Ternoda Di Malam Pengantin

Ternoda Di Malam Pengantin
Tapi Untuk Kali Ini, Restui Kami


__ADS_3

“Lif?” ucap Dara masih di posisi berhadap-hadapan. “Aku takut mereka tadi sudah sempat melihatnya.”


Karena risau, lagi-lagi Dara menggigit bibir bawahnya tanpa dia sadari sehingga membuat Alif sontak berujar, “Jangan dibiasakan seperti itu di depan orang.”


“Kenapa?” tanya Dara begitu polos.


“Mengundang syahwat.”


“Pikiranmu saja yang mesum,” cebiknya. Lantas kembali berujar sembari melangkah meninggalkannya, “Ya sudah, aku balik ke depan, ya. Kalau bingung jalan pulang, kamu bisa pakai gugel map.”


Alif masuk ke kamar mandi tersebut, kebetulan dia juga sedang memerlukannya.


Sementara Dara ke depan dan langsung duduk bergabung dengan ibunya. “Bu ....”


Ibu menjawab, “Iya, Nduk.”


“Ibu mau tahu atau tidak? Tadi aku bertemu dengan Mas Chandra di satu tempat. Kami sempat mengobrol sampai berantem.”


“Ya Allah, Nak. Kenapa bisa? Untuk apa kamu masih ketemu sama Chandra lagi?” tanya Ibu segera.


“Tidak sengaja. Dara itu lagi mampir ke Bistronya Alif ketemu ngobrol sama Jack. Tapi tiba-tiba Mas Chandra datang sama istrinya. Tapi salahku sendiri, sih. Dara dekat-dekat duluan. Jadi kena senggol.”


“Bilang apa dia sama kamu, Nduk?” tanya Ibu.


Dara menanyakan suatu hal terua mengganjal di kepalanya. “Apa benar, selama ini Chandra yang membantu biaya kuliahku sampai lulus?”


“Siapa yang bilang begitu? Chandra?”


Dara mengangguk. “Iya. Omongnya di depan umum pula. Bikin malu Dara, Bu. Kita juga sempat ribut sampai dorong-dorongan badan.”


“Sembarangan, dia!” kata Ibu Ratna setengah kesal meski masih dapat menahan diri. “Memang dia ada sesekali bantu, tapi tidak seluruhnya. Taiknya besar kalau dia bilang membiayaimu seluruhnya. Kamu itu masih punya ayah. Ayahmu kerja. Segalak apa pun ayahmu—beliau tetap memenuhi apa yang menjadi kewajiban dan tanggung jawabnya. Jangan salah kamu, Nduk.”


'Sebesar apa taiknya?'


Astaga, Dara malah memikirkan itu?!


Ada jeda sebentar sebelum beliau melanjutkan, “Soal biaya pendidikan Razka, juga kamu juga tidak usah terlalu khawatir. Walau pun Ayahmu sudah tidak bisa apa-apa lagi sekarang, beliau masih punya uang simpanan. Beliau sudah menabung sebelumnya khusus untuk Razka. Itulah sebabnya Ibu tidak terlalu membebanimu,” jelasnya membuat Dara merasa lega.


“Berarti Mas Chandra bohong ya, Bu?” tanya Dara.


“Ada juga yang benar dari pengakuannya. Tapi tidak baik juga kalau dia mengungkit-ungkit lagi pemberian yang sudah diberikan. Bikin sakit hati orang yang menerimanya,” beliau menjawab. “Apa lagi yang dia bilang, biar Ibu luruskan?”


“Sebenarnya, ada beberapa kata yang sama sekali tidak pantas, Bu. Dia juga berbicara begitu di depan istrinya tadi. Dara juga tidak tahu kenapa Mas Chandra berubah jadi seperti itu sekarang. Padahal dulu dia baik sekali sama Dara.”


“Memangnya kalau ikan sudah berhasil terjaring sama nelayan harus di kasih umpan lagi, Mbak?” Razka menyahut. “Tidak tho?”


“Adek ... kamu ada-ada saja.”


“Tapi benar kan, Mbak?”

__ADS_1


“Iya-iya ...” Dara terkekeh dan membatin, ‘Pantas saja Chandra tidak pernah mau tidur sama ikan sepertiku.’


Tak berapa lama, pembicaraan terjeda karena Alif datang dan kembali duduk di tempat semula. Tepat di sebelah Razka yang masih sibuk dengan game mobil ganjen.


