
Chandra menggeram kesal mendapat jawaban terdengar sangat remeh. Sontak saja ia merasa begitu di sepelekan oleh seorang istri yang dia pilih. Ya, tentu saja demikian setelah Dara mengatakan akan menggugatnya.
‘Kenapa jadi salah langkah seperti ini Ya, Tuhan.’ Chandra menjambak kepalanya sendiri karena dia tidak mungkin menjambak kepala istrinya. ‘Tuhan? Apakah masih pantas menyebut nama-Mu setelah semua yang aku lakukan?’
“Kenapa masih di situ, Mas? Katanya mau beli makanan?” tanya Indira melihat suaminya masih berdiri di tempat.
“Aku ini baru pulang kerja. Aku ini capek. Bukan seperti ini sambutan yang harus kamu suguhkan di depan suamimu, Dira.”
“Jadi aku harus seperti apa?” tanya Indira menanggapi. “Mau dipaksa-paksa pun, aku tetap tidak bisa memasak. Jangan berlebihan, ya, Mas. Hanya karena masalah makanan saja kamu langsung marah. Mestinya kamu tidak perlu mempersoalkan itu—itu masalah gampang, banyak warung di luar yang bisa kamu pilih. Jangan terlalu banyak menuntut perempuan, deh, Mas! Manusia tidak ada yang sempurna, apalagi perempuan seperti aku. Kalau kamu begitu terus-terusan—yang ada semua pernikahanmu tidak akan pernah bisa berlangsung lama. Merepotkan,” jelas Indira dengan uraian panjang yang membuat Chandra merasa tertohok.
Indira pikir, gaji seorang kemendur pabrik itu besar seperti omongnya. Dia baru mengetahui setelah menikah, bahwa Chandra hanyalah lelaki yang mempunyai materi pas-pasan. Dan dia sempat menyesal karena telah merelakan kegadisannya pada Chandra.
Walaupun lelah, Chandra tetap keluar rumah untuk membeli sejumlah makanan. Dan untuk menghemat pengeluarannya yang belakangan ini cukup boros, akhirnya Chandra membeli sayuran mentah untuk dia masak sendiri.
Usai kembali, Indira hanya membantu yang menurutnya paling mudah, itu pun penuh dengan keluhan karena tidak pernah melakukan hal remeh temeh seperti ini.
Perlu diperjelas, Indira adalah mantan Chandra sebelum dia berhubungan dengan Dara. Mereka dipertemukan di sebuah acara reuni SMA di salah satu gedung, lebih tepatnya pada saat Chandra sedang hancur-hancurnya berumah tangga dengan Dara. Entah kenapa sulit sekali untuk mempercayainya karena malam kelam itu.
Obrolan singkat dengan Indira berlanjut ke pertemuan-pertemuan berikutnya. Dan mengetahui Indira masih sendiri membuatnya tak mau pikir panjang. Berteman dengannya bukanlah suatu masalah, pikirnya. Namun siapa sangka bahwa Chandra tergoda oleh kerlingan mata Indira pada saat bermalam di rumahnya. Hingga tanpa disangka-sangka, beberapa minggu kemudian dia mendapat kabar buruk yang menyebabkan mereka menikah di bawah tangan.
Padahal, Chandra begitu takut kehilangan Dara dalam hidupnya—tapi apa? Dia malah justru merusaknya sendiri.
Kini nasi sudah menjadi bubur. Pembelaan apa pun yang akan dilontarkan dari mulutnya tak akan lagi berguna. Dengan bersujud pun tidak akan mungkin bisa mengembalikan kenyataan, bahwa dia bukanlah seorang yang suci lagi. Benihnya telah tumbuh dan dia harus bertanggung jawab dengan apa yang suah dilakukan.
“Aku memang bodoh. Bodoh sekali,” Chandra bergumam ketika malam-malam sendiri. Tapi dalam lubuk hatinya dia masih memiliki harapan besar. “Kamu sangat mencintaiku. Di mana pun kamu tinggal, kamu pasti akan kembali. Aku yakin kamu kebingungan di luar sana dan akan tetap membutuhkanku suatu saat nanti."
Dia sudah memblokir kartunya, dengan keyakinan itulah dia berpegangan. "Hubungi aku, Ra. Aku akan menjemputmu.”
***
Dara membaca pesan yang diterima dari adiknya beberapa menit yang lalu.
Razka: Mbak, katanya mau ke sini, tapi sampai sekarang belum sampai juga. Ditunggu sama Ibu, Mbak.
Dara segera mengirim balasan.
__ADS_1
Dara: Iya, mau on the way ke sana. Sabar, ya.
Dia berjalan agak tergesa ke bawah, sekalian berpamitan kepada Alif yang diyakininya lupa dengan agendanya hari ini.
Sampai di bawah, rumah masih dalam keadaan sepi. Tidak salah lagi, Alif pasti masih bergelung dengan selimutnya karena belum ditemukan tanda-tanda bahwa makhluk itu sudah terbangun.
