Ternoda Di Malam Pengantin

Ternoda Di Malam Pengantin
Mantra Paling Ampuh


__ADS_3

Paginya setelah Dara memasak untuk sarapan, Dara langsung mengerjakan pekerjaan rumah dengan agak terburu-buru. Sebab, dia ada janji bertemu dengan Alif di suatu tempat dan tentu saja Alif yang menentukan karena Daralah yang mengajaknya.


Tujuannya adalah menanyakan; sudah sampai di mana Alif menyelidiki kasus ini, serius atau tidak pria itu yang katanya (tanpa keberatan) bersedia membantunya.


Malam, usai mereka melakukan pembicaraan singkat, mereka langsung tertidur tanpa ada yang berani menegur sapa lagi hingga pagi ini. Terang saja Dara masih kesal. Begitu pun Chandra yang masih berkubang pada kekecewaan.


Saat makanan terhidang di meja, Dara langsung meninggalkannya pergi lantaran tidak ingin terlalu banyak melakukan percakapan dengan Chandra yang justru malah membuatnya bertambah sakit hati.


Sepenuhnya dia tidak membenci Chandra, tapi lebih membenci diri sendiri yang terkadang juga sama-sama ingin menang sendiri. Seharusnya Dara memaklumi bahwa Chandra membutuhkan waktu, tetapi hatinya tetap saja menggebu ingin diperlakukan layaknya tak pernah terjadi apa-apa. Dara akui, sebenarnya dia sendiri pun sama-sama aneh!?


“Aku berangkat dulu ya, Ra,” ucap Chandra yang kemudian mendekatinya, lantas mengusap kepalanya singkat tanpa benar-benar ingin meninggalkan sebuah kecupan. Untungnya kali ini Dara tidak terlalu berharap karena tidak ingin kecewa lagi.


Dara tidak menjawab apalagi menanggapi sebab Chandra nampak terburu-buru. Dara pun memahami karena pada dasarnya dia juga sudah lumayan terlambat karena jam sudah menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit.


Memasang celemek, Dara segera membersihkan semua perabotan kotor—setelah itu membersihkan rumah dengan menyambi mencuci pakaian. Dua hari ditinggalkan olehnya membuat pakaian agak menumpuk. Untungnya dia sudah sembuh seperti sediakala sehingga bisa menyelesaikan semua pekerjaan rumahnya.


Setelah semua usai, Dara membersihkan diri lalu bersiap-siap untuk menuju ke lokasi yang sudah Alif bagikan lewat salah satu aplikasi chatting yang umum digunakan.


Beruntung Dara memakai outfit simpel, jadi ia tidak terlalu ribet saat menaiki motor yang kemarin sempat mencelakakannya.


Kali ini Dara memakai kaos berwarna putih dan memakai bawahan celana jeans berwarna light blue. Dan untuk melindungi kulitnya dari panasnya matahari, dia pun memakai cardi rajut berwarna pastel yang justru menambah kesan manis.


Dara memang tidak terlalu paham dengan fashion wanita, entah yang terlama atau terbaru. Dia hanya memakai apa yang menurutnya cocok dan simpel. Maka tidak salah jika orang lain menilainya agak tomboy, karena begitulah kenyataannya.


Arah navigasi berhenti pada satu titik, yakni di kompleks rumah yang bisa dikatakan elite.


Menepikan motornya, Dara melihat ke sekitar, “Ini alamatnya benar atau tidak? Atau mapnya sedang eror?”


Dara kembali memastikan alamat yang diterimanya karena kurang yakin. “Kalau benar, kenapa apa Alif di sini? Ini kan rumah sewa. Atau dia memang sedang tinggal di sini, mungkin sementara?”


Ah, daripada penasaran kenapa tidak langsung ia tanyakan saja?


Menggulir layar, Dara mencari kontak ponsel Alif dan segera menghubunginya. “Aku sudah sampai di lokasi. Kamu ada di mana?”


“Hmm ...” hanya terdengar deheman malas dari seberang. Dara menduga bahwa Alif baru saja bangun dari mimpinya.

__ADS_1


“Alif!” seru Dara agar Alif mendengarnya.


“Apa?”


“Kamu baru bangun tidur, ya?” lama tak terdengar jawaban membuat Dara semakin naik pitam, “Alif, ya ampun. Aku sudah di sampai, aku bingung harus ke mana. Aku celingukan sendiri di pinggir jalan seperti orang hilang. Ini benar atau tidak alamatnya?”


“Ya, ya sebentar,” jawab Alif akhirnya. Kemudian terdengar seperti sedang berjalan. “Kamu lihat ke rumah paling ujung.”


