
Abah terkekeh manakala ketiga perempuan berteriak bersamaan dan melayangkan protes. Beliau memang sengaja memelesetkan lirik lagunya agar mereka tidak mengantuk lagi. Memang benar apa kata orang; ternyata membuat orang tersenyum adalah suatu kebahagiaan tersendiri.
“Jadi kalian mau lagu apa?”
“Gantilah Abah, masa lagunya Nasida Ria,” jawab Umi Ros. “Ini kan di bus, biasanya kalau dalam perjalanan begini orang-orang menyalakan lagu lawas atau dangdut koplok.”
“Tidak memakai huruf ‘K’ ya, Umi,” Yudha menegaskan.
“Parah!” ujar Alif begitu Umi Ros selesai bicara. “Apakah seperti ini dampak membawa orang paruh baya?”
Yudha kembali menyahuti dengan nyanyian juga, “Perdamaian, perdamaian~ Perdamaian, perdamaian~”
“Ini lagi ...” Vita menyela suaminya.
“Nyanyi Beggin Abah,” Rayyan me-request. Sementara Abah masih memainkan gitar itu secara random. Entah dari mana beliau belajar, sebab yang mereka dengar adalah musik kacau.
Hujan rebas-rebas pada saat itu. Suasana bus juga semakin ramai sekali karena semua saling menyahut meminta untuk di dengar.
“Apalah lagu itu, Abah baru dengar. Abah tak hafal lagu apa pun selain Qosimah.”
“Qosidah ... Abah,” Umi meralatnya.
“Lagu Beggin itu lagu barat,” kata Yudha. “Dia sering dengar di TV sepertinya. Jadi otomatis otaknya merekam.”
“Janganlah lagu itu, Abah tidak suka lagu barat. Lagu yang lain sajalah.”
Pelan, Yudha mencoba memberikan pengertian kepada istrinya, “Besok-besok kalau nonton TV lebih di awasi lagi. Kasihan kalau otaknya sampai terkontaminasi sama lagu-lagu atau film orang dewasa. Nanti malah susah menghafal pelajaran yang lebih penting.”
Rayyan adalah anak yang cerdas. Dia memang tidak bisa melihat hal-hal seperti itu karena gampang menghafalnya walau dalam sekali lintasan. Oleh karenanya, Yudha tidak ingin melewatkan kesempatan ini untuk menjejali otak anaknya dengan banyaknya ilmu agama.
“Soalnya kalau ditinggal suka diam-diam mengganti channel sendiri, Mas. Kadang aku sibuk, jadi ya sudah,” jawab Vita.
“Aku juga sibuk di kantor. Ke depannya bisa bahaya kalau seperti ini.”
“Sebaiknya channel TV selain anak-anak di hilangkan saja, Mas. Kalau Abah kan menontonnya di atas, nanti bilang ke Umi, supaya remot TV-nya di sembunyikan. Maksudku biar mereka saja yang tahu.”
Yudha mengangguk paham. Di jaman sekarang ini hampir semua tayangan televisi memang tidak ramah untuk anak-anak—karena sebagian besar atau rata-rata film—menayangkan adegan kontak fisik, kekerasan atau bahkan ketelanjangan. Mengerikan.
Kembali kepada mereka semua yang masih sibuk mempersoalkan lagu.
“Lagu naik-naik ke puncak gunung!” seru Rayyan.
“Kita belum naik, masih di jalan tol, macet lagi,” jawab Dara konyol.
“Apa harus menunggu naik dulu baru boleh nyanyi itu Onti?”
“Iya.”
“Gendeng kamu, Ta.” Vita berkomentar.
Abah menghentikan gitarnya sejenak dan berkat, “Nyanyinya sebentar, baru satu lagu malah. Debatnya yang lama!”
“Hahahaha ...” lagi-lagi semua orang tergelak.
Jalanan tak semuanya mulus—di jalan tol sekalipun. Tatkala ada guncangan, Abah terlebih dahulu duduk sejenak sampai jalanan kembali tenang.
“Daripada saling berebut, Abah mau menyanyikan lagu Minang saja,” katanya kembali memetik gitar.
__ADS_1
Tak tong tong galamai jaguang
Tagunda-gunda ka cambuang basi
Jan suko duduak bamanuang Urang pamanuang jauah rasaki
Jan suko duduak bamanuang Urang pamanuang jauah rasaki
Tak tong tong galamai jaguang
Tagunda-gunda ka cambuang basi
Hati-hati urang dikampuang
Buayo lalok jan sangko mati
Hati-hati urang dikampuang
Buayo lalok jan sangko mati
Yang ... hujan ... turun lagi ....
Di bawah payung hitam kuberlindung ....
“Ealahhhh!” semua orang kembali histeris.
“Memang Abah ini tidak jelas,” kata Umi Ros.
“Kan hujan lagi ini. Sesuai dengan suasananya.”
“Bilang saja Abah lupa lagunya.”
