Ternoda Di Malam Pengantin

Ternoda Di Malam Pengantin
Dara: Tapi Sampai Kapan?


__ADS_3

Dara membuka matanya secara perlahan. Dilihatnya satu-persatu stik tersebut, dan hasilnya ....


“Hhhh syukurlah,” ujarnya seraya mengusap dadanya amat lega. Akhirnya bibit terlarang itu tidak tumbuh di rahimnya. “Negatif.”


Saat itu juga Dara keluar dari kamar mandi, dia langsung bersujud sambil tersedu di lantai karena saking karena harunya. Agak lama dia seperti itu sebelum akhirnya Dara memutuskan untuk menyusul Chandra ke pabrik tempatnya bekerja. Sebentar lagi jam istirahat, Dara yakin suaminya pasti akan keluar untuk mencari makan siang.


“Untung aku sudah memasak makanan kesukaannya.”


Gurami telur asin dan capcay sudah masuk ke dalam box makanan, siap untuk dibawa ke sana. “Mudah-mudahan ini bisa menjadi awal yang baik untuk kita, Mas Chandra ....”


Dengan penuh semangat, Dara memacukan motornya menuju ke pabrik plywood itu. Sesampainya di sana, Dara merasa sangat kebetulan karena dia datang di waktu yang tepat. Semua karyawan tampak berhamburan keluar dari bangunan besar tersebut—mungkin untuk mencari makanan, melakukan ibadah atau sekadar pergi ke toilet.


Masuk ke pintu utama, Dara memarkirkan motornya di sana kemudian berjalan kaki menuju ke dalam. Matanya mengedar ke sekeliling untuk mencari sosok suaminya.


“Permisi, Kak,” Dara menghentikan seorang karyawati yang kebetulan melintas di depannya. “Apa Kakak lihat Pak Chandra?”


“Chandra yang mana nih, Bu? Pak Chandra ada dua di sini. Kemendur semua lagi,” orang tersebut menjawab.


“Yang mengawasi di bagian—” Dara agak kesusahan menyebutkannya, sebab dia tidak tahu persis di bagian mana letak suaminya berada. Selalu di adakan rolling posisi setiap sebulan sekali, entah itu ke bagian belakang, tengah, atau pun depan. Bukan hanya satu tempat saja meski masih di dalam satu CV.


Namun kemudian sekelebat pikirannya mengingat kejadian besar yang terjadi belum lama ini, “Eum, begini, Kak. Kemendur yang kemarin sempat kena sangsi karena mesinnya terjadi kebakaran.”


“Oh ... Pak Chandra idola semua idola?” kata karyawati tersebut dan tertawa setelahnya. “Beliau sudah keluar beberapa menit yang lalu. Memangnya Ibu siapanya?”


“Saya istrinya,” Dara menjawab.


“Istrinya?” tatkala karyawati tersebut mengatakan bahwa Dara istrinya, dia tampak keheranan. Mungkin karena Dara tidak pernah diperkenalkan kepada mereka-mereka, jadi wajar saja jika seandainya tidak ada yang mengenalnya. Namun sepertinya tidak ada gunanya juga mengenal mereka. Apa pedulinya?


“Iya, saya istrinya. Belum sebulan kami menikah,” kata Dara menjelaskan. Tidak ingin membuang banyak waktu, Dara langsung meninggalkan perempuan tersebut setelah sebelumnya memohon diri, “terima kasih, ya. Sudah diberitahu. Saya langsung keluar saja.”


“Mungkin ada di tempat makan,” lanjutnya.


Dara tersenyum dan sedikit menganggukkan kepala sebagai suatu penghormatan untuk dia yang ramah saat di ajak berbicara. Kembali keluar, Dara menuju ke tempat-tempat makan terdekat yang ada di sana. Misalnya kantin atau kedai-kedai yang berada di pinggir jalan.


