
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu itu telah tiba. Pagi sekali Alif terbangun karena mendengar berisik suara beberapa mobil yang berhenti di depan rumahnya serta riuh suara anak-anak kecil dan orang dewasa.
Tidak salah lagi pikirnya, mereka pasti keluarganya yang baru saja tiba dari Jakarta. Alif segera membasuh wajahnya sebelum menyambut kedatangan mereka. Namun tanpa di duga, setelah Alif membuka pintu, dia justru dikejutkan dengan kedatangan tak terduga.
“Loh, Umi jadi datang, Bah? Katanya lagi sakit?” tanya Alif sangat senang dan langsung memeluk uminya erat-erat.
“Karena kamu memaksa,” jawab Abah singkat.
“Alif tidak memaksa, Bah.” dia mengelak karena memang tidak bermaksud demikian.
“Tapi ucapanmu kemarin sore seperti ancaman. Jadi Umimu tetap mengusahakan diri untuk datang meskipun belum pulih.”
“Tidak enak rasanya, Nak. Kalau pernikahanmu harus tertunda gara-gara Umi tidak datang,” sahut Umi Ros yang masih dalam pelukan putranya.
“Maafkan Alif, Umi. Sudah merepotkan.”
“Tidak apa-apa, Umi sudah lebih baik. Umi juga ingin menyaksikan anak Umi ini menikah. Umi justru sedih kalau Umi ditinggal sendiri. Belum lagi merasa bersalah ....”
“Ya sudah, kita lanjut bicara di dalam saja. Ayo semuanya masuk dulu,” ajak Abah kepada semua keluarganya. “Masih ada sedikit waktu untuk sekadar tiduran.”
“Tidur-tidur ayam ya, Pak haji,” sahut yang lain.
“Sepertinya betul. Masalahnya sekarang sudah jam dua. Tanggung, Pak Haji.”
“Tidak apa-apa, daripada tidak sama sekali. Katanya segala sesuatu harus di syukuri,” jawab Abah Haikal sambil mengangkat Umar yang dari tadi menggapai-gapai, minta digendong.
“Acara jam berapa, Pak Haji?” tanya yang lain.
“Jam delapan nanti kita sudah sampai di sana.”
Semua orang (tak terkecuali) beristirahat sembari menunggu datangnya waktu subuh. Meskipun agak berdesak-desakan karena rumah tersebut tak cukup besar untuk menampung semua keluarga yang datang.
Usai mengantarkan Umi Ros beristirahat di kamarnya, Alif kembali keluar kamar. Dia menuju ke dapur untuk menemui kakak iparnya yang sedari tadi memanggil-manggilnya untuk menanyakan sesuatu.
“Panci buat rebus air panas mana? Termos tidak ada juga?” tanya Vita. Dia memerlukan benda-benda tersebut untuk membuatkan susu anaknya.
“Panci di lemari. Kalau termos memang tidak punya.”
“Kenapa kamu tidak membelinya?”
“Aku punya dispenser. Untuk apa juga aku membeli benda itu. Terkecuali aku juga punya anak bayi sepertimu.”
“Oh, iya ya? Kamu benar juga,” Vita menanggapi sembari mencuci ulang benda yang tadi Alif tunjukkan. Karena semua yang berhubungan dengan bayi memang harus benar-benar steril meskipun ia tahu panci itu terlihat bersih.
“Memangnya harus air yang direbus? Bukannya ada dispenser.”
“Iya, harus. Kalau menurutku, kalau menurut orang lain, entahlah. Aku tidak tahu. Lagi pula aku juga mau merebus botol.”
“Botol direbus? Fix, kamu kurang kerjaan!” ujar Alir heran dan tak habis pikir. “Mending rebus daging lebih enak.”
“Kalau tidak tahu lebih baik diam. Kamu sama saja seperti Abangmu. Tahunya cuma bikin! Tidak tahu cara mengurus.” Vita menggerutu kesal.
'Apa pula aku disamakan sama dia?'
“Eh, omong-omong soal daging, apa kamu punya makanan?” tanya Vita kemudian setelah menyalakan kompor.
Alif menggeleng.
“Masa makanan saja kamu tidak punya?”
__ADS_1
“Aku jarang makan di rumah.”
“Begini, ya? Rumah tanpa perempuan. Makanan saja tidak ada. Terus tamumu bagaimana? Mau dikasih makan apa?”
“Ya, aku pesan-aku pesan. Gampang kan?” kata Alif akhirnya memutuskan.
Usai menghubungi seseorang untuk membawakan sejumlah makanan yang merupakan beberapa menu di Bistronya, Vita kembali mengajaknya bicara. Dia menceritakan segala keribetannya saat melakukan semua persiapan sebelum datang ke tempat ini. Tapi apa pun itu, Alif bersyukur karena akhirnya Umi mampu hadir di tengah-tengah mereka. Meski beliau akui masih belum sehat benar.
