
Seorang pria terbaring tergeletak di atas lantai dengan beberapa botol di sekelilingnya, dia berada di ruangan yang gelap dan sedikit pengap dengan bau alkohol.
Ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan tersebut dan dapat ia lihat tuannya tergeletak di atas lantai.
Ia memilih membuka tirai agar sinar matahari masuk dan menyinari ruangan ini, silau sinar berhasil mengenai tepat di wajah pria itu yang membuat matanya terbuka secara perlahan.
Ia menutup wajahnya dengan satu tangan, "Lucas, tutup tirai ya," perintahnya.
"Maaf tuan, aku rasa anda harus bangun sekarang untuk memulai pekerjaan," jawab Lucas yang tidak mematuhi perintah tuannya.
"Biarkan aku tidur, kepalaku sangat pusing," keluhnya.
"Wajar saja kepalamu pusing tuan, di usiamu yang sekarang kau tidak boleh minum alkohol tapi bisa kau ganti dengan minum green tea," saran Lucas bijak.
Pria yang tergeletak tadi adalah Abraham Adylson merupakan seorang pebisnis di bidang pertambangan dan minyak, dia merupakan orang Russia dan berusia sekitar 60 tahun.
Dan asisten setianya bernama Lucas Benedict, pria mempunyai wajah di atas rata-rata dan juga badan yang lumayan atletis. Dia menjadi asisten Abraham baru sekitar tiga tahun menggantikan ayah angkatnya yang sudah tiada karena serangan jantung.
"Lucas, bagaimana kabar cucuku?" tanya Abraham memijit pelipisnya.
"Mereka baik-baik saja tuan walaupun ada konflik internal," jawab Lucas ringkas.
"Konflik? Apa semua telah selesai?"
"Dibilang sudah tapi mereka belum saling bicara tuan," papar Lucas sesuai dilaporkan oleh orang suruhannya.
"Jangan bilang cuma konflik biasa?"
"Iya, konflik antar saudara tuan," lontar Lucas.
"Baguslah. Aku pikir itu konflik besar, jadi aku tidak perlu turun tangan untuk menyelesaikannya," cetus Abraham beranjak dari pembaringannya.
"Tuan, lebih baik kau temui mereka. Mereka sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi," ujar Lucas.
"Enggak Lucas. Aku tidak bisa menunjukkan diriku sekarang, aku harus menyelesaikan semua urusanku di sini setelah ini semua selesai baru aku bisa menemui mereka," imbuh Abraham.
"Apa tuan tidak merasa bersalah sedikitpun karena telah menelantarkan mereka?" tanya Lucas spontan.
"Jika aku bilang iya pasti kau akan ragu, tapi dari lubuk hatiku terdalam aku sangat menyesal telah menelantarkan cucuku sendiri terutama cucu laki-lakiku," sesal Abraham tanpa sadar menitikkan air mata.
"Tuan, mari selesaikan pekerjaan kita dan mari kita menemui mereka," ajak Lucas.
"Ya mari kita selesaikan ini semua," balasnya tersenyum smirk.
......................
Di pagi hari yang cerah awal memulai hari baru seorang gadis sudah bersiap-siap menata penampilannya, ia menggunakan blouse berwarna cream dipadukan dengan rok span hitam.
Ia juga tidak lupa mengoles make up ke wajahnya agar penampilan fresh dan bercahaya.
"Perfect," pujinya menyisir rambutnya.
__ADS_1
Ia segera turun ke bawah bisa dia lihat orang di meja makan sudah berkumpul untuk sarapan.
"Selamat pagi bu," sapanya.
"Pagi Katya," balasnya.
"Pagi Kevin," sapa Katya mencubit pipi Kevin.
"Ih kakak ngeselin," decaknya mengelus pipinya.
Katya menarik kursi di sebelah Kevin lalu mendaratkan bokongnya, "wah nasi goreng," ucapnya riang.
"Makanlah ini ibu yang masak," sambung Wati menuangkan segelas air.
"Ibu tahu aja makanan favoritku nasi goreng dengan ayam semur," pujinya memakan nasi goreng tersebut.
"Kau sudah siap untuk memulai hari yang baru?" tanya ibu Wati.
"Aku harus siap karena semua bergantung pada diriku," jawabnya datar.
Mereka menikmati sarapan dengan tenang dan damai, Katya telah selesai ia menyeka bibirnya dengan tisu lalu menjangkau tasnya di atas meja.
"Kevin kakak pergi, ibu Katya berangkat sekarang," pamitnya mengecup kening Kevin.