“Alif, izh. Sudah siang, masih belum bangun juga!” gerutunya. Dara bimbang antara berpamitan atau tidak. Sebab jika pun tidak, pasti Alif akan menyalahkannya yang pergi tanpa pamit. Tapi jika berpamitan, pasti akan menghabiskan waktu yang lebih lama lagi untuk membangunkannya. Sedangkan Razka dan ibu sudah sangat menunggu.
“Lif, bangun, Lif.” Dara mengetuk pintu. “Lif, bangun!” kembali di mengetuknya sampai beberapa kali, tetapi tetap tidak ada jawaban.
Lantaran tak sabar dan berang, Dara akhirnya memutar knop pintu. Dan suatu kebiasaan, Alif memang jarang mengunci kamarnya terkecuali jika dia sedang bepergian jauh, misalnya pergi keluar kota.
Masuk ke dalam, Dara mendekati Alif yang kelihatannya masih sangat nyenyak. “Lif sudah siang, loh. Kamu mau bangun jam berapa?” dia menepuk bahunya pelan.
“Jangan ganggu aku, aku baru tidur jam lima,” jawabnya setengah bergumam.
“Habis dari mana pulang jam lima?”
“Ada teman datang dari jauh, tidak bisa kutinggal.”
“Memang sengaja,” jawab Alif tersenyum licik masih dengan mata terpejam.
“Curang!” Dara mencebik.
“Mau ke mana?” tanya Alif kemudian setelah ia membuka sedikit matanya. Lantas mendekatkan tubuhnya untuk bisa menjangkau tubuh Dara yang tercium aroma lembut menenangkan.
“Mau pulang ke rumah Ayahlah. Pasti kamu lupa. Aku sudah bilang sama kamu semalam.”
Penuturan Dara membuat Alif sontak membuka matanya lebih lebar. Kantuk seolah langsung sirna mendengar Dara menyebut ayahnya. “ ... tapi sorry aku tidak bisa mengantarmu.”
Mengerutkan kening, Dara kembali bertanya, “Terus rencana kita gimana? Kamu harus bertemu sama Ayah untuk meluruskan kesalahpahaman kalian.”
“Tapi tidak untuk sekarang.”
“Lantas kapan? Katanya kita mau menikah?” Dara menagih janji.
__ADS_1
“Selesaikan dulu urusanmu, sebelum aku datang ke rumah. Masalah akan semakin rumit kalau aku datang di antara kalian karena bisa jadi aku yang dianggap perusuhnya,” meski pada kenyataannya memang demikian, batin Alif melanjutkan. “Atau memang kamu tidak sabar ingin menikah denganku? Atau ...” godanya dengan tatapan penuh arti.
“Apa yang kamu pikirkan?” sentak Dara melihat ekspresi aneh di raut wajah Alif.
“Itu bisa saja.” Alif mendekatkan wajahnya. “Kalau aku iya,” dia berterus terang. Semenjak one night itu Alif memang tak pernah bisa tidur tanpa memikirkannya. Dosa terindah, begitulah kiranya yang akan selalu dia kenang.
“Jangan mesum, Alif,” kata Dara menoyor kepala Alif walau sesungguhnya dia pun demikian; penasaran, seperti apa sih rasanya bersebadan? Seandainya Alif tahu bahwa sesekali Dara pernah memimpikan hal itu bersamanya. Cukup terdengar memalukan memang.
Dara menggeleng, mencukupkan pembicaraan yang terdengar mengerikan tersebut. “Sudah, aku mau pergi.” Dia mencari sandalnya untuk keluar.
“Kalau mau pakai mobil, pakailah!” titah Alif mengikuti di belakangnya.
“Terus kamu gimana?” Dara menoleh.
“Gampang,” Alif tak ambil pusing. “Jangan pernah bilang kalau kamu tinggal bersamaku,” pesannya sembari mengulurkan kunci.
“Ini yang membuatku bingung.” Dara memang tidak pandai mengarang cerita. Dia tak bisa membayangkan jika ibunya atau ayahnya tak mempercayai ucapannya sendiri.
“Kamu pasti bisa menjelaskannya nanti,” kata Alif percaya bahwa Dara bisa melakukannya. “Peluk,” ujarnya lagi sembari merentangkan tangan.
“Alif, kamu itu apa-apaan, sih.” Dara tersenyum lucu karena Alif tampak seperti anak kecil yang akan ditinggal pergi ibunya.
“Cepat,” Alif menggertak tak sabar.
“Mintalah dengan baik,” kata Dara.
“Hug me, please,” Alif berkata lebih sopan.
Dara mendekat dan berhambur ke dalam dekapannya. Setelah merasa cukup, Dara melepaskan diri. Namun sebentar kemudian mereka kembali berpelukan lagi, dan begitu seterusnya sembari tertawa.
Dunia ini bagaikan milik mereka berdua.
***
To be continued.
__ADS_1
Gas like.