Ternoda Di Malam Pengantin

Ternoda Di Malam Pengantin
Bisa Di Duga Dia Pelakunya


__ADS_3

Dara membuka mata saat merasakan ranjang bergerak. Meski terasa perlahan, tetapi tetap mengganggu baginya. Namun dia sontak terkejut ketika mendapati wajah Alif di depan matanya. “Astaga!” ucapnya terlonjak tetapi tidak bisa beranjak sedikit pun karena pria itu mengungkung tubuhnya. “Kamu bikin kaget saja, Lif.”


“Kenapa kamu bangun?” tanyanya konyol.


“Karena kamu membangunkanku,” jawab Dara sangat gemas. “Jam berapa sekarang?”


“Sudah jam empat.”


“Yang benar?” kata Dara tak percaya.


“Itu jam dinding.” Alif menunjukkan dengan tangannya.


“Ya ampun, aku ketiduran lama sekali.” Kini tangan Dara berusaha menyingkirkan tubuh Alif dari atasnya, namun merasa kesulitan. “Ayo singkirkan tubuhmu, Lif. Aku mau bangun.”


“Mau ngapain?”


“Mau mandi, mau ibadah, mau bikin makanan juga. Memangnya perutmu tidak keroncongan?”


“Aku sudah makan di rumah Umi.”


“Curang!” sungutnya. “Hanya memikirkan perutmu sendiri, istrimu tidak kamu pikirkan?”


“Terbalik dower," Alif menoyor pelan keningnya. "Seharusnya kamu yang memikirkan perut suamimu. Tapi karena kamu tidur aku mengungsi ke sebelah," ujarnya membuat Dara menahan tawa. "Tapi kalau kamu mau, aku bisa ambilkan ke sana.”


“Tidak perlu, memalukan. Masa minta nasi ke sebelah. Seperti sedang terkena bencana saja.”


“Begini salah, begitu salah. Sensitif banget istriku. Mau datang matahari?”


Mendengar pertanyaan Alif barusan membuat Dara akhirnya terbahak, “Datang bulan, Alif ... bukannya matahari. Tidak sekalian saja datang planet Saturnus, Uranus, Neptunus. Ayo singkirkan tubuhmu, kalau kamu begini bagaimana aku bisa bangun? Badanmu itu berat.“


“Panggil aku sayang.”


“Lebay, ah.”


“Panggil sayang atau aku akan tetap di atasmu.”


“Iya, iya, Sayang, please. Turun, ya. Aku mau mandi ...,” ucap Dara terdengar sangat dibuat-buat. Namun terdengar menyenangkan di telinga Alif sehingga membuat pria itu sontak mencondongkan wajahnya untuk menciumi pipi Dara bertubi-tubi dengan sangat gemas.


***


Keesokan harinya.


Pagi jam setengah tujuh, Dara pangling melihat penampilan baru suaminya. Alif menyusul ke dapur dengan sudah memaki kemeja berwarna biru navy yang lengannya sedikit di gulung ke atas.

__ADS_1


Hmm jangan ditanya lagi seberapa tampannya pria itu sampai-sampai Dara hampir meneteskan air liur. Dari dulu, Dara sudah tahu bahwa ketampanan Alif memang di atas rata-rata. Dia mempunyai garis wajah yang tegas, tubuh yang proporsional, mempunyai kulit yang putih, bahkan lebih putih daripada kulit perempuan sepertinya. Tetapi dia baru menyadari bahwa Alif ternyata seistimewa itu.


Alif memang telah berusia 30 tahun yang secara lahiriah nampak sebaya apabila berjalan dengannya yang jauh lebih muda. Dara juga menyadari betapa kuat daya tarik suaminya yang dengan mudah bisa membuatnya jatuh cinta sebelum ia benar-benar bercerai dengan Chandra. Memikirkan hal itu terkadang membuatnya menjadi was-was dan cemburu.


‘Pantas saja dia banyak mantannya.’


