
“Ssshh,” Alif mendesis ketika menurunkan Dara ke ranjang. Saat itu pula tangannya memegang perutnya yang tiba-tiba terasa nyeri.
Dara yang panik sontak ikut memegang bagian tersebut, “Alif ... kamu jangan bikin takut. Sakit ya?”
Alif mengangguk, “Sedikit. Aku lupa bawa beban berat.”
“Aku Cuma 55 kilo.”
“55 kilo kamu bilang Cuma?”
“Segitu mah masih langsing. Nanti kalau baby Cil sudah besar berat badanku bisa naik berapa kilo lagi.”
“Jangan terlalu besar.”
“Kenapa tidak suka kalau aku gendut?” sungutnya.
“Jangan terlalu sensitif. Lagi pula terlalu gendut juga kurang bagus. Kamu sendiri pun pasti kurang percaya diri. Bukan aku tidak suka.”
Alif mulai melepas pakaiannya sendiri, berikut pakaian Dara. Namun saat tangannya meraba ke punggung, dia agak kesulitan. “Kenapa susah?”
“Aisstt, bukan begitu caranya, Lif. Ini pengaitnya dibuka dulu,” Dara berkata dengan sangat gemas.
Pria itu terkekeh, “Karena terlalu lama libur, aku jadi lupa gimana opening-nya.”
“Jangan konyol!” ujar Dara tak setuju dengan apa yang Alif katakan barusan.
“Kita mulai dari nol.”
“Memangnya aku mau isi bensin?”
“Mmm ... peluk dulu biar tenang,” katanya yang juga naik ke atas ranjang. Memeluknya dan menciumnya sangat lembut.
Dara mendengar detak jantung Alif yang tak beraturan. Layaknya orang yang baru saja lari maraton. “Kamu gugup, Lif?”
“Sedikit.”
Dara semakin tergelak mendengar pengakuannya. “Plis, jangan buat aku ketawa terus.”
“Memangnya apa yang aku lakukan?” tanya Alif. “Aku Cuma deg-degan.”
“Kita itu pengantin basi, masa masih gugup juga?” Dara melepaskan pelukan Alif dan mengubah posisinya menjadi duduk. “Coba kamu tarik napas dulu ...,” Dara mencoba untuk menginstruksi Alif agar menjadi lebih tenang.
“Sudah!”
“Tahan ....”
Alif kembali melakukannya. Menarik napas dalam untuk mengisi rongga paru-parunya sebanyak mungkin.
“Keluarkan,” kata Dara lagi. “Lakukan itu berulang-ulang sampai pagi.”
__ADS_1
“Apa?!” pekiknya.
“Bercanda ... ya, kamu kira-kira saja sampai perasaanmu lebih baik.”
“Baiklah kita mulai, Ra,” kata Alif setelah beberapa saat kemudian. Namun saat ia mulai menindih, Dara kembali bersuara ...,
“Tolong di ingat, ada baby Cil, Lif.”
“Tahu ....”
***
Malam ini berlalu dengan sangat menyenangkan. Karena pada akhirnya mereka dapat melaksanakan ibadah yang sudah lama belum mereka tunaikan. Meskipun sangat berbeda dengan dulu pada saat awal-awal menikah, karena kini mereka harus lebih pelan dan berhati-hati. Dara tengah hamil dan Alif baru saja selesai operasi—jadi mereka harus lebih menjaga diri masing-masing.
“Apa sakit?” tanya Alif karena Dara terdiam usai kegiatan mereka.
“Sakit, memangnya habis diapain?”
“Ya barang kali.”
“Mikir apa sih, Lif? Jangan sableng.”
Alif membuka selimutnya, kemudian meraih kain sarung yang ada dekatnya dan menuju ke kamar mandi. Di sana, ia terlebih dahulu membersihkan diri karena berniat keluar rumah untuk membelikan Dara martabak telur yang di inginkan.
“Katanya ngidam itu harus dituruti,” gumamnya. Bukan percaya mitos, tapi dia hanya sedang mencoba untuk menjadi suami dan ayah yang baik. Alif merasa sudah gagal menjadi seorang laki-laki karena sudah pernah merusak kebahagiaan orang lain, dan Alif tak ingin kegagalan ini sampai terjadi berulang.
Usai memanasi motornya sejenak, dia langsung meluncur ke lokasi. Tak berapa lama dia mengantre di sana hingga kemudian berhasil membawa pulang martabak itu; pesanan istri tercintanya. Namun pada saat melintas, dia melihat Yudha tengah duduk di depan gerbang seperti orang hilang. Tak biasa-biasanya pula, pria yang ia kenal paling alim tersebut sedang menghembuskan asap kenikmatan. Sampai kemudian ia tak bisa menahan diri untuk berhenti.
“Apa matamu buram?” jawab Yudha.
