Ternoda Di Malam Pengantin

Ternoda Di Malam Pengantin
Ditanyakan Soal Momongan


__ADS_3

Dara melihat wajahnya di depan cermin, lagi-lagi wajahnya sembab, matanya bengkak disebabkan oleh luka yang begitu parah. Ya ampun, serumit ini permasalahannya hingga mengubah dirinya yang semula ceria menjadi sosok yang murung.


'Ini seperti bukan aku yang sebenarnya.'


Bunyi telepon mengalihkan pandangannya. Dara segera melihat layar ponsel dan merasa sangat kebetulan sekali karena yang menghubunginya adalah sahabatnya, Vita.


“Syukurlah kamu menghubungiku, Ta,” ucap Dara begitu panggilan terhubung.


“Maaf aku jarang menghubungimu, Dar. Aku harap kamu maklum. Kamu baik-baik saja ‘kan? Kenapa suaramu serak begitu.”


“Aku butuh kamu, Ta. Aku butuh kamu,” ujarnya di sela isak.


“Aduh, aduh ... bagaimana ini, ya? Aku tidak bisa datang sekarang.” suara di seberang terdengar panik.


“Itu ucapan yang bodoh. Lagi pula mana mungkin aku memintamu untuk datang kemari!” Dara agak berang.


“Tapi kamu bilang sedang membutuhkanku. Masih di masalah yang kemarin?”


“Iya,” jawab Dara. “Masalahnya Chandra membuatku bingung, Ta. Dia menjauhiku, tapi juga tidak mau menceraikanku. Hubungan kita jadi tidak jelas.”


“Alasannya?”


“Karena orang tua. Bagaimana perasaan mereka kalau anak-anaknya yang belum sebulan menikah ini, sudah ... cerai,” jawab Dara dipelankan di akhir kalimat. Terang saja lidahnya kelu saat mengucap kata terlarang itu. Tapi siapa sangka dirinya mungkin bisa saja mengalaminya kalau terus-terusan seperti ini.


“Kamu bisa menggugatnya, Dar. Kalau memang keputusanmu sudah bulat dan sudah kamu pikirkan matang-matang. Tapi satu hal yang harus kamu tahu. Kamu harus siap mendengarkan berbagai macam omongan buruk orang-orang tentang kalian berdua.”


“Tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, Dar. Aku sayang sekali sama Chandra ....”


“Ya sudah, kalau kamu maju mundur seperti ini, jalani saja sampai capek! Sebab mau bagaimana pun niatmu ingin mengambil keputusan, kalau masih buta sama cinta, semua perkataanmu itu cuma omong kosong.”


“Aku harus gimana? Kasih aku tips supaya aku kuat. Sekuat kamu waktu di duakan oleh suamimu, Ta.”


“Aku punya jagoan yang hebat waktu itu. Kamu masih ingat?”


“Ya, aku masih ingat. Ada buntelan bayi diperutmu waktu itu, ya. Oh my God ... aku jadi kangen sama Rayyan.”


“Anaknya sekarang lagi di sekolah.”


“Kamu sudah bahagia sekarang, ya, Ta?”


“Awalnya menderita dulu ‘kan, Dar? Mungkin pernikahanmu juga sedang di uji sepertiku dulu. Tapi aku yakin setelah ini kamu juga akan bahagia. Ini hanya soal waktu.”


“Apa aku yang kurang sabar?”


“Mungkin bisa begitu. Tapi yang penting tetap berusaha memperbaiki semampu kamu.”


“Apa ada solusi untukku?”

__ADS_1


“Jangan karena masalah ini lantas kamu jadi terus memikirkannya. Kamu juga berhak bahagia.”


“Caranya?”


“Tetap lakukan yang terbaik untuk dirimu sendiri. Cobalah sesekali kamu healing, makan-makanan enak, perbanyak baca buku, menonton film-film yang kamu sukai, terus sempatkan olahraga biar semakin seksi hehehe. Barangkali ... ya, barangkali Chandra butuh Dara yang berbeda. Ah, kamu pasti tahu maksudku. Mungkin kamu bisa berpenampilan lebih nakal.”


“Vita, kamu ada-ada saja. Itu terdengar menggelikan!” Dara tertawa kemudian.


“Nah, begitu, dong. Aku senang bisa mendengarkanmu tertawa lagi. Dibawa santai saja, okay?”


“Thank you, Ta.”


“Sudah, sekarang kita VC ya. Kita bisa ngobrol sama Mauza sama Umar. Biar kamu tambah happy.”


Dara mematikan panggilan. Dan terhiburlah dia melihat anak-anak Vita yang lucu. Mauza dan Umar saling berebut untuk bisa berbicara dengan Tante kesayangan mereka.


***


Dara membuka matanya pada saat mendengar klakson mobil berbunyi di depan rumahnya.


“Siapa, ya? Tumben ada tamu,” gumamnya seraya berjalan membuka pintu yang ternyata adalah Mama Dwi; Mama mertuanya. Beliau datang sendiri dengan menaiki taksi online.


“Mama? Apa kabar?” tanya Dara menyambutnya dengan uluran tangan dan juga cepika-cepiki seperti biasanya.


“Mama baik. Kalian apa kabar?” balas beliau sambil mengulurkan buah tangannya berupa buah-buahan.


“Laras lagi sibuk tugas, biasalah. Kenapa kalian tidak pernah main ke rumah Mama?” tanya Mama Dwi sangat heran. Padahal rumah mereka tidak begitu jauh. “Chandra sibuk, ya?”


