
“Sudah jam enam, Ra,” kata alif begitu mereka naik ke dalam mobil.
Seharusnya mereka tidak sampai pulang selambat ini jika mereka tidak lama berada di dalam restoran barusan.
“Lalu mau apa? Habisnya kita lapar. Ingin makan dulu, iya kan, Dek?” jawab Dara mengusap perutnya. Dia tidak bisa menahan laparnya lebih lama lagi. Semua makanan sudah dibuang keluar di pagi hari. Maka selagi mumpung perutnya bisa menerima makanan, dia akan makan sebanyak-banyaknya.
“Tidak sedang menyalahkanmu, aku hanya bergumam biasa.” Alif fokus menatap ke depan. Namun dia juga membatin, ‘Berbicara dengannya sama seperti berbicara dengan Presiden. Harus hati-hati sekali.’
“Aku nanti kalau sudah sampai mau langsung tidur, ya.”
“Capek?” Alif bertanya.
Dara mengangguk. “Hu'um. Aku takut besok tidak bisa bangun pagi.”
“Jangan bangun terlalu pagi ... seperti biasa saja. Lagi pula semua sudah kamu siapkan dari jauh hari.” Alif teringat beberapa barang Dara yang sudah siap di dalam koper. Alif pun heran, Dara sudah menyiapkannya dari seminggu yang lalu dan sangat banyak seolah akan pindah ke luar planet. Padahal jika dia sendiri, dia hanya butuh beberapa potong pakaian saja. Ada pun keperluan lain misalnya alas kaki dan charger, bisa dia ambil mendadak jika mereka hampir berangkat.
Namun lihatlah, betapa banyak barang kebutuhan logistik perempuan yang akan Dara bawa mulai dari make up, kamera, payung, kipas portable, topi anti badai, sarung, alat pemanggang sekaligus makanan mentahnya, magic com khusus camping dan lain-lainnya bak mau perang dunia ke sembilan. Dan sayangnya, ia tak bisa memberikan komentar apa pun mengenai hal itu lantaran takut perempuan itu menangis dan malah berakibat fatal. Misal ngambek, lalu batal pergi.
“Kita kan mau camping di tempat yang dingin nanti, jadi semua ini perlu dibawa,” ujar istrinya pada saat itu.
Tring ....
Bunyi telepon mengagetkan mereka sehingga Dara langsung mencari-cari ponselnya di dalam tas.
“Telepon dari siapa?” tanya Alif begitu Dara melihat layar yang menyala.
“Vita, ada apa, ya?” detik berikutnya Dara langsung menggeser ikon panggilannya, “Ya, hallo Vit ... ada apa?”
“Aku tadi ke rumah sakit yang sama, kenapa aku tidak bertemu dengan kalian?”
“Oh, iya. Aku dapat nomor urut pertama. Terus habis itu langsung on the way ke Mall,” jawab Dara.
“Kalau kalian sampai duluan tadi kenapa tidak sekalian ambil nomor antrean untukku, burung Dara ... kami di sini mengantre lama. Tidak punya hati Intan Nurani.”
Dara tergelak. “Oh, my God, aku kira kamu sudah mengambil nomor antrean dari jauh hari. Ya mana aku tempe? Kalian ke sana sudah sering bolak-balik, bukan sekali ini saja.”
“Aku lupa,” jawabnya sama-sama tertawa. “Sudahlah tidak apa-apa, Dar. Toh kami juga sudah sedang dalam perjalanan pulang. Kalian sudah sampai?”
“Kami masih di dekat terowongan.”
“Oh ... kami sudah lewat, hampir sampai malah,” katanya. Kemudian bertanya. “Gimana tadi hasil pemeriksaannya, Dar?”
“Alhamdulillah anak kami baik-baik saja, Ta. Pertumbuhannya baik, normal. Kalau kamu? Katanya hari ini kalian akan mengetahui jenis ke lamin bayinya?”
Vita menjawab dengan suara yang terdengar bahagia, “Anak kami perempuan, Dar.”
Dara sontak menganggapi antusias, “Wah, pas dong! Dua perempuan dan dua laki-laki.”
“Iya, sudah kuduga sebelumnya, anakku yang ini pasti perempuan. Eh ternyata benar. Akhirnya kami punya dua pasang.”
“Sehat-sehat ya, kamu sebentar lagi lho ....”
“Tenang ada Pak Pres yang akan menjaga kami.”
“Ciye ... ciye, suami posesif.”
“Hihi ... takut menyesal katanya. Dia mau memperbaiki semuanya yang sudah lalu. Jangan sampai kejadian saat aku hamil Rayyan terulang," jawab Vita kemudian. "Ya sudah ... itu saja, Dar. Nanti kita lanjut ngobrol lagi besok, ya. Kami sudah sampai.”
Panggilan di tutup, Dara sontak menoleh dan meringis. Di kursi kemudi, Alif juga sedang menatapnya begitu heran.
