
Dara memang sempat kaget dengan pertanyaan itu, namun dia berusaha untuk tidak terlalu menunjukkan perubahan roman wajahnya. Karena Dara tahu ini adalah sebuah pertanyaan menjebak. Jangan sampai lidahnya terpelintir, begitu pikirnya karena bisa bertambah panjang suatu urusan. Dengan segera ia menjawab dengan nada tenang, “Habis ke rumah ibu, sisanya mencari bukti supaya kamu percaya.”
“Dengan siapa?” tanya Chandra lagi.
“Sendiri.”
Chandra mengangguk. Menandakan pria itu mempercayai ucapannya.
Usai mereka melakukan makan malam, Dara segera membersihkan sisa-sisa bekas makan mereka. Menggosok gigi, kemudian berlanjut menonton televisi. Dia berusaha menghibur dirinya sendiri dengan random aktivitas yang disukai, karena saat ini Chandra sudah masuk ke ruang kerjanya dan meninggalkannya sendirian.
Sebetulnya bukan ruang kerja karena Chandra tidak terlalu memerlukannya mengingat pekerjaannya yang sebagai seorang kemendur pabrik, bukan pekerja kantoran. Namun mungkin memang sengaja khusus di desain demikian agar dia bisa mempunyai tempat untuk menyendiri.
“Aku merindukanmu, Mas Chandra,” gumam Dara dengan mata berlinang. Otaknya memutar kembali kenangan yang sudah pernah mereka lewati bersama-sama selama tiga tahun belakangan ini. Bukan waktu yang sebentar yang bisa dengan mudahnya dia lupakan.
“Maaf, kalau aku mengecewakanmu. Seharusnya aku tidak keluar gedung waktu itu. Aku yang bodoh. Ya, aku yang bodoh ....”
Dalam keadaan mata yang basah, Dara merebahkan dirinya di atas sofa dengan memeluk bingkai foto prewedding mereka, berharap Chandra hadir ke dalam mimpi. Memeluknya, menciumnya dan menceritakan kisah-kisah indah terkecuali perpisahan.
Entah sudah berapa jam Dara tertidur di sofa, dia tersadar pada saat merasa wajahnya ditepuk-tepuk, hingga kemudian dia memaksakan matanya untuk terbuka.
“Tidur di atas, jangan tidur di sini. Nanti bisa sakit lagi,” ujar seorang pria di depannya.
Dara yang pada saat itu merasa bahagia karena diperhatikan langsung beranjak berdiri dan menghamburkan diri memeluk Chandra, menahan agar pria itu tak pergi darinya.
“Terima kasih sudah mau memperhatikanku,” ujarnya kembali terisak. Dan tanpa diduga, Chandra kini berbalik badan, membalas pelukannya dan mencium puncak kepalanya dengan lembut.
***
“Mi, aku mau pinjam lagi 300 juta nanti janji aku kembalikan,” ujar Alif kepada uminya pada saat dia baru tiba di Jakarta. Rasanya tidak elok jika dia meminjam hanya lewat sambungan telepon. Terlebih nominalnya tidak sedikit.
Sesaat Umi Ros mengerutkan dahi, namun sebentar kemudian beliau segera dapat menormalkan kembali ekspresinya. “Boleh ... mau di kirimkan ke rekeningmu yang mana?”
Alif tersenyum senang mendapatkan kebaikan hati uminya. Lantas dia menjawab, “Ke nomor rekening—” namun tak sempat terselesaikan karena tiba-tiba ia mendapatkan pukulan di wajahnya.
__ADS_1
BUKK! BUKK!!
“Yudha, CUKUP!”
Umi memekik keras, begitu pun dengan Alif yang langsung terhuyung ke lantai. Dia tidak sempat menghindar karena kedatangan Yudha sangat tiba-tiba dan langsung menerjangnya bertubi-tubi.
“Sudah! Sudah! Sudah, Nak. Kasihan adikmu, sudah luka!” pekik Umi Ros lagi yang tetap tidak bisa menghentikan aksi putra pertamanya. “Vita, Vita!” beliau menyerukan menantunya yang sekarang entah sedang berada di mana. Kemungkinan sedang sibuk dengan ketiga anaknya di kamar.
“Apa begini kelakuanmu? Pergi selama berhari-hari, lalu setiap pulang kamu selalu meminta uang!?” bentak Yudha kepada Alif yang kini sudah tak berdaya. Darah segar sudah mengalir di sudut bibirnya.
“Kita bisa bicarakan baik-baik, Nak ... cukup!” Umi Ros kembali berujar dengan deraian air mata. Hancur hati seorang ibu melihat anak-anaknya saling berkelahi seperti ini.
Lamun, Yudha tidak peduli. Dia masih menatap adiknya di lantai dengan sorot mata kebencian. “Ulah apa lagi yang kamu lakukan di sana?” tanyanya begitu geram. Bukan sekali ini Alif berbuat ulah, dan yang paling mengejutkan adalah saat ia mengetahui Alif menyimpan alat pengaman yang ditemukannya di Hotel beberapa waktu lalu.