Dara mengikuti instruksi Alif yang menyarankannya untuk menatap ke rumah paling ujung. Terlihat di sana seorang pria yang juga menempelkan ponsel ke telinga, sama sepertinya. Namun dia langsung tergelak tawa tatkala melihat pria yang biasanya agak formal itu sekarang hanya memakai celana kolor dan kaos oblong serta rambut yang awut-awutan khas bangun tidur.


Kembali menyalakan starter, Dara memacukan motornya ke ujung. Tempat di mana Alif berdiri menunggunya.


“Sudah lama kamu menunggu di sana?” tanya Alif begitu Dara mematikan motor.


“Belum terlalu lama,” jawab Dara melepaskan helm, kemudian turun dari motornya. Mencabut kunci dan mengekori langkah Alif yang masuk ke dalam rumah ini.


“Untuk apa kamu menyewa tempat ini—eh, benar ‘kan ini rumah sewa?” tanya Dara penuh rasa ingin tahu.


Alif menjawab, “Untuk mengintaimu.”


“Aku memang punya pekerjaan di sini,” kata Alif kemudian. Menuangkan air minum dingin ke dalam dua gelas.


“Kamu tinggal sendiri?”


“Sama Jack, temanku. Tapi dia sudah pergi tadi pagi.”


“Temanmu sudah pergi, tapi kamu sendiri baru bangun. Nanti rezekimu bisa dipatok ayam.”


“Aku bangun siang dan tidak ke mana-mana karena menunggumu. Tapi kamu terlalu lama.”


“Aku harus membereskan rumah dulu, jadi aku datang agak kesiangan. Lagi pula kalau aku ke sini pagi-pagi, nanti suamiku siapa yang mengurus?”


Usai menuangkan minum, Alif menuju ke belakang untuk meletakkan teko air dingin itu ke belakang.


“Aku penasaran ingin melihat semua ruangan di sini. Boleh ‘kan?”

__ADS_1


Alif sempat terkejut pada saat dia menutup kulkas karena tahu-tahu, Dara sudah berada di dekatnya. Namun yang membuat dia lebih terkejut lagi ketika Dara menuju ke tempat jemuran yang ada di paling ujung.


“Hei, kamu mau ke mana?” tanya Alif panik.


“Ya—mau lihat belakang lah,” jawab Dara amat santai tanpa benar-benar mau menghentikan langkahnya walau tahu Alif sedang mengikuti. Dara sama sekali tidak peka bahwa Alif sangat keberatan jika ranah privasi-nya dijajah oleh perempuan.


‘Dia memang tidak pernah berubah, dasar bebal, tidak peka!'


Sesampainya di tempat jemuran, Alif cepat-cepat memutar tubuh Dara agar tidak melihat deretan kancutnya yang tersampir. Masalahnya bukan itu—tetapi rasanya sangat malu kalau-kalau Dara sampai melihat ada bagian yang bolong pada kain segitiga keramatnya!


“Apaan, sih. Mau lihat saja tidak boleh,” protes Dara kesal.


“Untuk apa juga kamu lihat-lihat ke sini. Seperti tidak ada tempat lain saja!”


“Ya, ya. Baiklah kalau begitu aku lihat ke tempat lain, ya?” Baru saja Dara akan kembali, wanita itu terlonjak dan berteriak. “Aaakhhkk! Kecoa! Kecoa!” seketika dia juga langsung menemplok pada tubuh Alif layaknya seekor cecak.


Kecoa itu ada di dekat mereka kurang dari jarak satu meter dan sedang berputar-putar mencari tempat, mungkin untuk berlindung. Namun bukannya Alif melindungi dia malah justru lebih takut pada hewan itu sehingga dia juga sama-sama berteriak heboh. “Aaaaaaaa!”


“Jangan bilang kamu takut juga dengannya?” kata Dara setelah merenggangkan pelukan. Dia membatin, ternyata nyaman juga berpelukan dengannya.


“Aku hanya geli,” kilah Alif sambil bergidik. “Hihh!”


“Kenapa dia malah semakin dekat?!” Dara semakin panik. Keduanya merapat ke dinding saling menyelamatkan diri.


Tetapi karena tidak ingin terlihat seperti banci yang takut pada hewan sekecil ini, Alif berusaha mencari jalan keluar.


“Tenang, aku punya mantra ampuh,” ujarnya kemudian meraih gagang sapu, mengangkatnya tinggi-tinggi dan memukulnya keras ke lantai sembari mengumpat, “JAN—CUK!”


Dara menganga mendengar kalimat tersebut. Mantra apa itu barusan, OH MY GOD?!!


***


To Be Continued.


Happy weekend jangan lupa bahagia.

__ADS_1


__ADS_2