
Prakk!
Ponsel terjatuh begitu panggilan di putus. Sontak tubuh Dara gemetar dan lemas. Dalam keadaan demikian, dia berusaha meraih ponselnya lagi dan mencari-cari kontak nomor ponsel Vita.
Namun setelah ke sekian kali memanggil, panggilannya tak kunjung di angkat oleh wanita itu. “Kamu ke manakan ponselmu, Ta? Aku butuh kamu sekarang.”
Merasa gemas dan tak sabar lagi, Dara memaksakan dirinya menuju ke rumah mertuanya. “Untung rumah mertua dekat. Coba kalau di Kepulauan Seribu. Aku harus menyeberang dulu pakai kapal pesiar.”
“Mbak Dara?” tanya security begitu melihat Dara datang. “Eh, kenapa atuh, kok nangis?”
“Aku mau masuk,” jawab Dara tanpa ada hubungannya dengan pertanyaan security barusan. Dia tidak ingin terlalu lama berbasa-basi dengannya karena sedang dalam keadaan genting.
“Silakan. Tapi Mbak Vitanya lagi mengantar Kaka Ray sekolah. Umi Ros sama Abahnya juga sedang pergi ke ruko.”
Dara sontak menghentikan langkahnya, “Kenapa bisa?” tanyanya menyentak dan tentu saja sangat jengkel mendengar kabar tersebut. “Kenapa semua orang pergi? Ha? Aku butuh mereka!”
Pak security bingung karena tiba-tiba menjadi sasaran. “Aduh ... Mbak Dara. Mana saya tahu. Tugas saya mah menjaga rumah dan membukakan pintu.”
Melihat Dara yang semakin terisak membuat security menjadi kebingungan. “Ini teh kenapa atuh, kenapa semakin kencang tangisannya, aduh! Jangan nangis begini. Apa yang bisa saya bantu, Mbak?” Sembari terus menggaruk kepalanya yang tentu saja tidak merasa gatal sama sekali.
“Alif mau di operasi ... dia ada di Semarang sekarang. Aku harus minta tolong ke siapa?” kata Dara yang seketika membuat mata Bapak tua itu membeliak.
“Di operasi?!”
“Kena usus buntu.”
“Ya sudah, ya sudah. Mbak Dara tenang dulu, duduk dulu di dalam. Saya hubungi Umi Ros sekarang supaya bisa cepat pergi ke sana.”
Dara mengangguk. Dia duduk di dalam dan menenangkan dirinya. Beruntung ada Bibi pada saat itu yang membantunya menenangkan dan memerikannya minuman hangat agar Dara merasa lebih baik.
“Apa usus buntu itu bisa sembuh, Bi?” tanya Dara konyol.
“Pasti sembuh. Asal makannya di jaga,” jawab beliau tersenyum karena melihat Dara sepanik itu. “Mas Alif memang terkenal suka makan sembarangan. Makanya Uminya suka marah. Merokoknya juga banter.”
Dara tertegun. Selama ini dia tak terlalu mengenal dan memahami Alif dengan baik apa pun kebiasaannya. Dan ucapan Bibi tadi seakan menjadikan tamparan keras untuknya karena belakangan ini ia tak terlalu memperhatikan perut suaminya selain perutnya sendiri. Bahkan dia juga membiarkan Alif sengsara sendirian dengan segala kepayahannya di samping ia sibuk bekerja. Padahal ia tahu bahwa pria seperti dia tidak pernah melakukan pekerjaan rumah. Seharusnya—ya, seharusnya dia tak demikian. Seharusnya dia tetap melakukan tugasnya di rumah karena kewajiban tetaplah kewajiban. Tidak ada sangkut-pautnya sama sekali dengan yang namanya dendam.
Memang benar Alif mempunyai kesalahan besar yang sangat menghancurkan hidupnya. Namun terlepas dari caranya yang konyol itu bukankah untuk membawanya kepada kehidupan yang lebih baik di masa sekarang?
Anggaplah dia telah mengangkatnya dari jalan pelosok yang sempit untuk di pindahkan ke jalan raya lebar dan beraspal. Yang kemudian akan memudahkannya menuju ke tempat yang di inginkan dan di cita-citakan.
