Ternoda Di Malam Pengantin

Ternoda Di Malam Pengantin
Please, Sekali Ini Saja


__ADS_3

Seindah apa pun rumah, tidak akan indah jika tidak ada peran istri di dalamnya. Begitu juga yang tengah Alif rasakan sekarang. Tak hanya soal makanan, dia juga harus mencuci pakaiannya sendiri.


Dia bukan pria yang pandai melakukan hal remeh-temeh seperti itu. Bukan tidak bisa, tetapi tidak biasa. Oleh karenanya, akhir-akhir ini dia merasa sangat kepayahan. Mesin cuci memang membantunya, namun tidak untuk memilih dan menyetrikanya serta-merta. Bahkan sekarang ini ia baru saja melunturkan pakaiannya sendiri.


“Ah, menyesal tak ku masukkan ke jasa loundry saja kemarin. Tidak selamat,” gumamnya setengah kesal. Sebab kemeja itu adalah kemeja putih kesayangannya. “Bikin teh juga asin rasanya. Bentuk gula seperti apa, sih?”


Karena bingung, dia mengetuk pintu kamar Dara. “Ra, Ra!”  


Jeda beberapa detik, Alif kembali mengetuk pintu seraya memanggil. “Ra, aku minta tolong, tunjukkan aku yang mana namanya gula. Aku mau bikin teh.”


Mungkin karena tidak tega, akhirnya Dara membuka pintu sehingga membuat Alif tersenyum. “Pagi, my wife ....”


“Masa gula saja tidak tahu, jangan pura-pura,” ujarnya masih menghindari kontak mata, sama seperti kemarin-kemarin.


Alif menggeleng. “Aku benar-benar tidak tahu. Jangan bilang aku pura-pura, aku sedang tidak mencari simpati.”


“Kan bisa dicicip."


"Baru kepikir."


"Sini gelasnya,” pinta Dara.


“Tidak usah, cukup kamu tunjukkan saja yang mana. Ini atau ini,” tunjuknya pada kedua wadah yang berisi bubuk sama-sama putih tersebut.


“Ini.” Dara menunjukkan.


“Makasih.” Alif berbalik badan, kembali ke dapur dan membuatnya sendiri. Tetapi rasanya memang lebih enak Dara yang membuatkan. Dia sempat menyesal karena tadi menolak Dara untuk membantunya.


Sebelum berangkat, dia terlebih dahulu untuk menjemur semua pakaiannya sendiri ke tempat jemur. Kini dia baru tahu, ternyata memang berat pekerjaan seorang perempuan. Namun hebatnya mereka, masih saja banyak lelaki yang tega menyakiti kaum lemah itu.


****


Setelah berpikir dengan kepala jernih dan sempat mencari solusi, bertahan adalah pilihan terbaik untuk Dara saat ini. Rasanya memang tidak mungkin ia pulang ke rumah Ibunya karena hanya akan melukai perasaan mereka saja. Dia yang memutuskan untuk secepatnya menikah, namun sebentar kemudian tertimpa masalah lagi dengan permasalahan yang sama. Memalukan.


Lagi pula apa juga kata penilaian orang nanti tentang dirinya yang sebentar-sebentar kawin? Sudah mirip seperti kelakuan kucing saja pikirnya. Ya—meskipun akar permasalahan bukan terletak pada dirinya, tetapi karena Alif.


‘Mereka berdua sama saja. Chandra tukang selingkuh, Alif apalagi. Dia pebinor sejati, perayu ulung, penjahat kela min, tukang bohong, buaya buduk!’


Keduanya tidak ada yang benar. Dara pun heran, perasaan dia tidak terlalu jahat, tetapi kenapa Tuhan memberinya jodoh yang buruk seperti mereka?


“Apa kamu sama sekali tidak mau memaafkan Alif, Dar?” tanya Vita di kemudian hari pada saat mereka sedang bersama. Tentu saja saat rumah Umi Ros sedang dalam keadaan sepi. Tak ada siapa pun kecuali mereka berdua.

__ADS_1


“Tuhan saja Maha pemaaf, kenapa aku tidak, Ta. Aku sudah janji sama dia, akan memaafkan apa pun kesalahannya kecuali perselingkuhan. Tapi bukan berarti aku langsung welcome sama dia ‘kan?” balas Dara. Dia melanjutkan lagi bicaranya setelah menyesap jus di depannya, “Kesalahan Alif bukan main-main. Kalau aku bukan aku orangnya, aku tidak yakin dia masih bisa bebas sekarang ini.”


Vita mengangguk. “Aku merasa Alif mempunyai alasan lain kenapa dia melakukannya, Dar.”


“Alasannya karena aku menolaknya waktu itu—”


“Bukan hanya itu saja, Dar,” potong Vita segera. “Tolong, mulai sekarang kamu peka sedikit dengan keadaan. Kamu tidak hidup sendiri, Dar. Ada banyak orang di sekelilingmu. Ayahmu, Ibumu, Razka, aku, semuanya.”


“Maksudmu apa sih?” tanya Dara tak mengerti.


“Alif pernah sakit selama berhari-hari setelah pulang entah dari mana, bahkan sampai tidak mau bicara dengan siapa pun. Sebelumnya Aku hanya tahu dia sakit, Dar. Pikirku, dia hanya sakit demam biasa. Tapi setelah lama, aku baru tahu bahwa dia sakit setelah pulang dari rumah ayahmu, itu pun aku tahu dari Umi.”


Namun Dara tetap tidak percaya, dia masih dengan pemikirannya sendiri yang jarang bisa terhubung soal jalur benang permasalahan. “Ngawur kamu, Ta. Ayahku sudah tua, jangankan untuk memukul atau memberinya kekerasan—untuk jalan saja sekarang sudah sering pakai tongkat.”


