
“Ka-kamu di sini?”
Dara jelas gelagapan mendapati Alif berada di depannya dengan senyum manis yang amat jarang sekali dia tampakkan. Celakanya, Dara tidak bisa menyembunyikan betapa dirinya terpesona akan wajah rupawan itu.
“Kaget?” tanya Alif.
Meskipun Dara menggeleng, tetapi Alif sangat paham karena tidak mungkin wanita ini akan berterus terang.
“Mau pesan apa Nona?” tanya Alif lagi seraya menyodorkan buku menu. “Khusus untukmu aku yang akan melayaninya sendiri. Sampai puas.”
“Kata-katamu yang terakhir itu terdengar ambigu.”
“Pikiranmu saja yang kotor,” kata Alif setelahnya. Kemudian meletakkan buku menu mewah tersebut ke meja karena Dara tak kunjung menerimanya.
“Jadi ini milikmu? Selamat, ya. Keren.” Dara memuji.
“Berapa nilai untuk tempat ini dari angka satu sampai sepuluh?”
“Delapan.”
“Kenapa harus delapan? Kenapa tidak sepuluh?”
“Karena pelayan di depanku terlalu kaku.”
“Harus lembut seperti apa yang kamu maksud? Aku sudah berusaha menampakkan senyumku sampai gigiku kering. Bedakan aku dengan kaum yang lemah gemulai, aku laki-laki.”
Dara mencebikkan bibirnya.
“Kamu tampak berantakan sekali,” Alif menilai penampilan Dara yang agak awut-awutan dan begitu lesu.
“Aku memang jelek, makanya tidak ada yang mau menyukaiku, termasuk suamiku sendiri pun,” Dara beranggapan sendiri.
“Aku hanya bilang berantakan, bukan jelek. Sakit hati sendiri kalau kamu tidak bisa membedakannya.”
“Aku pesan kopi paling enak di sini, tapi jangan yang terlalu mahal, ya.”
Alif mengangguk. Kemudian beranjak berdiri mendekati baristanya untuk menyuruhnya membuatkan pesanan.
Beberapa menit kemudian dia kembali dengan membawakan nampan berisi dua minuman unggulan Bistro ini.
Hanya khusus untuk Dara, dia membawakan sendiri minum itu, serta merta menemaninya duduk sekaligus. Biasanya tidak pernah.
Mereka pun kemudian berbincang. Lebih tepatnya Dara yang berbincang bicara karena Alif lebih banyak menjadi pendengar. Sesekali dia menjawab bila perlu, namun dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Mungkin hanya orang-orang yang peka sajalah yang dapat menyadarinya, sementara Dara tidak.
Dara memang tidak begitu paham apa arti cinta. Bagi perempuan seperti dia, cinta itu juga harus diungkapkan. Tidak cukup ditunjukkan dengan sebuah tindakan. Maka dari itu, dia sering salah memaknai kata cinta itu sendiri. Padahal jelas di depan mata, Alif tengah menunjukkan besaran cinta yang dia miliki.
“Kenapa kamu memilih menggeluti bidang ini, yang sama sekali bukan jurusanmu, Lif?" tanya Dara menjeda selama beberapa saat. "Bahkan belum tentu berhasil dari sekian M yang kamu keluarkan. Ini bukan sewa 'kan?”
__ADS_1
“Bukan.”
"Kamu itu aneh. Kalau aku jadi kamu, mending aku meneruskan apa yang ada. Untuk apa susah-susah?”
“Ada yang menghinaku dan meremehkanku. Aku ingin membuktikan kalau aku juga mampu berdiri sendiri tanpa bantuan atau embel-embel nama besar orang tua.”
“Ha? Siapa yang berani menghinamu?” tanya Dara segera.
“Ada, seseorang. Dia membuatku hancur. Membuat kepercayaan diriku hilang.”
“Idih, betapa kurang ajarnya orang itu. Kalau ada orangnya aku bisa tonjok! Kasih tahu aku siapa orangnya?”
‘Orang itu adalah ayahmu, kau tahu?’
“....”
“Seharusnya kamu melawannya!” kata Dara lagi menggebu-gebu.
“Kalau orang itu lebih tua dari kita?”
“Melawan itu bukan harus memukulinya,” jawab Dara lagi sambil menyesap minum. Kini matanya mengedar ke seluruh ruangan, dia tampak mengagumi tempat ini yang memang sangat nyaman dari segi apa pun. Mulai dari desain, pemilihan furnitur, elektronik, serta hiasan-hiasan antik. Terlebih, di dukung lampu-lampu yang menambah kesan estetik.
“Orang-orang bilang, di Bistro itu selalu menyediakan anggur, ya?” tanya Dara beberapa saat kemudian.
“Itu di luar negeri. Kalau di sini tidak ada,” jawab Alif. “Tapi kalau kamu mau, aku bisa sediakan.”
“Tidak meminumnya pun kamu sudah sesat.”
“Enak saja. Kamulah yang sesat!” Dara menarik buku menu dan melihat-lihatnya dengan saksama. Menu-menu makanannya cukup menggiurkan begitu pun dengan harganya yang sungguh tidak bersahabat dengan kantongnya.
“Aku menyesal datang ke sini,” ujarnya kembali meletakkan buku menu tersebut.
“Kenapa? Tidak ada yang cocok?” wajah Alif berubah karena merasa telah mengecewakannya.
“Harganya,” jawab Dara.