__ADS_1
Dan masa lalu apakah bisa ia ulang dan ia perbaiki? Tentu saja tidak bukan?
Sejenak ia menyesali perbuatannya tersebut.
Namun kini lamunannya buyar pada saat ia mendengar mobil Umi Ros dan Abah berhenti di depan rumah. Mungkin karena panik, sehingga beliau melupakan salam dan langsung berjalan cepat ke dalam menemui menantunya.
“Dara, Dara? Ada apa ini?” tanyanya dengan napas yang memburu.
“Alif kena usus buntu, Mi,” jawab Dara kembali menggenang.
“Ya Allah, itu anak. Masih muda sudah kena usus buntu. Ada—saja masalahnya. Semoga jantung lanjut usia ini bisa kuat lihat anak nakalnya yang hampir bikin kejutan setiap hari.”
“Hush, jangan bicara sembarangan,” sergah Abah tak setuju dengan ucapan istrinya barusan.
“Habis macam mana lagi, Bah? Sesekali coba dia kasih kabar baik untuk kita.”
“Namanya juga musibah, tidak ada yang tahu.”
“Abah tolong hubungi Jack sekarang. Sampaikan ke Jack kalau Alif harus di operasi, operasi saja. Putuskan segera. Jangan tunggu kita datang,” titah Umi Ros. Dan Abah Haikal langsung melakukannya.
“Nak, sepertinya kita tidak bisa menunggu Vita atau Yudha pulang. Sebaiknya kita berangkat saja sekarang. Nanti biar sopir Umi yang menyetir,” kata Umi kepada Dara.
“Ya, Dara siap-siap sekarang, Mi,” jawab Dara beranjak berdiri dan kembali ke rumah untuk memasukkan beberapa setel pakaian ke dalam tas. Dara pikir jarak dari rumah sakit dan ke rumah ibu cukup dekat, jadi mungkin dia bisa mengambilnya dari sana jika memerlukan barang yang lain.
***
“Kenapa Alif buru-buru sekali ke sana, Nak? Sampai tidak mau pamit ke Umi. Biasanya kalau pergi jauh dia selalu ke rumah dulu, ‘Umi pamit mau ke sana, atau mau ke sini’. Sekarang tahu-tahu dia sudah sampai di sana. Sedang sakit pula!”
“Alif bilang Jack mau pulang,” Dara menjawab singkat sembari menahan pening yang mendera.
“Sakit buntu sampai operasi itu berarti sakitnya sudah lama ya, Bah. Tapi kok Umi baru tahu? Apa selama ini tidak pernah diperiksakan? Kalau sakit usus buntu itu biasanya kan sakitnya sering. Ada pengalaman dari teman Umi. Sakitnya sama seperti Alif, Cuma dia tidak sampai di operasi karena ketahuan lebih cepat.”
“Alif takut sama dokter,” jawab Abah singkat. Seketika semua yang ada di dalam mobil tertawa lepas. Lantas Abah pun menceritakan ketika Alif kecil. Dia sangat takut dengan orang yang berseragam dokter apalagi jarum suntik. Sebab dia pernah trauma karena melihat benda tajam saat dia sedang di khitan. Bahkan saking takutnya Alif sampai dipegang oleh orang banyak. Tak hanya sampai di situ, selepasnya dia sangat marah dan terus menangis sepanjang malam karena tidak tega melihat benda berharganya yang telah hilang sepucuk.
“Badan saja yang besar, sama dokter saja takut,” kata Umi Ros kemudian setelah Abah selesai berbicara. Namun kini beliau menoleh ke sampingnya karena Dara seperti tak tertarik sedikit pun dengan obrolan mereka. Dilihatnya anak itu lesu dan terus menatap ke bawah seperti sedang menahan sesuatu.
“Kamu sakit, Nak?” tanya Umi Ros kemudian. Menyentuh dan memegang tubuhnya yang dingin, tapi berkeringat.
"Pusing kali, Mi," Abah menyahut.
__ADS_1
Namun belum sempat Dara menjawab, perempuan itu sudah lebih dulu membekap mulutnya.
