
“Macam-macam saja keinginanmu. Untuk apa kita jauh-jauh pergi ke sana. Bukankah di Indo juga banyak tempat-tempat bagus yang belum kita kunjungi?” ujar Chandra beralasan. Meski dengan suara pelan, namun masih dapat terdengar di telinga Dara dan juga Alif.
“Tapi aku ingin ke sana, Mas.” Indira tetap bersikukuh.
“Kita ke sini, mau makan atau cuma mau membahas liburan?” kata Chandra sudah mulai geram. “Kalau hanya mau bahas itu lebih baik kita pulang saja.”
Terdengar decakan dari wanita itu sebelum akhirnya kedua orang itu terdiam mengakhiri perdebatan. Dara dan Alif diam-diam saling melirik. Sepertinya suami istri itu sedang sama-sama jengkelnya.
“Sudah makan apa belum di jalan, Lif?” tanya Dara kepada Alif yang sedang menatapnya sangat intens. Mungkin begitu terpesona dengan penampilannya yang berbeda hari ini yang cukup mengundang perhatian.
“Kamu pakai apa itu merah-merah begitu?” tunjuk Alif pada rona pipi Dara.
Dara menjawab, “Blush on, aku pakai make up.”
“Habis dari mana?”
“Oh iya, aku belum cerita ya? Aku habis melamar kerja.” Sambil menunjukkan CV miliknya yang sedari tadi ia bawa.
“Kamu melamar kerja, Ra?” tanpa di duga, tiba-tiba Chandra menyahut.
Lantaran merasa dipanggil, Dara menoleh, “Iya, kenapa? Sah-sah saja ‘kan aku kerja?”
“Bukan begitu. Kalau kamu sampai melamar kerja begini berarti kamu sedang terdesak sekarang. Kalau kamu bilang sebelumnya, aku pasti bisa bantu,” Chandra menjawab.
“Tidak mungkin juga aku terus-terusan menganggur. Untuk apa aku sekolah capek-capek kalau akhirnya tidak ada gunanya.”
“Atau kamu sedang membutuhkan biaya untuk ayahmu, Ra? Katakan berapa yang kamu butuhkan?” kata Chandra lagi secara gamblang tanpa merasa malu membahas soal biaya di depan umum, yang jelas-jelas seperti tengah menghina keterbatasan Dara tanpa dia sadari—meskipun mungkin maksudnya tidak demikian. Entah di mana dia menyimpan mukanya, atau jangan-jangan dia meletakkannya di balik pantatnya yang suci!
Kali ini sepertinya Alif perlu menimbrung. “Ada aku yang akan membantunya, jadi kamu tidak perlu repot-repot. Urusi saja istrimu sendiri.”
“Diam kamu,” sela Chandra. “Siapa kamu ikut campur?”
“Apa kamu tidak mendengarnya barusan? Aku calon suaminya.”
Chandra tersenyum meremehkan. “Kasihan sekali dia harus mempunyai calon suami sepertimu. Hai, Bro! Selama Dara menjadi pasanganku, dia tidak pernah bekerja. Kuliah saja aku bantu biayai sampai dia lulus. Memangnya kamu siapa? Datang-datang mau jadi jagoan.”
“Bicaramu tidak nyambung. Memangnya sebaiknya kamu itu diam. Seperti apa kataku tadi, urus saja istrimu. Untuk apa mengurusi perempuan lain, sementara mengurus istrimu sendiri saja belum beres,” kata Alif.
__ADS_1
“Kamu yang diam! Resek!” Chandra mulai meninggi.
“Mas Chandra kamu apa-apaan, sih? Kenapa kamu malah marah? Pakai mengungkit-ungkit biaya segala di depan umum lagi?” tanya Dara tak habis pikir. “Memalukan.”
“Berapa total biaya yang sudah kamu keluarkan selama ini? Biar aku ganti.” Alif tetap bersuara tenang. Dia sama sekali tidak terpancing oleh kemarahan Chandra barusan.
“Bukan masalah, ganti atau tidak diganti. Sebelumnya Dara tidak pernah hidup menderita sepanjang berhubungan denganku. Kamu jangan salah tangkap.”
“Ya Tuhan ...,” de sah Dara sambil menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar pernyataan Chandra barusan. Ini sama sekali tidak benar, pikirnya. Selain gemar berdrama? Apakah Chandra juga gemar mengarang sekarang? Rasanya dia memang cocok menjadi penulis nupel atau penulis skenario pilem Indosyair.
“Mas, berhenti membahas dia di depanku,” ucap Indira begitu kesal terhadap suaminya yang tak berperasaan. Berani-beraninya, dia membela dan mengagung-agungkan mantannya di depan istri sendiri.
Candra menatap istrinya. “Lebih baik kamu diam, aku tidak bermaksud apa pun. Aku hanya ingin menegaskan bahwa Dara itu bahagia bersamaku, sangat berbeda jauh daripada keadaannya sekarang ini.” Dia kembali mengulang membuat Dara semakin mual.
“Sok tahu,” Dara menanggapi.
“Kalau Dara bahagia denganmu, dia tidak akan menggugat cerai,” kata Alif.
