
Terlihat raut wajah wanita berpakaian seksi itu berubah-ubah, antara kaget, bingung dan mungkin saja aneh menilai-nilai pasangan ini. Kenapa Alif bisa menikahi wanita seperti Dara? Perempuan yang dia ketahui dulunya hanya seorang driver yang kampungan dan tentu saja miskin. Kenyataan ini berkebalikan dengan kriteria yang pernah Alif sebutkan padanya; bahwa orang yang menjadi istrinya haruslah cantik, berhijab dan berpendidikan supaya setara dengan derajat keluarganya.
“Menikah, Al?” tanya wanita yang selalu Alif panggil dengan nama Esti tersebut. “Kamu melawak?” imbuhnya lagi terlihat menahan tawanya yang hampir meledak.
“Tidak, kami memang sudah menikah,” Alif menjawab dengan pasti. Sedangkan tangannya mempersilakan Dara untuk kembali duduk di kursi roda karena wanita itu sudah terlalu lama berdiri memilah-memilih belanjaan yang disukainya. Khawatir bakal kelelahan dan kram yang bisa membahayakan anak mereka.
Wanita itu seketika tergelak. Membuat Dara merasa sedih dan berkecil hati. Dia sedang sangat sensitif sekarang ini. Alif saja selalu berhati-hati ketika berbicara dengan istrinya, namun dengan sengaja orang lain malah mengejeknya secara terang-terangan.
“Yang benar saja?” Esti menggelengkan kepala denga masih tertawa meremehkan. “Dia hanya seorang gadis desa yang waktu itu merantau ke kota dan tinggal di kontrakan sempit bersama temannya yang mungkin sama miskinnya. SD saja mungkin dia tidak tamat!”
“Jaga mulutmu, Esti!” bentak Alif kemudian beralih kepada Dara, “Sudah apa belum?”
Dara hanya mengangguk. Terlalu malas untuk merespons dengan tanggapan apa pun. Mood-nya benar-benar sudah hancur berantakan gara-gara mantan kekasih suaminya itu.
'Apa maksud dia menghinaku seperti ini? Tidak rela kalau Alif mendapatkan aku? Iri dengki karena Alif ternyata lebih memilih perempuan seperti aku daripada dia yang lebih sempurna ha? Masih cinta dia sama Alif? Cih, kalau dia tahu Aliflah yang mengejarku selama ini, bisa-bisa kebakaran jenggot, kamu!'
“Ya sudah, kita langsung bayar ke kasir.” Alif memutar kursi roda untuk mengantarnya menuju ke sana.
“Pasti kalian mau menghindariku kan?” tak di sangka, wanita yang sedang dihindarinya itu malah mengantre di belakangnya persis. Seolah memang sengaja melakukannya untuk melanjutkan perdebatan ini.
“Orang-orang seperti kamu memang wajib dihindari karena bisa membuat keributan,” jawab Alif tanpa menoleh.
Namun Esti tak mengindahkan perkataannya, “Mana yang katanya harus berhijab, harus bependidikan tinggi? Nyatanya sekarang istri kamu hanya perempuan biasa yang diimpor dari udik. Ini tidak adil untukku, Al! Kamu memutuskanku dengan alasan yang tidak je ....”
Tak tahan, akhirnya Alif menoleh ke belakang. “Apa kamu tidak bisa diam? Apa perlu mulutmu itu aku sumpal pakai troley ini?”
“Dasar laki-laki tidak jelas!” sentaknya. “Kalian berdua ini memang tidak jelas. Diam-diam menikah. Pasti sebelumnya kalian bermain di belakangku.” tudingnya tak segan-segan.
“Kamu yang tidak jelas! Apa pula kamu mengajak kami ribut di sini.”
“Aku heran denganmu, apa yang kamu bilang ke aku dulu ternyata berkebalikan. Apa maksudmu? Aku tak terima!”
“Lalu maumu apa?" tanya Alif melotot. "Jangan pernah bicarakan apa yang sudah lewat. Karena semua itu tidak ada gunanya sama sekali,” Alif sangat menekankan nada bicaranya. “Kita sudah lama putus dan tidak pernah ada hubungan apa-apa lagi selama beberapa tahun belakangan ini. Jadi, tidak usah berdrama!”
“Itu juga kenapa Dara pakai kursi roda? Kakinya lumpuh? Makanya tidak bisa menyetir lagi jadi driver hahaha!”
Dara hanya menoleh sekilas tanpa ingin benar-benar menanggapinya.
“Kenapa hanya menoleh, Dar? Kamu diam saja, kita itu dulu berteman baik, loh. Atau jangan-jangan kamu merasa bersalah karena sudah memakan temanmu sendiri?”
__ADS_1
‘Dih, siapa juga yang mau makan manusia. Ogah amat. Memangnya aku Sumanto?’
“Kami baru menikah satu bulan yang lalu. Jadi tidak ada kata teman makan teman,” Alif menyahut. “Cepat kamu bayar dulu. Jangan tunggu kami. Kami lama.” Pria itu mempersilakan Esti setelah satu antrean di depannya maju ke depan agar dia cepat pergi.