Agak lama Dara mencarinya, sepertinya bukan suatu hal yang mudah menemukan Chandra di antara banyaknya ratusan para pekerja yang berseliweran.


“Sepertinya aku gagal surprise, karena aku harus menghubunginya.”


Baru saja Dara menempelkan ponselnya ke telinga, dia tersentak sebab benda yang dia tempelkan terlepas dari telinganya. Bukan terjatuh, tetapi memang ada yang mengambilnya dari samping.


Dara panik namun lega bersamaan setelah mengetahui siapa orang itu. “Oh, ya ampun. Aku kira kamu siapa tadi, Mas.”

__ADS_1


“Aku di sini, jadi kamu tidak perlu menghubungiku.”


“Aku sengaja datang ke sini untuk mengajakmu makan siang,” kata Dara selanjutnya.


“Lain kali kalau kamu datang kasih tahu aku sebelumnya. Jangan mendadak. Takutnya terjadi hal-hal seperti ini lagi. Beruntung aku melihatmu tadi, kalau tidak? Kamu tidak akan menemukanku.”


Dara mengangguk mengerti. “Kita makan di mana, Mas? Sekalian aku mau bicara.”


“Tapi aku baru saja makan. Aku juga mau langsung masuk. Waktunya sebentar lagi habis,” jawab Chandra membuat Dara terdiam selama beberapa saat.


Dia melihat box makanannya yang berada di paper bagnya; berisi makanan spesial kesukaan Chandra. Sedih? Kecewa? Tentu saja. Dia memasaknya dengan penuh perasaan. Tetapi—apa boleh buat? Sangat tidak waras jika Dara memaksanya untuk memakannya saat ini juga.


“Ya sudah, aku bawa pulang lagi saja,” kata Dara dengan mata berkaca-kaca. Dia berusaha menyembunyikannya dengan menghindari kontak mata dengan pria di depannya. “Aku langsung pamit saja kalau begitu.” Dara mengulurkan tangannya sembari menunduk.


“Hei, kamu menangis?” tanya Chandra berusaha menatapnya.


Dara menggeleng. “Tidak, Mas. Aku langsung pulang, ya. Kita bicara di rumah saja nanti.” Dia cepat-cepat memutar tubuhnya dan menuju ke tempat parkir motor.


Di perjalanan, matanya tak berhenti merembes. Bukan kecewa kepada Chandra, tetapi kecewa terhadap dunia yang lagi-lagi tidak adil kepadanya. Seakan-akan ia telah melakukan kesalahan besar karena Dia telah menghukumnya seberat ini.


Namun begitu, dia masih bersyukur sebab dia tidak sampai hamil dibuatnya. Padahal kalau diingat-ingat, pada hari itu adalah masa suburnya.


Dara pun heran, apa sebenarnya niat dari makhluk Hulk tersebut? Apa dia tidak sanggup membayar kim cil malam sehingga dia menculik wanita sepertinya yang jika dilihat-lihat tidak ada menarik-menariknya sama sekali. Sangat kalah jauh dari wanita-wanita bayaran yang dadanya lebih empuk dan pastinya lebih menggugah selera!


***


“Tumben baru pulang, Mas?” tanya Dara ketika suaminya itu pulang lebih terlambat daripada biasanya.


“Iya, ini akhir bulan, jadi aku lembur,” jawab Chandra seraya membuka sepatunya. Setiap tanggal tua Chandra memang disibukkan dengan laporan satu bulan itu, agar gaji yang diturunkan kepada karyawan sesuai dengan datanya yang ia rekap setiap hari.


Seperti biasanya, Chandra akan langsung membersihkan diri. Sementara Dara—dia sudah menunggunya di ruang tengah. Siap menyampaikan hasil pengecekannya tadi siang.


Agak lama Dara menunggu, sebelum beberapa menit kemudian, Chandra turun dalam keadaan lebih segar dan telah berganti palaian.


