
Tidak sadar waktu begitu cepat berlalu, acara pernikahan telah selesai dan para tamu undangan telah meninggalkan tempat. Dan tersisa cuma seluruh anggota keluarga Wijaya yang akan menginap di kediaman Wilson.
Katya mengantar Auris ke teras depan dan sudah terdapat sebuah mobil yang menunggu.
"Yakin enggak mau nginap?" tanya Katya.
"Aku tidak bisa berlama-lama di sini Kat. Aku masih sedikit sesak ketika melihat mereka," balas Auris lesu.
Katya paham atas luka yang dialami oleh temannya tidak bisa memaksa bagaimanapun ia hanya sekedar sahabat yang cuma bisa memberikan dukungan.
Auris menarik sudut bibirnya lebar, "Kat, selamat atas pernikahanmu semoga kalian selalu bahagia," ucapnya tulus.
"Terimakasih Ris, dan makasih juga karena telah mau mendampingi aku," kata Katya tidak kalah tersenyum lebar.
"Oh iya ini untukmu, semoga kau suka," ucap Auris membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah benda persegi yang terbungkus dengan kertas cantik.
"Apa ini Ris?" tanya Katya dengan mengernyitkan dahinya.
"Udah bukanya nanti aja. Aku harap kau bahagia dan aku tidak sangka Kat kalau suamimu itu begitu tampan, aku aja klepek-klepek melihatnya," ucap Auris menggoda Katya.
Katya merasa jengkel dengan apa yang dikatakan Auris, "jangan macam-macam dia cuma punya aku bukan orang lain," bentaknya ketus.
"Cieee, cieeee, cemburu nieee. Kat jangan lupa kak pakai hadiah dariku," ucap Auris dan berlari kecil masuk ke dalam otomobil.
Katya memandang mobil secara perlahan mulai meninggalkan pekarangan rumahnya, Katya segera masuk ke dalam rumahnya.
Katya berjalan ke kamar yang terletak di lantai bawah, ia sengaja pindah kamar karena rumahnya tidak terdapat lift yang bisa membantu suaminya naik ke lantai atas.
Katya membuka pintu dan menutup pintu kamar dan betapa terkejutnya dia melihat tubuh Aksa tergeletak di atas lantai yang sedang menahan kesakitan.
"Kak, kau tidak apa-apa?" tanya Katya sambil mengangkat Aksa menuju tempat tidur dan Katya membaringkannya tubuh Aksa.
__ADS_1
Rasa sakit yang perlahan mulai menghilang dan Aksa tidak menunjukkan raut wajah kesakitan.
"Kau baik-baik saja kan?" tanya Katya dengan rasa khawatir.
"Aku tidak apa-apa, spasme ku kambuh lagi. Kau tidak usah khawatir," balas Aksa mengatur nafasnya.
"Bagaimana aku tidak khawatir dirimu kesakitan. Apa mau ku ambilkan obat untuk mengurangi rasa sakit nya?" tawar Katya.
"Tidak usah, tidak ada gunanya aku minum obat karena tidak akan mengubah apa-apa, biarkan diriku istirahat," ucap Aksa dengan matanya tertutup.
Mendengar perkataan Aksa membuat Katya menyalahkan dirinya sendiri karena bagaimanapun ia juga turut andil atas kemalangan yang menimpa Aksa.
Katya memerhatikan setiap sudut kamar dan dia baru menyadari bahwa kamar ini di hias dengan kelopak mawar dan lilin aroma yang tersusun rapi di pinggir kamar untuk mereka nikmati. Katya ke meja rias dan menghapus make up dan juga melepaskan semua aksesoris yang bertengger di kepalanya.
"Sepertinya para pelayan sengaja menghias kamar ini, mungkin mereka pikir kami akan menghabiskan malam layaknya pengantin baru," gumam Katya dengan tangan membuang kapas bekas ke tong sampah.
Katya berjalan ke kamar mandi dan ia langsung menanggalkan semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Ia menghidupkan air untuk mengisi bathub, ia rasa airnya cukup Katya langsung merendamkan dirinya ke dalam air.