Chandra sontak menyergap, tidak setuju dengan statement yang baru saja Alif katakan. “Kamu tidak tahu cerita yang sebenarnya. Jadi tutuplah mulutmu!”
“Aku tahu cerita yang sebenarnya. Dan aku lebih mengenal Dara sebelum jauh sebelum kamu datang.”
“Cukup!” Dara membentak Chandra dengan mata menyorot tajam. “Jangan asal bicara kamu. Menuduh tanpa bukti termasuk fitnah dan ini ada pasalnya. Kamu bisa kena sanksi jika tuduhanmu ini tersebar ke banyak orang.”
Alif tetap tenang walaupun sosok lelaki di depannya sudah terlihat mengancam dan mengeluarkan sungutnya. Dia justru minum dan makan makanan milik Dara dengan santai tanpa terbebani sedikit pun dengan perseteruan semacam ini.
Mungkin memang sudah putus urat malunya sehingga Chandra mampu bersikap layaknya orang kesetanan di depan umum. Kini dia mendekati Alif dan menggebrak meja di depannya dengan sangat keras. BRAKKK!?!! “Jangan sampai aku tahu kalau kamu pelakunya. Kalau tidak mau aku ludahi. Karena pelaku itulah yang menyebabkan kami bercerai!”
Dara langsung menyela, “Jangan mulai lagi kamu ya, Chan! Memang itu alasan pertama kita bercerai, tapi itu bukan masalah utama. Hubungan kita akan baik-baik saja kalau hatimu luas untuk menerima apa adanya aku.”
Dara sampai tak sadar langsung menyebut namanya tanpa pendahuluan. Persetan dengan kesopanan karena saat ini Chandra memang sedang tak layak untuk dihormati.
“Atau kalian memang sudah menjalin hubungan semenjak lama? Itu bisa saja terjadi kan?” kembali Chandra menudingnya.
“Jangan menyudutkanku untuk membenarkan perbuatanmu sendiri, bebal! Sadar, hei, buka mata kamu. Perut Indira buncit karena hubungan terlarang kalian berdua.” Dara mendorong dada Chandra hingga pria itu mundur selangkah. Namun tanpa di duga, Chandra justru membalasnya dengan balik mendorong Dara sehingga tubuhnya yang kecil juga tersungkur. Beruntung Alif sigap beranjak untuk menopangnya, kalau tidak—dia sangat yakin kepala Dara akan membentur kerasnya lantai.
“Terima kasih, Lif. Bisa pecah kepalaku kalau tidak kamu tolong,” ucap Dara.
__ADS_1
Alif mengangguk, kemudian menatap Chandra tak kalah tajam, “Kasar sekali kamu sama perempuan.”
Keputusan Dara untuk bercerai dengan Chandra memang keputusan yang terbaik pikirnya. Kalau tidak—hancur hidup Dara di tangannya. Tak terbayang, berapa pukulan lagi yang akan diterima olehnya hanya karena masalah sepele.
“Dia dulu yang memulainya!” Chandra membela diri dan masih menganggap dirinya satu-satunya manusia paling benar.
“Dara hanya mendorongmu sedikit, tapi kamu malah membenturkannya lebih keras. Ini bukan kali pertamanya kamu melakukan kekerasan dengannya. Aku ada bukti foto-foto Dara yang lebam karena tangan kotormu, aku bisa melaporkanmu ke polisi,” Alif mengancam.
“Setan, kamu. Sejak kapan kamu menguntit istriku!?” ucap Chandra kian terdengar kasar.
“Saya tekankan, istrimu yang ini,” tunjuk Alif kepada Indira yang sedang diam ketakutan, “bukan yang ini.” Kali ini dia menunjuk Dara.
“Sejak kapan kamu menguntit istriku?!” Chandra mengulang.
“Semenjak kamu membuangnya,” Alif menjawab.
Kian emosi, Chandra bersiap untuk melayangkan pukulan. Namun belum sampai pukulan itu mendarat, Alif lebih dulu menangkap kepalan tangannya. “Tolong jaga, perilakumu di sini.”
“Kaulah penyebabnya!” balas Chandra. Kemudian berteriak untuk memanggil security. “Security, security!”
Terlihat di sana seorang security yang berjaga di pintu berlari mendekat. “Ya, Pak. Ada yang bisa dibantu?” dia langsung bertanya.
Chandra berkata dengan menunjuk pria di depannya. “Tolong usir orang ini, dia membuat keributan. Membuat acara makan saya dan istri saya berantakan.”
Alif tersenyum miring. “Playing victim,” ujarnya membuat Chandra semakin naik pitam.
“Tapi, Pak,” jawab security terlihat begitu keberatan.
“Ayo, usir dia! Tunggu apa lagi? Dia mengganggu kenyamananku.”
“Maaf, saya tidak berani,” kata security menunduk. “Beliau atasan kami, pemilik tempat ini,” imbuhnya.
GLEK.
Raut wajah Chandra sontak berubah pias. Dia tidak bisa berkata apa pun lagi. Kemudian dengan sendirinya—dan dengan sangat malu, dia sendirilah yang angkat kaki dari lokasi. Tanpa memedulikan istrinya yang tergopoh-gopoh mengejar dibelakangnya.
***
__ADS_1
To be continued.