Ternoda Di Malam Pengantin

Ternoda Di Malam Pengantin
Alif: Masih Mau Lanjut?


__ADS_3

Dara masih dalam keadaan terombang-ambing. Keduanya seolah sedang berada di fase tak pernah puas. Apa seperti ini juga yang dirasakan oleh orang-orang di malam pertamanya? Entahlah.


“Masih mau lanjut?” Alif bertanya.


Tetapi kali ini Dara menggelengkan kepala. Hari sudah larut malam, dia butuh istirahat karena sudah merasakan lelah yang tak terkira. Mulai dari bangun pagi, memakai make up yang memakan waktu cukup lama, belum lagi harus stand by selama berlangsungnya acara seharian penuh, kemudian melakukan ritual seperti ini.


‘Seperti ini, apakah masih harus resepsi juga? Ah payah. Malas.’


Namun apa yang terjadi? Justru Alif semakin menggebu-gebu. Menerjang, meringsek, mengaduk-aduk seolah tak menyisakan waktu lambat sedetik pun.


“Alif,” sungut Dara tidak setuju.


“Let me finish it.”


“Tapi kamu lama!” Dara menandai dari kegiatan yang sudah mereka lakukan sebelumnya.


“Just a moment.”


***


Usai kegiatan panas itu terjadi, keduanya terbaring menatap atap-atap langit. Mengatur napas yang terengah-engah. Mendinginkan tubuh yang terasa panas. Menormalkan napas yang memburu.


“Apa aku baik-baik saja?” tanya Dara disela-sela peristirahatan mereka.


“Baik-baik saja, masih hidup.”


Dara menghela napas kasar sembari menatap sebal ke samping. Pasti demikian jawabnya seolah ucapannya barusan adalah sebuah lelucon.


“Lagian kenapa harus bertanya yang aneh-aneh,” Alif berujar mendapati wajah cemberut Dara yang tertimpa samar lampu temaram.


“Aku kan baru disiksa.”


“Di siksa tapi tidak mau berhenti.”


“Memangnya aku bilang begitu?” Dara mengelak. Tetapi juga tersenyum malu mengingat dirinya yang begitu panasnya dan tak tahu diri itu.


“Menyesal tadi tidak direkam.”


Dara tertawa mengingat skandal artis yang pernah tersebar di media. “Sembilan belas detik?”


“Satu jam!” Alif menyeru.


Satu tangan Dara meraba-raba ke atas sandaran ranjang. Mencari-cari remote control AC untuk kembali menambahkan suhu ruangan agar terasa lebih dingin. “Ke mana, sih?”


“Apa?”


“Remot.”

__ADS_1


Momen yang paling menyebalkan kembali terjadi, ternyata Alif sudah memegang remotnya terlebih dahulu dan memamerkannya sambil menjulurkan lidah.


“Aku ingin sekali membungkus wajahmu ke dalam karung, Lif. Aku mencarinya dari tadi.”


Alif langsung menurunkan suhunya tanpa berisik. “Tidur, sudah malam!”


“Lif, apa aku boleh tanya?”


“Apa?” Alif langsung menoleh.


“Apa kamu sudah pernah melakukan ini sebelumnya?” tanya Dara dengan sangat hati-hati. “Tapi kalau kamu tidak bersedia menjawab juga tidak apa-apa.”


Namun tanpa di duga, Alif justru menjawab yang sejujurnya, “Sudah.”


Beberapa saat Dara terdiam serupa orang yang tengah kecewa.


“Lain kali jangan bertanya, kalau tidak mau mendengarkan jawaban,” kata Alif kemudian.


“Aku sama sekali tak menyangka kamu bisa melakukannya sebelum menikah, mengingat dari mana keluargamu berasal. Pikirku kamu tidak mungkin begitu. But, itu pilihan hidupmu. Urusanmu. Kamu sendiri yang bisa mengendalikan.”


“Aku sedang tak terkendali. Tapi sesudahnya aku sangat menyesal,” jawabnya terdengar sungguh-sungguh. "Sampai sekarang, aku masih dihantui rasa bersalah."


"Aku takut dia menuntutmu setelah kita bahagia nanti."


"Besar kemungkian tidak."


“Enak saja!” sembur Alif tidak terima. “Aku sehat seratus persen.”


“Jangan lakukan itu lagi, ya?” kata Dara meletakkan kepalanya di bahu Alif.


“Aku bersumpah. Itu tidak akan pernah terjadi lagi.”


Obrolan malam itu ditutup dengan saling memeluk satu sama lain sampai pagi menjelang. Keduanya mandi bersamaan dan tak bosan untuk kembali mengulang penyatuan seperti tadi malam. Sampai Dara berulang kali mengeluhkan rasa pedih dan tubuhnya terasa sedikit demam. Dia memang sering demikian seperti saat malam pertamanya dulu.


Dara dan Alif kembali ke rumah Ibu Ratna setelah keadaan rambut Dara benar-benar kering. Meskipun dara tahu bahwa ejekan orang dan bisik-bisik tak mungkin bisa dia hindari di malam pertamanya. Seperti pertanyaan yang baru saja Bude lontarkan.


“Sudah?”


“Apaan sih, Bude. Kalau sudah tahu kenapa harus tanya!” Dara bersungut kesal.


Bude tertawa keras. Suasana rumah masih dalam keadaan ramai. Sebab Bude Naima dan suaminya masih di sini meski kedua anak lelakinya sudah lebih dulu pulang karena mereka harus kembali bekerja.


