Ternoda Di Malam Pengantin

Ternoda Di Malam Pengantin
Bencana Di Atas Bencana


__ADS_3

Alif tersenyum mendapati Dara demikian dan lantas mendekat. “Kamu itu ngomong apa? Baru bangun tidur, ya, makanya melantur. Cuci muka dulu, gih!”


Dara tak menjawab, dia malah justru menatapnya kesal sekaligus sedih.


Satu tangan Alif kini bergerak untuk menyentuh rambut Dara, namun sontak di tepisnya kasar sehingga membuat Alif mengerutkan dahi. Lantaran bingung, Alif kembali mengulurkan tangan untuk menyentuhnya, tetapi lagi-lagi di tepis oleh wanita itu. “Ra?” ucapnya heran. “Kamu kenapa?”


“Jangan sentuh aku,” jawabnya dengan suara dingin.


“Iya, jangan sentuh, tapi kenapa?” tanya Alif dengan suara paling lembut dari bibirnya yang biasa judes, “are you ok?”


“I hate you!” semburnya membuat Alif agak tersentak dan termenung selama beberapa saat. Sungguh dia tidak mengerti apa maksud dari wanita ini. Bukankah pagi tadi mereka masih dalam keadaan baik-baik saja. Lalu apa yang menyebabkannya begini? Siapa yang telah mempengaruhinya?


“Kenapa, Dara? Ada apa denganmu, kenapa tiba-tiba kamu berubah?” tanya Alif lagi dengan tak habis pikir. “Apa yang salah denganku? Kenapa kamu menyambut ku dengan sebegitu mengerikan?”


“Kamu tanya apa salahmu, Lif?”


Alif menggelengkan kepala, “Aku benar-benar tidak tahu. Tenangkan dirimu, Ra. Sekarang jelaskan baik-baik, ya, oke ... tenang ....”


“Untuk apa aku bicara baik-baik dengan orang yang sudah menghancurkan hidupku?!”


Deg!


Petir seakan menyambar di siang bolong. Alif menelan ludahnya susah payah. Kini Alif sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini akan berlabuh. Bencana telah terjadi. Dara sudah lebih dulu mengetahuinya sebelum ia menjelaskannya sendiri. Alif benar-benar kebingungan. Dia belum mempersiapkan jawaban apa-apa sebelumnya sehingga ia menjadi mengalami kebuntuan.


“Ra, Ra. Aku bisa jelaskan semuanya,” katanya sambil mendekat untuk meraih tubuh Dara ke dalam pelukannya, namun lagi-lagi ditolaknya kasar.


“Berhenti di situ!” pekiknya keras. “Jangan dekati aku, manusia keji, laknat, tidak punya hati.”


Alif tak karu-karuan. Tubuhnya gemetar lantaran terlalu takut Dara meninggalkannya saat ini juga. Dia benar-benar tidak sanggup jika itu sampai benar-benar terjadi. “Aku punya alasan kenapa aku melakukan ini.”


“Jadi benar ... kamu yang melakukannya?” tanya Dara disela isak. Semua tuduhannya dan pertanyaannya barusan yang mengultimatum adalah sebuah intrik untuk menjebak. Namun siapa sangka, Alif malah justru mengakuinya.


“Maaf, Ra ...,” jawab Alif memelankan suaranya. “Aku janji, aku akan mempertanggungjawabkan perbuatanku. Beri aku kesempatan.”


“Apa maksudmu seperti ini?” sembur Dara sangat tak menyangka.


“Tidak ada cara lebih baik yang bisa kulakukan.”


“Kau benar-benar SAMPAH!?”


“Asal kamu tahu, aku pun menyesal telah melakukannya.”


“Kalau aku tidak menegurmu, apa kamu akan mengakuinya, Lif?" Dara menggeleng, emosinya kian memuncak. “Sepertinya tidak.”


“Aku akan mengakuinya nanti menunggu waktu yang tepat. Karena aku tahu kejadiannya pasti akan seperti ini. Kita baru saja menikah, apa kata orang-orang, nanti?”

__ADS_1


“Menunggu apa? Menunggu aku tua sampai aku tak punya tenaga lagi untuk melawan?” Dara menggerakkan tangannya untuk memberikan isyarat agar Alif tak mendekat, “Jangan coba-coba dekati aku.”