“Aku mau bicara sekarang, ya,” ucap Dara mengawali komunikasi. Chandra duduk dengannya dan menyesap teh yang Dara siapkan.


“Tentang?” Chandra menanggapi.


Dara bergerak gelisah karena apa yang akan disampaikannya kini sangatlah sensitif. Hal yang sebelumnya membuat hubungan mereka bertengkar dan merenggang sejauh-jauhnya seperti orang yang tak pernah mengenal.


“Aku ... aku sudah cek tadi siang,” Dara menjawab. Tetapi karena ucapannya sepertinya sulit dipahami, Dara menambahkan, “Maksudku, tes itu ... tahu maksudku ‘kan?”

__ADS_1


Dara mencoba menatap mata suaminya yang sedang menanti ucapannya selanjutnya. Dan benar saja, raut wajahnya mendadak berubah menjadi aneh. Tidak seperti tadi yang kelihatannya lebih santai.


“Hasilnya negatif kok,” imbuhnya lagi. Dia kemudian menggenggam tangan Chandra. Dan dengan sangat hati-hati, dia kembali mengatakan, “Bisakah kita memulai dari awal lagi?”


Dara tersenyum menanti jawaban yang dikira akan semenyenangkan itu.


“Maaf, tapi aku belum bisa ....”


DEG!


Senyum Dara sontak memudar. Kilat sakit menyelimuti hatinya. Bagai di himpit batu besar sehingga ia merasa begitu sesak.


“Kenapa?” tanyanya segera.


“Dara ...,” kata Chandra pelan. “Ketahuilah, untuk saat ini, hanya sekadar melihatmu saja aku merasa sakit.”


Dara kembali tersedu.


Chandra kembali melanjutkan, “Aku sakit kalau teringat betapa pria itu memujamu.”


“Kenapa Mas Chandra bilang begitu?”


“Terlihat dari bagian tubuhmu yang waktu itu penuh dengan cupangan.” Chandra memejamkan matanya. Hatinya seperti tersengat pada saat dia mengingat betapa seluruh tubuh Dara dipuja sedemikian agung. Seolah tubuh Dara adalah layaknya seorang bidadari.


“Kalau Mas Chandra saja sesakit itu, apalagi aku? Aku lebih sakit lagi, Mas. Mungkin jika terlihat saat ini hati aku sudah berdarah-darah. Hanya saja aku mencoba untuk tetap kuat demi pernikahan kita yang baru seumur jagung ini ...,” ujar Dara mengeluarkan unek-uneknya.


“Tapi tidak apa-apa. No problem. Aku sudah jauh lebih lapang daripada sebelumnya. Mas Chandra bisa lepaskan aku kalau memang ini menyiksa kita berdua. Aku ikhlas.” Dara akhinya berpasrah diri.


Chandra segera menyela, “Aku hanya butuh waktu, jangan kamu kait-kaitkan dengan lain soal. Ingat orang tuamu, Ra! Kita menikah belum ada sebulan.”


“Iya tapi sampai kapan?” tanya Dara terdengar menuntut.


“Sampai aku sembuh. Lagi pula kamu belum menunjukkan buktinya. Kamu lupa?”


“Aku sulit kalau harus bergerak sendiri, Mas. Aku tidak mempunyai kemampuan lebih. Jadi plis, berikan tanganmu untuk membantu aku ... jangan menyiksaku lebih lama.”


Merasa kian payah, Dara langsung berdiri. “Ya sudah, terserah! Toh percuma saja aku jelaskan panjang lebar kalau nyatanya kamu tetap menutup diri untuk mempercayaiku. Tapi sekali lagi aku tegaskan, aku tidak pernah selingkuh!”


Kemudian Dara meninggalkan Chandra dan mengunci dirinya di kamar. Dara hampir putus asa dengan kekecewaan suaminya yang tak kunjung selesai.


Lama-lama aku bisa gila!

__ADS_1


***


To be continued.


__ADS_2