Ternoda Di Malam Pengantin

Ternoda Di Malam Pengantin
Kalah Sebelum Bertanding


__ADS_3

“Mau cari di mana jujur kacang hijau?” gumam Alif. Sudah tiga puluh menit lamanya ia berputar-putar mengelilingi kota Bandung, namun tak kunjung menemukannya. “Dasar bubur sialan!” umpatnya setengah kesal. Lantas dia segera putar arah balik lantaran bosan mencari-cari makanan sialan tersebut.


“Nanti minta Umi buatkan saja kalau kita sudah di rumah ya, Ra. Kalau memang masih mau. Maaf aku terlalu lama perginya. Kita bisa makan yang lain dulu, kan?”


Namun pada saat ia balik ke lokasi Hotel, tiba-tiba ia membelalak karena dia melihat gerobak itu sedang melintas di sana.


“Hei, Pak ... Pak. Dari mana saja kamu, aku mencari-cari gerobakmu dari tadi. Buang-buang waktuku saja!” Alif segera menepikan mobilnya setelah memesan satu bungkus bubur yang dia anggap sialan itu. Namun masih dengan bersungut-sungut kepadanya.


“Situ yang salah, saya yang dimarahi. Kumaha atuh, Pak. Kasep-kasep tapi pundungan. Meni galak pisan euy,” gerutu si penjual. “Nih, buburnya! Seratus ribu.”


Dan bodohnya Alif percaya. Dengan tanpa keberatan dia mengeluarkan satu lembar uang merahnya.


“Asik, pagi-pagi sudah berkah.” Penjual mencium uang yang diterimanya. “Sering beli ya, Pak. Kemarahanmu adalah rezeki bagiku.”


“Malas! Mending bikin sendiri.”


Si penjual terkekeh sambil mengibas-ngibaskan uangnya. “Dadah Kasep!”


Segera ia kembali ke basemen, kemudian naik ke lantai tempatnya menginap. Suasana masih sangat sepi pada saat itu, apalagi pada saat ia berjalan di area koridor. Lampu yang terlihat remang-remang juga semakin menambah kesan horor di area ini.


Alif mengeluarkan akses pintu masuk dari kantong sakunya untuk membuka pintu kamar. Namun pada saat ia berada di depan pintu, ia seperti mendengar suara teriakan istrinya. Sontak ia menjadi panik, “Dara!”


Alif segera memasukkan kartu untuk membuka pintu, dan betapa terkejutnya ketika ia mendapati Chandra di sana sedang menyentuh tubuh istrinya yang telah terkulai di lantai dengan pakaian yang sudah terkoyak.


Seketika Alif melempar bubur sialannya, kemudian berlari seraya melayangkan pukulan. “BRENGSEK!” BUG!


Beberapa pukulan telak melayang di tubuh lelaki brengsek itu sampai bibirnya berdarah-darah. Tapi yang membuatnya semakin murka adalah, dia masih bisa tersenyum dengan tawa yang mengejek.


“Percuma kamu memukulku begini, tidak ada yang bisa kembali karena istrimu sudah ....”


“BUG!” kembali pukulan di layangkan. “Kenapa, kamu cemburu karena hanya aku bisa memilikinya? Kalau kamu dendam, hadapi aku! Jangan Dara, dia cuma korban.”


“Kalian berselingkuh. Jadi wajar kalau aku sakit hati dan membalasnya,” jawab Chandra lemah.


“Kuberitahu kamu. Dara memang aku perkosa, akulah pelakunya!”


“Brengsek!” kali ini Chandra meludah. “Cuih!” beruntung Alif segera menghindar sebelum air jorok itu mengenai wajahnya. “Aku akan melaporkanmu ke polisi.”


“Mau melaporkanku ke polisi?” Alif ingin tertawa mendengarnya. Pria itu mencengkeram bajunya dan mencekiknya sekuat mungkin. “Yang ada kamu malah malu, dosamu lebih banyak. Mana ada yang percaya dengan mulut kotormu, Chandra! Terlebih Dara mencintaiku sekarang. PIKIR!”


