
Gemas terhadap kedatangan Pak RT membuat Alif terus mengumpat pelan. Beruntung ia belum sempat membuka-buka pakaiannya sehingga dia bisa langsung cepat turun meski dengan menahan perasaan yang sangat jengkel.
“Mukamu tolong dikondisikan, Lif. Aku tahu kamu marah, tapi setidaknya jangan ditunjukkan di depan mereka. Tidak enak,” kata Dara pelan sebelum mereka memasuki ruang tamu.
“Iya, aku tahu!” masih terdengar bersungut-sungut kesal.
“Lif ... tahan emosi. Kita bisa lanjutkan nanti kalau kamu memang benar-benar mau.”
“Bukan itu masalahnya, Dara ...,” de sah Alif semakin gemas. Ah, Dara memang tidak tahu rasanya diputus pas lagi sayang-sayangnya.
“Nah, itu mereka,” kata Umi Ros begitu keduanya mendekat. Terlihat Alif memaksakan senyum, jika mereka memang menyadari keganjilan ini.
“Siang Pak Alif,” sapa RT tersebut.
“Siang juga, Pak.” Alif menjawab setelah keduanya ikut duduk bergabung.
“Langsung saja ya, Pak.”
“Silakan.”
“Begini, Pak. Kami mendapat laporan dari tetangga bahwa Pak Alif katanya tinggal di sini bersama seorang perempuan. Apa betul ini istri Bapak?”
“Iya betul. Ini istri saya,” Alif membenarkan.
“Kalau begitu boleh minta tolong tunjukkan kartu keluarga atau KTP-nya untuk saya data?” kali ini pertanyaan Pak RT mengarah kepada Dara. “Sebab sedari awal Ibu datang ke sini Pak Alif belum pernah melaporkan tamunya yang lebih dari 1x24 jam. Maaf kalau ucapan saya menyinggung, tapi ini sudah menjadi tugas saya selaku perwakilan warga.”
“Saya mengerti, Pak,” jawab Dara. “Memang akhir-akhir ini suami saya sangat sibuk, terlebih kemarin baru saja terkena musibah. Jadi belum sempat mengurus surat-surat yang seperti ini.”
“Musibah?” ulang beliau agar mereka lebih memperjelas.
“Iya, jadi suami saya mengalami usus buntu dan baru selesai operasi. Tapi alhamdulillah sekarang sudah sehat.”
“Wah, saya malah baru tahu. Semoga, Pak Alif selalu sehat, ya."
"Amiin ..." semua menjawab serentak.
"Kalau penyebab utamanya sendiri saya memang kurang tahu, tapi biasanya penyakit-penyakit seperti ini disebabkan karena terlalu sering makan-makanan yang dibakar.”
“Nah, iya, Pak. Kebetulan suami saya ini suka sekali sama daging steak atau BBQ.”
“Sebaiknya dikurangi, Pak. Satu lagi yang saya tahu, jangan suka menahan kentut, hehee ....”
Mendadak semua orang menjadi tertawa mendengarnya, tak terkecuali.
“Ada-ada saja Pak RT, ini,” ucap Umi Ros.
__ADS_1
“Saya hanya mendengar dari orang-orang.”
“Soalnya sudah lama membujang anak saya ini, Pak. Jadi secara apa-apa jarang ada yang memperhatikan,” sahut Umi Ros. “Saya orang tua, tidak terlalu tahu apa-apa kebiasaan anak saya di luar sana. Tahu sendiri anak sekarang kan lebih suka kelayapan di luar. Beda kalau sudah punya istri mah, laki-laki pasti lebih terarah.”
“Iya, memang perempuan itu sangat berpengaruh, Bu.”
“Benar sekali, Pak.”
“Sebentar ya, Pak. Saya ambil dulu KTP-nya. Tapi mohon maaf hanya KTP, belum ada kartu keluarga soalnya kami baru menikah,” kata Dara setelah jeda beberapa saat kemudian.
“Tapi buku nikah ada?”
“Belum di resmikan, Pak RT. Alasannya ya, karena penjelasan saya tadi.”
Pak RT kembali bertanya, “Jadi baru menikah siri ya?”
“Iya, kenapa? Apa perlu bukti?” setelah sekian lama terdiam akhirnya Alif ikut menjawab. “Saya ada video akadnya.”
Merasa tidak enak, Dara menyenggol lengannya agar Alif lebih bisa menjaga sikap. ‘Aku yang hamil dia yang sensitif. Perasaan Pak RT hanya bertanya saja tadi'
“Tidak, Pak. Saya hanya bertanya saja. Kalau memang benar demikian, tidak masalah. Saya hanya butuh KTP saja untuk mengisi data.”
“Ya, ya. Sebentar ya, Pak,” Dara menjawab. Dia mempersilakan Umi Ros dan Bapak tua itu untuk mengobrol sementara dirinya menarik tangan Alif untuk masuk ke dalam ruang tengah.
