
Mereka kembali melanjutkan perjalanan setengah jam kemudian setelah kondisi Dara sudah agak membaik. Sebetulnya, Umi Ros sudah menyarankan agar Dara menunggu di rumah saja mengingat akan kondisinya sekarang ini yang sewaktu-waktu bisa mabuk lagi seperti tadi. Namun ternyata wanita paruh baya itu sama sekali tidak bisa menghalangi keinginannya untuk tetap ikut bersama mereka. Beliau sangat paham bagaimana seorang istri yang sedang sangat mengkhawatirkan suaminya. Demikian juga dengan Alif yang sudah pasti ingin selalu berada di dekat istrinya semasa ia sakit.
“Kita berdoa saja. Semoga nanti tidak terjadi seperti tadi lagi,” kata Abah Haikal ketika beliau disusul oleh istrinya ke tempat ibadah, tepatnya sebelum mereka melanjutkan perjalanan.
“Yang penting kita siap kalau sudah mau ....”
“Ya, paham,” Abah langsung menyahuti. “Sudah di periksakan?”
“Belum di periksakan, nanti mau di periksakan di rumah sakit tempat Alif di rawat saja.”
“Berapa minggu katanya?”
“Kalau menurut perhitungan nikah ya seharusnya tiga minggu. Tapi—”
“Tapi apa?” Abah sontak menyela.
“Abah, jangan berpikir yang aneh-aneh, loh.”
“Tapi usia kandungannya melebihi perhitungan nikah maksudmu?”
“Abah ya ampun ... dengarkan dulu penjelasan istrinya.”
“Hmmm ya, ya, ya.” Abah Haikal terkekeh pelan.
“Ini nih, yang bikin laki-laki suka salah paham. Kandungan itu di hitung bukan berdasarkan dari hari pernikahan, tapi hari pertama haid terakhir.”
Abah mengangguk paham. “Tapi kalau memang benar begitu, berarti anak-anak kita tokcer juga.”
“Sama seperti kita dulu, kan juga begitu.”
Abah tersenyum mengingat masa mudanya dengan istrinya yang bernama lengkap Adinda Rosyadah ini.
“Kita harus bersyukur, Bah. Banyak di luar sana perempuan-perempuan yang susah untuk mendapatkan anak.”
“Ya, itu pasti. Berarti Alif belum tahu?”
“Belum,” jawab Umi Ros, lalu terkekeh mengingat pengakuan Dara beberapa saat yang lalu. “Ternyata menantu kita itu lucu juga, Bah. Tadinya dia belum mau mengaku kenapa dia sakit, tapi Umi paksa-paksa. Alasannya katanya takut.”
“Takut kita tidak percaya?”
“Iya, dia trauma karena pernah dituduh selingkuh.”
“Jahat sekali mantan suaminya sampai trauma begitu.”
“Umi juga tidak tahu, tapi terus terang Umi juga kesal mendengarnya. Lebih baik jujur dari awal. Seperti ....”
“Sudah, jangan di ingat-ingat!” Abah memberinya peringatan agar istrinya itu tak mengingat lagi tentang masa lalunya dulu yang menduakannya secara tidak disengaja. Demi menyelamatkan hidup seseorang.
***
Pukul empat pagi, akhirnya mereka sampai di rumah sakit tempat di mana Alif sedang dirawat. Begitu turun, ke empatnya langsung menuju ke lift rumah sakit swasta yang pagi ini dinginnya terasa sangat menusuk tulang—sehingga membuat Dara berkali-kali menggosokkan kedua telapak tangannya. Dan hal itu tak luput dari pengawasan Umi Ros.
“Apa Dara bawa pakaian hangat?”
“Lupa ... Mi.” Ia sama sekali tidak terpikir membawa benda penting tersebut.
“Ya sudah, nanti ambil di koper Alif. Dia selalu bawa jaket kalau ke mana-mana.”
“Di kamar 507,” jawab Abah ketika beliau baru saja menghubungi Jack.
__ADS_1
Lift berhenti di lantai lima. Tidak lama mereka mencari kamar itu. Ke empatnya langsung masuk ke dalam setelah mengucapkan salam. Dan terlihatlah di sana Alif yang perutnya sedang dikipas-kipas oleh Jack sembari terus mengerang kesakitan sampai keluar air mata.