Katya memilih mengenakan setelan piyama berwarna peach, Katya duduk di meja rias melakukan ritual skincare nya seperti biasa.
Ia melangkah kakinya menuju kasur ia melihat Aksa yang telah tertidur begitu nyenyak mungkin karena kelelahan, dia melepaskan sepatu Aksa yang masih berada di kakinya, melepaskan jas secara pelan-pelan dan juga membuka dua kancing kemeja aksa.
Katya ingin membuka celana Aksa namun ia mengurungkan niatnya, "lebih baik tidak usah, aku takut nanti kak Aksa marah," gumamnya.
"Have a nice dream honey!" kata Katya mencium kening Aksa dan juga menelusuri tubuhnya dengan belaian, dan tidak lupa pula mencium kaki Aksa dan merapikan selimut agar Aksa tidak kedinginan.
Katya berjalan pelan ke arah sopa yang berada di sudut kiri kamar, ia membaringkan tubuhnya di atas sofa. Alasan kenapa ia lebih memilih untuk tidur di sofa karena ia merasa sangat lancang jika tidur satu ranjang walaupun status mereka sekarang adalah suami istri.
Katya berbaring dengan menghadap ke arah Aksa, "jika diperhatikan baik-baik kak Aksa ternyata tampan juga," ucapnya terkekeh kecil.
Katya terus memandang Aksa sampai ia tidak sadar telah memejamkan matanya dan masuk ke dalam dunia mimpinya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Abraham yang sedang menikmati segelas wine di kamarnya dengan memandang ke arah luar mengamati langit-langit yang telah berubah gelap dan tidak lupa pula dengan bintang yang menghiasinya.
Ia menikmati pemandangan alam tersebut sampai atensinya teralihkan karena suara ketukan pintu dari arah luar.
"Masuk!" sahut Abraham dengan nada nyaring.
Pintu terbuka dan menampilkan Lucas dengan setelah baju tidurnya, Abraham melihat penampilan asistennya berpikir mungkin Lucas mau tidur namun pasti ada hal penting yang membawanya kemari dan mengabaikan waktu tidurnya.
"Maaf tuan menganggu waktumu, tapi aku membawa kabar yang penting," ujar Lucas dengan ekspresi sungkan.
"Kabar penting apa yang ingin kau sampaikan pada ku? ku harap kabar itu begitu sangat penting sampai membuat waktu tidurmu terganggu," balas Abraham sedikit bercanda.
"Mereka sudah menikah tuan, aku mendapatkan kabar itu dari orang suruhan kita," ucap Lucas dengan nada rendah.
"Apa kabar itu benar?" tanya Abraham memastikan bahwa indera pendengarannya tidak ada masalah.
"Iya tuan mereka telah menikah, dan acaranya hari ini dan tuan Leon sendiri yang menikahkan mereka," ujar Lucas sesuai dengan apa yang disampaikan oleh orang suruhannya.
"Sialan rupanya aku sudah menjadi besan sih tua bangka Richard," umpat Abraham dengan berdecak sinis.
"Tuan padahal ada sendiri juga tua bangka," ucap Lucas dalam batinnya saja.
Ia tidak punya cukup keberanian untuk mengatakan hal tersebut ke tuannya bisa-bisa esok harinya ia mungkin sudah tinggal nama saja.
"Lucas, terus awasi mereka dan laporkan apa setiap pergerakan mereka dan hal-hal apa saja yang terjadi, dan kau boleh pergi dari sini. Istirahatlah," ucap Abraham dengan tangan mengayun ke depan.
Lucas segera keluar dari kamar tuannya dan tidak lupa pula ia menutup pintu kembali. Abraham melihat asistennya telah pergi kembali lagi memandang pemandangan malam dari jendela kamarnya.
"Setelah semua urusanku selesai aku akan datang menemui kalian dan aku harap kita bisa hidup bersama," ucap Abraham lirih dengan tersenyum miris.
__ADS_1