“Sampai begitu melihatnya,” kata Alif tersenyum bangga kepada dirinya sendiri. “Kenapa? Baru sadar kalau suamimu ini sangat—”


“Kepedean,” Dara menyela. Dara terlalu gengsi untuk mengakui dari mulutnya sendiri. Lagi pula, dia tak ingin Alif semakin besar kepala.


“Masih lama?” tanya Alif  memeluk Dara yang masih mengaduk-aduk bubur ayam di atas kompor.


“Sebentar lagi.”


Sembari menunggu, Alif menuju ke ruang tengah. Di sana dia membuka tas kerjanya dan mengeluarkan charger untuk menyambungkan laptopnya yang sudah hampir kehabisan baterai.


“Terlalu lama libur membuat otakku menjadi buntu,” gumamnya. Memang benar demikian. Dia telah melibur selama beberapa demi melakukan project memikat hati Dara. Beruntung kantor itu milik Abahnya sendiri—kalau tidak, sudah pasti Alif dipecat secara tidak hormat.


“Yah, aku ditinggal sendirian hari ini dong, Lif,” ucap Dara seraya meletakkan sarapan di atas meja. Wajahnya terlihat sangat bosan total. Dia sudah merasa lengkap karena terus bersama Alif selama beberapa hari ini dan full 24 jam penuh, tetapi sekarang—pria itu akan pergi meninggalkannya. Walau pun hanya setengah hari, tetapi tetap saja dia merasa kurang.


“Ke sebelah saja kalau kamu memang butuh teman,” jawabnya sambil menarik bubur dan langsung menyantap secara terburu-buru.


“Hei, pelan-pelan, itu bubur masih panas,” sergah Dara sontak menarik sendok dari tangan Alif. Tentu saja dia sangat khawatir lidah pria itu bisa terbakar oleh karena panasnya. “Memang terbuat dari apa lidah kamu mau makan bubur sepanas ini, ha? Besi?”


“Makanya jangan mengajakku olahraga terus. Kamu itu macam kucing lagi bi rahi, tahu tidak?” dumel Dara sembari melakukan titahnya; mengipas-ngipas bubur ayam tersebut dengan buku majalah yang ada di sana.


“Masih penasaran sama rasanya. Ingin mecoba gaya-gaya baru,” jawab Alif singkat. Dia mengingat betul semalam telah membolak-balikkan tubuh Dara sesuka hatinya. Dan itu terbayang sangat menyenangkan. Bahkan saat ini pun dia terasa menegang karena melihat Dara hanya memakai kaos dalam dan celana sangat pendek. Merasa tergoda, lantas membuat Alif segera menarik Dara ke pangkuannya. “Kamu sengaja menggodaku?”


“Kamu saja yang naf suan.”


“Kalau begini, aku jadi malas berangkat.”


“Jangan aneh-aneh, Lif,” kata Dara tak setuju. “Abangmu bakalan ngomel—bukan cuma Abangmu, aku juga kalau kamu malas-malasan terus. Sudah berapa bulan coba kamu kabur?”


Alif hanya mengedikkan bahu.


“Kamu memang sengaja bikin usaha di sana atau bagaimana sih, Lif? Setahuku di sini juga ‘kan banyak tempat, kenapa kamu harus jauh-jauh di kotaku? Kamu belum cerita banyak ke aku selama ini, Lif. Ayo kamu jujur,” desak Dara agar Alif mau menceritakannya.


“Terserah aku mau bikin di mana,” jawab Alif tak peduli. Dia malah justru semakin menenggelamkan wajahnya ke dada istrinya sehingga membuat wanita itu melayangkan protes.


“Lagi-lagi kamu mengabaikanku seolah pertanyaanku tidak terlalu penting, Lif. Aku serius, loh ... ehh,” Dara men desah ketika merasakan benda basah itu menyentuh benda kecil kemerahannya. Di sanalah titik rang sang seorang perempuan yang berhasil membuat Dara seketika melayang. Dan entah ke mana otaknya berpikir karena dalam sejenak, dia telah melupakan pertanyaannya sendiri.


