
Katya berjalan di lorong rumah sakit dengan perasaan gusar, ia terus meremas dadanya, ia tidak mengerti dengan kondisi tubuhnya sekarang.
"Sial, ini pasti karena aku kepikiran dengan orang itu," gumam Katya.
Katya memilih duduk di bangku, dia mengatur nafasnya, merasa kondisinya lebih baik ia langsung beranjak dari sana.
"Aku rasa aku harus menjumpai dokter Aditya, biar pikiranku tenang," ucapnya dengan kaki melangkah ke sebuah ruangan yang terletak di resepsionis.
Katya menetralkan nafasnya, ia mengetuk pintu secara pelan dan ia juga mendengar sautan dari dalam maka ia langsung membuka pintu.
"Nona Katya, silakan duduk," ucapnya berdiri menyambut kedatangan Katya.
Katya duduk di sofa.
"Apa kau ingin kopi nona? Aku akan memesannya," ucap Dokter menekan beberapa tombol telepon.
"Tidak perlu dok, aku tidak lama di sini. Ada hal penting ingin aku bicarakan," tolak Katya.
"Hal penting apa yang ingin anda bicarakan dengan saya nona?"
"Aku ingin tahu kondisi dari pasienmu yang bernama Aksa Alvino Wijaya," jawab Katya spontan.
"Maaf jika aku lancang, aku tidak bisa membeberkan kondisi pasienku begitu saja," balas Aditya berharap Katya mengerti.
"Aku mohon tolong beritahu aku, aku mengenal pasien itu," ujar Katya berbohong.
"Kenapa anda enggak bilang jika anda mengenalnya pasti saya akan memberitahu," sambung Dokter percaya.
Aditya mengambil sebuah amplop yang berada di laci mejanya lalu memberikannya pada Katya.
Katya langsung membuka amplop tersebut dan melihat secara seksama CT scan milik Aksa tersebut.
"Jadi benar dia pasien sci?" tanya Katya serak.
"Iya, dia mengalami spinal cord injury merupakan cedera pada tulang belakang," papar dokter.
"Artinya dia tidak bisa merasa dan mengontrol bagian tubuh bawah mulai dari pinggang hingga ujung kakinya, kan?"
"Yang anda katakan benar, pasien sci bahkan terkadang tidak bisa mengontrol untuk buang air kecil dengan kata lain dia mengompol," jelas Dokter.
"Apa ini enggak bisa disembuhkan?"
"Ini tidak bisa disembuhkan cuma bisa dirawat agar tidak menimbulkan komplikasi," ujar Aditya.
"Terimakasih sudah memberitahu diriku. Aku pergi," ucap Katya dengan nada datar.
Dokter Aditya mengantar Katya keluar dari ruangannya. Katya melangkahkan kakinya dengan tatapan kosong dan dia sangat merasa sesak di bagian dadanya.
Katya duduk di bangku dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya, "enggak mungkin, bagaimana bisa? Aku tidak bisa menghadapi dirinya, hidupnya sudah hancur," rintih Katya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Satu minggu telah berlalu tanpa disadari Aksa telah sadar dari komanya. Aksa lagi makan disuapi oleh Rika, ekspresi wajah Aksa memberikan penilaian jika makanan yang ia makan rasanya tidak enak sama sekali.
"Mi, apa Fani udah tahu aku sadar?" tanya Aksa.
"Jangan tanya perempuan itu, mami enggak suka," balas Rika ketus.
"Mi, bagaimanpun sebentar lagi dia akan menjadi istriku, aku harap kita bisa berhubungan baik ke depannya," ucap Aksa.
"Mami tidak pernah suka dari awal ketemu sampai sekarang. Dia tidak pernah menjenguk dirimu walaupun hanya sekali," lontar Rika sinis.
"Mungkin aja dia sibuk mi," sambung Aksa berpikir positif.
"Sibuk apa? Sibuk pose seksi di depan kamera," omelnya.
"Dia model mi, otomatis pasti dia sibuk bagaimanapun dia model terkenal."
"Terkenal? Enggak salah? Dia bisa terkenal karena punya backingan dari kita, aslinya dia tidak ada apa-apa dengan model yang lain," ungkap Rika spontan tanpa memikirkan Aksa.
Aksa cuma bisa menahan dirinya agar tidak berbuat sesuatu yang tidak diinginkan, ia tahu kedua orang tuanya sangat tidak menyukai kekasihnya termasuk kakek dan neneknya bahkan mereka pernah berkata tidak akan menganggap dirinya bagian keluarga jika masih nekat menikahi Fani.