“Gimana kabar Umi sama Abahmu, Nak?” tanya Ibu Ratna. “Sehat semua kan?”


“Sehat, Bu,” jawab Alif tersenyum.


“Jangan kaget ya, Bu. Alif kalau bicara suka pendek-pendek.”


“Biar irit bahan bakar, ya,” jawab Ibu Ratna seraya tersenyum. “Sambil minum, Nak. Cicipin teh hijau asli daerah sini. Dijamin bisa bikin badan segar.”


“Bisa bikin orang cepat kaya juga,” Dara menyahut.


“Mbak ini sontoloyo,” kata Razka.


“Eh, tapi benar, loh. Bisa buat orang cepat kaya,” kata Dara tak mau kalah. Tetapi kemudian dia meralat, “Yang punya kebunnya.”


“Itu sih aku juga tempe.”


Kali ini Ibu Ratna menatap Alif dan berbicara kepadanya, “Dimaklumi ya, Nak. Anak-anak Ibu ini biar Cuma berdua tapi mereka berisik, seperti punya anak sepuluh. Begini contohnya.”


Lagi-lagi Alif hanya mengangguk dan tersenyum. Tak berapa lama, saat Dara dan Razka sudah berhenti saling adu mulut, Alif mulai membuka suara untuk mengutarakan niatnya. “Saya langsung saja ya, Bu. Soalnya saya harus cepat-cepat balik. Selain sudah malam, saya juga sedang ada urusan.”


“Ya, silakan, Nak. Monggo, monggo.” (silakan-silakan.)


“Niat kedatangan saya ke sini, saya ingin memberitahu kepada keluarga Ibu, bahwa saya sedang mempunyai hubungan dengan putri Ibu; Dara. Dan rencananya—kami ingin meresmikan hubungan kami supaya terhindar dari fitnah. Jika keluarga merestui, minggu depan, saya akan membawa Umi dan Abah ke sini untuk melamarnya.”


Alif mengangguk, “Tapi kali ini tolong jangan biarkan saya kembali pulang dengan tanpa membawa apa-apa.”


Lantaran ikut merasa terenyuh, Dara merangkul ibunya dan mengusap-usap punggungnya agar beliau merasa lebih baik.


Dara pikir, ibunya menangis karena mengingat kondisi ayahnya yang tidak bisa serta merta duduk di sini untuk menerima pinangan dari laki-laki yang mencintainya. Nyatanya tidak demikian. Beliau menangis karena merasa bersalah—rasa bersalah yang begitu besar terhadap pemuda ini dan juga putrinya sendiri karena telah salah memilihkan jodoh. Dan pada akhirnya, harus berakhir dengan tragis. Beruntung Dara adalah anak yang tegar sehingga dia tidak terlalu menangisi nasibnya yang kurang beruntung.


“Nak ...,” ucap Ibu Ratna dengan suara pelan. “Kali ini Ibu mewakili Ayah juga.” Beliau terlebih dahulu menoleh sekilas kepada putrinya, kemudian berujar kembali, “Kami sudah pernah menjodohkan Dara dengan orang yang salah. Jadi mulai sekarang, kami tidak akan pernah lagi mengekangnya. Kami membebaskan putri kami dengan siapa pun dia berhubungan. Tapi ....” beliau menjeda sesaat. “... Ibu tegaskan padamu. Dara, putri Ibu yang sekarang sudah tidak seperti dulu lagi. Dia sudah pernah menikah. Ibu berharap, jika kalian bersama nanti, tolong jangan pernah tanyakan hal ini.”


“Saya tidak mempermasalahkannya,” jawab Alif bersungguh-sungguh.


“Tolong maafkan kami ya, Nak. Dulu kami sudah sempat menolak lamaranmu. Masalahnya adalah ... dulu Dara sudah terlebih dahulu di lamar oleh Chandra, jadi ....”


Alif mengangguk. Sebenarnya dia tidak bermaksud untuk menyela pembicaraannya, namun entah kenapa pembicaraan Ibu Ratna terhenti di situ.


Namun begitu, Alif tidak sedang ingin membuat Ibu Ratna kembali melanjutkan ucapannya lagi. Dia berharap, kelak suatu hari nanti, Dara akan tahu sendiri bagaimana ayahnya dulu memperlakukannya, pada saat dia sedang berusaha untuk mendapatkannya dengan cara yang baik-baik.


