Terpaksa Menikahi Tuan Muda (New Version Story Of Love By Accident)

Terpaksa Menikahi Tuan Muda (New Version Story Of Love By Accident)
Episode 76


__ADS_3

Keluarga Wijaya masih berkumpul dan mengobrol dengan besan mereka sampai ada seorang pelayan datang membawa sebuah kotak di tangannya.


"Permisi tuan, ada paket untuk tuan Aksa dan nyonya Katya," ucap pelayan tersebut.


"Terima kasih dan kau bisa pergi sekarang," balas Richard.


Pelayan tersebut memberikan sebuah kotak pada Aksa dan Katya dan ia segera pergi dari sana.


"Kira-kira siapa yang mengirimkan ini?" celetuk Rika.


"Tidak ada nama pengirimnya," balas Katya.


Katya membuka bungkusan dan bisa ia lihat kotak persegi panjang berwarna biru lalu ia membukanya dan betapa ia sangat menyukai isi dari kotak tersebut.


"Apa isi kotak itu sampai membuat raut wajahmu riang?" tanya Aksa.


Katya menunjukkan sebuah kalung yang bertahtakan berlian zamrud.


"Kalung itu begitu indah," puji Bella.


"Sepertinya kalung itu akan cantik di lehermu Katya," sambung Lisa dengan pandangan kagum pada liontin.


Para wanita memuji betapa indahnya liontin yang didapatkan oleh Katya tapi berbeda dengan Aksa . Ia melihat kalung itu merasa tidak asing dan ia berusaha mengingat tentang kalung itu dimana kira-kira ia pernah melihatnya.


"Katya apa kau punya kakek?" tanya Aksa spontan.


Indra pendengaran semua orang kaget mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Aksa begitu spontan.


"Kenapa?" tanya Katya balik.


"Tidak apa-apa lupakan saja," jawab Aksa.


"Siapa pengirimnya? Dan apa kau mengetahuinya?" tanya Lisa.


"Tidak ada namanya," jawab Katya.


"Jika tidak ada nama pengirimnya mending kalian simpan saja sampai tahu siapa yang mengirim itu," sambung David bijak.


"Baiklah," balas Aksa.


Tidak terasa mereka telah menghabiskan waktu sepanjang hari merayakan ulang tahun Aksa. Wati dan Kevin pamit untuk pulang padahal Rika meminta mereka menginap namun ditolak oleh Wati.


...----------------...


Aksa sedang menatap liontin berlian zamrud yang terletak di atas meja, ia berpikir jika kalung itu adalah kalung yang ia lihat di Prancis sebelum kecelakaan.


Katya memeluk Aksa dari belakang, "kenapa kau menatap kalung itu? Apa itu lebih menarik pada aku?" tanyanya dengan nada menggoda.


"Katya, aku tidak ingin menyembunyikan ini. Aku tahu siapa pengirim hadiah itu," ujar Aksa dengan nada serius.


"Siapa?" tanya Katya dengan mengerutkan keningnya.


Aksa menghela nafas panjang dan ia menceritakan bagaimana ia tertarik pada liontin itu dan seorang pria tua yang sangat menginginkannya sebagai hadiah untuk cucunya dan Aksa terpaksa mengalah pada pria tua tersebut.

__ADS_1


Katya mendengar secara cermat dan menganalisa informasi yang diceritakan oleh suaminya.


Katya mengambil ponselnya yang terletak di atas meja nakas, ia mengontak ponselnya dan menunjukkan sebuah foto seorang pria paruh baya yang gagah dengan setelan jas.


"Apakah ini orangnya?" tanya Katya.


Aksa mengangguk kepalanya dan Katya menghembus poninya kesal.


"Dia kakekku," ucap Katya spontan.


Aksa membelalakkan matanya, "dia kakekmu?" tanyanya sekali lagi.


"Dia kakekku. Dari ceritamu dia sangat ingin menghadiahkan liontin ini padaku tapi sayang dia begitu pengecut tidak ingin menunjukkan dirinya," ujar Katya tersenyum miring.


"Aku yakin ada alasan kenapa dia tidak bisa menemui kalian," balas Aksa sambil mengecup punggung tangan istrinya.


"Apa yang diberikan kakek padamu?"


"Sertifikat vila," jawab Aksa santai.


"Tidak terlalu buruk."


"Aku akan meminta orang untuk mencari kakek."


"Aku rasa tidak perlu, dia sudah mengirimkan hadiahnya itu artinya dia berada di negara ini bukan!"


"Yang kau katakan memang betul."