***
Pukul setengah delapan, semua rombongan keluarga Al Fatir menuju ke rumah keluarga Bapak Hilman Mutasif. Tujuh kendaraan mobil memenuhi area parkir yang sengaja disediakan di lahan kosong samping rumah Dara.
Di pintu masuk sudah menunggu Tuan rumah dan sederet keluarganya untuk menyambut tamunya yang masuk dengan membawa seserahan, serta-merta oleh-oleh di tangan masing-masing. Suasana menjadi sangat ramai.
Setelah tepukan-tepukan rebana selesai, kini berganti berbalas-balasan pantun untuk membuka palang pintu (menurut adat Betawi) karena keluarga berasal dari orang sana. Suasana riuh penuh dengan gelak tawa mendengar kelucuan kedua orang yang saling beradu pantun.
“Eh, buset. Baru menjanda beberapa bulan sudah dapat lagi yang baru. Benar-benar tokcer tuh si Dara.” bisik-bisik para tetangga di sekitar pekarangan rumah yang sedang menyaksikan. Ada yang sambil menggendong bayinya, sambil berdagang sayur dan ada juga yang memang sengaja datang untuk sekadar menyaksikan.
“Seng ndi toh, calone? Kok rame tenan, mobile mewah-mewah. Oleh wong sugeh, po piye?”
(Yang mana sih, calonnya? Kok rame banget. Mobilnya mewah-mewah. Dapat orang kaya apa gimana?)
“Iya, lebih kaya yang kemarin atau yang sekarang?”
“Sepertinya lebih kaya yang sekarang. Lah katanya bapaknya si laki-laki ini punya banyak usaha. Salah satunya tor en trapel.”
“Tor en trapel itu apa?”
“Biro Perjalanan Wisata yang biasanya mengantarkan wisatawan liburan ke luar negeri itu, loh. Tapi juga bisa mengantarkan jamaah Umroh atau Haji.”
“Wah, hebat. Nanti Dara sama keluarga bisa naik Haji tiap bulan. Bisa keliling dunia.”
“Lah ya, bisa toh?” katanya dengan bodoh.
“Dasar wong ndeso. Makane ngaji ojo nonton Andin wae ngko paham!” semua jadi ribut saling menyalahkan.
(Dasar orang desa. Makanya mengaji jangan nonton Andin terus, biar paham!)
Setelah semuanya mendapatkan tempat duduk, acara-acara sambutan pun dimulai untuk mempersingkat waktu.
“Singkatnya, kedatangan keluarga besar ke kediaman Bapak Hilman Mutasif insyaallah membawa sebuah niatan baik. Yang tak lain adalah untuk mempersunting atau melamar putri Bapak, yakni Dara puspita untuk putra kami; Alif Noran,” ucap Abah Haikal tanpa perwakilan.
“Satu minggu yang lalu, anak saya, Alif berbicara dan menyampaikan kepada kami akan maksud dan tujuannya untuk mempersunting Ananda Dara puspita. Karenanya, melalui ajang silaturahmi ini kami bermaksud untuk mempertemukan anak kami dengan putri Bapak. Sebagai orang tua yang ingin agar putranya mendapatkan ridho dari Allah SWT melalui jalan menikah. Maka tidak ada pilihan kecuali mendukung penuh dan memfasilitasi niatan anak kami tersebut. Berkenan hal itu, dengan takzim dan hormat, kami meminta kesediaan putri Bapak untuk dinikahi oleh anak kami, Ananda Alif noran.”
Ada jeda sesaat sebelum Abah Haikal kembali menambahkan, “Demikian yang dapat kami sampaikan selaku Abah dari anak saya Alif. Apa pun yang menjadi ketetapan untuk anak saya dan juga ananda Dara puspita, itulah yang terbaik. Semoga keluarga dapat menerima dengan ikhlas dan penuh kebijaksanaan. Saya berharap silaturahmi akan tetap terjaga. Sekian dari saya, jika terdapat kekurangan atau tutur kata yang tidak berkenan di hati, saya memohon untuk diikhlaskan.”
Hingga tak lama kemudian, pandangan mereka semua tertuju kepada salah satu sosok paling cantik berkebaya yang baru saja di keluarkan dari persembunyian, yaitu Dara. Dia dipersilakan duduk di tengah-tengah untuk melakukan penerimaan.
“Cantik banget,” tanpa sadar pujian seperti itu lolos dari bibir Alif cukup keras sehingga berhasil mengundang perhatian banyak orang untuk bersorak ramai.
“Aaa ciyeeee ....”
“Cantik banget katanya, Mbak Dara!” sahut yang lain.
Alif meringis malu dan seketika ingin menyembunyikan wajahnya ke dasar lautan. Pun demikian dengan Dara yang juga merasakan hal sama.
Beberapa menit kemudian, perwakilan dari keluarga Dara pun menerima sambutan dari keluarga laki-laki.
Kini mereka sudah sampai di tahap pertanyaan untuk calon mempelai wanita.