Beberapa saat suasana menjadi hening, sebelum akhirnya Ibu Ratna kembali mengatakan, “Sayangnya Ayah sudah tidak seperti dulu lagi ... jadi bukan beliau yang menerima lamaranmu kali ini, Nak.”


“Tidak apa-apa,” Alif menjawab.


“Bu ... sudah, dong, Bu. Jangan sedih terus. Dara yakin Ayah pasti sembuh,” ucap Dara yang juga disahuti oleh Razka dan sama-sama berujar menenangkan.

__ADS_1


Selang beberapa menit kemudian, Alif masuk ke dalam kamar untuk meminta restu pada Hilman. Dan tampaknya beliau seperti kebingungan. Terlihat dari tatapannya—beliau seperti sedang berusaha mengingat-ingat siapa dirinya yang datang secara tiba-tiba dan meminta restu. Sungguh miris memang. Namun demikianlah kenyataannya.


Entah beliau mengingatnya atau tidak, setuju atau tidak. Alif tidak terlalu mempermasalahkannya. Yang penting saat ini, Dara sudah berhasil ia miliki.


Tatkala hari sudah semakin malam—dan tentunya tidak ingin tetangga Dara menduga-duga dengan kedatangan bujangan ini yang tengah mengapeli seorang janda, Alif memohon diri untuk pulang. Tetapi sesudah ia mengobrol lebih jelas tentang keluarganya yang akan datang kemari. Dan bila memang diperkenankan, Alif justru sekaligus meminta agar dinikahkan dulu secara siri supaya dia dapat membawa Dara ke mana pun untuk melakukan persiapan pernikahan.


Dara tahu itu bukan alasan yang sebenarnya. Tapi terus terang dia malah justru senang.


“Boleh ya, Bu ...,” ucap Dara membantu mengabulkan keinginan pacar tak tahu dirinya.


“Kamu kok koyo janda kegatelan ngene,” jawab Ibu Ratna tak sedang bersungguh-sungguh. (Kamu kok seperti janda kegatalan begini.)


“Buuuu! Please!” terdengar sangat memaksa.


“Ya sudah, kalau begitu mau kalian. Mungkin Alif ini memang jodohmu yang sebenarnya. Ibu doakan semoga minggu depan acara lamaran dan ijab kabulnya lancar. Tapi sederhana saja, ya.”


Mungkin jika tidak ada lagi rasa malu, Alif akan melompat, jungkir balik, atau salto-salto di tempat itu juga. Namun dia menyadari di sini bukanlah tempat yang tepat untuk melakukan hal yang sedemikian memalukan.


Malam itu, setelah dia menemui Jack untuk merampungkan semua urusannya, Alif segera menghubungi anggota keluarganya untuk mempersiapkan acaranya minggu depan.


“Cincinnya masih ada kan Umi?” tanya Alif ke seberang. “Umi yang simpan, kan?”


“Iya-iya, Umi masih simpan di brankas.”


“Untuk seserahannya terserah Umi.” Alif terdengar sangat antusias.


“Iya, nanti Umi dibantu sama Vita mencari seserahan yang paling bagus.”


“Sama belikan mobil juga, ya.”


“Apa?!” terdengar suara Umi Ros meninggi.


“Biar kelihatan orang punya, Umi. Mau balas dendam.”


“Tidak seperti itu juga caranya, anak pintaaaar,” kata Umi Ros tak setuju serta-merta menasihati, “cukup buktikan, bahwa kamu adalah laki-laki yang pantas untuk putrinya. Patahkan semua tuduhan Ayahnya yang pernah menilaimu kurang baik, begitu.”


“Hmmm.”


Kembali Umi melanjutkan, “Belum tentu juga Dara suka sama kejutan mobil yang tiba-tiba kamu belikan. Kalau tidak mau nanti bagaimana? Mubazir, Nak. Kalau pun dijual lagi, sudah pasti harganya turun parah. Nanti saja kalau sudah menikah kalian beli sama-sama, ya.”


“Umi cepat datang ke sini,” titah Alif tidak sabaran.


“Ya Tuhan ... sabar anakku! Iya-iya nanti kalau sudah beres semua urusannya, Umi datang ke sana sekeluarga.”


Begitu panggilan ditutup, Alif langsung merealisasikan niatnya yang tertunda, yakni jungkir balik?!


“Dara sayang, kita akan menikaaaaahhhh!”


***

__ADS_1


Undangan mereka ada di instastory aku, ya. @ana_miauw.


__ADS_2