Ternoda Di Malam Pengantin

Ternoda Di Malam Pengantin
Tetap Di Kesepakatan Pertama


__ADS_3

Dara tertawa tapi sedih, “Gila, ya? Otak kamu itu terbuat dari apa sih, sebenarnya?” tanya Dara menggelengkan kepala. “Apa kebersamaan kita selama ini belum cukup untuk membuatmu mengerti siapa aku?” Dara mengusap wajahnya yang basah dengan selembar tisu. “Aku baru tahu sekarang. Ternyata kita tidak bisa berharap lebih kepada pasangan apalagi yang namanya bahagia. Ya, aku salah. Seharusnya aku tidak berharap seperti itu. Makanya sekarang aku kecewa.”


Dara memalingkan wajahnya ke luar kaca, air matanya entah kenapa tak mau berhenti mengalir. Dia merasa berada di titik terendah sekarang karena dianggap wanita yang paling hina.


Namun jauh dari dalam lubuk hatinya tentu saja dia menyayangkan perdebatan ini. Ia pun heran. Apa hanya karena—ya, hanya karena kejadian singkat ini dapat merusak hubungannya yang sudah ia bangun semenjak lama?


Tadinya Dara berpikir bahwa ini hanyalah sebuah musibah yang dapat mereka atasi sama-sama dan akan selesai jika keduanya ikhlas dan saling menerima, walaupun pada awalnya mungkin mereka sempat kecewa.


Tetapi di sisi lain, Dara juga tidak terlalu menyalahkan kemalangan yang menimpa dirinya. Karena dengan kejadian ini, dia menjadi paham siapa dan bagaimana sosok Chandra sebenarnya.


“Aku minta maaf, Ra. Kemarin aku mengira—”


“Anggap saja begitu,” potong Dara menatap Chandra sekilas. “Hati-hati ya, kalau kamu sakit nanti dan diangap drama. Jangan lupakan karma itu tetap berjalan.”


“Sudah, Ra. Jangan diperpanjang.”


“Yang memperpanjang juga kamu sendiri, playing victim.”


“Hei, tidak salah?” Chandra menyerangnya kembali. “Tidak terbalik?”


“Ya Tuhan, apalagi ini, Mas?” Dara menghela napasnya dalam-dalam. “Masih menuduhku selingkuh juga?”


“Plis diam!” Chandra kembali menyeru.


“Kamu yang memulainya, bukan? Coba kalau tadi kamu tidak usah menyusulku, pasti mobil ini tidak berisik.”


“Kamu itu pintar sekali memancing keributan.”


“Turunkan aku!” pinta Dara berusaha membuka pintunya secara paksa.


“Jangan konyol, mobil ini sedang melaju kencang. Kamu bisa celaka, Dara.”

__ADS_1


“Buka pintunya aku mau turun!” masih mendobrak pintu dengan keras.


“Dara?!” bentak Candra membuat Dara kembali tersedu lebih keras daripada tadi.


“Oh, ya, Tuhan ...” Chandra memejamkan matanya sejenak seraya berdecak karena menyadari suaranya terlampau tinggi dan membuat Dara ketakutan. Detik selanjutnya, dia kembali berujar dengan nada yang lebih rendah seraya menggenggam tangan Dara dan mengusap-usapnya perlahan. “Sudah, Ra. Aku yang salah karena tidak bisa menyikapi ini dengan baik. Maaf kalau kecewaku berlebihan.”


Oleh karena sebab perlakuan itu membuat Dara lebih tenang. Meski pulang dalam keadaan diam, namun Dara tidak menolak pada saat Chandra menggandengnya masuk ke dalam rumah.


Keadaan ini tentu saja lebih baik daripada sebelumnya karena pada saat malam, Chandra sudah mau sekadar duduk-duduk dengannya dan bertanya hal-hal sepele.


“Dari siang sudah makan belum?” tanya Chandra ketika Dara sedang rebahan di sofa depan televisi ruang tengah.


Dara menggeleng. Dia memperhatikan saja langkah pria itu yang kemudian masuk ke dapur untuk membuatkannya makanan. Beberapa menit kemudian, dia kembali dengan membawa nampan dengan beberapa jenis makanan di atasnya.


“Aku membuatkanmu sup ayam saja. Aku tidak tahu makanan apa yang baik untuk asam lambungmu, tapi mungkin ini tidak akan berpengaruh,” ujarnya seraya menyendokkan nasi ke dalam piring.