“Ra ...,” ucap Alif dengan hati-hati dan menghentikan langkahnya.


“Bisa, kamu menikmati aku dalam keadaan pingsan?" tanya Dara tak paham. "Lagakmu memikirkan orang lain, apa kamu memikirkan aku? Memikirkan Chandra yang kecewa besar karena istrinya dinodai laki-laki lain di malam pertamanya? Sejahat apa pun Chandra kamu tidak berhak untuk menyakitinya. Dengar, Alif! Kamu sudah mengecewakan banyak orang. Kamu sudah menyakiti banyak orang.”


Alif mengangguk dan memejamkan matanya sesaat, “Aku menyesal Dara, aku pun tidak bisa memaafkan diriku sendiri selama ini. Jangan kamu pikir aku tidak merasa bersalah karena sudah berbuat dosa kepadamu, mereka semuanya. Aku dalam keadaan mabuk waktu itu, otakku kacau dan tidak bisa berpikir dengan baik.”


“Rasa bersalah dari mana?” Dara tersenyum sumbang. “Di mataku justru kamu terlihat senang, kamu happy, kamu puas, kamu haha hihi karena kamu merasa berhasil menjalankan rencanamu. Sesudah itu, lalu kamu sok-sok’an datang menawarkan bantuan seperti dewa penolong. Begitu maksudmu, yang katanya merasa bersalah? Apa kamu pernah tanya bagaimana perasaanku waktu itu, Lif? Ha?” kata Dara masih berlanjut panjang.


“Aku terhina. Aku merasa menjadi wanita yang paling rendah, sampai-sampai Chandra jijik menyentuhku. Bayangkan! Apa ada yang lebih menyedihkan dari fitnah kejam seperti itu, Lif? Aku menanggung kesalahan yang sama sekali tidak pernah aku perbuat ... kamu merenggut semuanya.”


Dengan segera Alif menyela, “Aku bahkan bisa menangis! Aku bahkan bisa terluka! Bahkan bisa mati rasa! Tapi aku bukan tipe orang yang bisa menunjukkannya kepada semua orang, Dara! Aku memendamnya sendiri, bahkan selama—”


“Apa pun alasannya apa yang kamu lakukan itu salah, Alif!” potong Dara tak kalah meninggi. “Kamu SALAH! Kamu brengsek! Perbuatanmu itu murahan! Biadap! Tidak punya hati!”


Alif mendekat, berniat untuk memeluk istrinya yang sedang berada dalam kobaran api amarah tersebut, namun Dara kembali berteriak. “Mau apa, kamu?!”


“Tolong tenang, Ra. Kita selesaikan baik-baik.”


“Tenang apa maksudmu tenang? Kamu menghancurkan hidupku tanpa permisi, dan sekarang memintaku untuk tenang dan menerima, apa kamu sudah gila?”


Namun Alif memaksakan diri untuk memerangkap tubuh Dara ke dalam pelukannya, tanpa peduli wanita itu memberontak dan memukulinya bertubi-tubi. “Mau apa kamu, lepaaaas! Aku bilang lepas!”


“Dengar, Ra. Kamu boleh melakukan apa pun termasuk menghukumku, tapi aku minta satu hal, jangan pernah pergi atau meminta bercerai dariku.”


Alif menguatkan diri untuk menerima segala jenis pukulan dan makian dari Dara. Namun dia tak memberikan kesempatan wanita itu keluar darinya sedikit pun. Alif pastikan itu tidak akan pernah terjadi, tidak akan pernah!


“Lepas, Lif lepas!”


Alif menggeleng dan enggan menuruti permintaannya.


“Ya Tuhan, apa salah aku sehingga lagi-lagi aku terjebak dengan laki-laki seperti ini. Apa salahku sama kalian hah?”


“Salahmu dulu tidak peka, dan ayahmu menolakku dengan sangat tidak manusiawi,” jawab Alif singkat tanpa bisa menjelaskan yang sebenarnya karena tak ingin masalah semakin melebar. Dia ingin masalah ini cukup sampai di sini dan dirinya sajalah yang menanggungnya.


“Kamu menjebakku, dan bodohnya aku masuk ke dalamnya. Aku menikahi pria yang sudah menghancurkan hidupku, Lif. Bukankah itu lucu?”