“Ya Allah, Nak!” Cepat-cepat Umi Ros mengambil plastik yang memang selalu terselip di jok mobil depan beliau duduk.
Abah yang duduk di depan sontak ikut panik dan meminta sopir untuk menepikan mobilnya sejenak ke rest area terdekat.
Sesampainya di sana, Umi Ros mengantarkannya ke toilet dan membelikannya minuman hangat.
“Sudah lebih baik?” tanya beliau ketika mereka duduk di tempat makan. Hanya mereka berdua karena Abah dan sopirnya berada di musala, sekalian melakukan ibadah. “Habiskan minumnya ya, supaya tubuhnya terasa hangat. Kamu pasti kedinginan tadi suhu AC-nya di mobil terlalu dingin. Atau Dara mau makan apa biar Umi belikan?”
“Belum lapar, Mi ...,” lirih dara menjawab.
“Sedikit saja, Nak. Supaya perutmu ada isi.”
“Kabar Alif sekarang gimana ya, Mi? Aku khawatir.” Dara justru terus mengkhawatirkan Alif. Pikirannya tak bisa teralihkan oleh keadaan suaminya sekarang entah bagaimana keadaannya. Sebab sedari tadi Jack tak membalas pesannya lagi. Mungkin saja pria itu tengah marah dengannya saat ini karena perkara mematikan telepon. Ah, memang susah berbicara dengan orang-orang bersumbu pendek seperti Jack. Dara pun heran. Bisa-bisanya Alif berteman dengan orang yang sama seperti dirinya. Atau mungkin karena satu frekuensi jadi nyambung? Entahlah.
“Dia aman di tangan dokter, tidak perlu terlalu dipikirkan, nanti malah kamu yang drop. Atau Dara memang sedang isi sekarang, makanya Dara sakit?” tebak Umi Ros. Mereka sesama perempuan, jadi amatlah paham dengan keadaan ini. Ya, tentu saja. Apalagi seusia beliau yang sudah pasti sangat berpengalaman.
Tatkala Umi Ros menanyakan demikian, Dara langsung menunduk. Dia seperti takut untuk mengatakan yang sebenarnya.
“Loh, kenapa malah jadi sedih Cah ayu?" ujarnya sangat lembut dan hati-hati lantaran takut menyinggung. Perempuan yang sedang dalam keadaan seperti ini biasanya cenderung lebih sensitif. "Cerita sama Umi, ya. Di sini Cuma ada kita berdua. Abah kan jauh sama kita.”
Tak berapa lama, Dara menjawab dengan lirih, “Dara telat bulan ini, Mi. Kemarin sudah cek sendiri, dan hasilnya positif.”
“Alhamdulillah Ya Rabb,” kata Umi Ros sangat senang karena akhirnya bisa mempunyai cucu dari anak keduanya.
“Tapi ....” Dara ragu untuk melanjutkan kata-katanya. Namun genggaman lembut di tangannya saat ini membuat dirinya akhirnya merasa yakin. “Dara baru menikah tiga minggu. Masa sudah hamil? Dara takut Alif menuduh Dara selingkuh, Dara trauma ....”
Sontak Umi Ros tertawa mendengar alasannya. “Umi getok kepalanya kalau dia sampai bilang begitu. Dia kan suaminya.” Lantas Umi Ros mencoba menjelaskannya secara pelan-pelan, “Usia kandungan itu bukan dihitung dari kapan kalian menikah, tapi dari hari pertama haid terakhir. Jadi kalau memang menstruasinya sebelum akad, dan melakukan hubungan biologis pada malam pertamanya, mungkin sekarang usia kandunganmu sudah empat atau lima minggu.”
Dara sedikit lega mendengar penjelasannya barusan. “Apa Alif bakal percaya atau mau ngerti sama penjelasanku nanti, Umi?”
“Nanti Umi bantu jelaskan ...,” ujarnya terdengar sangat bijak. “Tahu seperti ini tadi kamu tidak perlu ikut ke sana. Tunggu di rumah saja sampai Alif pulang.”
***
BERSAMBUNG.
__ADS_1
Selamat membaca.
Vote Vote Vote.