
"Apa kabar Leon?" ucap orang tersebut dengan senyum lebar.
Leon terpaku untuk beberapa saat, bibirnya begitu kaku untuk digerakkan, ia masih menatap intens dua orang perempuan yang berbeda generasi tepat di hadapannya.
"Leon, apa kau ingin jadi patung di sini! Kau tidak persilakan kami masuk," cibir wanita paruh baya.
Leon tidak memberi jawaban apapun, melihat hal tersebut wanita paruh baya tersebut merasa jengkel, ia memilih melangkahkan kakinya masuk tanpa menunggu persetujuan dari tuan rumah, begitu juga dengan gadis muda yang bersama wanita paruh baya tadi.
Leon yang kesadarannya telah kembali segera mengedar pandangannya pada sekitar luar, ia langsung menutup pintu dan berjalan ke arah mereka.
"Ngapain kalian ke sini Katya?" tanya Leon dengan nada berat.
Orang yang datang menemui Leon adalah Wati dan Katya, mereka tahu tempat tinggal Leon dari informan yang disewa oleh Katya.
"Apa seorang ibu punya alasan untuk melihat putranya," ujar Wati dengan mata berkaca-kaca yang berhasil membuat Leon bungkam dan tidak berkutik.
Leon menatap wajah Wati dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan. Secara reflek Leon memeluk ibunya dan Wati langsung memberi balasan dengan mengelus punggung Leon.
Katya memutar bola matanya malas menyaksikan pemandangan itu, "tumben kakak gitu biasanya cuek," gumamnya.
Katya mengedarkan pandangannya meneliti setiap sudut apartemen mewah milik Leon. Ia bisa melihat langit biru cerah dari jendela dan gedung-gedung pencakar langit yang berdiri dengan kokoh. Katya dapat melihat terdapat sebuah tangga akses menuju lantai atas.
Penthouse ini juga dilengkapi dengan beberapa perabotan mewah dan terlihat elegan dan juga dilengkapi teknologi canggih.
"Ini bukan apartemen melainkan griya tawang," ucap Katya dengan tangan meraba di dinding.
Katya melihat figuran foto Leon, dirinya dan Kevin, dan juga kedua orang tuanya. Katya menarik tipis sudut bibirnya, "seenggaknya dia tidak pernah lupakan kami," ucapnya pelan.
Katya melangkahkan kakinya kembali ke ruang tamu tempat Leon dan ibunya, ia menyingkap gaunnya dan menjatuhkan bokongnya di atas sofa.
"Kakak pasti tahu bahwa papa sudah meninggal!" seru Katya dengan nada dingin.
"Tentu saja aku tahu, papa meninggal karena rem mobilnya blog," balas Leon datar.
"Darimana kakak tahu?"
"Dari kak Chiko, siapa lagi yang akan beritahu aku selain dia!" ujar Leon sarkas.
"Ku pikir kau tidak tahu menahu tentang kematian papa," ucap Katya terkekeh sinis.
"Aku datang waktu pemakaman papa," cetus Leon menatap Katya.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak menemui kami jika kau datang?" tanya Katya sedikit berteriak.
"Aku malu untuk bertemu dengan kalian," jawab Leon lesu.
"Sudahlah kalian jangan ribut lagi. Katya, Leon lebih baik kita makan siang dulu," ujar Wati menengahi mereka berduaan.
Katya dan Leon yang peka langsung paham dengan makna tersirat dari perkataan Wati.
"Aku akan memesan makanan," ucap Leon beranjak dari sofa.
"Kita makan di restoran saja," putus Wati.
"Tunggu aku pakai baju dulu," balas Leon yang sudah melangkah kakinya menapaki anak tangga.
Katya menatap punggung Leon dari belakang, "aku baru sadar dia enggak pakai baju, untung saja badannya bagus seenggaknya tidak buruk untuk dipandang," ucapnya.
Leon memiliki kulit putih seputih salju layaknya Katya, dia memiliki roti sobek di bagian perutnya dan otot kekar pada lengannya.
"Jangan menatap tubuh kakakmu seperti itu," imbuh Wati tidak menyukai tatapan Katya pada Leon.