“Pesan apa pun yang kamu mau,” kata Alif kemudian. “Anggap saja ini tempatmu sendiri.”
“Baiklah, aku akan memesannya. Tapi lain kali pasti aku ganti.”
Alif memperhatikan Dara memesan makanan. Dia juga tampak mengamati perempuan itu yang tampak tersiksa batinnya. Dara mengatakan bahwa Chandra jarang memberikannya nafkah lahir sehingga dia terpaksa harus berhemat.
Hati Alif terenyuh dibuatnya. Oleh karena sebab itulah dia mengingat perkataan Hilman beberapa waktu lalu. Kenyataan ini sangat berbeda jauh dari apa yang beliau katakan. Bahwa Dara akan sangat terjamin dan berkecukupan bersama Chandra. Tetapi faktanya? Tidak sama sekali.
“Chandra itu lebih baik darimu dari segi apa pun. Dia itu seorang kemendur. Gajinya besar! Lebih dari sepuluh juta penghasilannya. Belum lagi berbagai tunjangan yang di dapatkannya per bulan. Memangnya kamu siapa, ha? Berani-beraninya mau meminta putriku."
Padahal jika dibanding-bandingkan, gaji Chandra sama sekali tidak apa-apanya dengan uang yang Alif miliki. Bahkan jika Hilman tahu, keluarga Alif sanggup membeli semua pabrik itu sekaligus. Namun sangat tidak mungkin Alif mengatakannya.
__ADS_1
Alif menduga, Hilman belum begitu mengenal siapa keluarganya. Mereka baru pertama kali bertemu di resepsi pernikahan Yudha yang bisa dikatakan sederhana. Pun dengan penampilan orang tuanya yang cenderung biasa saja, tanpa kemewahan. Mungkin dari segi itulah beliau menilai dan mempertimbangkan.
"Aku bersumpah tidak akan pernah memberikan putriku kepadamu! Karena aku yakin model pemuda sepertimu adalah pemuda-pemuda yang pemalas, yang hanya bisa menghabiskan harta orang tuanya!”
Beberapa kalimat pedas itu kembali tercetus membuat hati Alif luluh lantak. Dan untuk pertama kalinya Alif bersimpuh kepada manusia selain Tuhan dan orang tuanya, demi seorang wanita.
“Om, tolong saya, Om. Saya sangat mencintai Dara. Saya akan melakukan apa pun demi Dara. Saya akan membangun usaha sendiri tanpa bantuan orang tua agar Om percaya. Saya janji akan membahagiakan Dara seumur hidup saya, Om.”
“Tidak! Saya tidak akan pernah menyerahkan putriku, kau dengar? Putriku tidak pantas denganmu. Putriku akan bahagia dengan Chandra! Bukan dengan pemuda sepertimu, berandalan yang tidak jelas!”
“Om, tolong, Om. Saya mungkin—”
“Alah, pergi dari sini! Keluarga tukang poligami! Aku tidak percaya dengan kalian?!” potong Ayah Dara segera. “Aku sangat yakin kau juga akan memperlakukan putriku dengan cara yang sama!?”
“Abah saya poligami karena beliau punya alasan yang kuat. Biar saya jelaskan biar Om tidak salah menilai keluarga saya. Abah saya memang—Byurr!”
Mungkin kalau hanya sekadar kata-kata Alif masih bisa dengan mudah memaafkannya. Namun air minum yang baru saja dihidangkan oleh Ratna tersebut disiramkan ke tubuhnya hingga dia tersentak dan merasa begitu hina. Seolah dia manusia paling kotor yang tak layak untuk diperlakukan lebih manusiawi.
Beruntung minuman itu tidak terlampau panas. Karena jika begitu, mungkin kulitnya akan melepuh.
Dia menyembunyikan hal ini karena tak ingin Dara membenci orang tuanya.
Ibu Ratna memang mengetahui semua perkara ini, namun beliau juga menutupnya entah karena sebab apa. Tapi Alif kira beliau juga takut dengan suaminya sendiri yang diam-diam seperti dajal yang tak berperasaan.
Setelah kejadian itu, Alif sempat shock dan sakit selama berhari-hari. Keluarganya pikir, Alif sakit karena terlalu banyak keluyuran malam. Namun Umi Ros tahu meski Alif tidak menceritakan seluruhnya. Alif sudah memikirkan dampak apa setelah dia berterus terang.
Alif juga sempat membenci Yudha karena kisah poligaminya ikut menyeret serta namanya. Karena dialah, Hilman lantas menganggap dirinya juga model lelaki yang sama.
“Alif ... aku harus pulang. Sudah sore,” kata Dara beberapa jam kemudian setelah mereka puas mengobrol.
“Biar aku yang mengantarmu,” Alif menanggapi.
“Jangan, itu merepotkan.”
Alif tidak peduli. Meski Dara menolak, dia tetap mengambil kunci mobilnya. “Besok ada film bagus. Aku ingin mengajakmu menonton.”
“Menonton?” Dara mengulang. Tiba-tiba dia langsung mengingat saran dari Vita kemarin. Menonton bisa sejenak menghilangkan penat.
Ya, itu ide yang bagus. “Oke, aku mau,” jawab Dara akhirnya.
Tanpa Dara ketahui, Alif samar tersenyum. ‘Kamu sudah berhasil masuk ke perangkapku. Ini sesuai dengan rencanaku sebelumnya.’
***
To Be Continued.
__ADS_1
Biar mantep ngehalunya.