
Disibukkan dengan berbagai macam pekerjaan membuat Dara jarang bertemu Alif akhir-akhir ini. Baik disibukkan dengan urusan perceraian, mau pun urusan Ayahnya yang saat ini masih harus bolak-balik ke rumah sakit tiap minggu untuk melakukan kontrol dan terapi. Namun Dara tetap bersyukur karena Ayahnya kini sudah bisa bergerak sedikit demi sedikit.
Dan tetap ada tahapan-tahapan perceraian meskipun Dara menggunakan bantuan pengacara. Mulai dari melakukan pemeriksaan (oleh Hakim), usaha perdamaian atau yang biasa disebut mediasi, kemudian ikrar talak, penetapan, dan terakhir adalah mendaftarkan putusan perceraian ke Pegawai Pencatat.
Kini dia masih berada di dalam tahap ikrar talak. Namun mungkin akan tetap lebih mudah karena kedua pihak sudah tidak mungkin lagi di damaikan dan telah cukup alasan perceraian.
“Memangnya aku sudah tidak waras? Mana mungkin aku berdamai dan bersatu lagi dengannya yang sudah menyelingkuhi aku sampai punya anak. Lebih parahnya lagi, dia sudah menikahi wanitanya dan tinggal bersama. Hello? Terus untuk apa jika aku tetap di sana? Berperan jadi apa? Jadi patung?” gerutu Dara kepada pengacaranya pada saat dia keluar dari area gedung.
“Sesama perempuan masa iya dia tidak tahu. Mungkin masih agak mending kalau si laki-laki ini adalah seorang crazy rich. Lah, Chandra kan biasa saja seperti kita.”
“Sabar, kamu sabar. Tinggal beberapa tahapan lagi,” kata Wiwin pengacara yang juga temannya tersebut.
“Memang berapa lamanya proses perceraian tergantung tingkat kerumitan masalah rumah tangga masing-masing klien sih, Dar. Tapi dari sekian banyak kasus yang aku tangani tidak lama, kok. Aku bisa jamin,” ujarnya memperjelas.
Dara mengangguk. “Semoga saja seperti yang kita harapkan. Jujur aku sudah sangat-sangat muak sama proses ini.”
“Muak atau muak?” tanya Wiwin bermaksud menggodanya. “Karena sudah ada yang menunggu, kali, Dar.”
“Itu salah satunya,” jawab Dara menyembunyikan senyum.
“Daya pikat kamu cukup kuat. Belum juga clear masalah, tapi sudah ada yang mengantre. Sedangkan aku, belum satu pun. Jangankan calon, hilal saja belum terlihat.”
“Mau aku carikan?” tawar Dara.
“Tapi yang gantengnya sama kaya—” tapi tak sempat terselesaikan karena Dara langsung menyikutnya. Sebab ada Chandra tengah mendekat ke arahnya.
“Selamat, Ra. Kamu menang,” kata Chandra serupa orang yang hampir putus asa. “Terima kasih sudah menemani hari-hariku selama ini, Ra. Semoga kamu bisa lebih bahagia.”
Entah perasaan apa yang tengah menyelubunginya, karena Dara begitu terenyuh mendengar nasib sial lelaki ini.
Menyadari tak selamanya bermusuhan itu indah, Dara mencoba untuk ikhlas. “Sama-sama, Mas. Semoga kamu juga bahagia. Tapi kalau aku boleh berpesan, tolong turunkan egomu. Aku harap ini yang terakhir kali kamu menyakiti banyak orang. Semoga ke depannya tidak akan ada siapa pun lagi yang menjadi korban lain, apalagi anak kalian.”
Chandra mengangguk. “Aku minta maaf ya, Ra. Semuanya. Karena banyak sekali kesalahanku yang tidak bisa kuuraikan satu-persatu.”
__ADS_1
Mulai dari mengabaikan, membiarkan Dara sakit, menuduhnya selingkuh, menjauhinya, tidak menafkahi secara adil, melakukan kekerasan, bahkan menyelingkuhinya sampai dia punya anak.
“Aku berusaha melupakannya.”
Jawaban Dara menjadi percakapan terakhir mereka sebelum akhirnya ketiganya saling memohon diri untuk memasuki kendaraan masing-masing.
Jauh sebelum hari ini, Dara sudah bertemu dengan Mama Dwi dan keluarganya untuk bersilaturahmi. Mereka berbicara banyak hal terutama tentang perceraian mereka.