“Awas, nanti dilarang masuk.” Alif menyadari istri Yudha yang agak berbeda dengan istrinya. Jika Dara membebaskan, namun bagi Vita tidak. Itulah yang dia pikirkan sekarang ini.
“Tidak usah ember!” kata Yudha mengancam.
“Tanpa aku ember, panci atau baskom pun dia bakal tahu dari baunya pakaianmu,” Alif menjawab, “apa kamu bosan jadi pria alim? Atau kamu bosan hidup?”
“Diam, ember!” pandangan Yudha kini beralih ke dua bok makanan yang tercantel di body motor Alif bagian depan. “Apa itu?”
“Martabak telur.”
Yudha berdecak melihat rambut Alif yang masih basah, “Kamu menyogoknya pakai makanan itu?”
“Enak saja!” sungut Alif mengerti maksud Abangnya barusan. “Aku membelikannya karena dia mengidam.”
“Hebatlah, jam segini sudah dapat jatah.”
Alif tersenyum mengingat bagaimana Yudha menderita selama ini karena perbutannya sendiri. “Manusia, kalau sudah mengagungkan manusia lain, berarti tandanya dia tidak seberuntung orang itu. Apakah itu benar?”
Yudha tak membenarkan, namun tak juga membantah, dia malah bergumam semacam orang yang tengah mencurahkan perasaan. “Aku harus menunggu tengah malam dulu, menunggu semua anak-anak tidur. Itu pun kalau Vita masih oke. Biasanya kalau sudah capek ya kita tidur. Lagi-lagi aku puasa.”
__ADS_1
Alif tergelak. Betapa malang nasibnya, haha! Makanya jangan cetak anak terus!
“Itu yang menyebabkanmu kacau?” tatapan Alif mengarah kepada batang rokok yang sudah hampir habis seluruhnya.
“Bukan karena itu juga, aku memang lagi kepingin,” kata Yudha kemudian. “Sekali-sekali bolehlah. Hidup sehat pun tetap bisa sakit juga. Sepertimu.”
“Kamu mau?” Alif menyodorkan 1 box miliknya. Kebetulan dia membeli dua porsi dan dia baru berpikir, Dara juga tak mungkin menghabiskannya sekaligus. Mungkin ini memang rezekinya.
Yudha menerimanya. “Thanks.”
“Umi sama Abah sudah tidur?”
“Tadi masih ngobrol di ruang tengah,” jawab Yudha. “Apa kalian tidak liburan honeymoon atau babymoon? Habis menikah malah anyep. Jalan-jalanlah, mumpung masih bisa. Jangan sepertiku. Untuk sekadar mencari waktu untuk berdua saja sangat susah. Nanti bisa menyesal.”
“Menunggu buku nikah keluar.”
“Agak lama biasanya. Aku juga dulu begitu." Yudha menceritakan pengalamannya sendiri. Sebab dia juga terlebih dahulu menikah siri sebelum menikahi Vita secara sah, setahun kemudian. Setelah anaknya lahir.
"Kalian mau liburan ke mana?”
Alif mengedikkan bahu. “Dara menolak aku ajak ke luar negeri. Dia bukan tipe perempuan yang doyan liburan. Rumahnya kan di gunung, mungkin bosan. Tidak seperti kita yang jarang melihat pemandangan.”
“Ke Bandung saja yang dekat. Nanti aku rekomendasikan tempatnya.”
“Serius? memang ada yang bagus?”
“Ada nanti aku kasih lihat view-nya.”
“Kalian mau ikut?”
“Anak-anakku gimana, Lif?”
“Ajak sajalah. Toh ada baby sitternya.”
“Tetap saja aku kerepotan.”
“Jalani saja dulu. Next kita atur waktunya,” kata Alif akhirnya mantap memutuskan. “Aku pulang dulu. Takut oleh-olehku keburu dingin.” Dia kembali menyalakan starternya dan melanjutkan perjalanan yang hanya tinggal beberapa meter saja. Sesampainya di depan rumah, dia melihat Dara yang sudah menunggunya di sana.
“Lama sekali kamu berhenti di situ, Lif? Ngapain?” tanya Dara dengan pandangan mengarah ke rumah Umi Ros.
“Tadi ngobrol sama Abang,” jawab Alif. Kalau sedang pro, dia akan memanggilnya abang. Tapi kalau sedang bermusuhan, dia akan langsung menyebutnya Yudha tanpa sebutan apa pun. Suka-suka Alif lah!
“Ini pesananmu,” Alif mengulurkan oleh-olehnya.
“Yeeaay, makasih ....”
“Masuk-masuk. Tidak baik malam-malam di luar.” Alif segera menuntunnya ke dalam rumah dan mengunci pintunya.
***
__ADS_1
Bersambung.
Traveling boleh ya, mau romantis2an juga boleh asal sama suami sendiri. Aku bikin kayak gini cuma karena perlu aja. Masa novel romantis gak ada adegan 21+ nya? hehe. Ntar hambar rasanya. Bagai masakan tanpa garam. wkk