Terpaksa Menikahi Tuan Muda (New Version Story Of Love By Accident)

Terpaksa Menikahi Tuan Muda (New Version Story Of Love By Accident)
Episode 25


__ADS_3

Katya, Kevin, dan Auris berhenti di sebuah warung bakso di pinggir jalan, mereka turun dari mobil.


"Kau mau bakso apa?" tanya Katya.


"Bakso urat aja," jawab Auris.


"Kevin bakso iga," sambungnya.


Katya memesan lalu mereka duduk di bangku yang telah disediakan.


"Tempatnya ramai," celetuk Auris.


"Kalau mau sepi ke kuburan sana," balas Katya.


"Ih Katya, aku kan cuma ngomong fakta," jawab Auris mengerucutkan bibirnya.


Tiga porsi bakso disajikan di atas meja, mereka langsung meracik dengan cabe, saus, dan kecap.


"Kevin, jangan taruh banyak sambal nanti perutmu sakit," larang Katya merebut cabe dari Kevin.


Kevin mengembung pipinya, "ih kakak, masa makan bakso enggak boleh pakai sambal mana enak," ujarnya.


"Betul itu, diibaratkan masak sayur tanpa garam rasanya hambar begitu juga makan bakso tanpa sambal rasanya pahit macam kehidupan," sambung Auris.


Katya memasang ekspresi wajah cengo mendengar kalimat Auris, "apa hubungannya bakso tanpa sambal sama pahitnya kehidupan?" tanyanya menyilang tangannya.


"Itu karena kakak waktu sekolah tidur makanya tidak paham," sambung Kevin tanpa rasa bersalah.


"Kevin aja ngerti masa kau enggak," cetus Auris menjulur lidahnya.


"Sabar orang pintar mending diam aja," ucap Katya mengelus dadanya.


Ketika mereka begitu hikmah menyantap bakso tiba-tiba ada sedikit keributan ralat bukan keributan melainkan obrolan ringan yang volumenya sangat kencang.


Penyebab keributan itu ialah karena kehadiran seorang pria yang memiliki rupa yang begitu indah layaknya patung dipahat dengan kulit eksotis. Pria tersebut mengenakan celana hitam dipadukan Hoodie sebagai atasannya.


"Pantes orang pada ribut rupanya ada cowok ganteng," ujar Auris tertawa.


"Biasa aja kali, muka gitu udah pasaran," lontar Katya melahap bakso.


"Kat, bagimu biasa tapi bagi orang lain tidak," sela Auris.


"Jika ganteng kenapa enggak kau dekati saja?" goda Katya menaikkan alisnya.

__ADS_1


"Aku punya prinsip perempuan itu dikejar bukan mengejar," jawab Auris lugas menyeka bibirnya.


"Aku suka prinsip yang kau pegang, apapun yang terjadi jangan biarkan kita mengejar buat pria bertekuk lutut di bawah kendali kita," sambung Katya tersenyum miring.


Kevin cuma mendengar saja tanpa mengerti apa yang mereka bicarakan, ia begitu lahap memakan baksonya.


"Kita balik," seru Katya yang sudah siap.


"Ayo, aku udah selesai makan," balas Auris mengambil ancang-ancang beranjak.


Katya dan Kevin menunggu di mobil sedangkan Auris membayar bakso yang mereka pesan. Ketika ia menghampiri penjual tanpa disadari seorang pria berbalik dan kepala mereka saling menghantam.


"Aw... Jalan itu pakai mata," ujar pria itu ketus.


"Enggak salah, aturan kau yang jalan pakai mata," balas Auris tidak kalah ketus.


Pria itu tidak membalas Auris ia malah melenggang pergi dari sana yang berhasil membuat Auris mengepal tangannya.


"Dasar pria tidak ada akhlak, aku doain kau jadi jomblo ngenes," teriak Auris kencang yang berhasil membuat perhatian orang-orang tertuju padanya.


Auris tidak akan pernah menyadari bahwa perkataannya di malam itu adalah awal dari perubahan di hidupnya.


Auris bayar pesanannya dan berjalan menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan, Auris masuk dengan ekspresi wajah suram.


"Kenapa mukamu itu? Habis jumpa setan?" cecar Katya memandang Auris sedikit aneh.


"Emang itu cowok ngapain?"