“Dih, kamu juga sensitif. Sadar hei,” katanya tak mau kalah.
“Okay aku ngaku, tapi tolong dikendalikan sedikit kalau ada di depan orang-orang.”
“Hanya satu orang,” jawabnya segera. “Kamu dengar tadi pertanyaannya; ‘Hanya nikah siri, ya?’ terkesan seperti sedang mencibir. Tapi kamu kan kurang peka, jadi mana mungkin nyambung.”
“Sudah, Lif. Jangan di perpanjang,” Dara mengeluarkan kartu dari dalam tasnya, “ini kasihkan KTP-nya tolong kasihkan. Aku mual, mau ke kamar mandi.”
“Mual lagi?”
“Iya.”
Alif menerima KTP itu namun juga mengikuti ke mana pun Dara melangkah.
“Kenapa kamu mengikutiku?” tanya Dara melihat Alif berada di belakangnya. “Ini KTP-nya lagi di tunggu—” Dara mendekatkan kepalanya ke wastafel ketika salah satu bagian tubuhnya merasa teraduk-aduk.
“Kamu butuh bantuan?”
“Ya, tapi kamu ke depan dulu kasihkan KTP-nya supaya cepat di data. Atau kamu ambilkan copyannya di laci,” jawab Dara setelah beberapa saat kemudian. Tapi karena melihat Alif masih di sana membuatnya mendorong tubuh Alif kuat-kuat. “Sudah kubilang keluar, Alif! Kasihkan KTP-nya!”
BLAM! Pintu kamar mandi tertutup.
__ADS_1
“Tapi kalau kamu pingsan gimana?” seru Alif dari luar. Namun tak terdengar jawaban dari sana lagi karena bisa membuat Alif tak kunjung pergi dari sana.
“Makasih sudah mengkhawatirkanku seperti ini, Lif. Aku semakin percaya bahwa kamu benar-benar cinta,” batinnya.
Tak hanya itu, dia juga sangat bersyukur telah di pisahkan dari orang rusak seperti Chandra. Terlepas bagaimana pun caranya pada saat itu, namun kini dia sudah bisa mengatakan, ‘Oh, jadi seperti ini jalan yang Tuhan kehendaki untukku?’
Ternyata Dia memisahkan kita dari sesuatu untuk diganti yang lebih baik lagi.
“Terima kasih sudah hadir di tengah-tengah kami baby Cil. Kami benar-benar tak sabar menantikanmu ....”
***
Setelah keributan malam itu, Chandra tidak lagi pulang ke rumahnya sendiri melainkan ke rumah istri keduanya. Di sana, dia langsung di sambut dengan sangat hangat yang seketika membuatnya lupa bahwa dia akan menceraikannya hari ini. Perlakuan Lily yang selalu membuatnya puas, menjadikannya maju mundur. Dia merasa ... ini benar-benar godaan untuknya. Di mana lagi mencari istri yang seperti ini?
“Kapan kamu mau meresmikan hubungan kita?” bisik Lily mesra di telinganya.
Chandra menggeleng, “Jangan sekarang.”
“Kapan lagi?” sela Lily.
“Iya, tunggu dulu. Aku bakal kasih tahu orang tuaku dulu, supaya beliau tidak kaget.”
“Merepotkan,” gerutunya kesal. Dia merasa sangat di permainkan karena Chandra terkesan hanya mendatanginya ketika perlu, seolah menganggap dirinya hanya seorang partner ranjang saja. Nyatanya memang demikian tanpa ia ketahui.
“Kamu seperti menyembunyikan sesuatu dariku,” kata Lily kemudian.
“Kalau memang iya, apakah kamu memaafkanku?”
“Wah, ini tidak benar, Chandra!” sembur Lily cepat-cepat merapikan pakaiannya kembali. “Sepertinya apa kata perempuan yang ada di rumah sakit itu memang benar bahwa kamu punya istri lain selain aku.”
Tak lama kemudian, Chandra mengangguk dan mengatakan yang sejujurnya. “Dia mantan istriku yang paling aku cintai. Tapi kutinggalkan demi wanita lain yang tidak sengaja aku rusak kehidupannya.”
“Hahaha ... laki-laki sampah!”
“Maafkan aku Ly. Memang benar. Aku laki-laki sampah seperti apa katamu. Ini terjadi karena ....”
“Kamu pikir aku kecewa? No, Chandra!” Lily kembali tertawa, “ini memang pekerjaanku selama ini menjadi simpanan-simpanan para pejabat. Untung aku pakai kontrasepsi jadi aku tak sampai rugi. Sudahlah, cepat ceraikan aku dan pergi dari rumahku sekarang juga. Dasar kere!”
BLAM!
Lily langsung menutup pintu kamarnya dan menguncinya dari dalam. Dan entah apa yang terjadi dengan lelaki ini hingga langsung mengirimkan pesan talak. Lily pikir, pria ini memang benar-benar sudah tidak waras!
***
Bersambung.
__ADS_1