Ternoda Di Malam Pengantin

Ternoda Di Malam Pengantin
Maksudmu Chandra Selingkuh?


__ADS_3

Pagi itu Dara terbangun dengan perasaan sangat bahagia. Senyum menghiasi wajah di setiap aktivitasnya. Terlebih hari ini Chandra full berada di rumah. Hubungan mereka menjadi semakin erat. Bahkan bisa dikatakan mereka hampir melakukan hubungan intim karena saking dekatnya. Bisa dibayangkan sendiri seperti apa tingkah suami istri yang saling bercengkerama.


“Aku ingin seperti ini terus,” cicit Dara kepada Chandra yang kini sedang berada di dalam dekapannya.


“Pasti, Ra. Pasti kita akan seperti ini terus,” balas Chandra tak kalah manis.


“Kita jalan-jalan, yuk!” Dara mengajak Chandra keluar. “Bukankah kita belum pernah jalan bersama setelah menikah?”


“Memangnya mau jalan ke mana?”


“Mungkin bisa ke tempat-tempat makan atau pantai.”


“Kita ‘kan mau ke Singapura. Kita mantai di sana saja. Tapi kalau untuk sekadar makan di luar boleh.”


 “Oke, aku siap-siap sekarang, ya.”


Chandra mengangguk. Saat istrinya pergi ke atas pun, matanya masih mengekorinya. Beberapa menit kemudian Dara kembali dengan memakai dress hitam panjang cantik yang membentuk tubuhnya sehingga Chandra berulang kali memuji. Tak mau kalah, akhirnya Chandra mengganti pakaiannya agar lebih serasi dengan Dara. Mereka ngedate ke suatu tempat, yakni sebuah restoran mewah. Mungkin bisa dikatakan makan malam romantis.


Malam itu diakhiri dengan tidur saling memeluk satu sama lain—hingga paginya, bertemu dengan hari Senin. Dan Chandra kembali berktivitas seperti biasanya.


Keesokan hari ....


“Kak, Alif mana?” tanya Dara kepada waiters ketika dia baru saja tiba di Bistro A&D.


“Pak Alifnya kemarin pulang ke Jakarta, Kak.”


“Yaah ...” Dara begitu kecewa mendengar jawaban tersebut. Padahal dia sudah senang sekali karena bisa tiba di sini sepagi mungkin untuk menemui Alif. “Kenapa dia tidak mengabariku sama sekali?” gerutunya. Kemudian kembali bertanya kepada gadis itu, “Jam berapa Alif pulang?”


“Pagi kalau saya tidak salah, Kak. Soalnya waktu saya datang beliau sudah berangkat.”


“Kapan lagi balik ke sininya?”


“Waduh, kalau untuk itu saya kurang tahu,” gadis itu menjawab dengan senyum-senyum penuh arti. “Kakak ini pacarnya Pak Alif, ya?”


“Ha?” Dara terkejut.


“Soalnya kalau Kakak ke sini, Pak Alif selalu bilang, ‘orang itu tidak usah bayar’", ujarnya. "Ya sudah kalau begitu, saya pamit, Kak. Masih banyak pekerjaan.”


Kendatipun Dara ingin menyangkal, namun gadis itu sudah lebih dulu pergi meninggalkannya. “Hah, pacar? Pacar dari mana?” gumamnya keheranan.


Siang itu, Dara duduk di sana sendiri dengan wajah yang lesu. Kepergian Alif dari dirinya seperti telah kehilangan sesuatu yang amat berharga. Tak terukur bagaimana kesepian hatinya pada saat itu. Dia kembali ke rumah dengan membawa segumpal kekecewaan.


Dara: Cepat balik ....

__ADS_1


Sudah dua hari Dara mengirim pesan kepada Alif Noran. Tapi tidak kunjung ada balasan dari sana. Apakah Alif sakit? Jika pun marah padanya—lantas marah karena apa? Kenapa tiba-tiba menghilang seperti ini? batin Dara amat cemas sampai memimpikannya. Namun anehnya, mimpi itu bukan mimpi biasa, melainkan mimpi yang sangat erotis.


Sampai-sampai paginya Dara memutuskan untuk mandi wajib.


***


Sudah empat hari Alif berada di Jakarta untuk sekadar menemui orang tua dan keponakan-keponakan lucunya. Kini dia sudah harus kembali, bukan—bukan karena Bistro, karena Bistro kini sedang berada di tangan Jack dan teman-temannya. Tetapi lebih tepatnya rindu kepada wanita pujaan.


“Umi jadi ingin lihat ke sana,” kata Umi Ros yang sempat melarang anak keduanya pergi lagi. “Bagus ya, tempatnya? Umi lihat foto di sosial mediamu kemarin.”


“Lumayan. Kapan-kapan Alif bawa Umi ke sana.”


“Sampai-sampai berdiri semegah itu pun, kamu tidak memberitahukannya ke kami,” kata Umi keheranan. “Ya sudah, kamu hati-hati di jalan. Jangan lupa kabari Umi kalau sudah sampai.”


Alif mengangguk kemudian memeluk mencium kening uminya.


