Ternoda Di Malam Pengantin

Ternoda Di Malam Pengantin
Menantu Kebanggaan Ayah


__ADS_3

Dara menghela napas lebih lega pada saat melihat kecoa itu sudah terkapar tak berdaya. Keduanya keluar dari sana dengan senyum yang terus tersungging karena merasa lucu kepada diri masing-masing yang ternyata takut pada hewan sekecil itu, yang bahkan tidak akan menggigitnya sama sekali. Sungguh memalukan!


“Ternyata rumah mewah juga ada kecoanya, ya,” sindir Dara dengan senyuman meremehkan. “Lebih parah lagi pemiliknya. Masa laki-laki badannya gede tapi takut sama kecoa?”


“Aku hanya geli,” Alif tetap berkilah.


“Bohong. Kalau kamu tidak takut, kamu tidak teriak. Eh tapi kita dosa atau tidak, ya, sudah membunuh kecoa?”


Bahkan lebih berdosa kecoa karena telah membuat mereka berdempetan.


Tetapi mungkin karena rasa penasaran Dara masih mendominasi, membuat wanita itu tak mau diam di tempat. “Aku belum ke sana,” Dara menunjuk ke atas.


“Berhenti mengelilingi tempatku!” kata Alif menghentikan tubuh Dara yang sudah melangkahkan kakinya ke anak tangga.


“Pasti di atas lebih bagus, iya kan?”


“Tidak ada yang bagus di sana. Kamu tidak perlu ke sana.”


“Tapi aku penasaran ....”


Alif menggeleng. “Duduk. Tetap di bawah.”


Meskipun kecewa, tapi Dara akhirnya mengurungkan langkah karena tidak ingin Alif marah padanya.


“Ya sudah, aku ke sini cuma mau menanyakan soal kemarin,” kata Dara setelah duduk tenang di kursi.


“Belum sampai di mana-mana,” jawab Alif seolah tidak begitu penting sehingga membuat Dara mengernyit keheranan. Bagaimana mungkin dia mengatakan demikian setelah kemarin dia berkata bersedia untuk membantunya? Wah, wah, wah! PHP.


“Kenapa begitu?”


Alif mendesahkan napasnya ke udara, “Dari titik mana aku bisa menyelidiki kalau yang kamu sampaikan itu hanya sepotong-sepotong?”


“Aku harus menceritakan dari mana supaya kamu lebih mudah menyelidikinya?”


“Memangnya suamimu ke mana? Kenapa kamu malah memintaku untuk menolongmu?” Alif menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.


Dara menggeleng. Bukan tidak tahu, tapi dia memang tidak bisa menjawabnya. Dan tiba-tiba dadanya juga terasa menjadi lebih sempit. Wajahnya berubah menjadi sendu karena kembali terpikir oleh suaminya itu yang membiarkan dirinya meraba-raba solusi seorang diri. Dia adalah wanita lemah yang dibiarkan tanpa bantuan, tanpa dukungan, tanpa apa-apa.


“Kamu lagi sibuk, ya?” tanya Dara setelah hening beberapa saat. Dia mencoba melupakan segera apa yang menimpanya karena dia pikir, menangis pun tidak akan ada gunanya. Dara akan menyikapinya dengan biasa saja agar tetap berada dalam kewarasan. Masalahnya sudah pelik, dia tidak mau membebani pikirannya dengan sejumlah persoalan lagi.


“Lumayan,” jawab Alif singkat.


“Apa yang sedang kamu kerjakan?”


“Tidak terlalu penting. Tapi juga tidak bisa aku tinggal.”

__ADS_1


“Kamu itu memang aneh!”


Sembari menatap layar ponsel, dia pun menjawab, “Aku sedang membuka usaha.”


“Oh, ya?” ujar Dara tampak sangat senang. “Apa itu?”


“Bistro.”


“Oh ... Bistro? Wah keren, keren. Kebetulan nama usaha itu masih sangat asing di sini karena lebih marak Cafe atau Restoran. Sepertinya ini bisa menjadi peluang usaha yang besar!” kata Dara serupa tengah memberikannya dukungan.