Terang saja dia marah, dia hanya seorang kakak yang ingin adiknya berubah, itu saja. Namun begitu, Yudha masih menyembunyikan rahasia besar ini lantaran tidak ingin orang tuanya jantungan setelah mendengar anak keduanya yang ternyata juga seorang pezina.
“Jangan kasih dia pinjaman kalau alasannya tidak jelas, Mi. Aku tahu Umi sayang sama Alif, tapi bukan seperti itu caranya mendidik seorang anak. Oh, iya. Aku salah, dia bukan anak lagi. Dia orang dewasa, yang otaknya masih anak-anak.” Yudha menarik kerah adiknya kuat-kuat. “Jelaskan, untuk apa uang sebanyak itu?”
“Kalau butuh uang itu kerja! Bukan malah keluyuran dan pacaran tidak jelas!”
Alif menggeleng, “Lepas!”
“Aku lepaskan kalau kamu mau jujur!”
“Bukan urusanmu!”
Yudha kembali menghempaskan Alif ke lantai. Tak ingin emosinya semakin meningkat, Yudha sejenak meninggalkannya untuk menenangkan diri.
Usai Alif pergi, Umi Ros segera menghampiri putra keduanya dan menuntunnya untuk duduk. Beliau kemudian membantu mengobati wajah Alif yang kini sudah mulai membiru. Walau bagaimana pun, Alif tetap anaknya. Dia begitu menyayanginya dan beliau berusaha mengerti, bahwa selalu ada sebab yang membuat putranya demikian.
“Lain kali kalau pulang kabari Umi dulu, ya. Menunggu abangmu pergi dulu. Umi tidak mau terjadi seperti tadi lagi.”
Alif mengangguk. “Maaf sudah membuat Umi khawatir,” ujarnya mencium tangan wanita yang melahirkannya. “Aku sayang sama Umi.”
__ADS_1
“Ya, Sayang. Umi juga tahu,” Umi menganggukkan kepalanya dan mengusap pipi putranya. “Kamu pinjam uang sama Umi karena mau bangun usaha sendiri ‘kan?” Umi Ros hanya menebak, namun tanpa ternyata dugaannya memang benar.
“Iya, mohon doanya, Mi,” jawab Alif lirih.
“Nanti uangnya tetap Umi transfer. Kamu jangan khawatir, ya. Jangan sampai pinjam-pinjam ke teman. Umi yang akan bantu.”
Sebetulnya, Alif masih memiliki sejumlah uang simpanan. Namun dia tidak ingin ketar-ketir dalam pemakaian. Sebab usaha itu memerlukan biaya yang besar juga dan sering timbul pengeluaran tak terduga. Katakanlah dia butuh cadangan, demikianlah lebih tepatnya.
***
Tidak terasa tiga Minggu sudah berlalu semenjak tanggal pernikahannya sekaligus malam kelam itu. Harap-harap cemas Dara menanti tamu bulanannya datang, karena nyatanya, sampai saat ini, belum ada tanda-tanda datangnya tamu istimewa tersebut. Misalnya, badan pegal-pegal, sakit perut, dan sedikit meriang. Padahal menurut perhitungan, mungkin dua atau tiga hari lagi.
Hubungannya dengan Chandra masih diam di tempat. Meski sekarang sudah jauh lebih baik karena Chandra sudah mau tidur dengannya dalam satu kamar.
Tak jarang, dia juga terlebih dahulu menciumnya sebelum dia berangkat bekerja. Ya, tapi hanya sebatas itu. Tidak dengan yang lain karena Chandra tetap pada kesepakatan pertama yang dia buat. Dara pun heran, kuat sekali imannya menghadapi seorang perempuan yang tidur bersama dengannya. Padahal dia adalah perempuan yang dicintai.
Untuk masalah penyelidikan kasus itu sendiri—sepertinya masih tampak abu-abu, karena Alif tidak kunjung menghubunginya lagi.
“Seharusnya aku tidak terlalu berharap. Jelas-jelas dia hanya orang lain yang kebetulan peduli.”
Dua hari kemudian, Dara pergi ke apotek terdekat. Sudah tiba hari yang ditunggu-tunggu dan haid belum juga datang. Dara sangat yakin dia telat hanya karena stres saja, tetapi dia tetap harus membuktikannya dengan beberapa alat testpack sekaligus, kalau perlu hasil tes USG rumah sakit agar Chandra lebih percaya.
Jantungnya berdebar-debar pada saat dia mencelupkan stik itu ke urinenya. Demikian yang dia teteskan ke dalam tes kehamilan digital.
“Semoga negatif. Semoga negatif. Semoga negatif. Semoga negatif,” gumamnya berulang-ulang sambil memejamkan mata.
***
To be continued.
__ADS_1