"Let's making love with me Kitty," balas Aksa dengan suara dingin.


Aksa dan Katya mengukir seni yang indah pada malam hari ditemani oleh suara jangkrik dan semilir angin yang masuk melalui jendela kamar yang sengaja terbuka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pria tua yang memiliki guratan halus di wajahnya dan warna kulit yang begitu pucat memandang hampa setiap sudut ruangan yang ia tempati.


Pria itu adalah Kim Jong Hyun ia sedang duduk di kursi dan menatap lekat sebuah foto yang bergantung di sudut kanan ruangan.


"Irene, aku sangat merindukanmu sayang. Maafkan aku," ucapnya lirih dengan mata yang berair.


Terdengar dari arah luar suara ketukan pintu dan ia menyahut dari dalam. Handle pintu terbuka menampilkan seorang pria jakun yang mengenakan setelan hoodie.


"Kakek, waktunya sarapan," ujar Loren.


"Loren masuklah ada hal yang ingin kakek bicarakan," balas Hyung.


Loren menutup pintu dan melangkah kakinya mendekat kakeknya dan ia mendaratkan bokongnya di kursi yang berada tepat di meja kerja.


John Hyung mengambil nafas panjang lalu membuangnya secara kasar. "Loren, apa kau pernah bertemu dengan Katya?" tanyanya dengan suara serak yang tegas.


Loren terdiam untuk beberapa saat kemudian ia tersenyum, "iya, aku pernah bertemu dengan Katya."


"Bagaimana kabarnya?"

__ADS_1


Loren mengerutkan dahinya dan batinnya bertanya-tanya, tapi Loren tetap menjawab pertanyaan kakeknya sekadar saja.


"Loren, atur pertemuan untukku dengan Katya," ujar John Hyung secara tiba-tiba.


"Baik kek," jawabnya cepat.


Loren segera keluar dari ruangan meninggalkan John Hyung seorang diri. Pria tua itu mengarahkan pandangannya pada sebuah figuran foto seorang gadis yang mengenakan gaun berwarna maroon.


"Irene, sudah waktunya aku mengakhiri masalah ini," ujar pria itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi hari yang cerah untuk memulai hari indah dan melakukan aktivitas. Abraham menikmati secangkir kopi panas yang asapnya mengepul ke atas dengan ditemani sepiring cookies.


"Kau sudah mengirimkan hadiahku ke mereka?" tanya Abraham sambil menghirup aroma kopi.


"Sudah tuan dan mereka sudah menerimanya," balas Lucas sambil menyesap susu.


"Urusanku telah selesai dan waktunya mendekati cucuku," ujar Abraham menyunggingkan senyuman lebar.


"Tuan, kenapa tidak mendekati nona Katya terlebih dahulu?"


"Perempuan sungguh sulit didekati," jawab Abraham acuh.


Lucas cuma bisa menarik paksa sudut bibirnya mendengar keluhan dari tuannya, ingin sekali ia menambahkan dan menyanggah perkataan Abraham namun ia lebih memilih mencari aman.


"Lucas," panggilnya. "Apa kau sudah menyiapkan motor yang aku minta?"


"Sudah tuan," jawabnya singkat.


"Aku akan menjemput cucuku Kevin pakai motor. Apa motornya sesuai yang aku minta?" tanya Abraham memicing matanya.


Lucas menelan salivanya kasar dan tersenyum lebar, "sesuai yang anda inginkan tuan."


"Kau memang tidak pernah membuatku kecewa," balas Abraham tersenyum puas.


"Tuan, apa bisa bawa motor?" tanyanya ragu.


"Tentu saja bisa, kau lihat nanti ketika aku menjemput Kevin," ucap Abraham membusungkan dadanya.


"Iya tuan," balasnya tersenyum masam.


Semoga tuan tidak marah atas tindakan yang aku buat, batin Lucas.


Abraham melihat jam di pergelangan tangannya, ia meletakkan cangkir kopi di atas meja lalu beranjak dari sofa. Lucas melihat tuannya mengambil ancang-ancang untuk pergi segera bangkit.


"Ayo Lucas kita jemput cucuku yang imut itu!" seru Abraham bersemangat melangkahkan kakinya keluar.


"Lucas bersiaplah sepertinya tuan akan mengeluarkan suara emasnya," ucapnya pelan menyentuh kepalanya.


Abraham keluar dari pintu dan ia membuka mulutnya lebar dan kembali menutupnya. Wajahnya mengeras dan ia mengepalkan kedua tangannya.


"LUCAS!"

__ADS_1


__ADS_2