Ternoda Di Malam Pengantin

Ternoda Di Malam Pengantin
Jangan Buat Aku Takut


__ADS_3

“Mana surat-suratnya mau aku kumpulkan,” kata Alif di pagi hari pada saat ia sudah mengganti pakaian.


Hari ini ia sudah mulai kembali ngantor seperti biasa karena sudah merasa lebih baik. Dokter hanya menyarankan untuk tidak kerja berat selama tiga minggu, bukan berhenti kerja selama itu. Dan Alif pikir pekerjaannya bukanlah kuli yang sering mengangkat-angkat barang. Dia hanya duduk di depan layar, sesekali dia keluar, namun itu pun hanya untuk rapat atau bertemu klien.


“Kemarin KTP-nya masih ada di ruang tamu,” Dara menjawab setelah ia keluar dari kamar mandi. Kemudian mendekati lemari untuk mengambil pakaian di sana.


“Kenapa masih di sana?” tanya Alif agak kurang suka dengan kebiasaan Dara yang super abai ini.


“Tinggal kamu ambil saja, apa susahnya,” jawab Dara tak mau ambil pusing. “Atau mau aku ambilkan? Sebentar, ya. Aku mau ganti pakaian dulu.”


“Bukan begitu, itu KTP. Termasuk data penting. Sebaiknya kamu simpan lagi baik-baik setelah selesai digunakan.”


“Maaf, aku lupa.”


“Jangan teledor seperti itu lagi,” ucap Alif mewanti-wanti. “Bayangkan, kalau ada tamu yang mungkin kurang baik masuk ke dalam rumah, lalu diam-diam mengantongi KTP-mu.”


“Buat apa dia mau mengantongi KTP-ku?” tanya Dara. “Aku bukan artis atau orang penting.”


“Begini, Dara. Modus kejahatan itu ada di mana saja dan macam-macam motifnya.” Alif menunjukkan KTP-nya sendiri yang baru saja ia keluarkan dari dalam dompetnya sendiri. “Hanya dengan ini, orang bisa menghasilkan banyak uang.”


“Mana bisa?” Dara mengerutkan kening.


“Sangat bisa, Ra. Tinggal daftarkan saja ke aplikasi pinjaman online,” jawabnya. “Bukan hanya itu saja, KTP ini bisa digunakan orang-orang kotor untuk menghilangkan jejak kejahatan mereka. Misalnya, dia merampok si A, atau dia habis menusuk si B, lalu sengaja menjatuhkan KTP-mu di tempat itu. Ini bisa jadi barang bukti dan kamu bisa di duga jadi pelaku.”


“Mikirmu jauh sekali, Lif. Hanya lupa saja jadi panjang penjelasannya.”


“Aku memberitahumu seperti ini supaya kamu tahu dan lebih mawas diri.”


“Iya, iya.” Dara menjawab sambil terus mengganti pakaian di depan Alif. Membuat mata pria itu tak mau berpaling darinya.


“Terserah kamu ya, mau lihat seperti apa pun,” kata Dara tak terlalu peduli.


“Beberapa minggu lalu kita marahan, minggu kemarin aku sakit, kemarin gagal, tadi malam capek, pagi ini alasanmu malas. Kapan bisanya?” pria itu terdengar menggerutu. “Istri durjana.”


Dara sontak tertawa lepas. “Tolong bersabar ya, Tuan. Aku belum siap heheh. Tunggu sampai keadaanku membaik dulu, supaya kita bisa kerja sama. Kurang fair kalau kamu hanya bekerja sendirian.”


“Alasan lagi?”


“Tidak juga. Apa aku kelihatan bohong?” Dara mendekatinya dan melebarkan matanya.


Alif hanya mengedikkan bahu.


“Aku masih mual, masih suka pusing juga, kapan berhenti ya?" katanya lagi. Dan kali ini dia mendekatkan punggungnya, meminta Alif untuk meresleting dressnya. Membuat pria itu lagi-lagi menelan ludah.


