Ternoda Di Malam Pengantin

Ternoda Di Malam Pengantin
Kamu Itu Aneh! Pemarah!


__ADS_3

“Kecelakaan? Sekarang bagaimana keadaannya? Oh, syukurlah. Sudah kamu bayarkan tagihannya? Awasi ke mana pun dia pergi dan terus kabari aku perkembangannya!” kata Alif kepada orang yang ada di seberang.


“Siapa yang kecelakaan?”


Alif langsung menoleh tatkala mendengar suara lain menyahuti ucapannya. Dia sempat terperanjat, namun segera dapat menormalkan kembali ekspresinya. “Temanku, Mi,” jawab Alif menghindari kontak mata dengan berpura-pura sibuk menggulir layar ponselnya secara acak.


“Teman yang ada di mana? Temanmu itu kan, banyak.”


“Umi tidak mengenalnya karena aku tidak pernah membawanya ke sini.” Alif membiarkan dirinya dituntun masuk oleh Uminya ke dalam rumah.


“Umi mau bicara sebentar.”


Alif mendadak merasa tidak enak saat Uminya mengatakan hal demikian. Setelah duduk di ruang tamu, Umi menggenggam tangannya dan menatap matanya lekat-lekat. Roman wajahnya terlihat sangat bersungguh-sungguh.


“Alif sudah ada calon?” tanya beliau dengan sangat hati-hati.


Entah sudah berapa kali orang tuanya menanyakan hal ini sehingga terkadang membuat Alif menjadi jengah. Tak jarang—mereka juga menjodoh-jodohkan seorang gadis padanya, namun selalu Alif tolak karena sampai saat ini, belum ada gadis yang dapat menggetarkan hatinya selain Dara puspita. Karena semakin dia membenci wanita itu—semakin dalam dia mencintainya. Ada pun masa lalu yang kurang baik, lantaran terlalu pilih-pilih dalam mencari pasangan, membuat dia kesusahan mencari teman hidup. Dan anehnya, hatinya malah justru terpaut pada gadis sederhana seperti Dara.


Namun sepertinya Tuhan berkehendak lain. Niat ingin melamarnya terdahului oleh lelaki lain karena terlalu lama menimbang. Padahal dia sudah memantapkan diri untuk melamar Dara secara romantis pada malam resepsi pernikahan abangnya, tetapi dipatahkan karena Dara ternyata justru datang bersama Chandra dan mengenalkan Chandra adalah tunangannya.


Lama tak menjawab membuat Umi kembali berkata, “Bukan tanpa sebab kami wara-wiri menanyakannya padamu. Alasan utamanya, karena kami sudah tua. Kami ingin melihatmu menikah, ingin bisa menimang cucu darimu selain cucu dari Yudha. Hanya itu.”


“Iya, tapi Alif belum bisa,” jawab Alif.


“Menunggu apa?” tanya Umi Ros kemudian. “Dara sudah punya suami, Nak. Tidak ada yang bisa ditunggu dari Dara. Dia sudah bahagia bersama suaminya.”


Umi Ros sangat mengetahui kisah percintaan anaknya karena dulu beliaulah yang berencana melamarkan Dara untuk putranya. Hari itu, beliau juga sama-sama kecewa pada saat orang tua Dara mengatakan Chandra adalah calon menantunya. Padahal beliau sudah mengantongi sebuah cincin cantik yang Alif beli khusus. Dan sepertinya patah hatinya memang tidak main-main karena setelah kejadian itu, Alif pergi tanpa kabar selama seminggu lamanya.


“Sudahlah, Mi. Sabar dulu, Alif doakan supaya Umi sama Abah berumur panjang, bisa lihat anak-anakku!”


“Kendalikan emosimu, Nak. Jangan dibiasakan meledak-ledak seperti ini ... tidak baik.”

__ADS_1


“Jangan tanyakan itu melulu, Umi. Aku bosan.”


“Alif! Jaga cara bicaramu sama orang tua!” sahut suara dari dalam.


Alif geram melihat kemunculan Yudha dan bersungut-sungut kesal, “Aargh! Di mana-mana ada kamu, memuakkan!”


“Kamu itu jadi aneh, hobinya marah-marah tidak jelas,” kata Yudha lagi.


“Kamu juga aneh, hobimu mencampuri urusan orang lain!” Alif berlalu dari hadapan mereka dan berlari menuju ke atas mengunci pintu kamar. Dia membenci Yudha, benci keluarga, benci diri sendiri dan semua orang di belahan bumi ini yang tak pernah mau mengerti perasaannya.


“Heran sama Alif karena belakangan ini jadi monster,” gumam Yudha masih ada di dekat Uminya. “Ayo, Mi, Yudha antar ke kamar.”


“Umi tidak apa-apa, kamu tidak usah khawatir. Umi tahu anak-anak Umi seperti apa, Nak. Alif memang pemarah, tapi dia sebenarnya sayang sekali sama Umi.”


“Tapi tadi anak kurang ajar itu sudah berani bicara pakai urat sama orang tua, harus kita tegur.”