Nyatanya memang benar, Chandra sibuk dengan kekecewaannya yang tak kunjung selesai.


“Bisa dibilang begitu, Ma. Ada masalah juga di pabrik kemarin.”


“Oh, iya, Mama tahu. Yang kebakaran itu?”


“Iya.”


Keduanya masuk ke dalam. Mama Dwi duduk di ruang tamu sambil melihat-lihat ke sekeliling rumah anaknya. Dan Dara sendiri masuk untuk meletakkan buah tangan Mama mertuanya sambil membuatkan minum.


“Mama pakai repot-repot segala bawa buah. Dara juga punya, Ma. Kalau mau datang—datang saja tidak usah membawa apa-apa,” ucap Dara begitu dia kembali.


“Tidak apa-apa, hanya buah. Mama tidak merasa kerepotan,” kata Mama Dwi kemudian menatap menantunya agak aneh. “Kamu agak kurusan, ya?”


“Oh, iya?” Dara refleks melihat tubuhnya sendiri. Yang Dara kira masih sama. “Dara pikir biasa saja.”


“Atau lagi isi, ya?” tanyanya lagi beranggapan.


Muka Dara berubah menjadi tidak enak. Inilah salah satu pertanyaan mengerikan dari mertua ketika seorang perempuan sudah menikah.

__ADS_1


“Belum, Ma,” jawab Dara berusaha memaksakan senyum. ‘Bagaimana mau hamil, kalau Mas Chandra tidak mau menyentuhku?’


“Haidnya lancar kan?”


“Lancar, Ma.”


“Perbanyak makan buah, ya? Atau mau check ke rumah sakit, biar Mama antar?”


‘Yang harus dicek itu kejiwaan Mas Chandra, Ma!’ batin Dara amat dongkol kepada suaminya. ‘Coba diperiksakan, barangkali otaknya agak geser karena kelakuannya semakin hari semakin aneh!’


Segera Dara menggeleng. “Sepertinya belum perlu, Ma. Lagi pula kami masih pengantin baru, mungkin memang belum dikasih.”


“Benar juga apa katamu. Kalian bisa puas-puaskan pacaran dulu kalau begitu. Soalnya kalau sudah punya anak pasti bakalan sulit curi waktu untuk berduaan. Seperti Mama dulu. Baru nikah langsung punya anak. Papa hawanya cemberut terus setiap hari karena kurang diperhatikan.”


Mama Dwi tertawa setelah membicarakan pengalamannya. Begitu juga dengan Dara.


“Mama ke sini Cuma mau main-main saja. Ya—maklumlah, namanya orang tua, pasti ingin tahu kabar anak-anaknya.”


“Iya, Ma. Justru Dara yang merasa tidak enak. Seharusnya kami yang datang ke sana, bukan malah sebaliknya.”


“Tidak masalah ...” Mama Dwi membelai rambut Dara dengan gerakan sangat sayang. Beliau memang sangat menyayangi Dara dan memperlakukannya seperti anak kandungnya sendiri.


Namun begitu, Dara tetap was-was lantaran mereka belum tahu serapuh apa hubungan pernikahannya saat ini. Membayangkan itu membuat Dara menjadi merinding. Kelak bencana apa yang bakal menimpa mereka?


Akankah hubungan mereka dan juga dua keluarga akan tetap sama seperti sekarang ini?


Pastinya tidak bukan?


Tidak sampai sore Mama Dwi bertamu di sini. Beliau mengatakan banyak pekerjaan rumah yang belum di selesaikan. Sangat tidak mungkin anak perempuannya akan mengerjakannya. Bukan suatu hal yang aneh atau mengejutkan, semua tahu; bagaimana model anak jaman sekarang yang lebih gemar menyibukkan diri dengan setan gepengnya daripada membantu orang tua.


***


Karena masih sakit hati karena pertikaian kemarin, Dara menjadi sering melamun. Banyak kecerobohan-kecerobohan yang dilakukannya oleh karena sebab itu. Salah satunya, tangannya yang luka akibat terkena air panas saat menuangkannya ke dalam gelas. Tetapi lagi-lagi, Chandra memang buta dengan keadaan istrinya.


Merasa diperlakukan sedemikian buruk, Dara sekarang menjadi sering pergi keluar rumah untuk sekadar menghilangkan penat. Di suatu tempat (Cafe/restoran atau sebagainya), dia sering berpura-pura sibuk dengan laptopnya seolah sedang mengerjakan sesuatu. Padahal hanya membuka-buka sosial media untuk mencari lowongan pekerjaan atau mungkin bermain game—ya, kalau untuk yang ini sepertinya lebih sering.


Namun karena asal singgah, Dara sampai tidak menyadari bahwa tempat yang dia duduki saat ini adalah milik seseorang yang ternyata sangat dia kenal.


“Selamat datang di tempatku. Bistro A&D.”


Sapaan itu membuat Dara menoleh dan terpana kepada sosok seorang pria tinggi nan gagah dengan ciri khas bulu-bulu halus di sekitar dagunya. Tubuhnya yang harum membuat ia merindukan sesuatu, seperti semacam sentuhan. Dara tidak tahu jenis parfum apakah yang sedang Alif pakai, tetapi rasanya begitu memikat. Penampilannya yang juga sangat rapi membuat Dara baru menyadari bahwa ternyata—Alif setampan itu sampai-sampai membuat matanya tak berkedip.


***


Bersambung.


Ada yang bisa menebak, A&D itu nama inisial siapa?

__ADS_1


__ADS_2