“Ya Allah ... Nak?” ucap Umi dan Abah begitu melihatnya. Beliau langsung mencium putranya, pun dengan Dara yang juga langsung memegang tangan suaminya dengan mata berkaca-kaca. Dia tak menyangka Alif akan sakit sampai separah ini. Sebelumnya Alif sehat, selalu kuat dan perkasa. Sangat berbeda dengan keadaannya yang sekarang.
‘Maafkan istrimu yang kurang peka ini. Aku orang terdekatmu, seharusnya aku orang yang paling tahu. Maaf Lif ... maaf ... aku juga baru sadar, ternyata sebanyak ini kesalahanku.’
“Obat bius lah habis Umi, jadi begini,” Jack menyahut. Dia juga memanggil Umi dan Abah kepada orang tua Alif, karena keluarga ini sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri. Ya, anggota keluarga yang paling blangsak.
“Terima kasih ya, Jack. Sudah membantu mengurus semuanya. Sekarang giliran kamu istirahat, gih. Atau kamu mau langsung pulang ke Jakarta juga terserah.”
“Iya, saya memang ada kepentingan, Umi.”
“Pulanglah! Selesaikan urusanmu. Alif giliran kami yang mengurus. Terima kasih ya, Nak.”
“Sama-sama, Umi, Abah, tapi sebelum itu saya mau bicara dengan Dara dulu,” katanya membuat Dara memfokuskan pandangan kepada pria tersebut.
“Untuk apa kamu mau bicara sama istriku?!” sembur Alif meninggi.
“Ck!” Jack berdecak. “Lagi sakit saja masih ngegas,” balasnya mencibir. Kemudian mengajak Dara untuk keluar dari ruang perawatan.
“Kenapa harus di luar sih, Jack?” tanya Dara begitu pintu ruang rawat tertutup.
Namun bukannya menjawab pertanyaan Dara, Jack justru langsung memakinya, “Gila kamu ya, Dar. Suami kena usus buntu sampai separah itu kamu tidak tahu. Ke mana saja kamu selama ini?”
“Maaf, Jack. Aku minta maaf. Aku benar-benar—”
“Ah, sudahlah,” potong Jack. “Apa pun alasanmu yang jelas kamu itu perempuan TIDAK PEKA!” ucapnya begitu nyaring. “Dan sampai kapan pun kamu pasti akan tetap seperti ini, perempuan tidak peka!”
“Aku masih belajar untuk peka, Jack. Maaf kalau aku bersikap abai sama Alif sebelumnya. Dan aku punya alasan kenapa aku melakukannya. Aku yakin kamu tahu itu.”
“Sangat tahu! Itulah sebabnya aku muak sama kamu, Dar!” Jack tak kalah meninggi.
“Hei, dengar!” bentak Jack lagi. “Ini semua terjadi karena ayahmu yang melukainya.”
“Hah, jangan mengada-ada kamu, Jack. Mana mungkin? Ayahku sudah tua, memangnya beliau bisa apa, memukul? Mustahil.”
“Kalau hanya dipukul, mungkin rasanya tidak sesakit itu, Dara. Alif merasa terhina selama ini. Sampai kehilangan kepercayaan dirinya sebagai seorang laki-laki. Kamu harus tahu, lisan lebih tajam daripada pukulan palu godam sekalipun.”
Dara menggeleng. “Apa yang sebenarnya terjadi, Jack? Jelaskan! Jangan suruh aku menebak-nebak sendiri seperti ini.”
“Tanyakan kepada ayahmu dan kamu sendiri yang sudah menyakitinya berkali-kali, bahkan sebelum kalian menikah,” kata Jack lagi sebelum akhirnya pria itu meninggalkannya.
Membuat Dara memegangi kepalanya yang lagi-lagi terasa pening. Mengingat masalahnya yang seakan tiada habis-habisnya.
“Ada apa lagi ini Ya Allah ... apa yang belum aku tahu. Tolong tunjukkan,” gumamnya disela isak. Namun tak lama, ia buru-buru menghapus air matanya tatkala mendengar pintu ruang rawat terbuka.
