
"jika dia bisa mengambil wanitaku, kenapa tidak dengan aku. Aku juga akan mengambil wanitanya,hahaha... " ucapnya lagi sembari tertawa menggelegar.
Di tempat lain,,,
"Amar, aku mau perusahaan kita menjalin kerja sama dengan perusahaan Raihan Anggoro.Secepatnya tolong kamu urus itu...! " perintah Haslan.
"baik encik boss, saye kerjakan segera. " sahut Amar.
"saya mau lihat,seperti apa lelaki itu." ujar Haslan pelan, yang masih bisa didengar oleh Amar sang asisten.
"apa maksud encik boss...? " tanya Amar yang penasaran dengan apa yang didengar nya tadi.
Haslan pun tersenyum simpul,,, "apa ada yang salah...?? " tanya balik Haslan dengan menaikkan salah satu alisnya.
Amar yang melihatnya, tidak berani menanyakan kembali apa yang dia ingin tahu sebelumnya.
Keesokan paginya di tempat lain.
Siska mencari tahu tentang kebenaran yang diucapkan oleh Raihan. Dan hasilnya pun mengejutkan Siska,karena semua yang dikatakan oleh Raihan adalah sebuah kebenaran nya yang sesungguhnya. Tanpa ada yang ditambah-tambahi maupun dikuranginya. Dari situ Siska sadar dengan posisi nya saat ini. Dia memang baru mengenal Lukas beberapa bulan yang lalu.Pertama melihat Lukas,Siska pun menaruh hati kepada nya.Siska menyukai Lukas,tanpa memperdulikan sikap Lukas yang kalau dilihat begitu acuh dengannya.Siska lah yang mengatakan cinta terlebih dahulu kepada Lukas,tanpa terlebih dahulu mengetahui status Lukas.Dan dengan cepatnya, tiba-tiba Lukas pun menerimanya. Dan kenyataan pahit yang di terimanya saat ini, ternyata dia hanyalah pelarian bagi Lukas.
Kecewa....? pasti tentunya yang dirasakan oleh Siska. Namun apa boleh buat,disini bukanlah Lukas yang salah. Tapi dirinya sendiri,yang tidak sengaja melabuhkan cintanya pada jiwa yang tengah dilanda putus asa.
"aku akan berusaha untuk mendapatkan hatimu sepenuhnya Lukas. Aku tidak perduli dengan masa lalumu. Aku akan berusaha untuk membuatmu lupa akan cinta pertamamu itu. " ucap Siska dengan penuh tekadnya.
Siska pun mengusap air bening yang sedari tadi mengalir membasahi kedua pipi putihnya.
Berbeda dengan keadaan di kediaman keluarga Mala. Karena disana akan segera diadakan pesta besar-besaran,mulai dua minggu dari sekarang. Ya, dua minggu lagi Mala dan Raihan akan melangsungkan pernikahannya. Karena itulah kesepakatan dari kedua belah pihak keluarga. Sedangkan Raihan maupun Mala belum tahu menahu tentang rencana ini. Entah itu dari keluarga Anggoro maupun keluarga Kusuma,diantara kedua belah pihak keluarga tersebut belum ada yang memberitahu berita ini kepada kedua belah mempelai.
"tante kenapa anda harus repot-repot datang kemari, kan bisa menyuruh asisten tante saja. " ucap bu Puspa Ibu dari Mala.
"biarlah Puspa,aku juga ingin memastikan barang-barang itu sampai dengan selamat atau tidak. "sahut nenek Rania sembari tersenyum.
Bu Puspa pun tersenyum, " tante tidak pernah berubah,selalu seperti ini sejak dulu. "ungkap bu Puspa kepada nenek Rania sembari tersenyum lembut.
__ADS_1
"kamu bisa saja Puspa,o... ya apa Mala sudah kamu kasih tahu tentang acara ini...? " tanya nenek Rania kemudian.
"bukankah tante bilang jangan dulu," jawab bu Puspa.
"baguslah kalau begitu. Aku sudah tidak sabar,untuk melihat mereka berdua terkejut karena rencana kita ini. Pasti mereka akan senang. " kata nenek Rania sembari tersenyum, karena membayangkan wajah Mala dan Raihan yang tersenyum bahagia mendapatkan kejutan ini.
"iya tante,Puspa juga sudah tidak sabar lagi melihatnya. " balas bu Puspa.
"bagaimana dengan persiapan undangan nya, apakah sudah selesai...? " tanya nenek Rania kepada bu Puspa.
"sudah selesai tante,tapi belum Puspa sebarkan. Karena rencana Puspa, akan Puspa sebarkan satu minggu menjelang hari pernikahannya. " balas bu Puspa.
"tante silakan diminum teh nya,keburu dingin." ucap bu Puspa lagi sembari menawarkan teh anget yang disajikan oleh asisten rumah tangga nya.