“Hati-hati kamu, Dar. Nanti kamu dibohongi juga sama dia. Dia itu playboy. Pacarnya di mana-mana. Aku ingatkan, jangan terlalu percaya sama laki-laki, deh! Aku saja yang lebih cantik dari kamu ditinggalkan, apa lagi kamu yang jelek.”
“Berisik!” camkan Alif dengan menyoroti tajam.
Esti kembali mencibir, “Dasar lelaki tidak jelas!”
“Bayar cepat!”
Dara menghembuskan napasnya dalam-dalam agar dia bisa lebih menguasai diri. Dia meyakinkan dirinya bahwa perempuan ini hanya sedang menggodanya dan menguji kesabarannya saja. Maka dari itu, dia berusaha sekuat tenaga agar tak terpancing yang kemudian bisa mempermalukan diri sendiri.
Kalau saja Alif tak butuh semua barang belanjaan ini, pastilah sudah dia tinggalkan agar keduanya tak sampai berurusan lebih lama lagi dengan wanita kuyang. Namun sayangnya dia membutuhkannya dan dia pikir, dia juga tak mempunyai waktu lebih banyak lagi untuk berbelanja. Besok mereka sudah harus berangkat ke Bandung.
Namun sebelum perempuan itu meninggalkan mereka, Esti sempat menatap Dara dan kembali berujar dengan sengit. “Teman kok makan teman, izh!”
Sontak Dara melempar pakaian dalam keranjangnya sekuat tenaga. “Rasakan ini!”
“Dasar perempuan gila!” cibirnya.
“Yang gila kamu, orang lain yang di olok-olok,” balas Alif masih berusaha menahan emosi karena banyak orang yang tengah melihatnya.
“Mau bayar pakai apa, Kak?” tanya kasir saat Alif memberikan keranjang belanjaannya.
“Pakai *** saja,” jawab Alif. Kemudian mengeluarkan kartunya untuk pembayaran.
“Baik. Totalnya ....”
***
Tak lama kemudian, keduanya keluar dari toko pakaian tersebut. Namun Alif terlebih dahulu berhenti di kursi tunggu. Dia memperhatikan istrinya yang tiba-tiba diam tanpa suara semenjak bertemu dengan mantan pacarnya.
“Kamu marah?” tanyanya dengan memosisikan diri berjongkok di depan Dara.
“Bukankah aneh kalau aku tertawa terbahak-bahak?” jawab Dara dengan roman wajah yang berbeda. “Sudahlah ... memang kenyataannya begitu. Untuk apa dibahas?”
“Begitu gimana, tidak usah kamu dengarkan apa kata-katanya. Anggap saja kotoran lewat di kali.”
__ADS_1
“Wajarlah kalau aku kesal,” katanya memberengut. “Mengatakannya secara langsung saja tidak sopan, apalagi mengatakannya di depan umum. Jelas dia memang sengaja ingin mempermalukanku.”
“Jangan dimasukkan ke hati.”
“Lalu dimasukkan ke mana?”
“Ke tong sampah.”
“Tidak bisa. Dia itu tajam sekali mulutnya.” Mata Dara berkaca-kaca. “Aku memang perempuan udik, jelek—”
“Ra!” potong Alif. “Kamu akan tetap spesial di mataku. Bagaimana pun bentuknya.”
“Maaf kalau aku tak seperti dia ....”
“Apa aku mempermasalahkannya?” tanya Alif. “Tidak kan? Justru aku mengejarmu selama ini. Jadi jangan pedulikan kuyang mana pun.”
“Apa?” tanya Dara untuk memperjelas apa yang baru saja di dengarnya.
“Jangan pedulikan kutang mana pun.”
“Kok beda lagi?” Dara akhirnya tersenyum. “Jadi kamu pacaran sama Kuyang? Hah?” wanita itu terus menuntutnya agar Alif mengakui dengan siapa dia berpacaran.
“Sayang sekali, masa ganteng-ganteng pacaran sama kuyang.” tanpa sadar, Dara memuji paras wajah suaminya barusan sehingga membuat Alif diam-diam besar kepala.
“Sudahlah, itu hanya masa lalu. Aku tidak memilihnya dan lebih memilihmu, itu artinya kamu lebih spesial di mataku.” Alif kembali berdiri dan melanjutkan lagi perjalanan mereka ke basemen. “Tugas kita sekarang adalah bahagiakan Baby Cil dan adik-adiknya nanti tidak usah khawatir mataku akan jelalatan. Aku pun masih ingin hidup.”
“Betul sekali, sebab kalau kamu macam-macam, aku akan potong burungmu supaya tidak bisa kawin lagi.”
“Ya ... terserah apa katamu.”
“Eh tadi kamu bilang adik-adiknya Baby Cil. Memangnya kamu ingin punya anak berapa?” tanya Dara karena mereka tak pernah merancanakan ini sebelumnya.
“Lima.”
“Apa bedanya kamu sama Mas Yudha?” tanya Dara tak habis pikir dengan keputusan suaminya itu.
“Aku tidak boleh kalah. Aku harus lebih banyak.”
“Apaa? tidakkkk!”
__ADS_1
***
Bersambung.