Ternoda Di Malam Pengantin

Ternoda Di Malam Pengantin
Katanya, Sih, Malam Pertama


__ADS_3

Dara menggelengkan kepala setelah melihat keadaan rumah yang baru saja di tempati banyak orang. Semua ruangan dalam keadaan kotor, oleh karenanya, dia terlebih dahulu menyapu bersih ruangan agar tampak lebih nyaman dilihat.


Ia tahu, Alif sudah pasti tidak akan melakukannya. Karena selama ini sebagian besar Jacklah yang mengurus, Alif hanya bergerak untuk mencuci pakaiannya sendiri. Namun itu pun jarang karena dia lebih sering memasukkannya ke jasa laundry.


Bukan tanpa sebab dia memasukkannya ke dalam sana. Alif hanya merasa pakaiannya tidak bisa dicuci kasar di dalam mesin. Dan Dara tahu betapa mahal harga-harga pakaiannya bila dia perkirakan melalui label merek yang tertempel pada pakaiannya.


“Bagaimana acara tadi, Lif? Apa kamu gugup?” tanya Dara kepada pria di sampingnya yang sekarang mengganti Channel televisi, mencari-cari acara yang menurutnya menarik.


“Sedikit.”


“Apa kamu senang?”


“Tidak perlu ditanya.”


“Terus rencana kita selanjutnya bagaimana?”


“Ya bikin anak.”


Dara memutar bola matanya malas, “Kalau itu sih sudah pasti, aku juga tahu. Maksudku rencana kita ke depannya, setelah ini.”


“Rumah kita di Jakarta, bukan? Jadi kita akan pindah ke sana.”


“Tapi Ayah masih sakit.”


“Bicarakan dulu dengan mereka nanti.”


“Lif ... terus terang aku belum bisa meninggalkannya. Lagi pula aku sudah melamar kerja. Tinggal menunggu panggilan.”


“Kamu bisa kerja di sana. Nanti bisa dikasih posisi lumayan kalau kamu mau. Tidak pun tidak masalah,” jawab Alif tidak ambil pusing.


Dara meredup kecewa. Dia sama sekali tidak tega meninggalkan ayahnya pergi jauh. Terlebih saat ini kondisinya sedang dalam keadaan tidak baik. ‘Aku harus bagaimana?’ batin Dara memikirkan. Tetapi dia juga tidak mungkin menolak kehendak lelaki yang kini sudah berstatus menjadi suaminya karena trauma dengan pengkhianatan yang di alami oleh mantan suaminya dulu.


“Lif ...,” kembali Dara memanggil.


“Apa lagi, Ra ...?” tanya Alif heran karena Dara sudah berapa kali memanggil. “Kenapa?”


“Kalau aku boleh jujur, aku trauma karena pernah dikhianati. Aku takut kamu juga melakukan hal serupa,” ucapnya membuat Alif sontak menoleh.


“Sorry, memangnya aku cowok apaan!”

__ADS_1


“Iya mana tahu, semua lelaki juga sering bilang begitu. Termasuk Chandra juga dulu.”


“Sudah kubilang aku bukan buaya biasa.”


“Kamu malah bercanda. Aku serius. Aku ini takut kamu ....”


Alif sontak menyela, “Aku cuma tergila-gila sama kamu, burung Dara. Kamu tidak perlu khawatir.”


“Apa kesepakatannya kalau kamu ingkar janji?”


“Semua uangku buat kamu.”


“Kalau hanya itu saja aku belum percaya! Lagi pula aku juga bukan orang yang gila uang.”


“Ok, sekarang aku serius. Giliran aku bertanya, kalau aku mempunyai kesalahan, sebesar apa pun itu—apa kamu mau memaafkannya?”


“Aku akan memaafkannya, asalkan bukan perselingkuhan,” jawab Dara mantap.


“Seberat apa pun itu?” Alif kembali mengulang.


“Apa pun. Asalkan jangan pengkhianatan. Kalau memang benar begitu aku tidak segan-segan menggugatmu di pengadilan.”


“Namanya juga trauma, ya apa saja. Biasanya laki-laki kan begitu, kasih yang manis-manis dulu di awal. Nanti di banting di belakang.”


“Aku juga begitu nanti, manis-manis di awal, supaya nanti bisa dipuas—”


“Izh!” Dara langsung menutup mulut Alif dengan kedua tangannya. “Apa pula yang kamu bahas? Jorsek.”