Nenek Rania pun menganggukkan kepala nya, "iya saya setuju dengan idemu itu. " seru nya sembari mengambil teh anget yang telah disajikan untuk nya.
"em... ini teh terenak yang aku minum. " ujar nenek Rania lagi.
"ini tante, kue nya di cicipi." tawar bu Puspa, sembari menyodorkan toples berisi kue kering.
Nenek Rania pun mengambilnya dan memasukkan kue tersebut ke dalam mulutnya. "em... ini enak. " pujinya lagi.
Mereka berdua pun mengobrol sembari menikmati teh anget dan kue kering yang telah tersaji dihadapkan mereka berdua.
Di tempat lain.
Dengan sengaja seorang pria tampan dengan rahang tegasnya, hidung mancung, bola mata yang menawan dan bonus kulit putih nya, masuk ke dalam toko olshop milik Mala. Dirinya mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Mala, yang menurut dari orang yang dirinya suruh untuk memata-matai Mala. Saat ini Mala berada di toko nya.
Semua mata melihat nya dengan penuh takjub,karena melihat ketampanan nya yang bagaikan ketampanan dewa Yunani.
Ratih yang sejak tadi melihatnya,sampai tak henti berkedip. Padahal dirinya terbilang hampir tak pernah mengagumi kaum Adam sebelum nya. Bukan nya beda alur,tapi memang kebanyakan pria yang ditemuinya rata-rata gantengnya biasa saja,sedangkan dirinya minatnya yang lain.
Ratih berjalan menghampiri pria tersebut.
__ADS_1
"permisi tuan,apa ada yang perlu saya bantu. " tawar Ratih kepada pria tersebut dengan senyuman yang dibuat seramah mungkin.
Pria tersebut pun, hanya memandangnya dengan datar. Dan dengan acuh menatap nya. Tanpa melihat Ratih, pria tersebut pun berkata. "saya ingin pemilik toko ini menemui saya, apakah anda bisa bantu saya...? " tanya pria tersebut dengan nada datarnya yang terkesan dingin.
"pria ini kaku sekali sih. Ganteng sih ganteng, tapi kalau ucapan nya kayak gini. Siapa yang mau jadi bininya. " keluh Ratih dalam hati.
"maaf nona,apa anda mendengar saya...? " sarkas pria tersebut.
Ratih pun segera menjawabnya.
"iya tuan, saya mendengarnya. " sahut Ratih yang berhasil menguasai keadaannya.
"syukurlah, saya kira tadi anda tuli...! " ucap pria tersebut dengan gamblang tanpa menoleh ke arah Ratih.
"tuli...??hello tuan, saya tidak tuli. Hanya saja saya tidak mendengar ucapan anda, namun saya sedang mengagumi kesempurnaan ciptaan Tuhan yang terpahat indah pada wajah anda. " batin Ratih.
Ratih pun nampak berpikir, karena memang benar dirinya tidak mendengar ucapan dari pria tersebut. Karena sedari tadi dirinya sedang berhalu ria dengan pemikiran nya sendiri.
"saya tahu anda tuli...! tapi kenapa juga ya, orang tuli seperti anda bisa dipekerjakan di olshop ini. Apa mungkin benar apa yang dikatakan orang-orang, kalau pemilik olshop ini orang nya sangat baik. " ujar pria tersebut dengan nada datarnya.
Ratih yang mendengar nya tak habis pikir kenapa juga ada orang seperti pria di depannya ini. Secara fisik memang terlihat sempurna,tapi nyinyiran nya bikin orang sakit hati.
"maaf saya tidak tuli seperti apa yang anda katakan barusan. Saya mendengar ucapan anda dengan jelas...! Jadi jangan asal anda berbicara....! " geram Ratih.
Pria tersebut pun tersenyum simpul,dan berlalu begitu saja meninggalkan toko Mala. Mood nya terasa hilang, setelah bertemu dengan Ratih.
"aku akan membuat perhitungan dengan wanita itu. "ucap pria tersebut setelah memasuki mobil milik nya.
Dirinya pun mengambil benda pipih berbentuk persegi yang berada di dalam saku celananya. Dirinya pun menghubungi seseorang.
" cari tahu karyawan yang bernama Ratih. Dia bekerja di toko olshop Mala. Aku ingin kamu segera mendapatkan informasi tentang wanita itu. "ucap pria tersebut yang berbicara dengan seseorang di balik telepon genggam milik nya.
Dan dari mana pria tersebut mengetahui nama Ratih...? Karena setiap karyawan diharuskan menempelkan nama mereka pada kartu ID yang mereka pakai. Dan kebetulan pria tersebut sempat melihat nama yang tertera di ID card Ratih yang tergantung di leher jenjang Ratih.
__ADS_1