“Kamu yang merebutnya dariku!” tekan Chandra.


“Semua ini tidak akan terjadi kalau kamu bisa menjaganya dengan baik. Nyatanya kamu telah melukainya berkali-kali.”


“Siapa juga yang mau bekasmu?”

__ADS_1


“Dasar bodoh! Apa kabar semua wanita di dunia ini kalau pernikahan di ukur dari sebuah kesucian?” kata Alif sangat geram, “dan kamu bilang ‘bekasku’ lantas apa kabar kamu yang sudah meniduri pela cur di luar sana, yang bahkan lebih jorok dan kotor? Mungkin saja sekarang kamu sudah penyakitan, periksakanlah!”


Kembali Alif berniat melayangkan pukulan, namun sebelum itu, lelaki itu lebih dulu terkulai tak berdaya, kemudian tak sadarkan diri.


“Yah ... cuma segini kekuatanmu. Cemen. Pasti kuatnya juga sebentar, ah, payah.” Alif mengejeknya puas. Pria itu segera menghubungi security untuk mengamankan pria ini. Kemudian menolong istrinya sendiri.


Alif merebahkan istrinya ke ranjang membantunya untuk merapikan pakaiannya kembali, kemudian meminta bantuan kepada pegawai Hotel untuk mencarikannya kayu putih atau aroma terapi untuk membangunkannya.


“Bangun, Ra!” Alif menepuk pipi istrinya berkali-kali, bahkan sampai mencubitnya juga. “Katanya kamu lapar? Kamu pingsan karena lapar kan?” Alif menyalakan ponselnya yang sempat hancur karena di banting oleh Chandra. Dia duduk sejenak, bingung. Antara ingin menghubungi keluarganya atau tidak.


“Selain mengganggu ketenangan mereka, aku juga punya kesalahan besar di sini. Bagaimana kalau Abah dan Umi tahu apa yang pernah aku lakukan terhadapnya.” Alif menatap Dara yang masih saja terpejam. Casingnya saja yang terlihat kuat dan tegar, aslinya, Dara adalah perempuan yang gampang sekali sakit.


“Apa aku bawa langsung ke rumah sakit saja?”


Tapi setelah menunggu beberapa saat, Alif justru menemukan kelopak mata Dara yang bergerak-gerak. Pertanda wanita itu sudah mulai sadarkan diri.


“Ra ...,” panggil Alif mendekatinya. “Apa kalian baik-baik saja?”


Sebenarnya ia ingin sekali menanyakan tentang sejauh mana Chandra telah menyentuhnya. Namun rasanya kurang pantas jika ia menanyakan hal ini langsung di saat kondisi Dara masih seperti ini.


Dara mendesis, merasakan sakit di kepalanya, juga anggota tubuhnya yang lain karena mencoba melakukan perlawanan. “Pusing kepalaku. Lapar juga.”


“Kita periksa ke dokter terdekat, ya. Supaya tahu kondisi kalian gimana.”


“Kami baik-baik saja.”


Dara merasa sangat lega. Semua rasa sakit seolah sirna, ketika Alif justru meminta maaf pada saat orang lain melukai dirinya. Sejenis perlakuan berbeda, tidak seperti saat ia di perkosa dulu di pernikahan yang sebelumnya.


“Lif ...,” paggil Dara dengan suara lirih.


“Kenapa?”


“Kalau aku sudah dinodai... apa kamu masih tetap menerimaku?”


Alif tersenyum kecut. Pria itu sempat terdiam selama beberapa saat untuk menguasai dirinya, tak sanggup membayangkan andai itu memang benar. “Kalau memang sudah terjadi ... memangnya aku bisa apa? Mengembalikannya ke mesin waktu?” mendadak suasana menjadi sangat mendenyutkan.


“Apa kamu akan menjauhi dan menyelingkuhi aku seperti Chandra juga?”