“Aku akan membuatmu percaya kalau tidak semua laki-laki itu sama,” kata Alif setelah bungkaman di mulutnya terlepas.


Dara tak menjawab, dia masih ada di antara kedua rasa itu. Percaya dan tidak percaya. Karena memang sudah dia tekadkan untuk tidak terlalu percaya kepada lelaki mana pun semenjak dia ter khianati.


“Aakhp!” Lantaran lengang, Dara sampai tidak menyadari bahwa Alif kini sudah berada di atasnya. Ketidaksiapan dirinya membuat Dara terkejut dan memekik tertahan.


“Jangan berisik nanti tetangga sebelah bisa mendengar teriakanmu.” Alif sempat menutup mulut Dara sejenak dengan satu tangannya. “Rumah ini tidak terlalu kedap suara. Nanti dikira lagi di mutilasung.”


“Kalau mau apa-apa itu jangan serba dadakan, aku kan kaget,” Dara berujar dengan napas yang sesak karena dirinya ditindih oleh tubuh Alif yang berat. “Tahan badanmu sedikit bisa kan, Lif?” ujarnya. “Aku keberatan.”


Alif menahan tubuhnya dengan kedua tangan untuk bertumpu. Namun matanya enggan terlepas dari sosok wanita yang kini masih berada di bawahnya. Dia memang manis sekali, apalagi bibir itu, hingga ia tak kuasa membiarkannya. “Apa kita bisa mulai sekarang?”

__ADS_1


“Mmmm ...” Dara sedang memikir-mikir, berniat untuk meledeknya agar Alif kesal. “Aku sedang datang bulan.”


“Jangan bercanda kamu. Aku tidak bisa bercanda kalau untuk soal ini.” Dia menggesek-gesekkan bagian tubuhnya yang sudah membeku.


“Apa itu, Lif?” Dara tertawa setelah bertanya demikian.


Namun Alif tak menjawab dan justru mengatakan hal lain, “Aku akan menagih janjimu kemarin malam.”


Dara pura-pura tidak tahu, “Janji apa?”


“Jatah malam paling spesial.”


“Alif!” Dara menyeru karena tangan Alif sudah mulai menyentuh bukit merah jambu miliknya. “Apa kamu akan menagihnya di sini?”


“Untuk sekarang kita ke kamar. Tapi kalau sudah terbiasa, ke depannya aku akan melakukannya di mana pun aku mau. Di semak-semak sekali pun,” katanya sambil tersenyum menyeringai.


“Itu gila!” sembur Dara tak bisa menahan diri untuk kembali tertawa. Dan dia tawanya semakin keras karena saat ini Alif tengah menggelitiki perutnya tanpa ampun. “Kamu gila, Lif. Kamu benar-benar gila haha .... hihihi, Alif ... Alif! Stop please!? You crazy!”


“Kita lanjut di dalam,” kata Alif.


Kini Dara merasakan tubuhnya melayang. Tangan-tangan kuat itu memeluknya dan membawanya ke sebuah pembaringan setelah sebelumnya pria itu menutup pintu-pintu.


Berdebar-debar hatinya melihat sosok gagah, tegap dan muda yang tengah melepas pakaiannya. Selanjutnya, Dara sudah tak ingat lagi apa yang terjadi kepada mereka, apa yang mereka bicarakan dan apa yang mereka tertawakan. Sebab tahu-tahu dia di angkat lagi dan di letakkan di pangkuannya. Dipuja dengan sentuhan-sentuhan.


Beberapa saat kemudian, dia kembali dikuasai dan kembali berada di bawah kungkungannya. Semenjak saat itu ia merasakan ranjang mulai bergerak. Bergerak cepat. Lebih cepat.


“Jangan pernah berhenti ...,” ucap Dara membuat Alif tersenyum menang.


“Aku tidak akan mengecewakanmu.”


Ah, Dara sudah tidak peduli lagi dengan rasa malu. Yang dipikirkannya saat ini adalah sebuah kepuasan.


Dia merasa ada sesuatu dalam diri, seperti sebuah desakan yang begitu memuncak, menggunung, melambung dan mengaduk-aduk aliran darahnya, sehingga tiba saatnya sesuatu meledak dari dalam diri membuat dia merasa sangat lega.


Ada sejenak mereka berhenti melakukannya saat lelah. Namun hanya untuk mengembalikan energi, karena tak lama setelah itu hasrat keduanya kembali menggelegak. Lebih-lebih menggelegak daripada sebelumnya.


***


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2