Ternoda Di Malam Pengantin

Ternoda Di Malam Pengantin
Menjelang Pernikahan A&D


__ADS_3

Keluarga Al Fatir sedang dilanda sedikit keributan tatkala Umi Ros menyampaikan bahwa anak nakalnya mendadak minta untuk dinikahkan minggu besok. Harus. Tetap. Tidak boleh tidak.


Tak terelakkan, hingga Abah Haikal pun yang awalnya sangat mendukung, kini menjadi menduga-duga kepada putranya sendiri. “Apa dia berbuat macam-macam?”


Hanya mereka berdua yang mengobrol, sementara Vita dan Yudha memilih untuk menjadi pendengar lantaran takut salah berucap.  


“Dara tinggal bersama orang tuanya, Bah. Rasanya tidak mungkin kalau mereka melakukan hal berlebihan. Justru, mungkin mereka ingin cepat karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, salah satunya fitnah. Soalnya Dara sudah pernah menikah sebelumnya. Umi sangat maklum. Rumah mereka masih agak pelosok yang di mana tetangganya masih gemar bergunjing,” Umi Ros berusaha meluruskan pikiran suaminya yang sempat negatif.


“Ya sudah, kalau mau mereka begitu,” jawab Abah akhirnya berusaha percaya dengan ucapan istrinya. Semoga saja memang tidak demikian seperti yang beliau pikirkan. Sebab untuk anaknya yang satu itu memang mempunyai pergaulan cenderung agak meleset dibanding dengan kakaknya yang lebih suka berada di rumah; membaca buku. Namun begitu, tampak di matanya bahwa Alif masih berada di dalam batas.


Dalam hidup memang ada yang tidak bisa dikendalikan—Abah Haikal sangat paham akan hal itu, terutama adalah perilaku manusia lain selain dirinya sendiri. Alif memanglah putranya, tetapi beliau tidak bisa memaksakan jalan yang dia pilih. Telah gugur kewajibannya sebagai orang tua dalam mendidik—selebihnya, anak-anaklah yang akan bertanggung jawab dengan perbuatan mereka sendiri.


Keesokan harinya, Umi Ros mencoba berdiskusi dengan sanak saudara, meminta agar mereka berkenan hadir ke Jawa Tengah untuk acara pernikahan dadakan ini. Setelahnya, Umi Ros dan juga Vita menuju ke Mall untuk berbelanja seserahan yang kemudian akan di serahkan kepada jasa pengemasan parsel.


“Memangnya maharnya apa, Mi?” tanya Vita, perempuan yang usianya diperkirakan sama dengan Dara. Mereka saat ini sedang berada di outlet pakaian tengah memilah dan memilih beberapa pakaian yang juga akan di parsel.


“Uang katanya,” jawab Umi Ros. “Sesuai dengan tanggal pernikahan.”


“Oh, iya. Nanti sekalian digarap sama jasa pengemasan parsel,” Vita menanggapi. “Akhirnya adik iparku menikah juga ...,” ujarnya lagi sangat senang. “Sama Dara lagi.”


“Iya, Umi juga jadi tenang dan lega mendengarnya, karena akhirnya Alif memilih perempuan yang sederhana. Umi sempat takut Alif malah justru menikah sama model, artis atau selebgram. Karena dulu Umi pernah mendengar kriteria wanitanya harus cantik, pintar, percaya diri. Sampai Abah jodoh-jodohkan ke anak teman-temannya karena takut Alif salah pilih. Walaupun pada akhirnya, dia tetap menolak karena ....”


Vita tergelak. Bahkan tergelak sebelum Umi Ros merampungkan kalimatnya. Dia mengingat bagaimana Alif menggerutu padanya. Sebab salah satu perempuan yang akan dijodohkan untuk Alif beberapa tahun lalu bergigi tonggos, bertubuh gempal dan mempunyai kekurangan lain yang tidak bisa ia terima. Yakni manja, kurang mandiri dan kurang bisa melakukan banyak hal seperti yang ia harapkan.