"Semua makanan yang masuk, pasti keluar lagi. Kamu sukanya apa sih? Siapa tahu cocok sama makanan yang kamu suka. Kamu kan ayahnya.”


“Steak."


"Celaka dompetnya kalau aku makan steak tiap hari."


"Kamu itu perhitungan banget," Alif menanggapi. "Atau mau ke dokter? Biar aku antar.”

__ADS_1


“Tapi obatnya masih,” jawab Dara. “Menurut dokter kemarin tunggu dua minggu, berarti minggu depan aku mau USG lagi untuk memastikan perkembangan Baby Cil. Mudah-mudahan sudah terdengar detak jantungnya nanti. Soalnya waktu diperiksakan kemarin belum kedengaran.”


Mendadak Alif menjadi sangat cemas. “Ucapanmu membuatku takut, Ra.”


“Kita berdoa saja, ya. Aku juga awalnya seperti kamu, kaget. Tapi kata dokter, menurut usianya masih tergolong normal. Aku juga harus selalu happy, tidak boleh terlalu memikirkannya karena bisa membuatku jadi stres yang malah bisa memperburuk keadaan,” ucapnya dengan uraian panjang agar suaminya yang awam ini lebih bisa memahami.


“Oh, iya. Kamu mau sarapan apa biar aku buatkan?” Dara mencoba mengalihkan pembicaraan setelah melihat roman muka Alif yang terlihat sangat berbeda. Sejenak Dara menyesal telah mengatakannya. Mungkin seharusnya Alif tak perlu tahu hal ini, demikian batinnya berpikir.


“Jangan alihkan ke lain soal ...,” kata Alif kemudian. Lantas segera mendekat untuk memeluk Dara. “Apa yang bisa membuatmu happy?”


“Lihat kamu banyak uang.”


Alif langsung menoyor kepalanya dengan satu jari, “Bukan itu jawaban yang kumau.”


“Lalu?” jawab Dara usai mengaduh.


“Memangnya kamu tidak punya keinginan?”


“Keinginanku apa, ya?” Dara terdiam selama beberapa saat untuk memikirkan. Wanita itu malah bingung sendiri saat ditanyakan seperti ini. “Keinginanku ... kamu sehat terus, supaya bisa memelukku seperti ini setiap hari.”


“Lainnya?”


“Aku bingung.”


Alif menggaruk kepalanya, istrinya ini memang berbeda garis dengan makhluk-mahluk betina lain. “Dara, biasanya perempuan itu punya agenda sendiri-sendiri untuk menyenangkan dirinya. So, misalnya bertemu teman-temannya, kumpul, berbelanja atau makan-makan.”


“Ah iya, belakangan aku pingin martabak telur bebek. Apa itu termasuk ngidam?”


“Ish!” Dara refleks mencubit punggung pria ini.


“Cepat kumpulkan data-datanya. Mau aku bawa sekarang juga.”


“Iya, suamiku!”


“Nanti malam kita cari martabak burung Dara di luar.”


"Bebek ... Alif. Bukan burung."


Ahirnya Alif yang memutuskan karena Dara tak tahu bagaimana cara menyenangkan dirinya sendiri. “Sepertinya kamu memang suka dipaksa-paksa.”


"Memang iya," kata Dara mengerling nakal. Sehingga langsung disambar oleh Alif dengan ci uman ganas.


***


Tidak melakukan apa-apa di rumah membuat Dara merasa bosan. Terus terang ia ingin pergi ke rumah Umi Ros, namun banyaknya anak-anak di sana membuatnya terkadang merasa lelah karena mereka selalu mengajaknya main. Sedangkan untuk menolak, Dara tidak terlalu mempunyai keberanian. Perasaan tidak enak selalu mendominasinya.


Sebetulnya ia bersyukur semua keponakan menempel padanya, karena berarti tandanya ia disukai. Tetapi keadaannya sekarang untuk say hello tidaklah memungkinkan. Moodnya juga gampang berubah. Ia khawatir karena perubahan moodnya yang secara tiba-tiba bisa mengecewakan mereka yang tidak bisa memahami kondisinya sekarang ini.