"Ibu tidak apa-apa, dia itu kakakku," kilah Katya.
"Karena dia kakakmu aku takut terjadi cinta sedarah," cela Wati.
"Katya," tegurnya menatap tajam Katya.
Leon turun ke bawah, ia cuma mengenakan Hoodie dan celana panjang.
"Ayo kita turun," ajak Leon.
Katya, Wati, dan Leon keluar dari griya tawang, mereka berjalan masuk ke dalam lift, Leon menekan tombol lantai 15.
Lift turun dan membawa mereka ke lantai yang dipilih Leon, mereka keluar dari lift dan berjalan menuju restoran yang terdapat dalam gedung apartemen.
Gedung apartemen Leon memiliki fasilitas seperti gym, cafe, restoran, bioskop, pusat perbelanjaan dan masih ada banyak lagi.
Mereka mengambil posisi di sudut restoran agar orang-orang tidak mendengar pembicaraan mereka.
"Kau ingin pesan apa?" tanya Leon pada Katya.
"Terserah," jawab Katya dengan menopang pipi kirinya.
__ADS_1
Leon menoleh ke arah Wati, "kalau ibu pesan apa?" tanyanya.
"Terserah," balas Wati persis dengan jawaban Katya.
Mendengar jawaban yang kompak dari Wati dan Katya membuat Leon sedikit kesal, "memang cewek enggak yang muda yang tua jawabannya bikin orang bingung," gerutunya.
Leon secara asal memilih menu yang terdapat di buku menu dan langsung meminta pelayan mencatat pesanannya.
Katya menatap interior restoran ini yang memilih menggunakan kayu, ia sangat menyukai desainnya yang klasik, terdapat bar mini di sudut kiri restoran.
Pelayan datang dengan menyajikan berbagai macam hidangan di atas meja, yaitu Beef Birguignon yang terbuat dari daging sapi yang mempunyai tekstur lembut. Bukan hanya itu, ia juga direbus dalam anggur merah, sehingga cita rasanya lebih khas dan mewah.
Coq au Vin berupa kaki ayam yang dimasak dengan anggur merah dalam waktu lama. Dan terakhir Soupe a l’oignon terbuat dari rebusan kuah kaldu sapi kental yang dicampur dengan potongan bawang putih. Tidak sampai disitu, soupe a l’oignon juga dipresentasikan dengan suwiran daging ayam dan keju parut sebagai penambah cita rasa.
Katya cuma menatap hidangan dia tidak ada niat menyentuhnya sama sekali.
"Kau tidak mau? Tidak usah dimakan,' celetuk Leon pedas.
Katya memanyukan bibirnya, "ini aku makan,' jawabnya seraya mencicipi sup.
Mereka makan dalam keadaan hening cuma terdengar bunyi denting sendok dan garpu.
"Kau pesan makanan tapi tidak pesan minum," cibir Katya yang membuka obrolan.
Leon merutuk dirinya dan menepuk jidatnya, "kau bodoh Leon," ucapnya.
"Sudah tinggal pesan saja, jangan buat ribet," sela Wati.
Katya memanggil pelayan untuk memesan minuman, pelayan itu segera pergi dan tidak lama kemudian dia datang dengan membawa nampan minuman pesanannya. Pelayan itu meletakkan sebotol Absinthe.
Mata Leon terbelalak melihat minuman apa yang dipesan oleh adiknya yang tercinta ini.
"Kau gila! Masa di siang hari bolong gini kau minum alkohol," pekik Leon.
Untung saja restoran lagi kondisi sepi sehingga tidak ada yang terganggu dengan suara Leon.
"Ini begitu dingin dan aku butuh sesuatu yang hangat untuk tubuhku," alasan Katya yang begitu santai.
"Kau gila bagaimana bisa minum ini di depan ibu," imbuh Leon.
"Lihat itu ibu saja lagi minum," balas Katya dengan dagu menunjuk Wati yang sedang minum secara santai.
__ADS_1
Leon memijit pelipisnya, "aku bisa gila menghadapi dua orang wanita spesies seperti ini," ucapnya.