“Jangan dipikirkan omongan Abah barusan. Apa pun yang beliau katakan semata-mata karena ingin yang terbaik untukmu.”


“Aku tahu,” Alif menjawab singkat.


“Yudha menanyakan usahamu kemarin. Jadi Umi jawab biar dia tahu kamu tidak semata-mata keluyuran di sana.”


“Terserah Umi saja. Aku masih membencinya.”


“Jangan begitu, dia sudah berubah sekarang. Setiap orang pasti pernah keliru.”


“Yang penting kenyataannya tidak.”


Mencukupkan diri, Alif masuk ke dalam mobil dan mengendarai sendiri mobilnya. Sebelum roda mobil benar-benar berputar, dia masih melihat tetes air mata yang jatuh dari mata uminya meski cepat-cepat di halau dengan punggung tangan beliau. Kesakitan ini bukan hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, tetapi seorang ibu juga. Terlebih abah yang sudah tahu bahwa dirinya sedang berada dalam kesalahan.


Entah apa tujuan hidupnya sekarang, Alif sendiri benar-benar tidak tahu. Namun begitu, dia terlalu malas untuk memikirkannya.


Di dalam perjalanan, dia tersenyum melihat pesan masuk singkat yang dia baca berulang-ulang.


Dara: cepat balik ....


“Aku kembali hanya untukmu, Ra. Oleh karena itu kamu harus membalasnya.”


***


“Gimana Jack? Katamu hari ini Alif datang? Kamu bohong, ya?” tanya Dara gelisah. Sebab sudah satu jam datang ke sini, namun Alif belum tiba juga.


“Sebentar lagi mungkin,” jawab Jack santai. Mereka sudah saling mengenal semenjak beberapa hari yang lalu semenjak Alif tidak ada di sana.

__ADS_1


“Waktuku tidak banyak,” kata Dara lagi. Dia melihat jam di ponselnya. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul empat sore—sementara dia harus sudah berada di rumah sebelum Chandra pulang.


“Sabar. Kamu pikir Jakarta itu dekat? Kalau iya aku sudah bolak-balik setiap hari, bodoh.”


“Kamu kasar. Aku tidak suka.”


“Makanya jangan tanya-tanya terus. Berisik telingaku.” Tak lama kemudian Jack melihat mobil mewah yang bau saja terparkir di halaman. “Itu dia orangnya! Sana cium!”


Lantaran kesal, Dara mengentakkan kotak tisu ke meja hingga menimbulkan bunyi keras.


“Al, ini sudah ada pujaan hati yang menunggumu semenjak tadi,” ucap Jack ketika pria itu masuk dengan membawa kopernya.


“Kalau tidak tahu apa-apa mending diam,” sahut Dara kepada Jack yang hanya ditanggapi dengan senyuman sinis. Kemudian meninggalkan mereka berdua.


“Ada apa?” tanya Alif.


“Alif. Akhirnya kamu datang. Aku mengirimimu pesan kemarin, tapi tidak kamu balas. Aku sempat khawatir, kepikiran juga. Tapi syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Lain kali balas aku, ya.”


Alif mengangguk.


“Aku Cuma mau bilang. Aku mau pergi ke Singapura besok, jadi kupikir, aku harus memberitahumu. Kebetulan aku perginya lama.”


Kenapa harus memberitahu Alif? Dara sendiri pun bertanya-tanya. Tetapi entah kenapa dia ingin Alif tahu bahwa karena saran pria itu kemarin, telah berhasil membuat hubungannya dengan Chandra kembali dekat.


“Oh, ya. Kamu capek ya, nyetir sendiri?” tanya Dara. Keduanya duduk menghadap jendela-jendela kaca yang langsung menghadap ke arah luar jalanan.


“Terima kasih, ya. Karena kamu hubunganku sudah membaik kemarin. Karena sebab itu juga, Chandra mengajakku liburan ke luar negeri.”


“Aku tidak merasa berbuat apa pun. Jadi kamu tidak perlu berterima kasih,” kata Alif singkat.


“Terus terang aku senang Chandra berubah. Karena berarti kesabaranku tidak sia-sia. Tapi aku juga tidak terlalu paham, kenapa dia berubah secepat itu hanya karena aku mengikuti saranmu dan Vita. Kalau menurutmu bagaimana? Apa ini janggal?”


Alif menghela napasnya sejenak sebelum akhirnya dia menjawab, “Laki-laki kalau sudah menjadi nyinyir, memanis-maniskan bibirnya, bisa di duga dia tengah menyembunyikan keculasan atau dusta. Itu menurut pandanganku dari pengalaman yang sudah-sudah. Terserah kamu mau percaya atau tidak.”


“Tapi rasanya tidak mungkin Chandra seburuk itu. Aku sangat mengenalnya,” Dara menyela segera.


Alif mengedikkan bahu. “Aku bilang tadi, terserah kamu mau percaya atau tidak,” dia mengulang.


Dara lantas memikirkan suaminya. “Maksudmu Chandra selingkuh?”


***


To be continued.

__ADS_1


 


 


__ADS_2