Ya, setidaknya perempuan tidak terlalu merepotkan kalau hanya sekadar untuk membeli keperluan dapur. Minimal, bisa menaiki motor sendiri, demikianlah kiranya.


Bukan sedang menghina fisik, tetapi seharusnya anak orang berada itu biasanya lebih terawat dan tidak pula selalu menyalahkan laki-laki karena tidak bisa menerima perempuan seperti apa pun adanya. Padahal sudah sangat terang dijelaskan oleh sebagian besar ulama bahwa seorang perempuan (istri) wajib berhias dan tampil cantik di depan suaminya. Bukankah begitu?


“Apa, kamu ingat sesuatu, Nak?” tanya Umi Ros lantaran melihat menantunya tertawa.


“Ya, waktu itu Alif sempat cerita ke aku, Mi. Dia kapok dijodohkan sama Abah.”


Umi mengangguk setuju. “Umi pikir, siapa pun berhak memilih. Lagi pula kalau anaknya tidak mau, kami juga tidak akan memaksa. Kami takut menyesal di kemudian hari.”


Ketika semua yang dibutuhkan sudah mereka kumpulkan, mereka menuju ke kasir untuk melakukan pembayaran. Mereka pindah dari satu tempat ke tempat lainnya untuk merampungkan semua urusan. Mereka usahakan tidak terlalu lama memutari tempat tersebut mengingat Vita sedang tidak boleh terlalu lelah.


Hingga keesokan harinya, parsel-parsel yang sudah dibungkus sedemikian rupa pun tiba di rumah.


“Sudah hampir lengkap,” gumam Vita sembari meneliti satu-persatu barang-barang yang baru saja diturunkan ke teras. Lagi-lagi Vita yang paling disibukkan karena dialah yang paling tahu hal-hal semacam ini. “Kalau cincinnya sudah ‘kan Umi?”

__ADS_1


“Sudah, Nak. Umi yang menyimpannya. Tinggal menunggu hari saja.”


Namun tanpa di duga pada saat hari keberangkatan tiba, Umi Ros justru jatuh sakit karena kelelahan. Beliau sempat dibawa ke dokter dan celakanya—beliau tidak diperbolehkan untuk melakukan perjalanan jauh mengingat kondisinya yang belum pulih benar.


Kabar ini tentu saja membuat Alif menjadi tak karu-karuan. Bagaimana mungkin dia menikah tanpa disaksikan oleh Uminya sendiri!?


“Kenapa bisa begini, Bang?” tanyanya ke seberang dengan suara menyentak.


“Umi kelelahan, Alif. Kamu membuat acara terlalu mendadak dan membuat beliau sangat sibuk belakangan ini.”


"Kan aku bilang hanya menikah siri dulu. Memangnya apa saja yang membuat mereka jadi sangat sibuk?"


"Iya tetapi tetap saja. Orang tua tidak enak kalau datang alakadarnya. Semuanya mesti dipersiapkan secara matang."


Tiba-tiba dadanya terasa sesak. Dia sangat merasa bersalah terhadap uminya sendiri yang tanpa sadar telah ia korbankan demi kebahagiaannya.


“Kalau Umi tidak bisa datang. Aku juga tidak bisa melanjutkan acara ini. Aku ingin pernikahanku disaksikan oleh semua anggota keluargaku, tanpa kecuali.”


“Tolong jangan bertingkah, kami semua sudah bersiap-siap datang ke sana untuk acara pernikahanmu,” sambar Yudha tak setuju.


“Aku tidak mau!” semburnya.


“Maaf, Bang. Aku sudah tidak punya semangat lagi. Cukup lamaran saja. Ijab kabulnya nanti menunggu Umi sembuh,” kata Alif yang akhirnya menutup panggilan dengan sangat tidak menyenangkan.


Tatkala Alif sedang kecewa, dia langsung menghubungi Dara untuk menemuinya.


