Terpaksa Menikahi Tuan Muda (New Version Story Of Love By Accident)

Terpaksa Menikahi Tuan Muda (New Version Story Of Love By Accident)
Episode 26


__ADS_3

Rika memandang sendu Aksa yang terlelap, ia mengelus pucuk kepalanya lalu mencium keningnya.


"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Rika.


"Kita akan mengabarkan Fani dan keluarganya tentang kondisi Aksa sekarang," balas David lugas.


"Apa Fani mau menerima kekurangan Aksa?" tanya Jordan ragu.


"Mami rasa tidak, dia tidak mempunyai jiwa kesetiaan dan pasti kalaupun hubungan mereka lanjut itu cuma keuntungan semata," ujar Rika berdecak sinis.


"Kita tunggu dan lihat saja nanti. Sekarang kita fokus pada Aksa terlebih dahulu, papi akan membuat jadwal Aksa dengan psikologi," ucap David.


"Aku takut ketika Aksa bangun dia akan mengamuk lagi dan dia akan melakukan hal yang nekat," cetus Jordan.


Mereka diam dan sedikit mengkhawatirkan apa yang dikatakan oleh Jordan. Aksa secara perlahan membuka kelopak matanya, ia menyesuaikan netra matanya.


Ia cuma bisa melamun sampai Rika mengalihkan pandangannya ke arah Aksa dan bisa dilihat Aksa sudah bangun dari tidurnya.


"Aksa, semua baik-baik saja, mami akan selalu di sisimu," ujar Rika mengusap pundak Aksa.


Aksa tidak merespon ia masih betah dengan lamunannya.


Mereka melihat tatapan kosong Aksa cuma bisa menghela nafas, mereka paham pasti ini pukulan berat dalam hidupnya.


David memalingkan wajahnya ke samping dan netranya fokus pada kantung urin yang tersangkut di samping brankar, ia melihat kantung urin itu berisi air seni bercampur warna merah.


David langsung menekan tombol dan dokter segera masuk ke ruangan.


"Apa yang terjadi?" tanya dokter Aditya.


"Kantung urinnya berwarna merah," jawab David menunjuk kantung urin tersangkut di brankar.


"Silakan kalian keluar, agar kami bisa leluasa memeriksa pasien," ucap dokter ramah.


Keluarga Wijaya segera keluar dan membiarkan dokter melaksanakan tugasnya.


...----------------...


Dokter melihat kantung urin Aksa yang bercampur darah, "lepaskan kateternya," perintahnya.

__ADS_1


Para perawat mengatur ranjang Aksa lebih tinggi, mereka juga membuat kedua kakinya mengangkang, Aksa tidak menyadari apa yang sedang terjadi padanya.


Pertama dokter mengempeskan balon kateter dengan tusukkan jarum suntik gerakan mendorong dan memutar yang mantap. Lalu tarik jarum suntik secara perlahan menjauhi ujung selang. Jarum suntik telah penuh itu artinya kateter sudah siap untuk dilepaskan.


"Bersihkan bagian intim pasien dan pasangkan diaper padanya," ujar dokter.


Mendengar kata diaper Aksa langsung sadar dari lamunannya. Ia melihat kedua kakinya yang sudah mengangkang lebar.


"Apa yang kalian lakukan padaku!" serunya dengan lantang.


Para perawat tidak mempedulikan teriakkan Aksa, mereka fokus mengelap bagian intimnya dan ketika perawat akan memasang diaper Aksa mulai memberontak.


"Jauhkan benda sialan itu dariku," teriaknya dengan tangan menjangkau barang berada di sampingnya.


Aksa melempar benda-benda yang berada di sekitarnya ke para staff medis dan mereka sedikit kewalahan menghadapinya.


"Pak, tolong tenangkan diri Anda. Biarkan kami menjalankan tugas kami," ujar dokter ramah dan lembut.


"Aku enggak peduli jauhkan benda sialan itu," balas Aksa.


Para perawat menahan kedua tangan Aksa, satu orang perawat lagi segera memasangkan diaper. Setelah selesai mereka kembali meluruskan kaki Aksa dan merapikan gaun rumah sakit dan menyelimutinya.


Para tim dokter keluar dari ruangan tersebut dan keluarga Wijaya masuk ke dalam.


"Mereka memakaikan benda sialan itu padaku," jawabnya ketus.


"Dokter mengatakan kau mengalami infeksi saluran kemih," sambung Jordan.


"Mulai sekarang biasakan dirimu dengan benda itu bagaimanapun kau akan selalu memakainya," tutur David.


"Jadi maksud papa sekarang aku bayi!" seru Aksa dengan tatapan marah.


David ingin mengangkat suara Rika menahan tangan David, "udah jangan dilanjutkan," ucapnya.


David memilih diam dan menghela nafasnya kasar, ia keluar dari ruangan Aksa mungkin ia akan mencari angin di luar.


...----------------...


David berada di toilet, ia menyala kran air dan membasuh wajahnya kasar, ia memandang pantulan wajahnya di cermin dengan tangan yang mencengkram di atas westafel.

__ADS_1


"Jika aku tahu siapa yang membuat kecelakaan ini aku akan memberi perhitungan padanya,' ucapnya dingin dengan tatapan tajam.


Ketika ia terus fokus pada pantulannya di cermin, ada dua orang perawat masuk ke toilet itu.


"Kau tahu pasien VIP di ruangan mawar nomor 14?" tanya laki-laki berkacamata.


"Iya, kenapa? Dia pasien dokter Aditya kan?"


"Iya, kau tahu pasien itu mendapatkan perlakuan spesial," ucapnya berbisik.


"Spesial gimana? Wajar kan pasien itu VIP," sahutnya bingung.


"Bukan, dia diperlakukan spesial. Kau tahu dokter Aditya tidak pernah lagi turun tangan menangani pasien tapi ini dia menangani pasien VIP itu."


"Mungkin kenalan dokter Aditya."


"Enggak, kau tahu nona Katya meminta langsung pada dokter Aditya merawat pasien itu," bisiknya memandang sekitar.


"Nona Katya? Apa dia kenal pasien itu? Bisa aja itu kekasihnya."


"Aku tidak tahu, tapi aku melihat tim dokter yang menangani pasien itu bukanlah tim sembarangan."


Kedua perawat itu pergi dari sana, David melihat punggung mereka menghilang.


"Katya? siapa dia? kenapa dia meminta dokter Aditya merawat Aksa?" tanyanya pada diri sendiri.


David keluar dari toilet ia berjalan ke sebuah ruangan, ia masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Pak Wijaya, ada apa?" tanya dokter ramah.


"Tidak usah berbasa-basi denganku, apa kau menangani putraku karena kebetulan atau ada seseorang yang meminta padamu," ucap David to the point.


Dokter Aditya terdiam ia meremas jari-jarinya, "apa maksudmu? Aku tidak mengerti," jawabnya tenang.


"Katakan siapa itu Katya?" tanya David menarik kerah jas.


"Katya calon direktur rumah sakit ini," jawab Aditya.


"Bukan jawaban seperti itu yang aku inginkan, jika kau tidak bisa memberitahu aku akan cari sendiri jawabannya," ucap David mendorong Aditya terjatuh di kursinya.

__ADS_1


David pergi dari sana dengan membanting pintu kasar.


Dokter Aditya cuma bisa memijit pelipisnya, "baru kali ini aku jumpa keluarga pasien seperti mereka," ucapnya.


__ADS_2