Sampai sekarang hubungan mereka masih baik seperti dulu. Justru mereka sangat merasa bersalah kepadanya karena sudah gagal mendidik anaknya sendiri.
Kendatipun perceraian ini berawal dari Dara yang kemalangan, ternyata Chandra memilih menutup rahasia besar yang terjadi kepada Dara—karena dia sendiri pun merasa malu jika aib ini sampai terdengung di depan keluarga dan khalayak. Terlihat jelas di mata orang lain bahwa dia adalah lelaki yang sangat tercela dan tidak bertanggung jawab, karena tidak mau menerima Dara apa adanya.
Chandra mengatakan bahwa dirinya sedang khilaf, tidak lebih dari itu. Entah siapa yang bodoh di sini. Namun sepertinya Dara tidak terlalu masalah jika pun Chandra memang berniat untuk mengatakan yang sebenarnya. Dia tidak merasa rugi sama sekali, sebab sudah lelaki yang menunggu jandanya!
***
Weekend memang hari yang paling sibuk di Bistro A&D karena ada live musik di sana. Sengaja Jack sediakan untuk menarik perhatian para pendatang.
Terlebih tempat ini cukup strategis, dekat dengan kampus dan juga gedung-gedung perkantoran. Di bantu lagi dengan iklan promosi di media sosial, menjadikan tempat tongkrongan anak-anak muda ini cepat terkenal.
“Kalau sudah ada Jack, kenapa harus buru-buru? Cukup lihat saja dari sini. Mending kamu bantu Abangmu yang sedang kerepotan,” ucap Umi Ros karena Alif mengatakan akan pergi besok.
Yudha menyahut, “Kata Dylan, rindu itu berat, Mi.”
“Sok tahu,” Alif menanggapi.
“Iya, lebih baik di sini dulu. Bantu Abangmu, kasihan,” kata Abah juga ikut menyahut.
“Bah?” ucap Alif menghentikan ucapan Abahnya. “Bantulah aku meraih cinta.”
“Pret,” Umi mencibir memuat semua anggota keluarga tergelak tawa.
“Cinta-cinta. Cinta salah alamat. Daratista itu istri orang, Alif. Kamu bisa diduga penyebab perceraian mereka loh, hati-hati,” kata Umi lagi menasihati. “Dulu menolak, katanya karena Dara belum kuliah. Sekarang malah mengejar-ngejar koyo wong ora eling.” (Kaya orang tidak sadar.)
__ADS_1
“Iya, iya ...,” jawab Alif dengan nada panjang.
“Masih proses?” tanya Abah. Lelaki yang sangat mendukungnya karena sudah tidak tahan lagi melihat putra keduanya terlalu lama membujang.
“Sebentar lagi,” Alif menjawab.
“Kalau memang kamu mau Abah sama Umi melamar ke sana, kasih tahu dulu orang tuanya. Kamu minta baik-baik. Kalau mereka setuju, baru setelah itu kita datang. Jangan asal gruduk saja. Semua harus ada aturan dan etikanya.”
“Iya, Bah.”
“Orang tuanya sudah tahu belum kalian ada niat menikah?”
“Untuk saat ini belum, Bah.”
Tentu saja belum. Kalau tahu Alif dan Dara sudah lama dekat jauh sebelum mereka bercerai, mereka bisa shock parah.
“Ya, kamu harus memberitahu mereka dulu.”
“Jadi Abah izinin Alif balik ke sana besok ‘kan?” kembali Alif merayu agar di izinkan.
“Bukannya tidak boleh, Abah khawatir kamu semakin menjadi-jadi. Tetap di sini sampai menikah supaya kamu ada yang mengawasi.”
“Tapi, Bah?” Alif terlihat sangat keberatan.
“Beresi dulu rumahmu biar nanti bisa langsung dipakai.”
“Bah, itu hanya alasan supaya Alif tetap di sini ‘kan? Alif tetap balik ke sana besok, ya?” Alif kembali memohon.
“Nanti jadi fitnah kalau kamu sering ketemu diam-diam, Alif,” kata Umi Ros yang gemas dan lantas kembali menjewer kuping anaknya. “Apalagi Dara itu jandaaaaaa!”
“Aiyaiyaiyayayaaaaaaaaa!”
***
__ADS_1
Bersambung.