“Tapi mertuamu sering ke rumah kan, Nduk?” tanya Ibunya di seberang sana.


“Iya, sering. Tadi pagi saja mengantarkanku sarapan. Katanya biar aku tidak perlu susah-payah masak pagi-pagi.”

__ADS_1


“Syukurlah, tapi saran Ibu, ke depannya nanti kamu minta suamimu untuk mencarikan asisten rumah tangga supaya kamu tidak terlalu capek. Apalagi nanti kalian mau punya bayi. Pasti repot.”


“Nanti Dara bicarakan lagi, Bu."


"Ibu sebenarnya ingin sekali ke sana. Tapi kamu kan tahu sendiri Ayah tidak bisa di tinggal sedetik pun."


"Oh, iya. Ayah gimana?”


“Alhamdulillah Ayah sehat, dia berulang kali menanyakanmu kapan pulang.”


“Loh, Dara kan baru berangkat kemarin, Bu.”


“Sudah Ibu jelaskan, tapi nanti tanya lagi-tanya lagi. Sudah linglung.”


“Tapi kalau cucu, ingat Bu?”


“Kalau cucu beliau selalu ingat. Cuman ya, capek Ibu menjelaskannya. Kenapa belum lahir-lahir cucunya? Dari kemarin enam minggu-enam minggu terus, gitu katanya.”


“Wah, dah parah, linglungnya ya, Bu.”


“Sudah waktunya. Semua orang akan mengalami tua. Termasuk Ibu juga,” katanya kemudian terdengar sendu. “Jangan bosan-bosan merawat Ibu nanti kalau Ibu sudah seperti Ayah, ya.”


“Bu ... jangan bilang begitu, Ibu pasti panjang umur, sehat selalu. Ayah juga. Supaya bisa lihat cucu-cucu kalian besar nanti.”


“Tapi pasti hari itu pasti akan terjadi.”


“Ibu ...,” kata Dara dengan nada panjang. Merasa keberatan dengan obrolan yang menjurus ke hal ini.


“Semua yang hidup pasti akan mati.” beliau malah memperjelas. Membuat Dara semakin ngeri.


“Jangan bikin takut ih.” oleh karenanya, Dara mencoba untuk mengalihkan soal, “Razka lagi di mana, Bu? Kok sepi kedengarannya?”


“Razka lagi di luar. Katanya lagi belajar kelompok.”


“Belajar kelompok atau pacaran?”


“Ssst, jangan suuzon. Adikmu sekarang sudah berubah. Nilainya juga sudah bagus.”


“Masa sih? Nyontek di mana dia? Biasanya juga dapat telur satu lembar buku penuh.”


Terdengar gelak tawa dari seberang. Mungkin beliau sedang mengingat kebodohan anak keduanya yang sering sekali mendapat nilai nol di sekolah. “Yang penting sekarang sudah berubah, Nduk.”


“Yang penting jangan izinin Razka pacaran dulu, Bu,” kata Dara tak mau kalah. "Masih kecil. Tunggu nanti kalau sudah kerja, baru boleh dekat-dekat sama cewek."


Pembicaraan dicukupkan setelah azan menjelang. Dan pada saat itu pula Dara melihat pesan masuk dari nomor tak dikenal.


“Hai, Ra. Apa kabarnya? Semoga kamu dalam keadaan baik-baik saja, balas ya,” by Chandra.


“Idih, apaan dia chat-chat aku lagi?” Dara memutar bola matanya malas. Dia langsung menghapus pesan itu dan segera memblokir nomornya. Takut Alif sampai membaca pesan ini karena bisa menimbulkan kesalahpahaman.


To be continued.

__ADS_1


Hai jan kaget covernya sudah ganti hehe. Di kasih sama entun. Tau cocok apa enggak wkwk


__ADS_2