“Dara? Nak?” panggil Umi Ros. “Jack sudah pulang?”
“Sudah, Mi,” jawabnya berusaha menahan suaranya yang nyaris tercekat.
“Alif mencarimu.”
“Eh, iya.” Kembali masuk, Dara duduk di samping suaminya, lantas fokus pada bekas luka operasi yang ada di perut Alif sebelah kanan. Serta-merta ia menutupnya dengan kipas karena pemandangan itu membuat kepalanya kembali berdenyut.
“Cepat sembuh,” demikian hanya itu yang bisa Dara ucapkan karena ia tak bisa mengatakan hal lain lagi. Terang saja dia malu, ada kedua mertuanya yang sedang memperhatikan mereka sana.
“Iya, cepat sembuh, soalnya Dara punya kejutan,” Umi Ros menyahut.
“Kejutan apa?” tanya Alif segera.
__ADS_1
“Makanya kamu cepat sembuh biar cepat kukasih tahu,” Dara menjawab.
“Kalau bisa sekarang kenapa harus nanti?”
“Belum waktunya.”
“Tolong kipas-kipas lagi, Ra, perih,” titahnya. Dan Dara pun bersedia melakukannya dengan senang hati. Membuat perasaan Alif menjadi sangat bahagia. Ada hikmahnya juga dia sakit pikirnya, karena dengan begini Dara pasti akan lebih peduli dan memperhatikannya. Dan harapannya, Dara akan melupakan kesalahannya itu.
“Perutku lapar, apa ada makanan?”
“Kalau pun ada kamu tidak boleh makan sembarangan,” jawab Umi. “Harus yang halus-halus misalnya bubur, sup, atau sejenisnya. Kita tanya dokter dulu nanti.”
“Dara kamu istirahat, dulu, Nak. Biar Umi yang kipas-kipas, ya. Ambil jaketnya di koper Alif barang kali ada."
"Iya, Mi."
"Atau Dara mau pulang? Nanti biar Abah yang mengantarmu ke rumah kontrakan.”
“Jangan suruh Dara pulang dulu, Umi,” kata Alif seolah tak rela.
“Tapi Dara harus istirahat. Tadi dia mual di jalan.”
“Anaknya masih kangen, Umi, biar saja,” akhirnya Abah ikut menyahut.
“Oh, iya, iya. Baiklah kalau begitu.”
***
Alif baru bisa tidur pada saat pagi menjelang. Begitu pun dengan Dara yang akhirnya terlelap di kursi dengan posisi duduk. Oleh karenanya, Umi membangunkannya agar dia pindah ke sofa.
“Pindah ke sofa, luruskan kakimu, biar nyaman.”
Dara sontak membuka matanya saat mendengar bisik-bisik. “Makasih, Umi.”
“Sama-sama, Nak.” Lantas Umi pun menjelaskan, beliau akan pulang ke rumah terlebih dahulu karena ingin beristirahat sejenak di sana. Beliau baru akan kembali ke sini setelah agak siang nanti.
“Oh iya, Ibu belum tahu aku ada di sini,” gumamnya kemudian menghubungi Razka bahwa ia sedang berada di rumah sakit karena Alif baru saja di operasi.
“Usus buntu?” tanggapannya dari seberang ketika Ratna mendengar jenis penyakit itu.
“Iya, Bu. Tapi sekarang tinggal pemulihan saja, kok.”
“Duh, ada-ada saja yang namanya penyakit.”
“Doakan saja semoga cepat pulih seperti sediakala.”
“Pasti Ibu doakan. Semoga menantu Ibu cepat sembuh. Kamu juga jaga kesehatan, ya, Nduk. Nanti kalau agak siang Ibu menyusul sama Razka,” ujarnya masih berlanjut panjang lebar dan baru berhenti pada saat Alif terbangun dari tidurnya.
“Lif? Kamu sudah bangun?”
Alif mengangguk dan mengungkapkan perasaannya, "Miss you.”
Dara menunduk namun justru membalasnya, “Miss you to.”
Membuat Alif langsung merentangkan tangannya, meminta Dara untuk memeluknya saat itu juga.
***
Bersambung.
__ADS_1
like like like.