__ADS_1
“Ananda Dara Puspita, anakku?” ucap Pakde, suami dari Bude Naima. Beliau mewakili Ayah Hilman yang saat ini belum bisa berbicara dengan jelas. Beliau hanya duduk di kursi roda, menyaksikan acara dengan mata yang berkilauan seperti menahan tangis.
“Pagi ini ada seorang pria yang datang untuk bermaksud mengkhitbahmu sekaligus mau menikahimu, benar begitu?”
"Benar!” jawab semuanya seretak.
“Apakah anakku, Dara Puspita bersedia menerima lamaran dari Ananda Alif Noran?”
Seseorang menyerahkan mike kepada Dara. Saat ini, semua mata tertuju padanya. Menunggu jawaban.
Terlebih Dara menghirup napas dalam-dalam dan berdoa sejenak, sebelum akhirnya dia menjawab, “Insyaallah, apabila Ayah dan Ibu merestui, Dara menerima lamaran Kak Alif. Dan dengan segala kekurangan yang ada pada diri saya, mudah-mudahan Allah meridoi. Terima kasih Ayah, Ibu dan semua keluarga ....”
Semua yang ada di ruangan tersebut mengucapkan hamdalah.
“Bersyukur. Baru saja kita dengar sama-sama jawaban dari anakku, Dara, yang menerima pinangan dari Ananda Alif Noran. Maka kita sebagai orang tua hanya bisa meridoi dan mendoakan apa yang tela menjadi niat baik dari anak-anak kami. Dengan demikian, kami selaku orang tua dan keluarga besar menerima sepenuhnya lamaran dari Ananda Alif.”
Dan acara selanjutnya adalah penyerahan cincin daripada Umi Ros kepada calon menantunya. Selanjutnya berfoto yang kemudian jeda sebentar untuk melakukan musyawarah tentang membahas ijab kabul yang akan mereka lakukan setelah ini.
Jeda sekitar beberapa menit, tepatnya setelah perut-perut tamu terisi, kedua mempelai; laki-laki dan perempuan di persilakan untuk duduk di kursi akad yang telah dipersiapkan—untuk kemudian disahkan dalam ikatan pernikahan. Hingga tak lama kemudian setelah itu, acara akad pun di mulai.
“Sudah siap, Mas? Mbak Dara?” tanya seorang Ustaz setempat yang akan menjadi penghulu untuk mewakilkan Hilman yang kondisinya sedang tidak sehat.
“Siap,” jawab keduanya serentak.
“Tapi setelah ini harap segera disahkan secara negara, ya. Supaya pernikahan ini baik secara hukum agama maupun hukum negara menjadi sah. Dan, ini penting bagi pemenuhan hak-hak istri dan anak terutama soal pembagian harta waris, pengakuan status anak dan jika ada masalah, istri memiliki dasar hukum yang kuat untuk menggugat suaminya. Tetapi mudah-mudahan, harapan dan doa kami, semoga kalian langgeng sampai maut memisahkan. Jadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah. Aamiin,” mereka semua membersamai kalimat terakhir.
“Mohon maaf, untuk maharnya tolong di dekatkan,” titah Sang Penghulu. Terlebih dahulu beliau mengucapkan doa-doa sebelum akhirnya keduanya berjabat tangan.
“Bismillahirrahmaanirrahiim, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Alif Noran Al Fatir bin bapak Haikal Al Fatir dengan Dara Puspita binti Bapak Hilman Mutasif yang sudah pasrah perwalian kepada saya, dengan maskawin berupa uang tunai senilai 32.122.000 dibayar tunai.”
“Saya terima nikahnya dan kawinnya Dara Puspita binti Bapak Hilman Mutasif dengan maskawin tersebut, tunai,” lantang Alif dengan satu tarikan nafas.
“Bagaimana saksi? Sah?”
“Sahhh!” jawab semuanya serentak.
Dara memberanikan diri untuk menoleh kepada lelaki yang saat ini baru saja menjadi suaminya. Dan di sana dia mendapati pancaran ekspresi wajah Alif yang sangat aneh. Sorot matanya menatapnya sangat takjub.
“Salaman dulu, nanti dilanjut pandang-pandangannya,” teguran dari salah seseorang menyadarkan mereka. Kemudian berlanjut saling bersalaman.
“Cium keningnya, Nak,” terdengar Umi Ros memberi titah. Hingga kemudian, Alif mendaratkan kecupannya di kening Dara.
Ijab kabul telah selesai, berlanjut foto penyerahan mahar.
Dapat mereka lihat semua keluarga menyaksikan bahagia, apalagi Umi Ros dan juga Ibu Ratna, kedua wanita tua itu sampai mengeluarkan air mata karena saking terharunya.
***
To be contiued.
Kondangan, loh ya? Amplopnya diisi.
Kalau gak ngisi ampop nanti gak bisa pesen kamar😆
__ADS_1