“Ya sudah, terserah kamu saja, Dar. Aku Cuma mau pesan, tolong jangan ambil keputusan secara terburu-buru, supaya kamu tidak menyesal nantinya. Pasti akan selalu ada jalan terbaik.”


“Makasih, Ta.”


“Jangan kamu ingat kejelekannya saja, sedikitnya Alif juga pernah berbuat baik. Benar begitu?”


Dara terdiam selama beberapa lama, seperti tengah memikirkan sesuatu. Ya, Alif memang sangat baik dengannya. Bahkan selalu ada untuknya setiap saat. Terlepas dari buruknya perlakuan pria itu, Dara akui Alif lebih menyayanginya lebih dari siapa pun.


“Kamu sayang ‘kan sama dia?” Vita terus memancing agar Dara terus mengingat yang baik-baik. Bukan bermaksud ikut campur, tetapi, Vita memang benar-benar sayang kepada mereka berdua. Pun dengan keluarga yang pasti akan sangat menyayangkan jika mereka sampai berpisah. Mereka adalah pasangan yang cocok. Masalah ini akan selesai jika keduanya saling menerima, itu saja.


“Ya, aku ingat,” Vita menanggapi. “Lebih tepatnya waktu Rayyan masih bayi. Kalian pernah pendekatan di Banjar."


“Itu benar. Mungkin itu balasan buat Alif.”


Keduanya tertawa mengingat kenang-kenangan mereka beberapa tahun silam.


“Kehidupan itu berputar, Dara.... Contohnya kehidupanku lima tahun lalu. Kamu sangat tahu gimana aku karena kita pernah tinggal bersama. Tapi aku selalu sabar dan percaya pasti bisa melewati semuanya. Tidak lama, kok. Buktinya aku sudah berhasil melewati masa-masa itu dan kami bahagia sekarang.”


“Kamu memang panutan. Semoga aku bisa seperti kamu, suksesnya ...,” katanya membuat Vita tersenyum, tapi hanya sesaat. Karena sebentar kemudian, Dara kembali menyeletuk, “Bukan poligaminya!”


***


Tok tok tok!


“Pak! Pak!”


Yudha mengerutkan kening pada saat dia mendengar seseorang menyeru dari luar dan mengetuk pintunya. “Ya, masuk!”

__ADS_1


“Pak Alif sakit perut, Pak. Bisa minta tolong?” kata staf setia yang bernama Hans itu. “Aku tidak tahu biasanya beliau ke rumah sakit mana. Sudah saya tanyakan tapi diam saja.”


“Sakit perut kenapa? Keracunan dia?” tanya Yudha. Meski masih jengkel dengan adiknya itu, tetapi tetap saja dia merasa khawatir.


“Saya tidak tahu.”


Rasa ingin tahu membuatnya segera beranjak dari tempat duduk setelah ia menyimpan file yang sedang dia kerjakan. Berjalan cepat, dia segera membuka pintu ruangan Alif. Namun sesampainya di sana, Alif malah justru menolak untuk di tolong. Padahal jelas di matanya bahwa pria itu sedang menahan rasa sakit.


“Aku antarkan kamu ke rumah sakit, Lif.”


“Tidak usah, memangnya aku anak kecil di antar-antar? Aku hanya maag.”


Yudha hanya tersenyum kecut. Dia sudah tahu sifat adiknya yang mempunyai gengsi terlalu besar. Gengsian, pemarah, manja, tapi kalau butuh mengejar-ngejar. Persis seperti kelakuan anak-anak. Mungkin karena terlalu dimanja oleh uminya, sebab dia anak terakhir.


“Aku tahu kamu terlalu stres, banyak pikiran. Jadi asam lambungmu naik, maag-mu kumat. Mungkin karena istrimu sedang marah sekarang.”


"Sok tahu!" ujar Alif ketus.


Yudha menoleh kepada Hans yang masih mengawasinya dari tadi. “Hans, tolong bawakan Alif makan siang sekarang. Sekalian obatnya. Taruh di sini makanannya, nanti kamu langsung masuk saja.”


“Baik, Pak.” Hans langsung memohon diri untuk melakukan perintah.


Yudha pun demikian, dia meninggalkan ruangan Alif.


Tetapi apa yang terjadi setelah Alif makan dan minum obatnya? Sakitnya justru semakin menjadi. Dia baru merasa lebih baik setelah dia sampai di rumah, usai bertemu dengan Dara.


‘Mungkin aku sakit karena terlalu merindukanmu,’ batinnya.


Dan pada saat malam, Alif nekat untuk memeluk Dara dari belakang. Mencurinya pada saat perempuan itu sedang lengah membuatkan minum untuknya.


Dara merasa kasihan karena lagi-lagi, dia mendapati teh asin di dapur.


“Awas, ih!” Dara berusaha menyingkirkan tangan kokoh suaminya, meskipun tak berpengaruh apa-apa bagi pria itu.


“Sebentar saja,” ujar Alif tepat di telinga. Entah kenapa Dara dapat menangkap nada kesedihan di dalamnya. “Ra, boleh aku tidur di kamar bawah malam ini?” serta-merta Alif memberitahukan alasannya agar dia tak terlalu kentara sedang merayu walau pun pada dasarnya memang demikian, “Aku mau pergi selama seminggu besok.”


“Pergi ke mana?” tanya Dara segera. Entah kenapa dia merasa takut kehilangan.


***


Bersambung.

__ADS_1


tolong diingatkan kalau typo. gak aku revisi ulang soalnya. mataku sepet.


__ADS_2