Atau Alif memang sengaja melakukannya agar dia tak perlu susah-susah mencari jawaban yang akan menjerumuskannya kepada kenyataan sebenarnya? Entahlah!

__ADS_1


“Aduhh ...,” keluh Alif tak karuan. Dia merapatkan lagi pakaian Dara mengangkat wanita itu dari atas pangkuannya. Tubuh wanita itu sudah terlihat lemas, terlihat dari matanya bahwa dia tengah berusaha menahan diri karena sempat terhanyut.


“Dilanjut sarapannya,” kata Dara setelah beberapa saat kemudian.


“Aku janji tidak akan pulang sampai malam,” ujar Alif lagi.


Usai Alif pergi, Dara menuju ke rumah Umi Ros karena dia merasa kesepian. Sekalian ada yang ingin Dara tanyakan sekaligus ceritakan kepada Vita tentang kecurigaannya kepada Alif. Namun belum mempunyai bukti.


“Ada apa sih, Dar? Kelihatannya serius sekali sampai mengajakku ke sini,” ucap Vita karena Dara membawanya ke perpustakaan, tepatnya di lantai paling atas. Tentunya dengan membawa kedua anak kembarnya karena baby sitternya tengah mengantarkan Rayyan ke sekolah Taman Kanak-Kanak.


“Iya, ini memang masalah serius.”


“Mama, mau main itu!” ucap Mauza menunjuk bola dunia yang ada di meja depan mamanya dan tantenya duduk.


“Ya, ini, Nak.” Vita menyerahkan bola tersebut kepada putrinya. “Main sama Kaka Umar dulu ya, Nak. Mama mau ngomong sama Onti ... okay?”


“Okay, Mama.” Anak kecil itu duduk bergabung dengan kakaknya, Umar.


“Ada apa? Ayo cerita?” ucap Vita setelah merasa nyaman.


“Begini, Ta. Waktu malam resepsiku, bukankah kalian semuanya menginap di Hotel Ast*n?”


“Iya betul.”


“Apa malam itu Alif bersama kalian?”


Vita terdiam sesaat untuk berusaha mengingat-ingat waktu kejadian. “Seingatku malam itu Alif pergi keluar, Dar. Kami tidak tahu dia pergi ke mana, sampai kami balik ke kamar pun, Alif belum pulang juga. Karena pas kami coba ketuk pintunya, tidak terdengar sahutan dari dalam.”


“Ke mana dia, Ta?” tanya Dara menebak kemungkinan. “Apa Alif yang melakukannya?”


“Alif? Mana mungkin,” ujar Vita tak percaya.


“Ada harum parfum yang sama di kebayaku dengan yang Alif punya. Aku masih ingat betul dan tidak mungkin salah. Dan surat itu, aku masih menyimpannya. Tulisannya hampir sama dengan tulisan Alif.”


“Dar?” Vita menggeleng. “Aku yakin bukan dia. Parfum keluaran pabrik bisa dibeli dan dimiliki oleh siapa pun. Pun dengan tulisan, mungkin hanya sekadar mirip.”


“Ta, aku berhak curiga dengan adik iparmu,” ucap Dara dengan mata mengembun. “Coba sekarang aku tanya ke kamu. Bukankah dia bilang suka sama aku semenjak lama? Lainnya, dia membangun usaha jauh-jauh sampai ke kotaku untuk apa? Bukannya di sini ada banyak tempat yang bisa dia pilih? Oh, bukan hanya itu. Dia sampai sewa tempat tinggal tak jauh dari rumahku.”


Vita terlihat mengerjap beberapa kali karena dia pun baru menyadari hal ini. Terlebih dia juga pernah mendengar penuturan Yudha bahwa pria itu pernah mendapati alat pengaman di kamar Hotel yang Alif tempati pada saat mereka akan check out. Dan bila di sambung-sambungkan keping-keping peristiwa ini—bisa di duga, bahwa Alif memang pelakunya.


***


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2