jawab Alif tak terlalu peduli.


“Tapi aku belum benar-benar sembuh, nanti aku bisa demam lagi kalau terlalu lama main air, Aliiiiff.”


“Mudah-mudahan tidak.” Alif menggulung tubuh Dara dan mendekapkan ke dadanya yang polos agar istrinya merasa terhangati. Mereka menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk memejamkan matanya sejenak sebelum subuh menjelang.


***


“Umi, aku lihat mobil Alif di luar, apa Alif sama Dara sudah datang?” tanya Vita pada saat mereka usai Shalat berjamaah di Musala kecil rumah ini.


“Umi juga tidak tahu, Nak,” Umi menjawab. “Kenapa Bibi tidak membangunkan kita kalau sudah sampai?”


“Mungkin tidak enak membangunkan orang tidur,” Abah menyahut. “Sudah, biarkan saja. Nanti kalau sarapan mereka pasti turun bergabung.”


Dan nyata, pada saat jam sarapan pagi, Dara dan Alif turun menemui mereka semua. Meja sarapan menjadi penuh dan suasana begitu ramai layaknya pasar dadakan. Belum lagi suara teriakan anak-anak yang sepagi ini sudah bangun dan ikut mengacak-acak meja makan.


“Dari sana jam berapa?” Yudha bertanya.


“Sebelum maghrib, Mas,” Dara menjawab.


Umi mengatakan, “Wah, cepat, ya. Kemarin kita sempat lama mungkin karena rombongan ya, Bah. Jadi harus mengimbangi yang lain.”


“Yang nyetir juga tua-tua, ya pantas,” Alif menimpali.


Yudha sontak menyahuti, “Aku masih muda, Lif. Jangan kamu bilang aku tua juga.”


“Sudah umur berapa, kamu ha? Maunya muda terus!” kata Alif tak mau kalah.


“Eh, tapi katanya kalau punya pasangan yang muda bisa ikut muda ya, Mi?” kata Dara menaikkan alisnya seraya melirik ke perempuan rempong yang ada di sebelahnya, yakni Vita.


“Oh, iya betul, Nak. Memang usianya Yudha jauh sama Vita. Waktu menikah dulu Yudha umur dua puluh delapan, Vita umur dua puluh," jawab Umi Ros. Dan beliau bertanya kepada putra pertamanya untuk lebih memastikan, "Benar begitu, Nak?”


Yudha mengangguk. “Cuma terpaut delapan tahun.”


“Delapan tahu kok bilang Cuma. Kalau di luar negeri kamu bisa disebut gladiator,” ucap Alif yang sontak diserbu oleh semua ibu-ibu yang ada di sana.


“PREDATOOOR!?”


Kini bergantian Yudha yang mencibirnya dengan sangat jengkel, “Mam pus, Lo!”


***


BERSAMBUNG.

__ADS_1


Semakin sepi aja woy, pencet itu likenya😭


__ADS_2