Alif hanya tersenyum samar. Berusaha menahan debaran di dada karena sudah berhasil membuat Dara membutuhkannya. Bukan hanya itu, Dara juga menyukai topiknya, terlihat dari bagaimana antusiasme wanita tersebut menanggapi percakapannya.


“Sudah opening kah? Aku mau lihat,” kata Dara lagi.


“Masih dalam tahap renovasi. Masih panjang prosesnya.”


“Yah ... kukira sudah,” kata Dara agak kecewa. “Terus terang aku juga ingin mempunyai usaha sendiri di bidang kuliner sepertimu, seperti Vita juga. Tapi sepertinya Chandra tidak akan mungkin mengabulkan permintaanku. Kami masih ... ya—begitulah, seperti yang aku ceritakan padamu di rumah sakit.”


Sebenarnya Dara tidak berniat untuk mengatakan hal ini lagi, tetapi—ya sudahlah. Toh, sepertinya Alif juga tidak merasa keberatan. Dia tetap setia mendengarkan dan menyimak ucapannya meski tidak berusaha menanggapi.


Jeda beberapa saat kemudian Dara kembali berujar, “Apa aku bisa bekerja denganmu?”


“Untuk apa?” Alif mengerutkan dahi. “Aku pun belum tentu berhasil. Pakai lulusanmu untuk hal yang lebih berguna daripada menjadi pekerja di tempatku yang tidak terlalu meyakinkan apalagi menjanjikan.”


“Kalau bekerja di tempat lain aku harus full time. Tidak seperti di tempatmu yang mungkin bisa memberiku kebijakan.”


“Oh, sakitnya ditolak.” Dara mengerucutkan bibirnya. Dara hanya ingin mencari kesibukan sembari menimba ilmu untuk dia praktekkan sendiri nanti ke depannya, begitulah dia berpikir.


Dan untuk sesaat, Dara sempat menyesal. Sudah bersusah payah kuliah sampai berkorban banyak hal, tapi seperti tidak berguna karena ujung-ujungnya menikah dan tidak bisa membanggakan siapa pun apalagi diri sendiri.


Kendati demikian, jika direnungkan lebih dalam lagi, ternyata ia masih lebih baik daripada teman-temannya yang kini malah justru berjualan pop es.


Semua rezeki Tuhan yang mengatur. Pendidikan yang tinggi memang tidak menjamin seseorang bisa sukses. Namun janganlah salah persepsi—tidak ada yang salah bukan, menjadi orang tua yang berpendidikan? Jika tidak berguna saat ini, mungkin bisa berguna kelak atau nanti!


“Ya sudah-ya, sudah! Kembali ke topik utama. Jadi begini ...” Dara mulai menceritakan apa yang terjadi dengannya pada saat malam pertama. Mulai dari menerima surat yang menyuruhnya keluar, kemudian dibekap orang tak dikenal, pingsan, lantas tahu-tahu dia sudah berada di tempat semua dengan keadaan tubuh yang membingungkan. Kini lebih jelas cerita tersebut daripada kemarin lalu. Mungkin karena dia masih kurang sehat waktu itu.


Namun yang membuat Dara seperti menyesal adalah, pada saat Alif hanya berdeham saja tanpa ingin menanggapi dengan cara lain.


“Sebenarnya aku cukup heran denganmu, Lif. Aku tahu tulisanmu itu panjang-panjang, aku pernah melihat di buku coretanmu, tapi kenapa ucapanmu justru pendek-pendek. Bahkan terkadang tidak keluar sama sekali selain hamm-hemm tidak jelas. Sebenarnya kamu niat atau tidak sih, membantuku?” protes Dara panjang lebar. Namun kemudian wanita itu tersenyum memabukkan. “Tapi jujurly, aku suka hem-hemmu itu. Seksi!”


Alif hampir pingsan pada saat dipuja demikian oleh Dara yang sebenarnya hanya bercanda.


***


Sampai pada pertengahan hari Dara singgah di tempat tinggal Alif. Dia juga sempat pulang ke rumah Ibunya sekadar untuk bertemu kangen dengan mereka.