“Kenapa?” tanya Dara.
Namun Alif hanya menggeleng dan berdecak.
“Kaget lihat burung Dara sedang berkicau?” katanya lagi.
“Aku heran kenapa perempuan kalau mengobrol selalu lama dan banyak sekali topik yang bisa mereka bahas,” jawab Alif. Seperti tak ada habisnya pembicaraan itu, pikirnya.
“Itu sudah menjadi ciri khas kami. Kalau tidak begitu ... maka mulut kami akan terasa gatal dan bisa terserang penyakit,” jawab Dara tergelak setelahnya.
***
Keesokan harinya telah tiba.
__ADS_1
Alif dan Dara pikir, dengan mereka bangun pagi dan bersiap-siap lebih cepat, maka mereka akan lebih cepat berangkat juga mumpung hari masih belum terlalu terik. Namun ternyata dugaan mereka salah, lantaran akhirnya tetap siang juga perginya.
Sebabnya karena ketiga anak-anak Yudha banyak banyak bertingkah. Ada yang susah mandi, susah sarapan, susah ganti baju, dan macam-macam kerepotan lainnya seorang ibu.
Untuk keberangkatan, mereka memutuskan menyewa mini bus saja sekaligus sopirnya karena Alif mau pun Yudha sedang malas menyetir. Lagi pula, mereka pikir liburan rasanya akan lebih menyenangkan lagi jika berangkat di satu mobil yang sama.
“Masih lama?” tanya Alif begitu Yudha keluar untuk memasukkan barang-barangnya ke dalam bus.
“Sudah, sudah selesai.”
“Ah, dari tadi jawabanmu selalu begitu. Lama-lama bisa tahun depan sampainya ini, Bang!” Semua tahu, Alif adalah orang yang tidak bisa dibuat menunggu. Jadi dialah orang yang paling rewel.
“Iya ... ini sudah selesai. Sabar sebentar,” jawab Yudha lagi meyakinkannya.
“Yuk! Semuanya anak-anak Papa naik!” ajak Yudha terhadap anak-anaknya termasuk menuntun istrinya naik ke atas bus.
Pun sama dengan yang Alif lakukan terhadap istrinya. “Ambil duduk yang paling tengah.”
“Iya, Sayang,” jawab Dara sangat manis. Membuat pria itu tersenyum sangat senang.
Namun, pada saat semua istri-istri sudah naik ke dalam bus, tiba-tiba Umi dan Abah keluar menilik ke dalam bus. “Sepertinya masih longgar ya, tempatnya?”
“Iya, masih longgar.” kedua orang tua itu saling berbisik. Terdengar di telinga anak-anak mereka sehingga Alif dan Yudha tertawa.
“Ini sepertinya ada yang mau menuhin,” sindir Alif.
“Katanya Umi sama Abah tidak mau ikut?” tanya Yudha. “Sudah Yudha tanya berkali-kali semalam loh, Mi. Jangan sudah siap seperti ini kalian baru bilang mau ikut. Lama lagi kita menunggunya.”
“Kapan lagi ada liburan seperti ini, Nak?” kata Umi Ros dengan wajah memelas.
Alif dan Yudha saling pandang untuk berpikir, sehingga beberapa saat kemudian akhirnya Alif memutuskan, “Oke, kalian boleh ikut. Kami tunggu tapi jangan lama siap-siapnya, ya?” kata pria itu penuh peringatan. “Kalau mau pergi juga harus sepaket. Jangan sebelah-sebelah. Di sana dingin. Nanti butuh—”
“Iya tahu!” sela Abah. Keduanya kembali masuk ke dalam rumah dan bersiap-siap secara kilat. Abah juga terlebih dahulu menghubungi salah seorang staf untuk menunda semua schedule-nya selama beberapa hari ke depan.
“Ada saja kelakuan orang tua kita,” kata Yudha.
“Mungkin setelah dipikir panjang, sayang kalau tidak ikut. Benar kata Umi tadi; kapan lagi ada momen liburan bersama seperti ini. Tempatnya dekat pula.”
Yudha menganggapi, “Ini tempatnya lebih jauh dari Lembang dan Pasteur, Lif.”
“Apa nanti Umi sama Abah kuat?” tanya Yudha. “Di sana udaranya bisa mencapai 16 derajat.”
“Tenang, ada Abah.”
“Sarap kamu, Lif.”
“Apalagi jawabannya? Memangnya dengan kita memberitahunya begitu, bisa menghentikan keinginan mereka?” kata Alif dengan akal nalarnya. “Tidak bukan?”
“Ini pasti Abah yang mempengaruhi.”
“Dua-duanya sama.”
“Papa ayo belangkat!” suara Umar terdengar dari dalam mobil.
“Tuh, belangkat kau dengar!” kata Alif setengah mengejek Si Cadel.