Katya melangkahkan kakinya menuju garasi, ia memilih mengendarai mobil sedan, ia langsung menancap gas pergi dari rumahnya.
Tidak terasa satu jam ia berkendara ia tiba di parkiran, dan langsung masuk ke dalam. Ada beberapa perawat dan staff dokter yang menyapanya dan tentu saja ia akan membalas sapaan mereka.
Katya berdiri di depan pintu, ia mengatur nafasnya terlebih dahulu lalu mengetuk pintu tersebut, ia mendengar sautan dari dalam langsung membuka pintunya.
"Ayo duduk," ujarnya dengan tangan mengarah pada sebuah kursi.
Katya duduk, "apa kabar kak?" tanyanya.
"Bukan kau yang bertanya melainkan aku," lontar Chiko terkekeh.
"It's ok."
"Bagaimana kabarmu? Semua baik-baik saja?"
"Kami sudah merasa lebih baik kak, makasih telah mengurus rumah sakit ini," ucap Katya tulus.
"Tidak perlu sungkan bagaimanapun ini pekerjaanku."
"Kak, tolong bimbing aku," pintanya tiba-tiba dengan tatapan tajam.
Chiko menarik sudut bibirnya, ia sangat menyukai semangat Katya, "ok, kakak akan membimbing dirimu, tapi yang pertama Kakak ajar adalah cara mengelola rumah sakit ini, dan untuk bimbingan medis kau pelajari saja di universitas sana," kelakarnya.
"Kak, kalau mau membantu jangan tanggung-tanggung," cetus Katya menyilang tangannya.
"Kakak cuma bercanda Katya," balasnya tertawa.
__ADS_1
"Kakak emang selalu ngeselin," rajuk Katya mengembung pipinya.
Chiko terkekeh memandang ekspresi Katya yang menggemaskan, ia ingin sekali menarik pipi nona-nya tersebut, secara tiba-tiba ada sesuatu terlintas di benaknya.
"Katya," panggilnya.
"Apa?" sautnya ketus.
"Kau tahu kecelakaan yang dialami tuan juga menimbulkan korban," ungkap Chiko ragu.
"Aku tidak tahu. Bagaimana keadaannya sekarang?"
"Dia koma Katya."
Katya terdiam beberapa saat, "berikan pelayanan terbaik buat dirinya dan tidak usah meminta biaya sama keluarganya," perintahnya.
"Kami pasti memberikan pelayanan terbaik buatnya Kat, tapi dokter Aditya bilang ketika pasien sadar kondisinya akan berubah," papar Chiko dengan nada rendah.
"Apa maksudnya kak?"
"Dokter Aditya memprediksi dia akan menjadi pasien sci."
Katya menutup mulutnya dengan mata melotot, "itu tidak benar kan kak?" tanyanya.
"Itu masih prediksi, dokter akan melakukan berbagai tes padanya jika dia sudah sadar," jelas Chiko.
"Jika itu benar, aku tidak sanggup menghadapi keluarganya, bagaimana jika mereka menuntut?"
"Tenang itu cuma prediksi, kau tidak usah memikirkannya."
"Apa keluarganya sudah tahu?"
"Belum, aku melarang dokter Aditya memberitahu keluarganya," ungkap Chiko.
Katya dan Chiko diam tidak ada suara yang ada cuma bunyi ketukan jari Chiko.
"Katya, kau tahu siapa orang yang ditabrak ayahmu?"
Katya menggeleng kepalanya.
"Pasien itu bernama Aksa Alvino Wijaya," ungkap Chiko.
"Wijaya? Aku seperti pernah mendengar nama itu," lontarnya dengan kening berkerut.
"Mereka keluarga yang cukup terkenal jika kau terjun di dunia bisnis," papar Chiko.
"Kak, polisi mengatakan rem mobil papa blog, apa kau ada merasa kejanggalan?"
"Aku rasa ada, jika mobil itu remnya blog harusnya tuan mengalami kecelakaan pergi ke rumah sakit tapi ini malah waktu dia ingin pulang ke rumah," ungkap Chiko.
"Artinya ada orang yang menyabotase mobil papa di parkiran," cetus Katya cepat.
__ADS_1
"Sial, aku tidak kepikiran sampai sana," sesalnya mengacak rambutnya kasar.
Chiko segera menekan beberapa tombol telepon, dan menempelnya di telinga kirinya, "aku mau salinan rekaman cctv parkiran sekarang dan kirim ke email ku," perintahnya dan mematikan panggilan secara sepihak.