Seharusnya Dara tidak perlu mau diperbudak seperti ini oleh seorang laki-laki. Ya, seharusnya Aliflah yang menemuinya jika dia memang sedang sangat membutuhkannya. Namun demi Alif, maka dengan senang hati Dara rela melakukannya. Terlebih, saat ia mendengar suara Alif yang agak mengkhawatirkan. Dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan calon suaminya yang sudah benar-benar dia sayang.


“Hei, ada apa, Lif?” dia mengguncang tubuh Alif yang duduk dengan wajah amat kaku. “Coba kamu ceritakan sekarang!”


Lantaran masih bergeming membuat Dara kembali melayangkan pertanyaan, “Alif, ba, ta, tsa ... jangan diam saja, ayo ngomong. Aku datang jauh-jauh, loh. Kenapa? Ada apa? Tell me.”


Dara menangkup wajah Alif agar dia mau menatap matanya. “Bukannya kemarin kamu sangat senang karena kita akan menikah?”


“Umi sakit,” akhirnya Alif menjawab setelah beberapa saat kemudian.


“Ha? Umi sakit?” Dara mengulang. Dia tahu sebesar apa cinta Alif kepada Uminya, terlihat dari bagaimana cara Alif bermanja kepada beliau. Dan bagi pria itu, Umi Ros adalah surga pertama baginya. “Sakit apa?” kembali dia menanyakan.


“Kelelahan dan ini salahku.”

__ADS_1


“Jangan menyalahkan diri sendiri, sakit itu datangnya bukan dari kamu, Lif.”


“Tapi akulah penyebabnya yang terlalu grusa-grusu,” jawab Alif terdengar lirih. “Ra ... aku minta maaf. Sepertinya pernikahan kita ditunda dulu, kita hanya sekadar lamaran saja besok,” ujarnya lagi yang membuat Dara sontak kecewa. Wajahnya langsung berubah. Sebab walau pun sederhana, persiapan di rumahnya sudah sangat lengkap.


Tetapi apa mau dikata? Dara harus bisa memahami bahwa mungkin memang sudah jalannya harus seperti ini.


“Ya sudah, tidak apa-apa, Lif. Lagi pula siapa manusia yang mau sakit. Keluargaku juga pasti maklum,” kata Dara berusaha membesarkan hatinya walau dia sendiri pun tidak tahu bagaimana kecewanya ibunya nanti ketika dia mengatakan hal demikian. “Sekarang, gimana keadaannya?”


“Beliau ditinggal di rumah.”


“Hanya sendirian?”


“Sama perawat.”


“Ya sudah, yang penting kita doakan supaya Umi cepat sembuh. Biar kita bisa lanjut lagi.”


Hanya Dara yang bisa membuatnya tenang. Hanya Dara yang bisa membuatnya terhibur. Ya, hanya dia seorang. Lantas karena tak ingin melewatkan kesempatan, Alif segera meletakkan kepalanya di pangkuan Dara, agar wanita itu mau memanjakannya.


“Ini apa maksudnya?” tanya Dara bingung mendapati kepala di pangkuan.


“Mau dibelai,” jawab Alif tersenyum penuh arti.


Dara memutar bola matanya malas. “Sudah kubilang semua buaya itu gatal-gatal. Mana ada buaya yang mulus. Semua buaya itu buduk-buduk sepertimu, Lif.” Memang mulutnya cerewet dan terus mengomel, namun tangannya tetap bergerak memijat lembut kepala pria di depannya yang jelas-jelas sedang haus belaian.


“Aku cayang kamu. Apa kamu cayang aku?” lagi ... buaya buduk sedang merayu yang sontak membuat Dara hampir muntah nasi padang yang baru saja di makannya.


“Hoek!”


***


Bersambung.



 


Ini undangannya. Kasihan yang gak bisa buka akun IG, mungkin karena banyak sebab.


Tapi jangan lupa votenya yah....

__ADS_1


Selamat pagi WIT (Waktu Indonesia bagian Tertawa)


__ADS_2