“Sebental lagi ya, Nak. Oma sama Opanya lagi siap-siap. Mau ikut,” jawab Yudha yang juga ikut-ikutan cadel.
“Akhirnya Umi sama Abah ikut juga,” ucap Vita kepada Dara di dalam kendaraan itu.
“Tidak apa-apa, Ta. Biar semakin ramai.” Pandangan Dara kini beralih keluar mobil. “Nah itu, mereka keluar.”
“Wah Oma sama Abah ikut!” seru Rayyan dan kedua anak kecil yang lain.
“Ayo kita berangkat!” kata Alif setelah semuanya masuk ke dalam bus mini tersebut. Di awali dengan doa, akhirnya mereka memulai perjalanannya ke Bandung.
30 menit berlalu. Bus mulai hening dan rasa kantuk pun sudah mulai menyerang. Maklum, mereka bangun sangat pagi dan sudah menunggu sangat lama.
Jreng, jreng jreng!
Tiba-tiba terdengar suara gitar milik Rayyan.
“Waduh, ada penyanyi cilik naik bus!” ucap Umi Ros kepada Rayyan yang ada di sebelahnya persis.
__ADS_1
Beliau duduk berdua dengan cucunya yang satu ini karena Abah malah tidur berselonjor di kursi panjang yang ada di bagian bus paling belakang. Alif dan Dara duduk bersama, sementara Vita dan Yudha duduk bersama dengan anak kembarnya. Mereka memilih untuk berdesak-desakan karena tidak ada satu pun yang mau berjauhan. Jadi kali ini baby sitter bisa beristirahat dengan bebas.
Alif menoleh ke belakang begitu mendengar suara gitar. “Siapa yang bawa gitar?”
“Rayyan, Om,” jawab anak berusia lima tahun itu.
“Anakmu bawa gitar segala, Ta?” tanya Dara kepada perempuan yang duduk tak jauh darinya.
“Iya, lagi suka main gitar. Cita-citanya mau jadi penyanyi religi katanya.”
“Mau nyanyi?” tanya Alif lagi.
Rayyan menjawab, “Iya. Rayyan mau nyanyi kaya pengamen dalam bus.”
“Lihat di mana? Memangnya kamu sudah pernah naik bus?”
“Dia pernah lihat di TV-TV, Lif,” Vita menyahuti.
“Oh ....”
“Abah suruh nyanyi, tuh! Daripada tidur,” kata Umi Ros bercanda.
Alif sontak berkomentar. “Abah sama Abang itu sama saja. Baru naik mobil langsung klenger.”
Vita bersungut-sungut kesal kepada suaminya yang terkesan sangat santai tanpa peduli kerepotannya sekarang ini. “Iya nih, Lif. Mana peduli dia sama anak-anaknya yang lagi rewel.”
“Ngantuk kalau sudah terkena AC. Capek juga,” jawab Yudha dengan mata setengah terpejam.
Akhirnya Abah berdiri mendekati Rayyan. “Sini Abah yang nyanyi.”
“Serius?” tanya Umi Ros. “Umi hanya bercanda saja tadi.”
“Tak apa, biar mata Abah juga melek,” jawabnya menerima gitar kecil milik Rayyan.
“Yeaayy! Abah mau nyanyi!” seru Rayyan sangat senang. Begitu juga dengan yang lain mendadak semangat untuk memperhatikan lagu apa yang akan dinyanyikan oleh ketua suhu tersebut. Selama ini, mereka mengenal Abah Haikal adalah orang yang cukup serius, apa kali ini beliau akan mengajak mereka bercanda?
“Kamera mana kamera. Harus on!” Dara buru-buru mengambil kamera di dalam tasnya untuk merekam momen langka ini.
Jreng jreng jreng ....
“Baiklah kita mulai,” kata Abah memulai petikannya. “Tes, tes. Ehm!”
Ibu ....
Ibu ... Kaulah wanita yang mulia
“Masa lagunya begitu, Bah?” Umi protes yang disahuti juga oleh kedua anak lelakinya.
Lagu apa ini? Kenapa di dalam bus beliau malah menyanyikan lagu Nasida Ria?
“Hus, jangan banyak protes. Yang penting nyanyi," jawab beliau menampik. "Abah hanya hapal lagu ini. Dulu sering mendengar di pengajian emak-emak komplek.”
Jreng. Petikan gitar mulai terdengar lagi. “Baiklah, kita mulai lagi ....”
Ibu ....
Kaulah wanita yang mulia
Derajatmu tiga tingkat
Dibanding ayah
Kau mengandung, melahirkan
Mengandung lagi
“Abaaaaaahhhh!” ketiga perempuan di sana serentak berteriak karena lirik lagu yang dinyanyikan tak sesuai dengan lirik seharusnya.
***
Bersambung.
Aku akan mengajak kalian jalan-jalan secara virtual hehehe, biar kalian pada kangen liburan.
__ADS_1
happy reading.