“Jadi rencananya kalian mau bulan madu ke mana?” tanya Ibu Ratna. “Katanya mau pergi, toh?”


“Saya terserah Dara saja, Bu,” Alif menjawab.


Dara sontak menyahut, “Aku juga belum ada rencana.”

__ADS_1


Waktu itu, ke Cappadocia hanya sebuah candaan untuk memanas-manasi mantan termalang. Entahlah sekarang rencananya mau ke mana lagi.


“Tapi maaf sebelumnya, Bu. Saya mau membawa Dara ke Jakarta, apakah boleh? Saya sudah punya rumah sendiri di dekat rumah Abah dan Umi.”


“Wah, sudah punya rumah sendiri, di Jakarta?” tanya Bude terpana. “Banyak pula uangmu.”


“Hush!” Haliza, anak Bude Naima langsung menyergah agar Emaknya tidak ceplas-ceplos dan asal bicara.


Bu Ratna langsung terdiam. Beliau tampak memikirkan jawaban yang akan beliau katakan. “Begini, Nak. Sebenarnya, Ibu merasa keberatan karena Jakarta terlalu jauh. Kita tidak bisa cepat bertemu jika kelak sewaktu-waktu kami membutuhkan bantuan, atau sebaliknya, mengingat kami yang sudah tua. Tapi ... Ibu juga tidak bisa melarang karena Dara sudah menjadi istrimu dan tanggung jawabmu sekarang.”


“Kan ada Razka, Rat,” Bude Naima menyahut. “Ada aku juga sama Haliza yang dekat. Jangan terlalu khawatir. Lagi pula ada pesawat. Bisa terbang kalau mau cepat. Sekarang mah yang penting duit duit duit.”


Ibu Ratna tersenyum. Merasa beruntung karena begitu dicintai oleh keluarga kakaknya. “Ya sudah kalau begitu aku sudah tenang, Mbak.” Ibu Ratna beralih kepada menantunya dan mengatakan, “Bawalah Dara, tapi tolong jangan kecewakan kami, ya. Dia sudah pernah gagal sebelumnya. Kami tidak mau mendengar lagi huru-hara, kami sudah tua, takut jantungan. Bimbing Dara jadi istri yang baik.”


Alif tersenyum lega karena sudah bisa mengantongi izin dari ibu mertuanya. “Ya, pasti, Bu,” ujarnya meyakinkan.


“Oh, iya, rencana resepsi bagaimana? Kok Ibu belum dengar apa pun?”


“Aku malas resepsi ya, Lif. Kita kan sudah ramai-ramai kemarin. Lagi pula mau mengundang siapa juga,” ujar Dara tak setuju. “Daripada dihambur-hamburkan, mending uangnya disimpan buat yang lain. Kita tinggal serahkan saja berkasnya ke pencatatan sipil. Sudah. Beres!” dia berkata sembari menyertakan gerakan tangannya.


Ibu Ratna berujar kepada menantunya, “Dimaklumi ya, Nak. Dara memang tipe manusia malas ribet. Tapi kalau mau keluarga Umi sama Abah nanti tetap resepsi, tolong dipaksa saja.”


“Jangan sampai menyesal seperti Bude, Dar. Tidak ada foto kenang-kenangan yang bisa di pajang. Sekarang mau resepsi juga buat apa, sudah keriput.”


“Bisa pakai efek, Bude,” Dara menanggapi. “Kalau mau foto saja, Dara kan juga sudah punya banyak kemarin.”


“Nanti kalian berdua bicarakan sama Abah sama Umi, ya. Kalau memang kalian jadi resepsi, menurut Ibu sih jangan terlalu lama menundanya. Takutnya Dara keburu ngisi. Kasihan, resepsi itu capek,” kata Ibu Ratna memberi saran.


Dara sontak menyela, “Ya sudah, aku cepat ngisi saja supaya acaranya batal.”


“Ini anak keras kepalanya tidak tertolong,” Bude menyahut.


“Malas Bude, aku kan janda. Sudah merasakan yang namanya resepsi. Tidak ada yang terlalu istimewa juga kecuali kantong jebol, badan capek, kaki pegal, gigi kering,” ujar Dara membuat semua orang geleng-geleng kepala sembari tertawa. Dia melintas melewati semua orang yang ada di ruang tamu untuk menemui ayahnya sendiri yang setia berada di kamar. Tidur memakai brankar khusus agar bisa lebih mudah saat dirawat dan digerakkan.


“Ayah, apa kabar?” Dara duduk di samping ayahnya tidur setengah duduk.


Terlihat beliau menganggukkan kepalanya pelan dan menjawab, “baik,” meski terdengar kurang begitu jelas. “Dara mau minta izin, mau pindah ke Jakarta. Ayah cepat sembuh, ya. Supaya kita bisa jalan-jalan ke sana lagi.”


Hilman menggeleng samar. Ada ketidakrelaan di matanya saat Dara meminta izin untuk pergi. Namun untuk kali ini, Dara menggeleng, “Kali ini saja, Yah. Selama ini Dara sudah selalu memenuhi keinginan Ayah. Bukannya Dara egois, Dara sudah punya suami. Suami Dara yang sekarang rumahnya ada di Jakarta, Yah. Dara harus ikut.”


Meskipun Ayah menggeleng tak menyetujui, Dara tetap memutuskan untuk pergi. Dan pada keesokan harinya, mereka bersiap-siap menuju ke sana.


***


BERSAMBUNG.


Bersiap menuju ke konflik ya, tapi gak seberat yang kalian bayangkan kok.

__ADS_1


__ADS_2