“Kamu itu omong apa?” Alif mengerutkan dahinya, dan bergidik geli, “jangan samakan aku dengannya. Jijik.”


“Apa kamu kecewa?”


“Jangan ditanya lagi ... itu sudah pasti,” jawabnya terdengar kecewa. “Tapi ....”


“Tapi apa?” tanya Dara segera.

__ADS_1


“Aku sadar aku punya dosa. Dan mungkin ini adalah sebuah karma untukku.”


Dara menggenggam tangannya, “Jangan jijik sama aku, ya.”


Alif terdiam selama beberapa saat dan kembali bertanya untuk memastikan, “Apa benar sampai sejauh itu, Ra?”


Dara mengangguk. Membuat Alif lantas memejamkan mata dan menghela napasnya dalam-dalam. Rasanya begitu nyeri. Mungkin sakitnya sama dengan apa yang pernah Chandra alami dulu. Dan celakanya, pria itu tidak bisa mengendalikan diri dan menerima apa yang terjadi pada dirinya.


“Aku janji menerimamu apa adanya, Ra. Apa pun yang terjadi kita akan selalu sama-sama,” ucap Alif setelah hening beberapa saat.


Dara bangun dari tidurnya dan tersenyum. “Tapi bohong... heheh....”


“Apa?!” pekik Alif setengah kesal.


“Ada yang sedih, hihihi.”


Alif gemas, kemudian menggelitiki perut Dara, “Jangan coba-coba kamu meledekku!”


“Hahaha hihihi. Aku hanya ingin melihat responmu. Benar atau tidak bahwa kamu benar-benar tulus?”


“Jadi kamu masih meragukanku sekarang?”


“Hmmm tidak juga. Aku hanya mengerjaimu biar kamu kapok.”


Alif kembali menggelitikinya sampai puas dan memberinya pelajaran.


Lantas Dara pun menceritakan, dia merasa beruntung karena Alif datang di waktu yang tepat karena ia tak sampai sepenuhnya tersentuh tangan kotor lelaki itu.


Siang harinya, setelah keduanya melakukan makan siang, mereka menuju ke klinik terdekat untuk memeriksakan kondisi Dara dan kandungannya. Tapi tampaknya tidak ada yang perlu di khawatirkan karena Baby Cil sedang dalam keadaan baik-baik saja dan malah bergerak sangat lincah. Membuat orang tuanya semakin bahagia.


Usai dari sana, keduanya juga langsung menemui Chandra, yang pada saat itu sudah berada di kantor polisi untuk kemudian diproses secara hukum.


Namun tampaknya lelaki itu menyerah sebelum bertanding. Selain takut aibnya akan dibeberkan, Chandra juga paham betul bahwa dirinya akan tetap kalah walau pun Alif sama-sama bersalah—sebab dia tak mempunyai uang yang kuat. Terlebih, pada saat Alif mengancam akan menyewa jasa pengacara Hutman Rais untuk menyerangnya. Dan bodohnya, Chandra percaya bahwa hal itu akan benar-benar terjadi!


***


Keduanya hidup bahagia tanpa ada gangguan mana pun. Hingga lima tahun kemudian, mereka dikaruniai 3 anak. Satu perempuan dan dua laki-laki.


Sementara Chandra sendiri, memilih untuk menerima sepenuhnya wanita yang bernama Indira. Ya, karena hanya wanita itu yang mampu bertahan selama ini. Pun dengan keluarganya yang sempat tak menyetujui pernikahan mereka, lama-kelamaan akhirnya luluh. Apalagi semenjak kelahiran sang cucu.


TAMAT.


Mohon maaf yang sebesar-besarnya, kalau ada typo. Mohon diingatkan ya, gais. Dan mulai bulan depan aku akan melanjutkan kisah Vita & Yudha season 2 (atas permintaan temen2 insyaallah) sekalian mau ngumumin give away di sana.


Terima kasih, kita ketemu juga Alif di sana nanti, ya.

__ADS_1


 


__ADS_2