***
Beberapa jam berlalu. Mobil mini bus sudah keluar tol Soreang, menanjak melewati kebun teh yang super duper sejuk dan memanjakan mata. Mata yang semula sepet kini menjadi terang-benderang bak melihat hamparan karpet hijau yang luas.
“Wihh ... Onde mande ... rancaknya,” puji Umi Ros melihat ke sekelilingnya.
“Banyak daunnya, Oma,” ucap Rayyan.
“Iya, Nak. Daun teh.”
“Pucuk, pucuk, pucuk!”
Vita terkekeh, “Ya ampun anakku, kamu korban iklan.”
“Apa kamu tidak senang?” tanya Alif kepada istrinya karena wanita itu tampak biasa saja, tidak seperti yang lain yang terlihat antusias.
“Selain aku mual, aku sudah biasa melihatnya,” jawab Dara dengan suara lemah.
“Kamu butuh apa, hmm?”
Dara menggeleng, “Aku hanya ingin cepat sampai, itu saja.”
Terlebih dahulu Alif melepaskan jaketnya untuk Dara, kemudian dia meminta air hangat kepada Vita untuk diberikan kepada istrinya karena wanita ini kedinginan. Beruntung, Vita selalu ready termos untuk membuat susu anak-anak.
“Daranya mual?” tanya Vita.
__ADS_1
“Katanya sih gitu?”
“Kamu bawa apa? Kayu putih atau aroma terapi?”
“Tidak, aku pinjam saja punyamu.”
“Oke-oke sebentar.” Vita langsung mengorek tasnya untuk mencari benda tersebut.
Alif kembali ke tempat duduknya dan memberikan semua itu. Beberapa menit kemudian setelah agak lebih baik, Dara kembali tertidur. Namun tak lama karena akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.
“Ini tempatnya?” tanya Alif kepada Yudha ketika sampai di tempat parkir yang luas. Dia seperti tak yakin karena sampai di sini, belum terlihat ada tanda-tanda adanya gedung perhotelan.
“Iya, ini tempatnya,” jawab Yudha seraya berdiri untuk mulai menurunkan barang-barang yang kecil. “Kenapa?”
“Apa sih ini konsepnya, Bang?”
“Perkempingan.”
Mendadak perasaan Alif jadi tidak enak. Dia belum terlalu update dan tahu mengenai wisata dan penginapan ini. Jangan, jangan ... “Jangan bilang kamar kita nanti seperti tenda juga, Bang!”
“Memang iya. Namanya juga wisata untuk anak-anak.”
“Tapi kita kan mau ...? Astaga ... ini nenek-nenek sama kakek-kakek juga gimana wey?”
“Apanya yang gimana, orang tinggal pesan kamar, bayar, beres.” Yudha menggendong anak perempuannya sembari menyeru, “Ayo kita turun, anak-anak ....”
“Jangan lari-lari, Nak!” seru Umi kepada Rayyan.
Vita sendiri hanya menuntun Umar dan membawa tas kecil. Suster membawa barang anak-anak beserta kopernya. Sementara Abah hanya membawa gitar yang tadi di mainkannya dan tas kecilnya sendiri.
Semua turun dari bus itu tanpa memedulikan Alif yang tengah kebingungan sendiri.
“Ayo turun, Lif ... apa yang kamu tunggu?” Dara menunggu Alif karena lelaki itu hanya duduk termenung. Membuatnya sulit keluar karena dia duduk di pinggir, samping kaca.
“Kita itu mau honeymoon plus baby moon. Masa tempatnya—” Alif mengusap wajahnya kasar. Menyesal ikut dengan acara liburan mereka yang ternyata lebih mementingkan anak-anak. Ini sangat tidak rekomended untuk pengantin baru sepertinya yang masih lebih banyak melakukan hubungan intim.
“Ya kalau misalnya tidak memungkinkan, kita bisa libur dulu sebentar ‘kan? Tidak harus melakukannya di sini,” kata Dara mengerti maksud pemikiran suaminya ini yang mengarah ke mana. Dia pasti kecewa karena tidak sesuai dengan harapan dan ekspektasinya.
“Apa di sana ada semak-semak?”
“Ngawur! Mau apa juga cari semak-semak? Tidak takut gatal-gatal?”
Keduanya turun dan menjadi barisan paling terakhir rombongan keluarga Al Fatir. Tentu saja dengan Alif yang masih bersungut-sungut. “Salah server ini.”
“Sudah, kita bisa pergi lagi lain kali. Tapi hanya berdua.”
Memang tempatnya sangat indah. Karena penginapan minicamp yang mereka pesan saat ini berada di tengah-tengah kebun teh dan berkonsep unik. Namun tetap saja membuat Alif geli, karena kamar yang mereka tempati tidak terlalu nyaman dan tidak kedap suara. Sebab pintunya hanya berbentuk bahan yang di resleting. Sangat tidak ramah bagi pasangan suami istri. Terlebih kamar mandi mereka juga di luar, milik bersama.
“Abang benar-benar gila.”
***
Bersambung.
__ADS_1