"Itu cowok nabrak aku tadi bukannya minta maaf malah pergi gitu aja," papar Auris.


"Udah biarin aja, kita enggak akan jumpa itu cowok lagi," ujar Katya mengusap pundak Auris.


"Tapi tetap saja aku kesal, jika aku bertemu dengannya lagi aku akan melempar sepatuku ini ke wajahnya yang sombong itu," ucap Auris dengan meremas kedua tangannya.


Katya malah terkekeh melihat mimik wajah Auris yang marah bukannya takut dilihat yang ada orang-orang pasti akan tertawa melihat wajahnya yang lucunya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aksa duduk bersandar seraya membaca majalah yang tergeletak di samping brankar, ia membacanya karena merasa sangat bosan.


Ia membuka lembar setiap lembaran namun ia tidak tertarik sama sekali, ia melempar asal majalah itu.


Aksa mengacak rambutnya kasar, "bisa mati kebosanan lama-lama di sini, Jordan diminta beli bakso lama kali, enggak balik-balik lagi," gerutunya.

__ADS_1


"Mending aku ke taman rumah sakit aja sekalian cari angin," lanjutnya.


Aksa mencoba menurunkan kakinya perlahan, ia merasa sangat kesulitan untuk menggerakkannya, ketika kedua kakinya sudah menapaki lantai Aksa mencoba bangkit dan sayangnya ia malah terjatuh tergeletak di atas lantai.


Aksa tidak percaya apa yang barusan ia lakukan, ia mencoba bangkit sekali lagi tapi tetap saja kakinya tidak bisa ia rasa. Aksa menekan dan memukul kakinya tidak ada rasa sakit ataupun nyeri.


"Enggak mungkin. Ini pasti efek pasca koma, pasti kakiku masih bisa jalan. Iya, ini efek koma," ucap Aksa gusar menyakinkan dirinya sendiri.


"Enggak mungkin. Aku enggak cacat, ahhhhhhhh......" teriak Aksa menggelegar.


Pintu terbuka dari luar yang memperlihatkan Jordan dengan menentang sebuah kresek, Jordan melihat Aksa tergelatak di lantai langsung saja berlari kecil ke arahnya.


"Aksa, apa yang terjadi? kenapa kau bisa terjatuh?" cecar Jordan membantu Aksa berbaring kembali di brankar.


Aksa tidak merespon pertanyaan Jordan, ia malah menarik Hoodie Jordan, "bilang sama aku ini bohong, bilang," teriaknya.


"Maksudmu apa? Aku tidak paham," jawab Jordan mengerutkan keningnya.


"Aku tidak bisa merasakan kakiku," ucapnya pelan dengan tersenyum miring.


Jordan terdiam dan tidak bisa berkata-kata, ia sudah menduga pasti ini akan terungkap.


"Jadi benar? Aku cacat," ucap Aksa tertawa perih.


"Enggak sa, jangan berkata seperti itu."


"Jadi aku harus bagaimana? Aku cacat," teriak Aksa satu oktaf di depan wajah Jordan.


Wajah Aksa sudah memerah menahan amarahnya, dan tanpa disadari kristal bening membasahi wajah Aksa.


"Aku cacat Jordan, hidupku telah hancur," Isak Aksa memukul kakinya.


"Udah Aksa, jangan sakiti dirimu sendiri," balas Jordan menahan tangan Aksa agar tidak memukul kakinya.


"Biarin aku memukul kakiku jika bisa buat kembali berjalan," teriak Aksa menghempas tangan Jordan.


Jordan yang tidak sanggup menangani Aksa yang sudah diluar kendali, ia memilih menekan bel dekat brankar. Tidak lama bel dibunyikan para tim Dokter telah masuk ke ruangannya.


Perawat menyuntik obat penenang di infus Aksa, secara perlahan Aksa mulai tenang dan ia menutup matanya.


"Apa pasien sudah mengetahuinya?" tanya dokter.


"Iya, dia mengetahuinya ketika ia terjatuh," jawab Jordan pelan.

__ADS_1


"Pasien cuma butuh dukungan keluarga untuk melewati ini semua," ujar Dokter.


Jordan cuma mengangguk saja sampai dokter keluar dari ruangan. Ia memandang wajah Aksa yang terlelap, "takdir emang kejam samamu Aksa," ucapnya pelan tersenyum miris.


__ADS_2