Dara meliriknya sekilas. Harum yang tercium menggugah seleranya untuk segera menyantap makanan tersebut. Ini kali pertama Chandra memasakkan untuknya. Bolehkah dia merasa sedikit tersanjung?


“Makan dulu, Ra. Mana obatmu, biar aku ambilkan?”


Usai kembali, Chandra bergabung duduk dengannya lagi dan meletakkan obat yang dia ambil ke atas meja.


“Mas Chandra absen lagi?” tanya Dara kemudian. Penasaran dengan suaminya yang kembali absen setelah cuti pernikahan.


“Salah satu pabrik yang ada dalam pengawasanku kemarin mesinnya terbakar, jadi ditutup sementara selama masa perbaikan.”


“Oh ...” ternyata aku salah sangka, Dara meneruskannya dalam hati. Dia pikir, Chandra memang sengaja libur karena memprioritaskan dirinya. “Berarti kalau tidak ada kebakaran kamu tetap berangkat ya, Mas?”


“Jangan mulai lagi ...” kembali Chandra mengingatkan. “Aku pun memikirkanmu, Ra. Jangan pikir kamu pergi lantas aku diam saja di rumah. Aku sudah menghubungi ibumu, semua temanmu yang aku kenal, aku tanyakan. Aku juga mencarimu ke tempat-tempat yang biasa kamu kunjungi dan menanyakanmu ke tetangga dekat. Tapi baru hari ini aku dengar dari salah satu temanku yang ada di rumah sakit yang kebetulan melihatmu di sana,” kata Chandra menguraikan penjelasannya.


Dara menunduk. Entahlah. Dia bingung harus seperti apa menyikapinya. Apa karena sakit dan perginya kemarin bisa mengubah keadaan? Tentu saja Dara tidak tahu. Tetapi malam ini tetap terasa lebih baik daripada malam kemarin. Sebab, Chandra mau tidur bergabung dengannya walau keduanya agak berjarak.

__ADS_1


“Ra?” panggilnya saat tengah malam. Dara masih mendengarnya karena matanya masih belum mengantuk. “Sudah tidur?” tanyanya lagi.


Dara berusaha menoleh untuk melihat pria itu yang kini sedang berbaring ke arahnya. Detak jantung Dara berdetak lebih kencang pada saat merasa tangan itu meraih pundaknya.


‘Apa kamu ingin memulainya dari awal?’ batinnya berharap demikian.


“Apa kamu masih sakit?”


Dara hanya menggeleng dan Chandra melihat itu karena lampu temaram masih jelas menyoroti wajah mereka berdua di kamar ini.


“Obatmu sudah di minum semua?”


“Sudah,” jawab Dara masih dengan suara acuh. Tapi bibirnya kini mengembang senyum karena sebelah tangan kokoh melingkari pinggangnya sehingga membuat Dara memberanikan diri untuk membalikkan tubuh. Ditatapnya dalam mata suaminya yang masih setia terjaga sepenuhnya. Sepertinya dia memang belum benar-benar mengantuk, atau dia memang sedang menginginkannya saat ini?


“Apa ini artinya Mas Chandra mau memulainya dari awal?” tanyanya dengan seulas senyum. Ah, betapa bahagianya kalau seandainya Chandra mengucapkan iya. Maka malam ini adalah malam pengantin bagi mereka berdua yang akan membuat hubungan mereka menjadi lebih erat.


Agak lama Chandra terdiam, sebelum akhirnya dia berujar, “Kita seperti ini saja dulu ....”


DEG!


Senyum Dara langsung memudar dan kembali melayangkan pertanyaan. “Maksudmu seperti ini, seperti apa?”


“Kita sudah melakukan kesepakatan sebelumnya, bukan?”


Dara menahan napas dan juga menahan malu karena telah merendahkan harga dirinya dengan menawarkan diri di depan lelaki itu.


“Baik. Baik ...,” kata Dara menganggukkan kepalanya. Tentu saja dia sangat-sangat kecewa karena lagi-lagi Chandra mematahkan hatinya. Kembali berbalik badan, Dara merapatkan selimut untuk menyembunyikan tangisnya di balik sana.


‘Kecewamu benar-benar kelewatan, Mas!’


***

__ADS_1


Bersambung.


Hai, hai. Pemberitahuan, novel ini nggak seperti novel sebelumnya ya. Kita hiburan aja nanti. Lucu-lucuan. Novel ini gak seberat yang kalian bayangkan kok. Gak akan ada poligami atau poliandri. Santai-santai aja sama mas alif nanti.


__ADS_2