“Tidak ada yang boleh menyentuhmu selain aku, Ra.”


“Egois, kamu. Banci. Pengecut.”


“Aku tidak peduli. Aku mencintaimu.”


“Itu bukan cinta, itu obsesi.”

__ADS_1


“Bukan, aku memang mencintaimu. Kamu saja yang tidak pernah peka.”


“I hate you, Alif! kamu tidak waras.”


“Lantas sekarang kalau semua itu sudah terjadi mau apa? Mau balik lagi sama Chandra yang pas-pasan itu?” tanyanya meninggi. “Atau kamu masih cinta sama dia? Ingat, Ra. Kamu sengsara bersamanya!”


“Mau sengsara atau tidak itu bukan urusanmu, Alif! Jangan mencari celah keburukan orang lain untuk membenarkan kesalahanmu.”


“Ya, aku sudah mengaku bersalah, aku salah. Ayo pukul, pukul aku sepuasmu.” Alif menyodorkan wajahnya lebih dekat.


“Lepas, Lif lepas ... aku mau pulang. Aku mau pulang. Kenapa semua orang jahat sama aku, kenapaaaa?” kata Dara semakin tersedu.


“Kamu boleh marah, boleh benci sama aku, tapi tolong, tetap di sini,” ujarnya menekan.


“Aku pikir kamu orang baik-baik, kamu beda dengan laki-laki lain, ternyata kamu adalah orang paling brengsek yang aku kenal ahhaaaaaa....” kali ini suara Dara terdengar semakin melemah.


“Aku janji akan memperbaikinya, Ra. Aku akan melakukan apa pun supaya kamu bisa bahagia hidup denganku.”


“Aku mau pulang, aku mau ketemu sama Ibu. Aku mau tinggal di sana.”


“Please jangan kacaukan pikiranku, Ra. Aku baru bisa menjalankan hidupku secara normal sekarang. Di sini. Denganmu. Tolong bantu aku dengan kamu tetap tinggal. Kalau kamu benci melihatku, aku bisa menjauhimu dulu sampai kamu bisa melihatku lagi.”


“Aku tidak mau apa-apa aku Cuma ingin pulang ... Cuma mau pulang. Hanya Ibu sama Razka yang sayang sama aku dengan tulus. Not you atau orang lain.”


“Kamu ini ngomong apa, aku ini suamimu. Aku mencintaimu lebih dari mereka.”


“Tapi kamu jahat, kamu jahat, aku benci kamu, Lif. Kamu buat aku hancur yang kedua kalinya ... kamu ....” Bruk! Tubuh Dara tumbang. Matanya terpejam. Dia tak sadarkan diri lagi di pelukan Alif. Dapat dipastikan wanita itu kelelahan karena sudah terlalu banyak menangis dan berteriak.


Dengan segera Alif mengangkat tubuhnya ke atas ranjang untuk memberikan penanganan. Dan begitu sadar, Dara langsung memunggunginya. Wanita itu membungkam dengannya walau ratusan kali Alif memintanya untuk berbicara dan menatap matanya.


Ini adalah bencana besar, pikirnya. Dia takut Dara akan pulang secara diam-diam. Terlebih, status mereka belum tercatat secara negara dan ini akan sangat memudahkannya. Alif tahu, Dara memang bukan wanita yang mempunyai kadar kepekaan tinggi. Namun dia adalah wanita yang super nekat dalam bertindak.


Entahlah.


Usai perdebatan itu, Alif merasa dirinya kembali seperti kemarin lagi. Tidak berharga, dan tidak berarti apa-apa untuk siapa pun. Bahkan untuk dirinya sendiri.


Di tengah malam, Alif masih terjaga dan terlentang di sofa ruang tamu dengan masih memakai pakaian yang sama seperti tadi pagi. Tidak ada yang dapat dia lakukan, kecuali berharap agar Dara mau memaafkan kesalahannya dan menerimanya kembali.


“Rasanya baru sebentar aku senang,” gumamnya dalam keremangan lampu malam. “Ternyata cepat sekali.”


***


BERSAMBUNG.


Jan lupa votenya wey. biar cemungut huru-haranya.

__ADS_1


selamat hari senayan, makasih yang udah kasih kopi, bunga dll. sayang kalian banyak2


__ADS_2