“Umi memahaminya, dia sedang kacau.”


Ah, Umi Ros memang selalu begitu, selalu melihat anak-anaknya dari sudut pandang yang berbeda. Begitu luas pemikirannya tentang mendalami perasaan setiap orang.


“Kemarin waktu di acara pernikahan Dara, Alif bagaimana?” tanya Umi Ros ketika beliau sudah berada di dalam kamar.


“Dia kelihatan biasa-biasa saja,” jawab Yudha sambil menyalakan pendingin ruangan.


“Alif menemui kedua pengantinnya bukan?”


Yudha mengangguk. “Tapi hanya sebentar, karena setelah itu, kami tidak tahu dia ke mana.”


Umi terdengar menghela napasnya. Kemudian mengucapkan keluh kesah, “Kalau dipikir-pikir kasihan adikmu, padahal dia sudah pernah mengajak Dara menikah. Tapi Daranya tidak peka.”


“Bukan tidak peka, kesing Alif yang kurang meyakinkan.”

__ADS_1


“Ya, mungkin itu jadi salah satunya juga.”


“Kalau cinta kenapa tidak dikejar dari awal? Sekarang sudah terlambat.”


“Sudah dikejar, sering dikirim-kirim paket sama Alif dari jauh, tapi tidak pernah dibalas. Malah dibalas undangan.”


“Kok bisa, Mi?” tanya Yudha penasaran dengan cerita yang sebenarnya. Selama ini Alif hanya terbuka dengan Uminya saja. Tidak dengan siapa pun.


Umi menceritakan, setelah mengetahui Dara telah bertunangan, Alif pernah pergi selama berhari-hari dan jarang pulang ke rumah.


Bertahun-tahun dia menyembuhkan rasa sakit hatinya dengan mencoba memulai hubungan yang baru bersama wanita lain—tetapi soal hati tidak bisa dipaksa, cintanya tetap berkiblat kepada Dara seorang.


Pada suatu waktu, Alif mendengar kabar menyenangkan dari Vita, karena ternyata Dara belum menikah sampai saat ini. Selama tiga tahun lebih, Dara terlebih dahulu menyelesaikan pendidikannya di jurusan Tata Boga, sama seperti kakak iparnya.


Semangatnya kembali berkobar karena merasa masih memiliki kesempatan. Alif berusaha memperjuangkannya lagi dengan berbagai hal. Mencoba mengirim pesan, menelepon, mengirim paket, meskipun tidak sering, karena dia gengsi, dia pria yang sangat menjaga image—yang jelas dia tidak ingin terlalu kentara bahwa dia adalah seorang lelaki yang gatal.


Alif yang terbiasa dikejar oleh wanita-wanita sebelumnya berharap Dara melakukan hal yang sama, tetapi ternyata harapannya terlalu muluk-muluk. Karena Dara tetap menganggapnya teman biasa.


Belum sampai di mana-mana perjuangannya, dia kembali dipatahkan oleh selembar undangan.


Tak terima diperlakukan demikian, Alif langsung meluncur ke kota di mana Dara tinggal dan mengatakan bahwa dia ingin menikahinya.


Namun karena tidak bisa menyampaikan niatnya dengan bahasa lebih baik; karena dia memang tipe lelaki yang sulit mengungkapkan perasaan secara lugas, justru dianggapnya sedang bercanda.


Sebagai lelaki sejati, dia masih berusaha memperjuangkan.Alif kembali mengatakan keseriusannya sebelum kembali ke Jakarta dengan menyampaikan niatnya secara langsung kepada Hilman; ayah Dara. Tetapi beliau malah justru menyerapahinya pedas.


Alif memang tidak mengatakan keseluruhan kata-kata apa saja yang disampaikan oleh orang itu kepada Uminya. Namun satu hal yang Umi Ros ingat, bahwa Alif memang dikatakan tidak pantas bersanding dengan putrinya selain Chandra. Kemudian dibanding-bandingkan oleh beliau seenak jidatnya yang sudah hampir botak separuh.


Tatkala Alif tengah mengatakan demikian, Umi Ros melihat mata putranya berkaca-kaca. Beliau sangat mengenali anaknya, Alif bukan sosok lemah lembut dan gampang terenyuh dengan suatu perkara—yang paling menyedihkan sekalipun. Dia adalah pribadi yang sangat kuat. Tetapi sepertinya memang ada beberapa perkataan lain yang sangat menghunjam ulu hati putranya tersebut, sehingga menyebabkan Alif demikian.


***

__ADS_1


Bersambung.


Masih ada flashback lagi tentang percakapan hilman wktu itu, tapi nanti aku keluarin kalau lagi debat sama Dara. Mobon berSabar, ya, mentemen. Cerita ini gak terlalu rumit kok. Tentang hilman gimana, emang sikapnya udah kelihatan semenjak di novel Tak Sanggup Berbagi, tepatnya di malam resepsi pernikahan Yudha&Vita.


__ADS_2