__ADS_1


“Kemarin suamimu menelepon Ibu ke sini,” kata Ibu pada saat Dara tiba di sana. “Katanya kamu lagi pergi, tapi Chandra tidak tahu kamu pergi ke mana. Lain kali kalau mau pergi itu izin sama suami dulu, Nduk. Jangan buat suamimu khawatir, jangan samakan seperti kamu masih lajang.”


“Iya, Bu.” Hanya itu yang Dara katakan karena tidak dapat menanggapinya dengan cara lain. Lantaran takut jawaban lainnya malah justru menimbulkan banyak pertanyaan. Perihal tentang sakitnya kemarin—dan Chandra yang tidak memedulikannya, Dara pikir itu hanya masalah sepele dan tidak perlu dibesar-besarkan karena hanya akan menambah beban pikiran orang tuanya. Lagi pula dia sudah sembuh sekarang. Lantas mau apalagi?


Terlebih selama ini, mereka mengenal Chandra adalah sosok menantu yang sangat sempurna, dan biarlah mereka mengenal demikian adanya.


“Suamimu memperlakukanmu dengan baik ‘kan, Nduk?” tanya Ibu Ratna lagi sambil meletakkan beberapa makanan ke meja.


“Baik, kok, Bu.” Lagi-lagi Dara berbohong.


“Bilang sama Razka kalau Mas jahat, Mbak. Razka akan jemput Mbak pulang,” sahut Razka sembari mengambil camilan di depan mereka berdua.


“Tuh, kamu punya satu prajurit setia,” kata Ibu kemudian melihat kedua anaknya secara bergantian. Dara hanya tersenyum bangga kepada Razka. Bersyukur mempunyai adik seperti dia.


“Syukurlah kalau kalian rukun dan Chandra bisa jadi suami yang baik buat kamu, Ibu senang mendengarnya.”


“Lagi pula mana mungkin Chandra menyakiti anak kita sih, Bu,” sahut Ayah Hilman yang tiba-tiba duduk di depan mereka. “Pilihan Ayah itu tidak mungkin salah. Teman ayah itu baik, pasti anaknya baik juga.”


Dara membungkam mendengarkan ayahnya yang baru saja berlebihan mengagungkan menantunya dengan menekan anaknya sendiri. Andai saja waktu itu beliau tahu, Dara hampir step karena tidak dipedulikan oleh pria itu dan malah justru dianggapnya pura-pura.


Beberapa jam berlalu.


Dara menghentikan aktivitasnya setelah mendengar deru mobil berhenti di depan rumah. Dengan segera ia membuka garasi, lantas menyambut suaminya yang baru datang tersebut.


Tidak ingin dianggap semakin buruk, Dara pun melayaninya dengan sangat baik sebagaimana mestinya. Membantu membukakan seragamnya, kemudian menyiapkan segala kebutuhannya baik itu urusan pakaian mau pun soal makanan.


Tepat pada saat makan malam, mereka duduk dan makan malam bersama layaknya tak pernah terjadi apa-apa. Tapi kini Dara lebih banyak diam ketika sedang berada di dekat Chandra. Bukan tanpa alasan, dia hanya ingin menuruti keinginan Chandra yang menolak untuk didekati sebelum dia datang sendiri.


“Pergi ke mana kamu tadi siang?” namun pertanyaan itu memecahkan kesunyian di antara mereka.


***


To be continued.


Yang merasa hidupnya suci bagaikan salju di kutub utara minggir yah. Ini novel pure hanya untuk hiburan 😊 dan memang gak ada faedahnya.


Ini novel bersifat universal. Bukan seperti novel aku sebelumnya yang berbagi angry bird😄 meskipun latar belakang MC utama di novel sebelumnya agak religius. Tapi di sini dia cenderung nakal ya, bedakan.


Dari awal Aku juga gak cantumin golongan agama di sini. Tujuannya apa? supaya bisa dibaca all operator. (ehh😩 kok operator sih tor?)


Pokoknya tinggal baca aja. Gak suka skip.


Jangan lupa votenya, ya. Ini hari senin.


Dah dibaca aja dah seneng aku kok. Yang udah kasih kopi bunga dll, aku ucapin makaseeehh. Maap lagi gak bisa nyebutin satu2.

__ADS_1


😙😙😙 happy baca!


__ADS_2