"Mami akan telpon dia," ujar Rika berhasil merubah suasana hati Aksa.
"Makasih mi," jawabnya tersenyum lebar.
Aksa mengibas selimutnya, dia berusaha menggerakkan kakinya untuk turun, mami Rika melihat apa yang dilakukan Aksa langsung saja menghentikannya.
"Aksa, mau ngapain?" tanyanya khawatir.
"Ngapain ke toilet sayang? Mami panggil perawat aja untuk bersihkan tubuhmu," ujar Rika sangat berharap Aksa mau menuruti perkataannya.
Mendengar dari nada Rika Aksa memilih menurut saja, Rika merapikan selimut Aksa.
"Mi, kenapa aku enggak bisa rasakan kakiku?" tanyanya secara tiba-tiba yang berhasil membuat jantung Rika berdebar kencang.
"Kata dokter itu efek dari koma sayang, makanya otot kakimu terasa kaku," jawab Rika secara logis.
Aksa mengangguk kecil dan tidak bertanya apapun lagi pada Rika. Rika sedikit merasa lega Aksa tidak menanyakan hal lain padanya dan untung saja kepalanya bisa berpikir cepat untuk memberikan jawaban logis pada anaknya.
"Semoga Aksa bisa menerima ini semua," ucap Rika pelan mencengkram erat dadanya.
...****************...
Dua orang gadis yang bersenang-senang di area Timezone menemani seorang pria kecil bermain bola basket.
"Yes, masuk," sorak pria kecil tersebut.
"Cuma itu saja? Lihat ini," ujar gadis rambut pendek remeh dan melemparkan bola ke ring dan sayangnya itu tidak berhasil masuk.
"Katanya jago tapi kok enggak masuk? Kak Auris bohong," seru pria kecil menjulur lidahnya.
"Itu tadi karena tangan kakak licin Kevin," alasannya.
__ADS_1
"Bohong!"
"Iya, kakak enggak bohong."
Mereka terus berdebat padahal mereka bertengkar cuma karena bola tidak masuk ke ring.
Katya memijit pelipisnya dan mengatur nafasnya lalu ia tersenyum, "jika kalian merasa benar kenapa enggak tanding ulang," usulnya.
"Ayo kita tanding kak," seru Kevin.
"Ayo! kakak pasti akan membuatmu kalah," balas Auris.
Katya cuma bisa menepuk jidatnya, "ini sih Auris kenapa macam anak-anak?" ucapnya.
Katya memilih duduk di bangku, ia melihat Auris dan Kevin yang bergantian memasukkan bola ke ring.
Katya menarik tipis sudut bibirnya, "untung saja Kevin enggak sedih lagi, aku seperti orang jahat yang menyalahkan anak kecil yang tidak tahu apa-apa," gumamnya terkekeh.
Auris dan Kevin menghampiri Katya, dari raut wajah Auris yang masam bisa diketahui siapa yang menang atau kalah.
"Kakak, Kevin menang," ujar Kevin riang.
"Wah bagus, selamat," balas Katya mengacak rambut Kevin.
"Kakak kalah karena ngalah sama Kevin," cetus Auris menggembung pipinya.
"Masa! bilang aja kali enggak terima kalah," lontar Kevin ketus.
"Udah jangan bertengkar lebih baik kita makan," lerai Katya agar telinganya tidak sakit mendengar mereka berdua.
"Kak aku pengen bakso," ujar Kevin.
"Ayo kita cari restoran," ajak Katya.
"Enggak mau yang di mall, mau ya di pinggir jalan," pinta Kevin.
"Iya Kat, bakso di mall rasanya kurang sedap di lidah," sambung Auris.
"Ok deh kalau gitu. Tapi tunggu bentar kakak mau beli skincare," ujar Katya.
"Ih skincare kakak masih banyak, ngapain beli lagi," protes Kevin.
"Banyak dari mana, perawatan badan kakak udah habis belum lagi make up," omel Katya.
"Semua sama aja," teriak Kevin ketus.
Katya tidak peduli dengan Kevin yang protes padanya ia malah melangkah kakinya begitu saja keluar dari area Timezone.
"Kakak tunggu," teriak Kevin mengejar Katya.
Auris melihat tingkah Kevin cuma bisa masang wajah cengo, "adik sama kakak sama-sama ngeselin masa aku ditinggal gitu aja," ucapnya melompat kecil.
__ADS_1